Telah dimuat di harian Waspada edisi Kamis, 21 Mei 2026.
Nama Hasan di Tiro
selalu menempati posisi penting dalam sejarah modern Aceh. Bagi sebagian orang,
ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Bagi sebagian lain, ia
adalah tokoh kontroversial yang membawa Aceh ke dalam konflik panjang. Namun
terlepas dari perbedaan pandangan itu, satu hal yang sulit dibantah adalah
bahwa Hasan Tiro memiliki visi besar tentang masa depan Aceh. Ia tidak sekadar
berbicara tentang politik kekuasaan, tetapi tentang martabat, identitas, dan
cita-cita kolektif orang Aceh.
Kini, dua dekade
setelah Perjanjian Helsinki mengakhiri konflik bersenjata, pertanyaan penting
mulai muncul kembali di ruang publik: sejauh mana visi besar Hasan Tiro
benar-benar telah diwujudkan? Apakah Aceh hari ini sudah bergerak menuju arah
yang dulu diimpikannya? Ataukah semangat perjuangan perlahan berubah menjadi
sekadar romantisme sejarah dan simbol politik?
Hasan Tiro
membangun gagasannya di atas keyakinan bahwa Aceh adalah bangsa yang memiliki
sejarah panjang, harga diri, dan hak menentukan nasib sendiri. Dalam
pandangannya, Aceh bukan sekadar wilayah administratif, tetapi sebuah entitas
historis yang pernah berdiri kuat melalui Kesultanan Aceh. Aceh pernah memiliki
hubungan diplomatik dengan dunia luar, memiliki kekuatan militer sendiri, dan
dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam di kawasan Asia Tenggara.
Dari titik itulah
lahir gagasan tentang martabat bangsa Aceh. Hasan Tiro melihat bahwa
ketidakadilan politik dan ekonomi membuat Aceh kehilangan posisi terhormatnya.
Kekayaan alam Aceh dieksploitasi, sementara masyarakat lokal tetap hidup dalam
keterbatasan. Gas alam di Lhokseumawe menjadi simbol paling nyata dari paradoks
itu. Kekayaan besar mengalir keluar daerah, tetapi kemiskinan dan
keterbelakangan tetap menghantui sebagian masyarakat Aceh.
Karena itu,
perjuangan yang dibawanya tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan politik,
tetapi juga tentang pemulihan harga diri. Ia membayangkan Aceh sebagai negeri
yang mampu berdiri tegak, mengelola sumber dayanya sendiri, dan dihormati oleh
dunia luar. Dalam banyak pidatonya, Hasan Tiro selalu menekankan pentingnya
kehormatan, keberanian, dan kepercayaan diri sebagai bangsa.
Namun sejarah
kemudian bergerak ke arah yang berbeda. Konflik panjang akhirnya berakhir
melalui Perjanjian Helsinki tahun 2005. Aceh tidak menjadi negara merdeka,
tetapi memperoleh otonomi yang jauh lebih luas dibanding daerah lain di
Indonesia. Mantan kombatan masuk ke arena politik formal. Partai lokal berdiri.
Dana otonomi khusus mengalir dalam jumlah besar. Aceh memperoleh ruang lebih
luas untuk menentukan arah pembangunan sendiri.
Dalam konteks itu, sebagian
cita-cita Hasan Tiro sebenarnya telah menemukan bentuk baru. Perjuangan
bersenjata berubah menjadi perjuangan politik dan pemerintahan. Tokoh-tokoh
yang dahulu berada di gunung kini menduduki kursi kekuasaan. Secara simbolik,
ini merupakan perubahan sejarah yang sangat besar.
Tetapi justru di
titik inilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Memegang senjata
dan memimpin gerakan perjuangan berbeda dengan membangun pemerintahan modern.
Sebuah gerakan bisa hidup dengan semangat heroisme, loyalitas, dan simbol
perlawanan. Tetapi pemerintahan membutuhkan hal-hal yang lebih rumit: tata
kelola yang baik, kemampuan ekonomi, pendidikan, inovasi, birokrasi yang
profesional, serta visi pembangunan jangka panjang.
Aceh hari ini masih
menghadapi banyak persoalan mendasar. Angka kemiskinan masih relatif tinggi.
Pengangguran anak muda belum sepenuhnya teratasi. Perekonomian masih sangat
bergantung pada dana transfer pusat dan belanja pemerintah. Industri besar
belum tumbuh signifikan. Banyak anak muda Aceh yang berbakat akhirnya harus
mencari peluang di luar daerah.
Ini menimbulkan
pertanyaan yang cukup mengganggu: mengapa Aceh yang memperoleh dana otsus
begitu besar belum mampu melakukan lompatan kemajuan yang berarti?
Padahal jika
melihat semangat awal perjuangan, masyarakat Aceh tentu membayangkan sesuatu
yang jauh lebih besar. Aceh pasca damai diharapkan menjadi daerah yang maju,
bermartabat, dan mampu menjadi contoh keberhasilan pembangunan berbasis
identitas lokal. Sayangnya, yang sering terlihat justru pertarungan elite
politik, konflik kepentingan, dan perebutan pengaruh kekuasaan.
Di sinilah
pentingnya membedakan antara “mewarisi sejarah perjuangan” dengan “mewujudkan
tujuan perjuangan”. Sejarah perjuangan memang dapat memberikan legitimasi
politik. Namun legitimasi itu tidak akan bertahan selamanya jika tidak diikuti
oleh keberhasilan nyata dalam meningkatkan kualitas hidup rakyat.
Masyarakat Aceh
hari ini tidak lagi hidup di tengah perang. Generasi muda sekarang tumbuh dalam
suasana damai. Mereka memiliki kebutuhan dan harapan yang berbeda. Mereka ingin
pendidikan yang baik, lapangan kerja yang layak, ekonomi yang tumbuh, akses
teknologi, dan masa depan yang jelas. Mereka tidak cukup hanya diberi narasi
romantik tentang masa lalu tanpa melihat perubahan konkret dalam kehidupan
sehari-hari.
Karena itu, visi
Hasan Tiro pada era sekarang seharusnya diterjemahkan ulang secara lebih
produktif dan realistis. Semangat tentang martabat Aceh tidak lagi harus
dimaknai semata sebagai perlawanan politik terhadap pusat. Martabat Aceh hari
ini justru bisa diukur dari kemampuan membangun masyarakat yang maju, berilmu,
dan mandiri.
Aceh membutuhkan
transformasi besar dalam bidang pendidikan dan sumber daya manusia.
Universitas-universitas Aceh harus didorong menjadi pusat riset dan inovasi.
Anak-anak muda perlu dipersiapkan menghadapi ekonomi modern, teknologi digital,
industri kreatif, hingga pengembangan energi dan sumber daya alam
berkelanjutan. Kekayaan alam Aceh tidak boleh lagi hanya menjadi komoditas
mentah yang keluar daerah tanpa menciptakan nilai tambah bagi masyarakat lokal.
Selain itu, Aceh
juga membutuhkan visi ekonomi jangka panjang yang jelas. Apakah Aceh ingin
menjadi pusat agroindustri? Pusat energi? Pusat industri halal? Pusat wisata
sejarah dan peradaban Islam? Atau pusat pengembangan biomaterial dan komposit
alam yang memanfaatkan kekayaan serat alam Aceh? Pertanyaan-pertanyaan seperti
ini membutuhkan jawaban strategis dari para pemimpin daerah.
Pada saat yang
sama, identitas Aceh juga harus dibangun secara substantif, bukan sekadar
simbolik. Nilai-nilai Islam dan budaya Aceh seharusnya melahirkan masyarakat
yang lebih tertib, jujur, disiplin, beretika, dan menghargai ilmu pengetahuan.
Identitas tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus tercermin dalam kualitas
sosial masyarakatnya.
Aceh memiliki modal
sejarah yang luar biasa. Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki
identitas sejarah sekuat Aceh. Namun modal sejarah saja tidak cukup untuk
memenangkan masa depan. Dunia berubah sangat cepat. Persaingan ekonomi dan
kualitas sumber daya manusia semakin keras. Jika Aceh tidak mampu membangun
fondasi kemajuan sekarang, maka generasi mendatang hanya akan mewarisi
nostalgia tentang kejayaan masa lalu.
Karena itu, para
pemimpin Aceh hari ini perlu merenungkan kembali visi besar Hasan Tiro secara
lebih mendalam dan jujur. Bukan sekadar menjadikannya simbol politik atau alat
legitimasi kekuasaan, tetapi benar-benar menggali esensi cita-citanya tentang
martabat dan kemajuan Aceh. Semangat perjuangan itu seharusnya diterjemahkan ke
dalam kebijakan yang berpihak kepada pendidikan, ekonomi rakyat, pembangunan
industri, penguatan institusi, serta pembentukan generasi muda Aceh yang unggul
dan percaya diri.
Sejarah akan selalu
mengingat Hasan Tiro sebagai tokoh besar dalam perjalanan Aceh. Namun sejarah
juga akan menilai generasi pemimpin hari ini: apakah mereka berhasil menjadikan
perdamaian sebagai jalan menuju kemajuan, atau justru membiarkan cita-cita
besar itu perlahan memudar di tengah rutinitas politik dan perebutan kekuasaan.***
Banda Aceh, 7
Mei 2026






