Selasa, 24 Februari 2026

Selamat Datang Rektor Baru USK

Telah dimuat di harian Waspada edisi Selasa, 24 Februari 2026

Pemilihan rektor Universitas Syiah Kuala (USK) pada 2 Februari 2026 telah usai. Dan hasilnya Profesor Mirza Tabrani muncul sebagai rektor baru. Dan jika tak ada aral melintang Maret nanti, kepemimpinan baru beliau resmi dimulai. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar pergantian periode lima tahunan. Tetapi bagi kami yang hidup dan tumbuh di dalamnya, ini adalah momen menentukan arah masa depan salahsatu kampus kebanggaan Aceh.

Selamat kepada rektor baru. Sebuah ucapan tulus dari saya selain tidak saja sebagai bagian dari sivitas akademika di USK, namun juga sebagai warga Aceh yang mencintai USK. Karena kita semua menaruh harapan yang besar, ke mana USK ini akan dibawa.

PTN-BH: Status yang Harus Dimaknai dengan Benar

USK hari ini menyandang status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Status ini adalah capaian penting, buah dari proses panjang dan perjuangan kepemimpinan sebelumnya. Tetapi kita harus jujur pada diri sendiri: PTN-BH bukanlah tujuan akhir. Ia adalah alat.

Alat untuk memperkuat kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Alat untuk membangun tata kelola keuangan yang modern dan profesional. Alat untuk meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan secara berkeadilan.

Jika PTN-BH hanya dimaknai sebagai fleksibilitas keuangan semata, maka kita sedang menyempitkan maknanya. Otonomi bukan untuk mengejar angka-angka, tetapi untuk memperkuat kualitas akademik.

Rektor baru harus memastikan bahwa Tri Dharma tetap menjadi kompas utama. Pendidikan harus semakin bermutu, bukan semakin transaksional. Penelitian harus semakin relevan dan berdampak, bukan sekadar mengejar indeks. Pengabdian kepada masyarakat harus menyentuh realitas Aceh secara nyata.

Universitas global terbaik pun berdiri di atas fondasi yang sama. Lihatlah bagaimana Universiti Malaya, Universiti Sains Malaysia dan yang lain membangun reputasinya. Mereka tidak hanya mengandalkan bangunan megah, tetapi konsistensi kualitas akademik dan tata kelola yang kuat. USK harus belajar, walau tidak perlu meniru secara membabi buta.

Tata Kelola: Membangun Sistem, Bukan Sekadar Kebijakan

Transisi ke PTN-BH menuntut kemampuan manajerial yang berbeda. Otonomi keuangan berarti tanggung jawab besar. Perencanaan jangka panjang harus matang. Diversifikasi pendapatan harus cerdas. Transparansi dan akuntabilitas tidak boleh sekedar menjadi jargon. Yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan periodik, melainkan sistem yang kokoh.

Jika sistem kuat, pergantian rektor tidak akan mengguncang stabilitas. Jika sistem lemah, maka setiap periode akan dimulai dari nol. Rektor baru memiliki peluang membangun arsitektur tata kelola yang profesional dan berkelanjutan.

Di sisi lain, kesejahteraan sivitas akademika memang harapan yang sah. Tetapi jalan menuju kesejahteraan tidak boleh memeras ruh akademik. Dosen bukan tenaga pemasaran. Universitas bukan korporasi murni. Prof Mirza dalam pemaparan visi dan misinya sempat mengemukakan idenya untuk fokus pada memperbaiki tata kelola sistem keuangan. Dengan latar belakang pengalaman beliau dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, kita percaya beliau akan mampu mewujudkan ide-idenya tersebut.

Kesejahteraan hanya akan berkelanjutan jika dibangun di atas ekosistem akademik yang sehat: beban kerja rasional, remunerasi adil dan transparan, serta dukungan infrastruktur yang memadai. Universitas unggul adalah universitas yang membebaskan dosennya berpikir dan berkarya.

USK dan Identitas Globalnya

Di tengah ambisi internasionalisasi, USK perlu bertanya: apa identitas unik kita?

Aceh memiliki kekhasan luar biasa: pengalaman bencana dan rekonstruksi, isu pesisir dan kelautan, energi dan lingkungan, pertanian tropis, dinamika sosial-budaya dan keislaman yang moderat. Ini adalah modal akademik.

USK tidak harus menjadi kampus tiruan dari Jakarta atau luar negeri. Keunggulan global justru lahir dari kekuatan lokal yang otentik. Menjadi dikenal dunia bukan berarti kehilangan jati diri. Sebaliknya, identitas yang kuatlah yang membuat universitas diperhitungkan.

