Pemilihan rektor
Universitas Syiah Kuala (USK) pada 2 Februari 2026 telah usai. Dan hasilnya
Profesor Mirza Tabrani muncul sebagai rektor baru. Dan jika tak ada aral
melintang Maret nanti, kepemimpinan baru beliau resmi dimulai. Bagi sebagian
orang, ini mungkin sekadar pergantian periode lima tahunan. Tetapi bagi kami
yang hidup dan tumbuh di dalamnya, ini adalah momen menentukan arah masa depan salahsatu
kampus kebanggaan Aceh.
Selamat kepada
rektor baru. Sebuah ucapan tulus dari saya selain tidak saja sebagai bagian
dari sivitas akademika di USK, namun juga sebagai warga Aceh yang mencintai
USK. Karena kita semua menaruh harapan yang besar, ke mana USK ini akan dibawa.
PTN-BH: Status yang Harus Dimaknai dengan Benar
USK hari ini
menyandang status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Status ini
adalah capaian penting, buah dari proses panjang dan perjuangan kepemimpinan
sebelumnya. Tetapi kita harus jujur pada diri sendiri: PTN-BH bukanlah tujuan
akhir. Ia adalah alat.
Alat untuk
memperkuat kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Alat untuk membangun tata
kelola keuangan yang modern dan profesional. Alat untuk meningkatkan
kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan secara berkeadilan.
Jika PTN-BH hanya
dimaknai sebagai fleksibilitas keuangan semata, maka kita sedang menyempitkan
maknanya. Otonomi bukan untuk mengejar angka-angka, tetapi untuk memperkuat
kualitas akademik.
Rektor baru harus
memastikan bahwa Tri Dharma tetap menjadi kompas utama. Pendidikan harus
semakin bermutu, bukan semakin transaksional. Penelitian harus semakin relevan
dan berdampak, bukan sekadar mengejar indeks. Pengabdian kepada masyarakat
harus menyentuh realitas Aceh secara nyata.
Universitas global
terbaik pun berdiri di atas fondasi yang sama. Lihatlah bagaimana Universiti
Malaya, Universiti Sains Malaysia dan yang lain membangun reputasinya. Mereka
tidak hanya mengandalkan bangunan megah, tetapi konsistensi kualitas akademik
dan tata kelola yang kuat. USK harus belajar, walau tidak perlu meniru secara
membabi buta.
Tata Kelola: Membangun Sistem, Bukan Sekadar Kebijakan
Transisi ke PTN-BH
menuntut kemampuan manajerial yang berbeda. Otonomi keuangan berarti tanggung
jawab besar. Perencanaan jangka panjang harus matang. Diversifikasi pendapatan
harus cerdas. Transparansi dan akuntabilitas tidak boleh sekedar menjadi
jargon. Yang dibutuhkan bukan sekadar kebijakan periodik, melainkan sistem yang
kokoh.
Jika sistem kuat,
pergantian rektor tidak akan mengguncang stabilitas. Jika sistem lemah, maka
setiap periode akan dimulai dari nol. Rektor baru memiliki peluang membangun
arsitektur tata kelola yang profesional dan berkelanjutan.
Di sisi lain,
kesejahteraan sivitas akademika memang harapan yang sah. Tetapi jalan menuju
kesejahteraan tidak boleh memeras ruh akademik. Dosen bukan tenaga pemasaran.
Universitas bukan korporasi murni. Prof Mirza dalam pemaparan visi dan misinya
sempat mengemukakan idenya untuk fokus pada memperbaiki tata kelola sistem
keuangan. Dengan latar belakang pengalaman beliau dari Fakultas Ekonomi dan
Bisnis, kita percaya beliau akan mampu mewujudkan ide-idenya tersebut.
Kesejahteraan hanya
akan berkelanjutan jika dibangun di atas ekosistem akademik yang sehat: beban
kerja rasional, remunerasi adil dan transparan, serta dukungan infrastruktur
yang memadai. Universitas unggul adalah universitas yang membebaskan dosennya
berpikir dan berkarya.
USK dan Identitas Globalnya
Di tengah ambisi
internasionalisasi, USK perlu bertanya: apa identitas unik kita?
Aceh memiliki
kekhasan luar biasa: pengalaman bencana dan rekonstruksi, isu pesisir dan
kelautan, energi dan lingkungan, pertanian tropis, dinamika sosial-budaya dan
keislaman yang moderat. Ini adalah modal akademik.
USK tidak harus
menjadi kampus tiruan dari Jakarta atau luar negeri. Keunggulan global justru
lahir dari kekuatan lokal yang otentik. Menjadi dikenal dunia bukan berarti
kehilangan jati diri. Sebaliknya, identitas yang kuatlah yang membuat
universitas diperhitungkan.
