Jumat, 09 Desember 2022

Karakter Bangsa Aceh


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 9 Desember 2022 

Karakter bangsa adalah jatidiri bangsa. Aceh sebagai sebuah entitas etnik berada di dalam sebuah negara kesatuan Indonesia. Karenanya dapat disebut juga sebagai sub-bangsa dalam bingkai besar kebangsaan Indonesia. Karena masyarakatnya memiliki ciri-ciri karakteristik tersendiri sehingga dapat otomatis menunjukkan pula keberagaman karakter di antara sub-bangsa lainnya. Dalam konteks entitas budaya yang disandangnya dapatlah kita sebut Aceh dan etnis lainnya dalam negara Indonesia sebagai sebuah bangsa dalam skala lokal. Karakter-karakter khas sub-bangsa ini akan berkontribusi secara nyata kepada pembentukan karakter utama bangsa Indonesia.

 

Aceh sebagai sebuah bangsa memiliki karakter tersendiri yang menjadi jatidiri bangsanya. Apa itu? Ada beberapa ciri yang dapat dilabelkan untuk menyebut masyarakat Aceh. Yang pertama, adalah Islam. Masyarakat Aceh dapat dikatakan 100% muslim, penganut agama Islam. Walaupun masyarakat Aceh telah ada sebelum agama Islam tiba di wilayah ini, namun kedatangan Islam telah mengubah secara keseluruhan pandangan hidup rakyatnya. Islam telah menjadi roh kehidupan seluruh rakyatnya saat ini.

 

Islam sebagai karakter bangsa adalah nilai plus bagi masyarakat Aceh. Karena Islam membawa nilai-nilai agung yang suci dan diberkahi oleh Allah Sang Maha Pencipta. Karakter bangsa yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman yang kental akan menjadi modal besar bagi kaum tersebut dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Karena Islam sarat dengan nilai-nilai hidup yang positif dan membawa kepada kebaikan di semua lini kehidupan.

 

Karakter positif lainnya yang telah menjadi ciri bangsa Aceh dapat disebutkan di sini seperti: berani, jujur, setia, bertanggung-jawab, dan rela berkorban. Kesemuanya itu adalah karakter positif yang telah dibangun oleh para leluhur pemimpin bangsa Aceh kepada masyarakatnya.

 

Dalam catatan sejarah, pendiri pertama Kerajaan Aceh di tahun 1514 Sultan Ali Mughayat Syah ternyata telah pernah menyusun serangkaian daftar peraturan secara tertulis yang harus ditaati oleh penduduk Aceh ketika itu. Sultan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi kerajaan telah memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk mentaati aturan tertulis tersebut. Isinya ada sebanyak 21 point yang berbentuk perintah untuk melakukan hal tertentu dan larangan untuk tidak melakukan hal tertentu.

 

Perintah dan larangan yang dititahkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah dipatuhi dengan baik oleh seluruh rakyat Aceh. Sehingga menjadi adat kebiasaan yang telah mendarah daging dan menjadi karakter bangsa Aceh sepanjang zaman-zaman berikutnya. Hal ini pula lah yang disinyalir oleh almarhum Tan Sri Sanusi Junid (seorang putra Aceh yang menjadi tokoh politik di Malaysia di era pemerintahan Mahathir Mohamad) sebagai kunci keberhasilan Kerajaan Aceh di abad ke-15-17 silam. Fakta ini direkam oleh Fahmi M. Nasir dalam tulisannya yang bertajuk Nilai-Nilai Hidup (Serambi Indonesia, 24 Mei 2016).

 

Nilai-nilai hidup bangsa Aceh yang dirumuskan oleh Sultan Ali Mughayat Syah itu jika ditampilkan dalam bentuk ringkasnya dapatlah disebut sebagai: jujur, berani, disiplin, rajin dan setia. Kesemua nilai ini menjadi kunci rahasia kesuksesan bangsa Aceh dalam mengarungi kehidupannya menjadi bangsa yang besar di kala itu.

 

Jika kita kembali menengok kondisi kontemporer Aceh masa kini, bagaimanakah posisi karakter-karakter positif di dalam kehidupan masyarakat? Tentunya keadaan sedikit banyak telah bergeser dan sendi kehidupan realitas masyarakat Aceh telah berubah sesuai dengan perjalanan kehidupan kebangsaan yang dilakoni masyarakat.

 

Keruntuhan Kerajaan Aceh akibat agresi Belanda di abad ke-19 telah pula meruntuhkan sendi-sendi moral dan semangat kebangsaan masyarakat yang tadinya dipegang oleh sistem Kerajaan Aceh sebagai pemangku kedaulatan bangsa Aceh yang sesungguhnya. Rakyat Aceh ibarat anak ayam kehilangan induk. Sang induk baru (Belanda) sudah menjelma menjadi serigala lapar yang siap melahap siapa saja.

 

Keadaan ini terus berlangsung bertahun-tahun dalam suasana kehidupan masyarakat yang tidak normal. Yaitu dalam suasana perang terus-menerus kepada penjajah Belanda, karena masyarakat Aceh tidak pernah bersedia takluk di bawah kaki penguasa Belanda. Dalam suasana darurat seperti ini karakter bangsa Aceh pun terbentuk menjadi karakter baru yang berangsur-angsur berubah secara tanda disadari. Secara formal, tidak ada lagi pemangku kedaulatan yang menjadi penjaga nilai-nilai karakter Aceh yang mesti dituruti dan ditaati seperti masa Kerajaan dahulu. Pemimpin informal Aceh diambil alih oleh para Ulama pewaris Nabi yang dengan setia menanamkan nilai-nilai Islam dalam sendi kehidupan. Namun, itu semua berlangsung secara informal, terbatas, dan terisolasi pada tempat-tempat yang terpencar-pencar. Tergantung kepada kekuatan dan kharisma ulama setempat. Sangat wajar jika kondisi ini sedemikian rupa telah mengubah perilaku masyarakat membentuk karakter-karakter negatif yang tidak dapat dikendalikan lagi secara institusional.

 

Patut disyukuri dalam suasana yang tidak kondusif seperti itu, masyarakat Aceh masih tetap dapat mempertahankan ciri karakter Islam yang agung dalam kehidupannya. Namun tetap tidak dapat disangkal bahwa karakter masyarakat Aceh juga mau tidak mau terpaksa mengalami degradasi yang luar biasa pula. Sifat-sifat negatif seperti dendam, iri, dengki, sombong dan sebagainya juga tumbuh subur dalam masyarakat yang bergolak dalam prahara perang tak berkesudahan.

 

Sehingga ketika penjajah Belanda akhirnya terusir dari tanah Aceh, kehidupan masyarakat Aceh yang hancur mulai ditata kembali dalam suasana kehidupan baru dalam bingkai negara baru Indonesia. Proses asimilasi dan akulturasi masyarakat Aceh menjadi bagian dari pranata kebangsaan Indonesia mengalami proses yang panjang pula. Dan itu berlangsung dengan penuh dinamika pula. Kini sudah 77 tahun kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajahan Belanda. Artinya sudah 77 tahun pula proses kebersamaan Aceh dalam bingkai kebangsaan Indonesia.