Namun, izinkan saya menyentuh satu hal yang sering dianggap sepele, tetapi sesungguhnya sangat mendasar: wajah fisik dan jiwa kawasan Kopelma Darussalam.

Kampus yang Terasa Mengecil

Secara fisik, USK berkembang pesat. Gedung-gedung baru berdiri megah. Fasilitas bertambah. Secara kasat mata, ini kemajuan. Tetapi ada perasaan yang diam-diam muncul: kampus yang dulu terasa sangat luas kini terasa semakin sempit.

Dulu, berjalan di Kopelma Darussalam memberi kesan lapang. Pepohonan tua menaungi jalan. Jarak antarbangunan memberi ruang bagi cahaya dan angin. Sekarang, pembangunan yang masif membuat banyak sudut terasa padat. Ruang terbuka menyusut. Parkir semakin sesak. Bangunan berdiri berdekatan. Kita tentu tidak anti pembangunan. Tetapi pembangunan tanpa visi tata ruang jangka panjang dapat menggerus karakter kawasan.

Bandingkan dengan kampus-kampus besar di Malaysia. Gedung mereka modern, tetapi ruang terbuka tetap terjaga. Lanskap direncanakan sebagai bagian dari identitas, bukan sisa dari proyek. USK perlu menata ulang masterplan kawasan Kopelma Darussalam. Kampus bukan hanya kumpulan gedung, tetapi ekosistem ruang hidup.

Kebersihan: Cermin Budaya Akademik

Isu kebersihan mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah budaya terlihat. Masih sering kita jumpai sampah plastik berserakan setelah kegiatan mahasiswa. Drainase kurang terawat. Sudut-sudut tertentu terlihat kumuh. Padahal USK adalah etalase intelektual Aceh.

Kampus bersih bukan sekadar indah dipandang. Ia mencerminkan disiplin, rasa memiliki, dan penghargaan terhadap ruang publik.

Rektor baru perlu menjadikan kebersihan sebagai gerakan kolektif, bukan sekadar program seremonial. Melibatkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sebagai satu komunitas yang menjaga rumah bersama. Kampus yang bersih akan menaikkan wibawa tanpa perlu banyak pidato.

Rumah Dosen: Warisan yang Terlupakan

Ada satu kawasan yang menurut saya menyimpan potensi besar: rumah-rumah dosen lama di Kopelma Darussalam.

Bangunan-bangunan itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah saksi sejarah perjalanan USK. Di sanalah dulu gagasan-gagasan besar lahir. Di ruang-ruangnya mungkin pernah dirumuskan arah pembangunan Aceh.

Alih-alih dibiarkan menua tanpa arah, kawasan ini seharusnya ditata ulang dengan visi kebudayaan. Direvitalisasi dengan menjaga arsitektur aslinya. Dijadikan ikon sejarah kampus.

Bayangkan jika salah satu rumah dijadikan Museum Sejarah USK. Di dalamnya terpajang dokumentasi masa awal berdiri, masa konflik, masa tsunami, hingga fase rekonstruksi dan transformasi PTN-BH.

Mahasiswa baru tidak hanya menerima kartu mahasiswa, tetapi juga diperkenalkan pada sejarah rumah intelektualnya. Kampus besar bukan hanya dibangun oleh beton, tetapi oleh memori kolektif.

Legacy yang Lebih dari Sekadar Gedung

Rektor datang dan pergi. Lima tahun berlalu cepat. Tetapi jejak kebijakan akan tinggal lama.

Legacy tidak selalu berbentuk gedung tinggi. Ia bisa berupa sistem tata kelola yang kuat. Bisa berupa budaya akademik yang hidup. Bisa berupa kampus yang bersih, hijau, tertata. Bisa berupa kawasan rumah dosen yang menjadi museum sejarah. USK adalah jantong hate rakyat Aceh. Ia bukan sekadar institusi, tetapi simbol kemajuan daerah ini.

Kami para dosen ingin bekerja dalam suasana yang inspiratif. Mahasiswa ingin belajar dalam lingkungan yang membanggakan. Masyarakat Aceh ingin melihat USK berdiri sebagai universitas yang unggul tanpa kehilangan jati diri.

Rektor baru memiliki kesempatan emas: menata sistem sekaligus merawat jiwa Kopelma Darussalam. Karena pada akhirnya, universitas yang besar bukanlah yang paling tinggi gedungnya, tetapi yang paling kuat identitas dan martabatnya.***

Banda Aceh, 15 Februari 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat Datang Rektor Baru USK

Telah dimuat di harian Waspada edisi Selasa, 24 Februari 2026 Pemilihan rektor Universitas Syiah Kuala (USK) pada 2 Februari 2026 telah usai...