Namun, izinkan saya
menyentuh satu hal yang sering dianggap sepele, tetapi sesungguhnya sangat
mendasar: wajah fisik dan jiwa kawasan Kopelma Darussalam.
Kampus yang Terasa Mengecil
Secara fisik, USK
berkembang pesat. Gedung-gedung baru berdiri megah. Fasilitas bertambah. Secara
kasat mata, ini kemajuan. Tetapi ada perasaan yang diam-diam muncul: kampus
yang dulu terasa sangat luas kini terasa semakin sempit.
Dulu, berjalan di
Kopelma Darussalam memberi kesan lapang. Pepohonan tua menaungi jalan. Jarak
antarbangunan memberi ruang bagi cahaya dan angin. Sekarang, pembangunan yang
masif membuat banyak sudut terasa padat. Ruang terbuka menyusut. Parkir semakin
sesak. Bangunan berdiri berdekatan. Kita tentu tidak anti pembangunan. Tetapi
pembangunan tanpa visi tata ruang jangka panjang dapat menggerus karakter
kawasan.
Bandingkan dengan
kampus-kampus besar di Malaysia. Gedung mereka modern, tetapi ruang terbuka
tetap terjaga. Lanskap direncanakan sebagai bagian dari identitas, bukan sisa
dari proyek. USK perlu menata ulang masterplan kawasan Kopelma Darussalam.
Kampus bukan hanya kumpulan gedung, tetapi ekosistem ruang hidup.
Kebersihan: Cermin Budaya Akademik
Isu kebersihan
mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah budaya terlihat. Masih
sering kita jumpai sampah plastik berserakan setelah kegiatan mahasiswa.
Drainase kurang terawat. Sudut-sudut tertentu terlihat kumuh. Padahal USK
adalah etalase intelektual Aceh.
Kampus bersih bukan
sekadar indah dipandang. Ia mencerminkan disiplin, rasa memiliki, dan
penghargaan terhadap ruang publik.
Rektor baru perlu
menjadikan kebersihan sebagai gerakan kolektif, bukan sekadar program
seremonial. Melibatkan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sebagai satu
komunitas yang menjaga rumah bersama. Kampus yang bersih akan menaikkan wibawa
tanpa perlu banyak pidato.
Rumah Dosen: Warisan yang Terlupakan
Ada satu kawasan
yang menurut saya menyimpan potensi besar: rumah-rumah dosen lama di Kopelma
Darussalam.
Bangunan-bangunan
itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah saksi sejarah perjalanan USK. Di
sanalah dulu gagasan-gagasan besar lahir. Di ruang-ruangnya mungkin pernah
dirumuskan arah pembangunan Aceh.
Alih-alih dibiarkan
menua tanpa arah, kawasan ini seharusnya ditata ulang dengan visi kebudayaan.
Direvitalisasi dengan menjaga arsitektur aslinya. Dijadikan ikon sejarah
kampus.
Bayangkan jika
salah satu rumah dijadikan Museum Sejarah USK. Di dalamnya terpajang
dokumentasi masa awal berdiri, masa konflik, masa tsunami, hingga fase
rekonstruksi dan transformasi PTN-BH.
Mahasiswa baru
tidak hanya menerima kartu mahasiswa, tetapi juga diperkenalkan pada sejarah
rumah intelektualnya. Kampus besar bukan hanya dibangun oleh beton, tetapi oleh
memori kolektif.
Legacy yang Lebih dari Sekadar Gedung
Rektor datang dan
pergi. Lima tahun berlalu cepat. Tetapi jejak kebijakan akan tinggal lama.
Legacy tidak selalu
berbentuk gedung tinggi. Ia bisa berupa sistem tata kelola yang kuat. Bisa
berupa budaya akademik yang hidup. Bisa berupa kampus yang bersih, hijau,
tertata. Bisa berupa kawasan rumah dosen yang menjadi museum sejarah. USK
adalah jantong hate rakyat Aceh. Ia bukan sekadar institusi, tetapi simbol
kemajuan daerah ini.
Kami para dosen
ingin bekerja dalam suasana yang inspiratif. Mahasiswa ingin belajar dalam
lingkungan yang membanggakan. Masyarakat Aceh ingin melihat USK berdiri sebagai
universitas yang unggul tanpa kehilangan jati diri.
Rektor baru
memiliki kesempatan emas: menata sistem sekaligus merawat jiwa Kopelma
Darussalam. Karena pada akhirnya, universitas yang besar bukanlah yang paling
tinggi gedungnya, tetapi yang paling kuat identitas dan martabatnya.***
Banda Aceh, 15
Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar