Rabu, 15 Juli 2026

Haji Syahrial dan Enang-enang

Telah dimuat di harian Waspada edisi Rabu, 15 Juli 2026

Di tengah riuh pemberitaan nasional tentang investasi, proyek strategis, dan pertumbuhan ekonomi, ada sebuah kisah sederhana dari pedalaman Aceh yang layak mendapat perhatian lebih luas. Kisah itu datang dari Enang-Enang, sebuah kawasan di Kabupaten Bener Meriah yang beberapa waktu lalu terisolasi akibat bencana banjir dan longsor. Di sana, muncul seorang tokoh masyarakat bernama Haji Syahrial yang memilih bertindak ketika banyak orang hanya bisa mengeluh.

Bagi sebagian orang, Haji Syahrial mungkin bukan pejabat negara, bukan anggota dewan, bukan pula pemegang jabatan penting dalam pemerintahan. Beliau hanya tokoh masyarakat lokal biasa, mantan kepala mukim di kawasan tersebut. Namun dalam situasi krisis, ia tampil sebagai pemimpin yang sesungguhnya: seseorang yang mampu menggerakkan masyarakat untuk menyelesaikan masalah bersama.

Ketika jalan penghubung menuju Enang-Enang rusak akibat bencana, masyarakat setempat menghadapi kesulitan yang tidak ringan. Akses transportasi terganggu, biaya perjalanan meningkat, aktivitas ekonomi tersendat, dan mobilitas warga menjadi sangat terbatas. Jalan yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mendadak lumpuh.

Masyarakat menunggu. Mereka berharap ada alat berat yang datang. Mereka berharap ada pengerjaan darurat. Mereka berharap ada solusi cepat dari pihak yang memiliki kewenangan.

Namun waktu terus berjalan. Di saat itulah muncul inisiatif yang patut dihargai. Haji Syahrial bersama masyarakat mengumpulkan dana secara swadaya. Mereka menggerakkan solidaritas warga, mencari bantuan dari berbagai pihak, menyewa alat berat, dan bekerja membuka kembali akses yang tertutup material longsor.

Apa yang dilakukan mereka sesungguhnya bukan sekadar memperbaiki jalan. Mereka sedang memperbaiki harapan.

Di banyak daerah, kita sering mendengar keluhan bahwa masyarakat terlalu bergantung kepada pemerintah. Namun kisah Enang-Enang justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Ketika keadaan mendesak dan bantuan belum kunjung datang, masyarakat mampu bergerak sendiri. Mereka tidak menunggu tanpa batas. Mereka memilih bergotong royong.

Semangat seperti inilah yang sejak dahulu menjadi kekuatan utama bangsa ini.

Sayangnya, ketika upaya swadaya tersebut mulai menunjukkan hasil, muncul kabar yang mengejutkan. Pihak berwenang meminta penghentian penggunaan atau penyelesaian jalan tersebut dengan alasan keselamatan. Menurut penjelasan yang disampaikan, kondisi jalan dan lereng di sekitar lokasi masih dianggap berbahaya untuk dilalui masyarakat.

Tentu saja, keselamatan publik tidak boleh diabaikan. Tidak ada seorang pun yang menginginkan korban jiwa akibat longsor susulan. Tidak ada masyarakat yang ingin menggunakan jalan yang sewaktu-waktu dapat membahayakan penggunanya. Dalam hal ini, pemerintah memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk memastikan bahwa infrastruktur yang digunakan masyarakat memenuhi standar keamanan yang memadai.

Namun persoalannya bukan terletak pada alasan keselamatan itu sendiri. Persoalannya adalah bagaimana negara hadir di tengah masyarakat yang sedang berjuang. Masyarakat tidak hanya membutuhkan larangan. Mereka membutuhkan solusi. Ketika warga mendengar kata “stop”, pertanyaan yang segera muncul adalah: lalu apa langkah berikutnya?

Jika jalan tidak boleh digunakan, kapan alternatifnya tersedia? Jika pekerjaan harus dihentikan, kapan perbaikan permanen dimulai? Jika kondisi berbahaya, apa langkah mitigasi yang segera dilakukan?