 

Cita-cita untuk membangkitkan kembali kemegahan Aceh yang pernah diraih dahulu tidak pernah padam. Untuk itu penggalian kembali karakter positif Aceh yang digalang Sultan Ali Mughayat Syah perlu dilakukan oleh segenap komponen yang berkepentingan dengan masa depan Aceh yang gemilang. Nilai-nilai karakter yang jujur, berani, disiplin, rajin dan setia mestilah menjadi pedoman hidup masyarakat Aceh kembali. Dan dapat ditanamkan melalui proses formal struktural dalam sistem pendidikan di Aceh.

 

Majelis Pendidikan Aceh sebagai sebuah lembaga formal yang bertanggung-jawab tentang pendidikan Aceh dapat diandalkan sebagai perumus utama pendidikan karakter keacehan ini. Diharapkan rumusan formal ini dapat diterapkan sebagai muatan lokal dalam sistem pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di seluruh Aceh.

 

Kita berharap nilai-nilai hidup yang positif ini dapat kembali menjadi karakter agung masyarakat Aceh melalui proses penanaman nilai yang terstruktur dan sistematis dalam pranata kehidupan normal masyarakat Aceh. Jika ini dapat dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, maka ini dapat menjadi kontribusi besar Aceh dalam menanamkan karakter agung ini kepada kehidupan kebangsaan Indonesia secara luas.***

 

Banda Aceh, 7 Desember 2022


 

Selasa, 06 Desember 2022

Transisi Energi dan Peran Perguruan Tinggi



Telah dimuat di Harian Banjarmasin Post edisi cetak 6 Desember 2022

Transisi energi sudah menjadi keniscayaan. Indonesia mau tidak mau sudah harus melakukan transisi energi, yaitu melakukan proses peralihan dari penggunaan energi fosil menjadi energi terbarukan sepenuhnya pada tahun 2060.

 

Transisi energi juga menjadi salahsatu isu penting dalam pertemuan KTT G-20 yang baru saja usai di Bali November lalu. Masyarakat dunia sudah bersepakat untuk serius mengalihkan penggunaan energi fosil menjadi energi terbarukan. Karena ini menyangkut keberlangsungan kehidupan penduduk dunia yang terancam oleh perubahan iklim dan pemanasan global yang dipicu oleh emisi karbon dari penggunaan energi fosil yang begitu masif.

 

Tantangan transisi energi ternyata begitu besar. Itu tidak saja dirasakan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia, namun ternyata juga oleh semua negara termasuk negara maju. Masing-masing dengan tantangan khas negara yang bersangkutan. Dapat disebutkan di sini beberapa bentuk tantangan, seperti perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, pembiayaan yang tinggi, penguasaan teknologi dan keterbatasan sumber energi terbarukan itu sendiri.

 

Bagi Indonesia keterbatasan sumber energi terbarukan mungkin bukan kendala. Karena justru Indonesia kaya dengan sumber energi terbarukan. Keanekaragamannya begitu tinggi. Mulai dari berlimpahnya sinar matahari, sumber daya air yang tinggi di pulau-pulau besarnya, sumber biomassa dari lahan-lahan yang luas yang dapat ditanami dengan tumbuhan bioenergi, dan bahkan sumber panas bumi yang berlimpah khas Indonesia yang tidak semua negara di dunia memilikinya.

 

Dari berbagai sumber energi terbarukan itu mungkin hanya energi angin yang sedikit di bawah potensi negara-negara sub-tropis. Rata-rata hembusan angin di wilayah Indonesia memang tidak sestabil dan konsisten dengan kecepatan yang menghasilkan jumlah energi yang signifikan.

 

Kendala utama yang Indonesia hadapi datang pada sisi pembiayaan dan penguasaan teknologi. Kedua faktor ini perlu diinvestigasi dan dievaluasi dengan penuh keseriusan. Perhitungan kasar memang menunjukkan jumlah yang sangat besar. Namun ini perlu disiasati dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

 

Beberapa opsi solusi yang ditawarkan, seperti investasi besar-besaran dari kalangan bank nasional. Saat ini masih terkendala, disebabkan pihak bank tidak tertarik untuk melakukan investasi di bidang energi terbarukan. Karena masih terdapat keraguan dan ketidakpastian. Namun pemerintah agaknya perlu intervensi untuk menugaskan bank-bank BUMN terjun langsung mendanai investasi di sini.

 

Opsi lainnya mengumpulkan dana darurat energi yang dikutip dari keuntungan besar eksploitasi batubara dan minyak sawit. Kita sama-sama tahu, bahwa booming harga batubara saat ini masih terus berlangsung. Sesuai dengan prinsip ekonomi kapitalis, keuntungan bisnis batubara ini sangat dinikmati oleh para pemegang saham perusahaan tambang batubara. Sebagai negara yang menganut paham Pancasila, sepatutnya kondisi kapitalis seperti ini harus sedikit direm. Artinya pemerintah bisa saja menerbitkan aturan UU yang mengutip sekian persen keuntungan bisnis batubara untuk disetor sebagai dana darurat pengembangan energi terbarukan. Mirip-mirip dengan penerapan Dana Reboisasi masa Orba dahulu. Begitu juga dengan bisnis sawit yang sedang booming. Tarik saja iuran khusus yang diperuntukkan bagi pengembangan energi terbarukan.

 

Tantangan kedua terbesar bagi Indonesia adalah penguasaan teknologi. Kita sadari bersama selama ini kita terus ketinggalan dalam hal pengembangan energi terbarukan. Riset-riset tentang energi terbarukan di perguruan tinggi Indonesia belum  menonjol. Pemerintah belum serius mendukung pihak perguruan tinggi untuk menekuni pengembangan energi terbarukan.

 

Dari sisi ini, pemerintah sudah saatnya jor-joran memberi kesempatan kepada pihak perguruan tinggi Indonesia untuk mengembangkan teknologi energi terbarukan. Banyak skema program yang dapat diluncurkan. Seperti mengucurkan dana penelitian yang besar untuk perguruan tinggi melakukan penemuan penting di bidang energi terbarukan.

 

Perguruan tinggi Indonesia kaya dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun pemerintah terkesan belum memberi kesempatan kepada mereka untuk berkiprah menumpahkan kemampuan maksimal mereka dalam menemukan teknologi mutakhir di bidang energi terbarukan.

 

Hak cipta dan hak paten kepemilikan teknologi di bidang energi terbarukan menjadi sangat penting. Karena ini juga menyangkut devisa negara. Kalau teknologi energi terbarukan dimiliki oleh pakar asing, maka selamanya kita akan terpaksa membayar royalti kepada mereka yang memiliki hak cipta teknologi tersebut.

 

Pemerintah perlu mendorong penciptaan teknologi baru dan terkini energi terbarukan dari kalangan perguruan tinggi kita sendiri, agar royalti yang perlu dibayarkan tidak mengalir ke negara luar. Jadi investasi penelitian energi terbarukan harus disasarkan kepada perguruan tinggi di dalam negeri.

 

Pada sisi lain, pihak ilmuwan di perguruan tinggi juga perlu memberi jaminan bahwa mereka cukup kompeten untuk melakukan penelitian-penelitian bermutu yang menghasilkan temuan-temuan teknologi mutakhir di bidang energi terbarukan. Sehingga cara yang paling adil adalah dengan menyelenggarakan seleksi yang ketat dan transparan kepada pihak yang berminat untuk melakukan penelitian energi terbarukan. Program pengucuran dana hibah penelitian dilakukan dengan serius dan berorientasi hasil produk. Bukan sekedar meneliti dengan hasil akhir berupa publikasi di jurnal ilmiah internasional. Namun penelitian yang benar-benar berorientasi kepada hasil (outcome) produk bermutu yang memberi sumbangan besar kepada pengembangan energi terbarukan Indonesia.

 

Sasaran utama sudah jelas, yaitu net zero emission pada 2060. alias penggunaan sepenuhnya energi terbarukan. Jadi mulai dari sekarang pemerintah sudah harus menyusun langkah strategis dan fokus pada upaya penguasaan teknologi energi terbarukan secara mandiri.

 

Langkah pertama adalah menentukan prioritas jenis energi terbarukan yang akan dikembangkan. Saran penulis adalah energi matahari, energi air dan energi panas bumi. Pertimbangannya, kita memiliki ketersediaan energi yang melimpah di sektor ini. Kita harus benar-benar fokus untuk menguasai teknologinya, artinya mengurangi sebesar mungkin peran teknologi asing pada ketiga sektor EBT ini. Kita perlu punya banyak penemuan dan hak cipta di teknologi pengembangan ketiga sektor ini.

 

Langkah kedua, kucurkan dana yang besar untuk dikelola dan dikembangkan oleh para ilmuwan bangsa di perguruan tinggi melalui program riset yang terjaga kredibilitas dan integritasnya. Memang ini tantangan terbesar pula bagaimana mengelola sebuah penelitian besar yang berintegritas. Namun kita harus yakin, bahwa kita punya talenta-talenta besar di perguruan tinggi kita yang memiliki dedikasi dan totalitas yang tinggi.

 

Langkah ketiga adalah lakukan investasi pengembangan dan implementasi transisi energi berbasiskan kepada teknologi yang telah kita kuasai melalui program penelitian tadi.

 

Jika kita berhasil menerapkan prinsip yang ditawarkan ini pada implementasi transisi energi Indonesia, maka keuntungan besar akan kita peroleh pada saat tiba tahun 2060. Ketika itu kita benar-benar mengamalkan energi terbarukan sepenuhnya dalam kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia sejak 2060 secara mandiri.

 

Kita mampu menjadikan energi terbarukan sebagai penggerak utama energi primer negara yang teknologinya kita miliki sendiri. Tanpa harus bergantung kepada sistem teknologi yang ditawarkan oleh pihak asing yang tentu akan menjerat kita selamanya.***


Banda Aceh, 3 Desember 2022 

Minggu, 04 Desember 2022

Menulis adalah Ibadah


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 2 Desember 2022

Menulis adalah sebuah ketrampilan. Sehingga perlu diasah dan dilatih terus menerus untuk dapat menjadi kebiasaan bagi setiap manusia terpelajar. Manusia terpelajar adalah semua insan yang haus ilmu dan ingin belajar terus sepanjang hayatnya.

 

Sering kali kita mendengar keluhan atau kita sendiri yang mengalami. Sukar sekali rasanya menuliskan sesuatu yang ingin diungkapkan. Terasakan iya namun terkatakan tidak. Unek-unek sudah menggumpal di kepala, namun sulit sekali rasanya dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

 

Ternyata ini adalah sesuatu yang wajar di masyarakat kita. Mungkin juga disebabkan oleh latar belakang budaya kita yang tidak terbiasa menulis. Budaya kita budaya berbicara. Kita sanggup untuk bicara panjang lebar di suatu forum informal, seperti di warung kopi atau pertemuan keluarga atau sesama sejawat di ruang-ruang santai. Namun menjadi tertatih-tatih ketika diminta untuk menuliskan apa-apa yang menjadi buah pikiran kita.

 

Menulis juga ada hubungannya dengan kebiasaan membaca. Jika kita terbiasa dan sering membaca maka secara tanpa disadari kita pun akan lebih mudah untuk menuliskan kembali apa yang kita baca tersebut. Namun masalahnya masyarakat kita pun ternyata tidak gemar membaca. Sehingga wajar jika menulis pun menjadi sukar untuk dilakukan.

 

Jadi untuk dapat mudah menulis kuncinya sering-seringlah membaca. Perbanyak kegiatan membaca apa saja, kemudian berlatihlah menuliskan apa-apa yang sudah dibaca itu. Insya Allah, lambat laun kebiasaan membaca dan menulis akan menjadi bagian keseharian kita.

 

Apa sesungguhnya manfaat menulis? Sebagian pihak menyebutkan kemampuan menulis seseorang mencerminkan jalan pikiran seseorang yang runtut dan sistematis. Artinya, jika seseorang mudah untuk melakukan kegiatan menulis, bermakna logika berpikirnya sudah berkembang dan mudah untuk memahami hal-hal baru. Pikirannya pun cepat beradaptasi dengan informasi dan fakta-fakta baru. Tentu ini suatu hal yang menguntungkan dan sangat berguna bagi seseorang untuk menyerap informasi yang silih berganti datang. Kemampuan berpikir logis menjadi dambaan setiap insan yang haus ilmu pengetahuan.

 

Selain itu menulis juga dapat dipakai sebagai alat terapi. Ada kalanya seseorang mengalami peristiwa yang menyedihkan dalam hidupnya sehingga kadangkala terserang oleh depresi. Ada psikolog yang menyarankan untuk melakukan terapi dengan menulis. Seseorang yang sedang mengalami depresi disarankan untuk duduk dengan tenang, dan mulailah menulis. Tuliskan saja segala hal yang muncul di kepala. Mengalir begitu saja. Kemudian rasakan perlahan-lahan sejalan dengan tulisan yang terus muncul pikiran seperti ringan dan beban yang menggumpal di kepala seperti berangsur-angsur lenyap.

 

Menulis sebagai kebiasaan hidup akan menambah rasa percaya diri seseorang. Dengan menulis seseorang dapat menyampaikan isi hati dan pikirannya yang paling dalam dan menjadi konsumsi masyarakat luas. Ide dan gagasan yang beraneka ragam dapat dengan mudah tersampaikan kepada khalayak jika kita dapat menuliskannya dengan runtut. Ide dan gagasan itu pun akan menjadi abadi dan tersimpan dalam bentuk tulisan. Artinya kapan saja buah pikiran kita yang sudah tertulis itu akan dengan mudah diakses kembali oleh khalayak bahkan ketika kita sudah tidak ada. Tulisan sudah menjadi warisan buah pikiran kita, dan ia kekal sepanjang tulisan itu masih dapat diakses oleh khalayak.

 

Menulis dapat menjadi sebuah kegiatan ibadah, jika dilakukan dengan niat untuk menyebarkan kebaikan kepada khalayak. Ulama kharismatik Buya Hamka telah membuktikan itu. Beliau begitu gemar menulis. Bahan tulisannya begitu beragam. Mulai dari menulis novel, cerpen, bahan ceramah agama, bahan pidato, bahkan menulis tafsir al-Quran. Bahan tulisan beliau tetap kekal, bahkan ketika beliau sudah lama meninggalkan dunia yang fana ini. Namun nama beliau tetap kekal dan menjadi sanjungan para pembacanya, karena warisan tulisannya yang tetap bisa dibaca hingga sekarang. Tulisan-tulisan beliau telah menjadi amal jariah bagi beliau, dan menjadikannya pahala yang terus mengalir kepada beliau hingga di akhirat kelak.

 

Menulis sebagai ibadah adalah cita-cita kita. Artinya tulislah sesuatu yang dapat menjadi manfaat yang sebesar-besarnya kepada umat. Usahakan bahan tulisan yang ditampilkan menjadi hal yang selalu dikenang dan berkesan pada pembaca. Sehingga setiap butir kata yang kita goreskan dalam tulisan tersebut bernilai pahala yang berlipat ganda di mata Sang Pencipta.

 

Dengan membulatkan tekad dan menanamkam niat menulis sebagai ibadah, sepertinya ketrampilan menulis akan semakin mudah untuk dijalankan dan diraih. Karena, sama seperti jika kita mengamalkan dan menjalankan ibadah rutin, dengan niat mendapatkan ridha Allah, maka Allah pun akan memudahkan perjalanan niat kita tersebut.

 

Sehingga, salahsatu kunci keberhasilan kita untuk dapat trampil melakukan pekerjaan menulis, kita harus mengubah mindset di kepala dan menganggapnya sebagai sebuah ibadah. Menulis sebagai ibadah, akan secara otomatis pula memandu kita untuk mengangkat bahan-bahan tulisan yang bersifat positif dan mengandung nilai-nilai kebaikan kepada umat pembaca.  Semangat kita pun ikut terpacu untuk terus berbagi kebaikan melalui tulisan-tulisan yang terus mengalir dengan derasnya.

 

Pelajaran menulis menjadi bahan pelajaran sepanjang hayat. Menulis dapat dipelajari sepanjang hayat. Artinya, menulis dapat dipelajari sejak di usia dini ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar sekalipun. Bahkan ketika dalam usia lanjut pun menulis masih tetap relevan untuk dipelajari dan digeluti. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menulis. Jadilah penulis yang produktif, niscaya ia akan menjadi legasi dan amal jariah yang abadi sepanjang masa. ***

 

Banda Aceh, 30 November 2022 

Jumat, 25 November 2022

Al-Jazari, Insinyur Mesin Muslim Terkemuka


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 25 November 2022 

Suatu ketika dahulu tokoh-tokoh saintis Islam pernah malang melintang pada zaman kegemilangan kebudayaan Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan modern yang saat ini dikuasai oleh bangsa Eropa dan Amerika, sesungguhnya banyak diilhami dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditemukan oleh orang-orang Islam. Justru pada masa bangsa Eropa terpuruk dan berada dalam kegelapan, Islam berada di puncak penguasaan ilmu dan teknologi yang maju.


Hampir semua bidang ilmu merujuk kepada asas-asas yang dibangun oleh saintis Islam pada zamannya. Bidang kedokteran dikenal dengan nama-nama Ibnu Sina, Al-Zahrawi, Al-Razi dan Ibnu Nafis; ilmu kimia: Jabir Hayyan; ilmu matematika: Al-Khwarizmi dan Nasaruddin Al-Tusi; bidang teknologi: Al-Jazari; ilmu astronomi: Ulugbek, Nasarudin Tusi dan Al-Kashi; ilmu botani/farmakologi: Ibnu Baitar; ilmu geografi: Al-Idrisi; ilmu sosiologi: Ibnu Khaldun; ilmu arsitektur: Mimar Sinan, serta bidang pelayaran: Cheng Ho dan Ibnu Majid.


Namun fakta ini tidak banyak diketahui lagi sekarang karena orang Barat yang kini menguasai dunia seperti sengaja menggelapkannya. Ditambah lagi dengan kondisi ilmuwan Islam sendiri saat ini yang sedikit sekali menguasai atau mampu memberi pengaruh penting kepada dunia.


Al-Jazari adalah insinyur teknik mesin (mechanical engineer) yang paling top pada zamannya. Beliau berdiam di Diyar-Bakir (Turki) pada abad 6 H atau abad ke-12 Masehi. Nama lengkap beliau Badi Al-Zaman AbulI-Ezz Ibn Ismail Ibn Al-Razzaz Al-Jazari, dan dipanggil dengan sebutan Al-Jazari merujuk kepada tanah kelahirannya yaitu Al-Jazira suatu wilayah di antara sungai Tigris dan Eufrat, Irak. Karirnya sebagai insinyur diabdikan kepada penguasa Diyar-Bakir, Raja Urtuq semasa 570-597 H (1174-1200 Masehi). Dan pada tahun 1206 menyelesaikan buku teknik yang terkenal "Al-Jami Bain Al-Ilm Wal-Amal Al-Nafi Fi Sinat'at Al-Hiyal", yang kira-kira artinya Ringkasan Mekanikal Teori dan Praktek. Inilah buku yang dianggap sebagai puncak pencapaian tertinggi teknologi peradaban Islam.

  



Gambar: Salahsatu karya Al-Jazari peralatan mesin tenaga hidro

(Dipetik dari buku The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices karya Al-Jazari di tahun 1206)


Buku ini secara khusus menekankan pada aspek praktikal karena pengarangnya seorang insinyur yang kompeten dan terlatih. Al-Jazari menggambarkan berbagai peralatan secara detail dan kontribusinya sangat berharga dalam sejarah teknologi. Insinyur Inggris modern Donald Hill (1974) mengatakan: mustahil mengabaikan peranan karya Al-Jazari dalam sejarah keteknikan modern, karena ia kaya dengan petunjuk-petunjuk dalam desain, manufaktur dan perakitan mesin-mesin. Al-Jazari menggambarkan 50 peralatan mekanik dalam 6 kategori, termasuk jam air (water clock), mesin pencuci tangan, mesin pompa air, dan lain-lain.

 


Gambar cover buku Al Jazari yang diterjemahkan oleh Donald R. Hill (1974)


Donald Hill menterjemahkan karya Al-Jazari pada tahun 1974, 768 tahun setelah penerbitan buku aslinya. Diterbitkan kembali dengan judul The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices. Buku tersebut memuat 6 kategori utama peralatan mesin dan banyak istilah-istilah peralatan, mesin, mekanisme dan teknik-teknik muncul pertama sekali di dalam buku ini mendahului buku-buku teknik mesin Eropa, seperti double acting pump dengan pipa isap, crankshaft dalam mesin, kalibrasi orifis yang akurat, balansing roda statik, pemakaian model untuk membangun desain, pengecoran logam dalam mould dengan pasir, dan banyak lagi. Segmental gear (roda gigi) juga pertama sekali muncul dengan jelas pada buku ini, dibandingkan dengan jam astronomi Giovanni de Dondi pada tahun 1364, dan karya Francesco di Giorgio (1501) dalam khasanah desain permesinan Eropa.


UMIST Manchester (sekarang bernama University of Manchester) pernah membuat rekonstruksi ulang mesin-mesin yang digambarkan dalam buku Al-Jazari, melalui program tugas akhir bagi mahasiswa under-graduate mereka. Rekonstruksi dilakukan dengan bantuan software komputer dan perhitungan ulang dengan rumus-rumus keteknikan mutakhir. Hasilnya membuktikan bahwa mesin-mesin tersebut dapat berfungsi dengan baik.


Sesungguhnya buku Al-Jazari hanyalah sebagian kecil dari ribuan karya-karya iptek Islam pada masa kegemilangan peradaban Islam. Kebanyakan karya-karya tersebut telah hilang tanpa bekas atau tersembunyi di museum-museum Barat tanpa ada lagi yang menjamahnya. Sejalan dengan keruntuhan kekhalifahan Islam di muka bumi, pihak Barat telah berhasil mencuri rahasia teknologi Islam dan mengembangkannya dengan mengakuinya sebagai karya sendiri. Tinggallah kini, generasi baru Islam yang telah terputus dengan peradaban agung pendahulunya, dan tertatih-tatih untuk menguasai kembali ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

 

Kisah inspiratif ini hendaknya dapat memantik kesadaran kita di kalangan umat Islam agar segera bangkit menguasai kembali teknologi dan sains dunia. Saat ini kiblat ilmu sains dan teknologi adalah dunia Barat. Sehingga kita semua terpesona dengan segala hal yang berbau barat. Seolah-olah itulah ciri kemajuan dunia. Padahal adakalanya dahulu kiblat pengetahuan dunia ada di dunia Islam.

 

Untuk itu kita perlu menanamkan kuat-kuat dalam pikiran bahwa dunia Islam pernah maju teknologinya, dan bukan tidak mungkin dapat kembali bangkit seperti dulu. Asal saja kita umat Islam zaman modern ini sungguh-sungguh ingin mengembalikan lagi kejayaan teknologi Islam masa silam itu. Dengan cara belajar sungguh-sungguh dan bertekad untuk menguasai ilmu dan teknologi serta sains yang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban dunia.

 

Sejarah kegemilangan peradaban Islam di masa silam perlu terus dipupuk dan diviralkan di kalangan generasi muda muslim. Agar tumbuh kesadaran massal akan pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi oleh masyarakat muslim sehingga dapat menjadi kiblat panutan dunia. Kita sudah pernah jaya dulu, artinya kita akan bisa juga berjaya di masa depan.***

 

Banda Aceh, 22 November 2022

 

Rabu, 23 November 2022

Para Pahlawan USK

 


Telah dimuat di Harian Waspada edisi cetak 23 November 2022

Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat akan jasa-jasa para pahlawannya. Inilah yang sering diteriakkan oleh Presiden Sukarno dalam berbagai pidato suatu ketika dahulu, untuk mengingatkan bangsa kita akan pentingnya mengenang sejarah dan peran para tokoh pahlawan bangsa. Sehingga dalam ritual kehidupan berbangsa kita, tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

 

Momen Hari Pahlawan itu dipilih karena pada tanggal 10 November tahun 1945 telah terjadi peristiwa besar di kota Surabaya, ketika ribuan rakyat kota di Jawa Timur itu rela mempertaruhkan nyawanya membela harga diri bangsa yang sedang dicabik-cabik oleh ultimatum tentara Inggris (sekutu). Tentara sekutu yang datang ke tanah air dengan misi melucuti serdadu Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II, terlibat konflik pula dengan laskar rakyat di Surabaya. Kegigihan laskar rakyat Surabaya sangat luar biasa. Mereka rela bertempur dan mempertahankan diri dari gempuran tentara Inggris tanpa rasa takut sedikit pun. Sehingga di pihak rakyat pun jatuh korban jiwa ribuan jumlahnya.

 

Kisah heroik 10 November menjadi momentum penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Untuk mengenang dan menghormati sertai menghargai pengorbanan yang begitu besar dari perjuangan rakyat di Surabaya itu, tanggal 10 November menjadi hari keramat yang terus diabadikan sebagai monumen peringatan akan jasa-jasa para pahlawan bangsa. Artinya, momen 10 November telah menjadi milik semua para tokoh yang ditabalkan sebagai Pahlawan Bangsa.

 

Dalam hal ini, Pahlawan Bangsa tidak hanya sebutan kepada tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Namun juga menyasar kepada semua unsur bangsa yang telah memberikan kontribusi besar dan sumbangsihnya bagi kehidupan berbangsa di tanah air ini. Sehingga sebutan pahlawan menjadi luas maknanya menjurus kepada pihak-pihak lintas bidang pengabdian, lintas wilayah maupun lintas institusi.

 

Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai institusi pendidikan tinggi di Aceh selalu mengadakan upacara peringatan Hari Pahlawan setiap tahunnya. Upacara dipimpin oleh Rektor dan dalam kebiasaannya beliau bertugas membacakan amanat Menteri Sosial RI sebagai ucapan resmi dari pemerintah. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin tahunan dan dilaksanakan secara formal. Sehingga lama kelamaan terkesan seperti aktifitas rutin biasa tanpa ada gregetnya. Kemungkinan disebabkan oleh terlalu terpaku dengan pakem yang telah ditetapkan oleh pusat dalam panduan penyelenggaraan upacara.

 

Padahal sesungguhnya terbuka peluang untuk menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pahlawan ini dengan lebih bervariasi dan sarat dengan nilai-nilai heroik lokal. Bukan saja nilai heroik lokal kedaerahan, namun bisa juga dikombinasikan dengan nilai-nilai heroik institusional. Sebagai contoh, USK dapat mengangkat tokoh sesepuh pendiri kampus USK yang melegenda sebagai sosok yang diingat perannya.

 

Kita tahu bagaimana perjuangan pendirian Universitas Syiah Kuala di awal-awal dulu. USK lahir dari perjuangan besar para tokoh pendidikan di Aceh seperti Prof Ali Hasjmy, Kolonel Sjamaun Gaharu, Kolonel M. Yasin, Drs. Syamsuddin Ishak, Profesor Madjid Ibrahim, Profesor Ibrahim Hasan, Profesor Syamsuddin Mahmud, dan banyak lagi. Peran mereka sangat besar dalam melahirkan dan mengembangkan USK di saat-saat awal sehingga USK dapat megah berdiri seperti sekarang ini.

 

Momen peringatan Hari Pahlawan 10 November sepatutnya dimanfaatkan juga untuk mengenang para tokoh pahlawan USK ini. Caranya bisa dengan berbagai macam. Apakah dengan menabalkan nama mereka pada salahsatu bangunan di dalam kampus, atau dengan menyelenggarakan event khusus Seminar Sehari Biografi Tokoh USK tertentu.

 

Mengenang nama dan jasa para tokoh pahlawan USK menjadi sangat penting maknanya dalam memberi pemahaman akan nilai-nilai sejarah USK di benak para mahasiswa milenial USK masa kini. Terlalu jauh rentang masa yang telah terbentang antara masa keberadaan para tokoh penting USK tersebut dengan suasana kehidupan kampus milenial sekarang. Sehingga perlu ada jembatan yang selalu menghubungkan keberadaan masa silam tersebut, untuk tetap menjaga nilai ke-USK-an di kalangan kaum muda sekarang. Inilah tugas pimpinan USK sekarang untuk menjalinnya menjadi suatu rangkaian peringatan yang berkontribusi kepada pencerahan nilai-nilai heroik USK.

 

Selain itu gagasan untuk merevitalisasi bangunan lama perumahan dosen yang pernah ditempati oleh para tokoh pendiri USK juga patut jadi pertimbangan. Kalau kita telusuri rumah-rumah dinas di dalam kampus, akan kita dapati beberapa bangunan rumah yang dulunya pernah ditempati oleh tokoh-tokoh USK ketika mereka masih berdinas dulu. Seperti rumah dinas yang ditempati oleh Profesor Ibrahim Hasan, Profesor Abdullah Ali, Drs. Syamsuddin Ishak, dan banyak lagi.

 

Rumah-rumah tersebut sebaiknya direstorasi, dirawat dan dijadikan semacam museum mini. Di depan rumah dapat diberikan tanda yang bertuliskan, Di sini Rumah Tinggal Profesor Ibrahim Hasan, dan seterusnya. Dan di dalamnya dapat diisi dengan barang-barang tertentu yang berkaitan dengan profil sang tokoh. Jadi bisa dijadikan semacam museum mini untuk tokoh yang dimaksud. Museum Mini di dalam kampus USK tentu menjadi cagar budaya yang menarik untuk para mahasiswa USK dan masyarakat luas yang berminat dengan sejarah USK. Para mahasiswa milenial USK akan dapat dengan mudah memperoleh akses akan informasi tentang sejarah hidup perjalanan USK melalui revitalisasi rumah-rumah bersejarah ini.

 

Sehingga upacara Hari Pahlawan setiap tahunnya di dalam kampus akan berlangsung dengan lebih semarak. Karena dibarengi selalu dengan kegiatan pencanangan peringatan tokoh lokal USK dalam bentuk peresmian restorasi rumah tinggal tokoh tertentu. Sekaligus dengan penabalan nama tokoh tersebut terhadap rumah hasil restorasi tadi, dan sekaligus pula acara seminar mengenang peran tokoh tersebut dalam sumbangsihnya kepada USK.

 

Kegiatan ini setidaknya mengangkat satu tokoh setiap tahunnya, sehingga setiap tahun selalu diwarnai dengan keragaman tokoh yang diangkat sebagai pusat kajian peringatan. Suasana peringatan Hari Pahlawan pun akan berlangsung lebih meriah dan bernuansa sejarah lokal yang diperkaya dengan nilai-nilai heroik khas USK.

 

Jadi di hari pahlawan 10 November, kita tidak saja mengenang jasa-jasa para pahlawan nasional bangsa namun sekaligus mengenang pula jasa-jasa para pahlawan lokal institusi USK yang tidak kecil sumbangsihnya dalam membangun karakter anak bangsa dan peradaban Indonesia tercinta ini. Tentunya jiwa-jiwa yang besar akan terus terbangun dan terjaga eksistensinya di sanubari para mahasiswa milenial USK, melalui sarana peringatan Hari Pahlawan yang penuh makna ini. Karena bangsa yang berjiwa besar adalah bangsa yang selalu mengenang jasa-jasa pahlawannya.***

 

Banda Aceh, 20 November 2022


Sabtu, 19 November 2022

Pentingkah Jalan Tol Aceh?


Telah dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi cetak 16 November 2022


Jalan tol Aceh sudah terbangun. Meski belum selesai seluruhnya, namun sebagian ruas tol yang telah terbangun sudah dapat dinikmati oleh masyarakat Aceh. Ruas tol Sibanceh (Sigli – Banda Aceh) sudah dimulai pengerjaannya sejak 2019 yang meliputi 6 (enam) seksi. Seksi 1 (Padangtiji – Seulimeum), seksi 2 (Seulimeum – Jantho), seksi 3 (Jantho – Indrapuri), seksi 4 (Indrapuri – Blang Bintang), seksi 5 (Blang Bintang – Kutabaro) dan terakhir seksi 6 (Kutabaro – Simpang Baitussalam)

 

Saat ini masyarakat Aceh sudah dapat mencicipi jalur Blang Bintang sampai Seulimeum sejauh 36 km yang telah terhampar di lintasan tol Sibanceh. Direncanakan tol Aceh yang membentang dari Banda Aceh hingga kota Medan menjadi urat nadi utama transportasi darat Aceh. Walau itu masih belum terwujud, setidaknya progress Sibanceh yang mengawali proses pembangunan tol Aceh telah membuka peluang dan harapan besar akan terwujudnya tol Aceh. Yang lebih utama lagi, tol Aceh akan menjadi bagian dari jalur tol Sumatera yang menghubungkan semua kota-kota besar di lintasan Pulau Sumatera. Sebuah cita-cita besar yang sudah tergaung lama sejak zaman Orba dulu.

 

Memang bukan hal yang mudah untuk mewujudkan perhubungan darat yang modern lewat tol di Sumatera ini. Saya masih ingat bagaimana perjuangan para pihak yang berkepentingan akan ide pembangunan tol Sumatera. Berbagai gagasan dan strategi dijalankan untuk dapat mewujudkan cita-cita besar itu. Namun kebanyakan terjebak dengan berbagai rintangan dan kendala. Yang bahkan sampai kini pun masih tetap menghadang. Terutama dalam segi finansial atau pendanaan.

 

Kini setidaknya cita-cita besar itu sudah menampakkan wujudnya. Dan sebagian sudah mulai dinikmati oleh masyarakat Sumatera. Seperti salah satunya Jalan tol Lampung-Palembang sejauh 371,5 km. Jika dulu jalur darat Lampung-Palembang perlu ditempuh dalam 10 sampai 12 jam, maka kini lewat jalan tol bahkan hanya butuh waktu 3 atau 4 jam saja. Sebuah penghematan waktu yang sangat siknifikan.

 

Dampaknya pun luar biasa. Masyarakat Palembang semakin nyaman untuk bepergian ke wilayah Lampung, untuk berwisata misalnya. Kawasan wisata pantai Lamppung menjadi tujuan favorit bagi masyarakat Sumsel. Kawasan pantai di Lampung Selatan memang menawarkan destinasi wisata yang menarik. Akses yang semakin mudah, cepat dan nyaman ke tempat-tempat tersebut telah memicu pertumbuhan ekonomi kawasan wisata di sana. Efek ganda bahkan tripel ekonomi semakin dinikmati oleh masyarakat Lampung dan sekitarnya. Hal inilah yang menjadi salahsatu tujuan terbangunnya jalan tol di sebuah kawasan. Terbinanya pertumbuhan ekonomi positif di kalangan masyarakat kawasan.

 

Tak dapat dipungkiri dampak positif yang dihasilkan oleh terbangunnya infrastruktur jalan tol di suatu kawasan. Hal ini sudah terbukti nyata dalam implementasi jalan tol di semua kawasan di Sumatera. Melihat dampak yang siknifikan ini tentunya harapan besar yang sama disandarkan pada kebangunan jalan tol Aceh. Kita tentu sangat berharap ekonomi kawasan Aceh dapat tumbuh kuat dan menopang perekonomian masyarakat Aceh secara siknifikan pula. Jalan tol menjadi sarana penting yang membuka peluang-peluang besar dari potensi Aceh untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang kuat dan menjadi tulang punggung kemajuan Aceh.

 

Akses jalan tol Aceh akan membuka jalur distribusi barang dan jasa baik keluar maupun masuk ke wilayah Aceh. Produk-produk andalan hasil wilayah ini dapat disalurkan dengan lebih mudah, cepat dan aman ke pasar di luar Aceh. Sehingga memberi nilai tambah bagi pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Jalan tol juga membuka akses masuk para wisatawan luar daerah untuk menuju destinasi wisata dalam wilayah Aceh.

 

Sepanjang kabupaten Aceh terhampar destinasi wisata yang beragam dan menarik. Mulai dari Aceh Timur, Aceh Utara, Bireun, Pidie, Takengon, Aceh Besar sampai Banda Aceh, serta terus ke Aceh Barat dan pesisir Barat-Selatan. Setidaknya dengan adanya jalur tol utama Aceh yang membelah wilayah Aceh ini, akan membuka akses lebih mudah ke dalam wilayah-wilayah tujuan wisata yang selama ini agak sukar dimasuki jika belum ada jalan tol.

 

Untuk itu perlu dirancang dari sekarang di saat pembangunan jalan tol sedang dikerjakan, secara paralel pembangunan semua kemungkinan pusat pertumbuhan ekonomi. Seperti pusat-pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, perkebunan, hasil pertanian, peternakan, serta juga kawasan destinasi wisata baru. Pihak pemerintah Aceh sudah selayaknya memikirkan program apa saja yang dapat memanfaatkan efek berantai atas kehadiran jalan tol Aceh yang sudah muncul di depan mata ini.

 

Pihak swasta pun bisa mulai tergerak dan memikirkan peluang investasi apa saja yang memungkinkan untuk ditumbuhkan. Kita bisa saksikan sendiri di kiri kanan jalan tol terhampar lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Perlu pemikiran yang cerdas dan jitu untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong tersebut sebagai pusat produksi pertanian yang bernilai ekonomi. Pencanangan ide dan gagasan ini sudah harus dimulai sedari sekarang,  di saat pembangunan jalan tol sudah mulai berjalan. Begitu selesai keseluruhan jalan tol dan pengoperasiannya, geliat ekonomi pun dapat segera hidup dari rangkaian aktifitas produksi lahan-lahan yang termanfaatkan tersebut.

 

Bisnis rest area juga patut dipikirkan untuk dikembangkan. Beberapa wilayah lahan yang dilalui oleh jalan tol Sibanceh menampilkan view yang sangat indah dan menarik. Dengan lanskap gunung Seulawah indah menjulang diselimuti dengan panorama perbukitan kawasan Aceh Besar yang begitu indah menjadi tempat yang sangat sesuai untuk menikmati keindahan alam. Jika dapat dibangun rest area ataupun tempat persinggahan yang layak dan nyaman, tentu menjadi target kunjungan yang sangat menjanjikan bagi para pelintas jalan tol Sibanceh.

 

Rest area bisa disulap menjadi destinasi wisata lokal yang baru dan menarik. Dengan hidangan masakan kuliner Aceh yang khas dan menggiurkan tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelintas jalan tol. Sehingga jalan tol bukan saja menjadi sekedar sarana perlintasan pengendara, namun malah menjadi sasaran utama para pelintas. Artinya masyarakat secara khusus melintasi tol sebagai objek tujuan parawisata itu sendiri. Menikmati perjalanan di jalan tol dan sekaligus menikmati rest area kuliner khas yang ditawarkan oleh pengelola jalan tol itu sendiri.

 

Dan kadar pentingnya kehadiran tol Aceh di sepanjang wilayah Aceh menjadi semakin nyata dan tinggi nilainya. Untuk itu perlu dukungan sepenuhnya dari semua lapisan masyarakat, golongan dan kalangan yang berkepentingan di Aceh untuk bersama-sama memusatkan perhatian bagi pemanfaatan yang optimal akan kehadiran jalan tol di Aceh. Fungsi jalan tol semakin bertambah beragam, yang tadinya untuk mengurai kemacetan di jalan arteri, mengurangi beban jalan nasional yang ada, mempercepat akses ke wilayah antar kota, mendorong arus barang yang bernilai ekonomi, kini bertambah menjadi sasaran destinasi wisata yang baru.

 

Sehingga jika semua fungsi pembangunan jalan tol Aceh dapat memenuhi semua sasaran yang disebut di atas, tak perlu lagi ada pertanyaan Pentingkah jalan tol Aceh dibangun? Kita sudah dapat menjawabnya dengan gamblang.***

 

Banda Aceh, 29 Oktober 2022

Minggu, 30 Oktober 2022

Penguatan Sinergitas USK-UIN


Telah dimuat di media cetak Harian Rakyat Aceh edisi Jumat 21 Oktober 2022

Akhir bulan Juli 2022 lalu telah berlangsung pelantikan Rektor UIN Ar-Raniry. Tidak berpanjang waktu, sang rektor baru Profesor Mujiburrahman langsung mengadakan pertemuan silaturahmi dengan Rektor USK. Ini sebuah langkah pembuka yang manis dari seorang pimpinan baru kepada jirannya atau dapat disebut sebagai saweu  kepada saudara kandungnya. Kita sama-sama tahu, UIN dan USK adalah saudara sekandung yang lahir dari ibunda Kopelma Darussalam. Pertemuan mesra antara dua pimpinan PT kebanggaan Aceh ini tentu sangat membahagiakan semua pihak. Karena hubungan baik yang selama ini telah terjalin akan tetap terawat dan bersinambung.

 

Sejak berdirinya Kopelma Darussalam pada 2 September 1959, 63 tahun yang silam, telah melahirkan dua perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Aceh, yaitu IAIN Ar-Raniry yang berlandaskan pendidikan keislaman, dan Unsyiah yang berkonsentrasi mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendekatan modern. Dalam perjalanan waktu keduanya berkembang dan bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang semakin maju dan tumbuh dengan cirinya masing-masing. Namun, kita tetap berharap dengan penuh keyakinan bahwa spirit Kopelma Darussalam tetap menjadi karakter utama dari kedua perguruan tinggi ini. Yaitu semangat yang ditanamkan ketika Kopelma Darussalam didirikan oleh para founding father pemimpin Aceh di tahun 1959 ketika itu.