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar muncul karena masyarakat hidup dengan kebutuhan yang nyata. Mereka harus pergi ke kebun, mengangkut hasil pertanian, mengantar anak ke sekolah, berobat ke pusat pelayanan kesehatan, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Bagi mereka, jalan bukan sekadar konstruksi fisik. Jalan adalah kehidupan. Dalam situasi seperti ini, pemerintah sesungguhnya memiliki kesempatan besar untuk menunjukkan makna kehadiran negara yang sesungguhnya.

Negara tidak cukup hadir hanya sebagai regulator yang mengeluarkan larangan. Negara harus hadir sebagai penyelesai masalah.

Jika memang jalan tersebut belum aman, pemerintah dapat menjelaskan hasil kajian teknis secara terbuka kepada masyarakat. Jika diperlukan penghentian sementara, pemerintah dapat menyampaikan batas waktu yang jelas beserta langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mempercepat pemulihan. Jika terdapat risiko keselamatan, pemerintah dapat mengerahkan tenaga teknis dan aparat terkait untuk membantu pengamanan di lapangan.

Yang lebih penting lagi, pemerintah dapat mengajak tokoh masyarakat seperti Haji Syahrial untuk duduk bersama mencari solusi.

Langkah semacam itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar rapat formal. Masyarakat akan merasa didengar. Masyarakat akan merasa dihargai. Masyarakat akan melihat bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia.

Sebaliknya, apabila yang terlihat hanya larangan tanpa tindak lanjut yang jelas, maka wajar apabila muncul kekecewaan. Bukan karena masyarakat menolak keselamatan, melainkan karena mereka merasa perjuangan yang telah dilakukan dengan susah payah tidak mendapatkan apresiasi yang layak.

Padahal figur seperti Haji Syahrial merupakan aset sosial yang sangat berharga. Di era ketika banyak orang lebih sibuk mengurus kepentingan pribadi, masih ada individu yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan materi untuk kepentingan masyarakat luas. Orang-orang seperti ini tidak lahir setiap hari. Mereka tumbuh dari rasa tanggung jawab sosial yang kuat dan kepedulian terhadap sesama.

Negara seharusnya melihat mereka sebagai mitra pembangunan. Sebab pembangunan yang berhasil tidak pernah lahir hanya dari pemerintah semata. Ia lahir dari kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.

Pelajaran terbesar dari Enang-Enang sebenarnya bukan tentang jalan yang rusak atau longsor yang menutup akses. Pelajaran terbesarnya adalah tentang kekuatan solidaritas. Ketika masyarakat bersatu, banyak hal yang tampak mustahil dapat diwujudkan. Namun solidaritas masyarakat juga membutuhkan ruang untuk tumbuh. Ia membutuhkan penghargaan, dukungan, dan kepercayaan.

Pemerintah tidak harus selalu menyetujui setiap langkah masyarakat. Akan tetapi pemerintah perlu menunjukkan bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan demi kepentingan umum mendapat tempat yang terhormat.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari panjang jalan yang dibangun atau jumlah anggaran yang dibelanjakan. Keberhasilan pembangunan juga diukur dari seberapa kuat hubungan antara negara dan rakyatnya.

Kasus Enang-Enang memberikan pelajaran berharga tentang hal itu. Masyarakat telah menunjukkan kepeduliannya. Tokoh masyarakat telah menunjukkan kepemimpinannya. Kini publik menunggu bagaimana negara menunjukkan kehadirannya.

Bukan sekadar hadir untuk mengatakan apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi hadir untuk menunjukkan jalan keluar yang dapat diterima semua pihak. Sebab rakyat pada dasarnya tidak menuntut kesempurnaan dari pemerintah. Mereka hanya ingin melihat bahwa ketika kesulitan datang, negara berada di sisi mereka.

Dan mungkin, itulah makna terdalam dari kisah Haji Syahrial dan Enang-Enang.***

Banda Aceh, 24 Juni 2026


Haji Syahrial dan Enang-enang

Telah dimuat di harian Waspada edisi Rabu, 15 Juli 2026 Di tengah riuh pemberitaan nasional tentang investasi, proyek strategis, dan pertumb...