 

Tujuan dibangunkannya Kopelma Darussalam adalah untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat Aceh, membentuk insan yang berbudi luhur dan mengubah lanskap kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang sebelumnya bernaung di alam darul harb menjadi alam darussalam. Alam yang diliputi dengan suasana peperangan menjadi alam yang penuh kedamaian. Pendidikan di segala bidang hanya bisa tumbuh subur di alam yang penuh dengan kedamaian. Itulah spirit inti berdirinya Kopelma Darusalam.

 

Setelah 63 tahun berlalu IAIN Arraniry telah mengubah namanya menjadi UIN, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Dengan tujuan menjadikannya perguruan tinggi Islam yang progresif dan mampu menjawab tantangan era globalisasi. Demikian pula Unsyiah, yang mencoba menjawab tantangan zaman dengan berbagai inovasi dan terobosan. Salahsatu di antaranya dengan sedikit mengubah akronim menjadi USK, yang memberi kesan modern, mudah diingat dan disebut dalam penuturan kawula muda nan enerjik. Seiring dengan berjalannya waktu, kita berharap transformasi keduanya akan mencapai sasaran yang dituju, yaitu mampu menjawab tantangan era globalisasi ini.

 

Salahsatu spirit dalam menjawab tantangan era globalisasi selain mampu berkompetisi, juga perguruan tinggi harus siap melakukan kolaborasi. Kolaborasi akan menggiring kepada suasana sinergi untuk maju bersama-sama memecahkan masalah kehidupan yang semakin kompleks. Artinya kita tidak lagi sekedar mampu bersaing dengan kompetitor, namun juga mampu dengan besar hati bekerjasama dengan tujuan win-win solution.

 

Sinergi menjadi kata kunci di era modern ini untuk dapat keluar dari permasalahan dunia. Kita tahu semua pihak memiliki kelebihan masing-masing, dan dengan berkolaborasi kita dapat saling berbagi kepakaran sehingga akan maju bersama-sama. Semangat kolaborasi inilah yang sekarang perlu dipupuk terus di kalangan jajaran akademik USK dan UIN jika ingin maju bersama mensejahterakan masyarakat Aceh tercinta.

 

Tahun 2022 ini kedua perguruan tinggi sama-sama dinahkodai oleh rektor yang baru. USK dikomando oleh Profesor Marwan sejak Maret 2022 dan UIN baru berganti pimpinan kepada Profesor Mujiburrahman di bulan Agustus ini. Kedua sosok ini sama-sama masih tergolong muda, enerjik, dan sarat dengan spirit bertransformasi yang fokus pada kemajuan. Momentum ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Kopelma Darussalam untuk bangkit bersama-sama mengkilapkan kembali roh suci spirit Kopelma Darussalam yang sudah hidup sejak 63 tahun yang lalu.

 

Dalam silaturahmi rektor UIN-USK tersebut, Profesor Mujiburrahman dengan gamblang menjelaskan visinya dalam membangun sinergisitas baru antara UIN dan USK. Dalam tataran teknis dan jangka pendek, sinergisitas itu berwujud kegiatan bersama pada hari-hari keramat seperti peringatan 17 Agustus, 2 September dan berbagai kegiatan yang akan menyusul kemudian. Harapan kita, kegiatan ini tidak saja sekedar pada tataran aktifitas jangka pendek, namun perlu dirancang dengan sistematis dan terstruktur untuk kegiatan jangka menengah dan panjang.

 

Jika program jangka pendek dapat dikualifikasikan sebagai kegiatan seremonial yang rutin dilaksanakan dalam jadwal tertentu secara bersama-sama, maka program jangka menengah dan panjang lebih bernuansa filosofis dengan cakupan kegiatan yang lebih luas, dalam dan melibatkan pemikiran yang kritis di kalangan sivitas akademika kedua belah pihak.

 

Salahsatu bentuk program sinergisitas jangka menengah seperti yang pernah penulis deskripsikan dalam artikel berjudul Kopelma Darussalam Heritage Park di harian Waspada 16 Juli 2022. Di dalam program ini dapat dilakukan berupa peremajaan situs-situs bangunan lama yang sudah menjadi ikon Kopelma Darussalam, seperti tugu Darussalam, bangunan-bangunan lama yang menyimpan sejarah perjalanan Darussalam, peremajaan bus Robur Darussalam dan lain-lain. Salahsatu robur ini mangkrak di sudut lusuh kampus, sesungguhnya dapat diremajakan kembali oleh Fakultas Teknik USK. Bisa saja dijadikan sebagai bus listrik dan dioperasikan di dalam kampus sebagai transportasi gratis kepada mahasiswa atau pengunjung luar.

 

Nah, bagaimana dengan program jangka panjang? Penulis pernah berbincang dengan sesama kolega sivitas USK tentang keberadaan majalah ilmiah Sinar Darussalam. Majalah ini pernah begitu populer di masa-masa pertumbuhan kampus Kopelma Darussalam. Digagas dan diasuh oleh Profesor Ali Hasjmy, majalah ini pernah menjadi ikon penting yang memuat berbagai tulisan, opini, dan artikel ilmiah hasil pemikiran para dosen Unsyiah dan IAIN ketika itu. Kini majalah ilmiah tersebut mati suri. Tidak pernah terbit lagi.

 

Gagasan menerbitkan kembali majalah Sinar Darussalam dengan wajah baru dapat menjadi program jangka panjang andalan dalam membangun sinergisitas akademik yang kukuh antara USK dan UIN. Kedua perguruan ini telah memiliki ratusan Profesor dengan kepakaran yang teruji pada bidang masing-masing. Wujudnya majalah ilmiah Sinar Darussalam berwajah baru dapat menjadi wadah utama Kopelma Darussalam modern dalam berkontribusi kepada ilmu pengetahuan dan pengembangan negeri Aceh. Saya membayangkan dalam majalah ini muncul berbagai ide dan gagasan segar yang orisinal dan cerdas tentang segala aspek kehidupan yang memajukan pembangunan Aceh khususnya, dan Indonesia maupun dunia internasional.

 

Untuk mewujudkan langkah pemenuhan program jangka pendek, menengah dan panjang ini tentu diperlukan strategi yang jitu dan fleksibel. Kedua rektor bisa saja berembuk kembali dan membawa para pakar di belakang mereka untuk merumuskan bentuk kelembagaan yang seperti apa yang paling pas dan sesuai untuk melakukan ini semua. Sehingga dari sini akan lahir banyak gagasan baru yang bermuara kepada upaya pengembangan pembangunan Aceh yang sejati. Sehingga peran USK dan UIN dalam berkontribusi kepada pembangunan Aceh yang hakiki dapat disalurkan dengan sebaik-baiknya melalui program sinergisitas ini.***

 

Banda Aceh, 19 Oktober 2022

 

Antara Proses dan Hasil

  Telah dimuat di harian Waspada edisi Jumat, 31 Juli 2026 Di setiap tahap kehidupan, pertanyaan ini hampir selalu muncul. Seorang mahasiswa...