Telah dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi cetak 16 November 2022
Jalan tol Aceh sudah
terbangun. Meski belum selesai seluruhnya, namun sebagian ruas tol yang telah
terbangun sudah dapat dinikmati oleh masyarakat Aceh. Ruas tol Sibanceh (Sigli
– Banda Aceh) sudah dimulai pengerjaannya sejak 2019 yang meliputi 6 (enam) seksi.
Seksi 1 (Padangtiji – Seulimeum), seksi 2 (Seulimeum – Jantho), seksi 3 (Jantho
– Indrapuri), seksi 4 (Indrapuri – Blang Bintang), seksi 5 (Blang Bintang –
Kutabaro) dan terakhir seksi 6 (Kutabaro – Simpang Baitussalam)
Saat ini masyarakat Aceh
sudah dapat mencicipi jalur Blang Bintang sampai Seulimeum sejauh 36 km yang telah
terhampar di lintasan tol Sibanceh. Direncanakan tol Aceh yang membentang dari
Banda Aceh hingga kota Medan menjadi urat nadi utama transportasi darat Aceh.
Walau itu masih belum terwujud, setidaknya progress
Sibanceh yang mengawali proses pembangunan tol Aceh telah membuka peluang dan
harapan besar akan terwujudnya tol Aceh. Yang lebih utama lagi, tol Aceh akan
menjadi bagian dari jalur tol Sumatera yang menghubungkan semua kota-kota besar
di lintasan Pulau Sumatera. Sebuah cita-cita besar yang sudah tergaung lama
sejak zaman Orba dulu.
Memang bukan hal yang
mudah untuk mewujudkan perhubungan darat yang modern lewat tol di Sumatera ini.
Saya masih ingat bagaimana perjuangan para pihak yang berkepentingan akan ide
pembangunan tol Sumatera. Berbagai gagasan dan strategi dijalankan untuk dapat
mewujudkan cita-cita besar itu. Namun kebanyakan terjebak dengan berbagai
rintangan dan kendala. Yang bahkan sampai kini pun masih tetap menghadang.
Terutama dalam segi finansial atau pendanaan.
Kini setidaknya cita-cita
besar itu sudah menampakkan wujudnya. Dan sebagian sudah mulai dinikmati oleh
masyarakat Sumatera. Seperti salah satunya Jalan tol Lampung-Palembang sejauh
371,5 km. Jika dulu jalur darat Lampung-Palembang perlu ditempuh dalam 10
sampai 12 jam, maka kini lewat jalan tol bahkan hanya butuh waktu 3 atau 4 jam
saja. Sebuah penghematan waktu yang sangat siknifikan.
Dampaknya pun luar biasa.
Masyarakat Palembang semakin nyaman untuk bepergian ke wilayah Lampung, untuk
berwisata misalnya. Kawasan wisata pantai Lamppung menjadi tujuan favorit bagi
masyarakat Sumsel. Kawasan pantai di Lampung Selatan memang menawarkan destinasi
wisata yang menarik. Akses yang semakin mudah, cepat dan nyaman ke
tempat-tempat tersebut telah memicu pertumbuhan ekonomi kawasan wisata di sana.
Efek ganda bahkan tripel ekonomi semakin dinikmati oleh masyarakat Lampung dan
sekitarnya. Hal inilah yang menjadi salahsatu tujuan terbangunnya jalan tol di
sebuah kawasan. Terbinanya pertumbuhan ekonomi positif di kalangan masyarakat
kawasan.
Tak dapat dipungkiri
dampak positif yang dihasilkan oleh terbangunnya infrastruktur jalan tol di
suatu kawasan. Hal ini sudah terbukti nyata dalam implementasi jalan tol di semua
kawasan di Sumatera. Melihat dampak yang siknifikan ini tentunya harapan besar
yang sama disandarkan pada kebangunan jalan tol Aceh. Kita tentu sangat
berharap ekonomi kawasan Aceh dapat tumbuh kuat dan menopang perekonomian
masyarakat Aceh secara siknifikan pula. Jalan tol menjadi sarana penting yang
membuka peluang-peluang besar dari potensi Aceh untuk menjadi pusat pertumbuhan
ekonomi yang kuat dan menjadi tulang punggung kemajuan Aceh.
Akses jalan tol Aceh akan
membuka jalur distribusi barang dan jasa baik keluar maupun masuk ke wilayah
Aceh. Produk-produk andalan hasil wilayah ini dapat disalurkan dengan lebih
mudah, cepat dan aman ke pasar di luar Aceh. Sehingga memberi nilai tambah bagi
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Jalan tol juga membuka akses
masuk para wisatawan luar daerah untuk menuju destinasi wisata dalam wilayah
Aceh.
Sepanjang kabupaten Aceh
terhampar destinasi wisata yang beragam dan menarik. Mulai dari Aceh Timur,
Aceh Utara, Bireun, Pidie, Takengon, Aceh Besar sampai Banda Aceh, serta terus
ke Aceh Barat dan pesisir Barat-Selatan. Setidaknya dengan adanya jalur tol
utama Aceh yang membelah wilayah Aceh ini, akan membuka akses lebih mudah ke
dalam wilayah-wilayah tujuan wisata yang selama ini agak sukar dimasuki jika
belum ada jalan tol.
Untuk itu perlu dirancang
dari sekarang di saat pembangunan jalan tol sedang dikerjakan, secara paralel pembangunan
semua kemungkinan pusat pertumbuhan ekonomi. Seperti pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi kawasan, perkebunan, hasil pertanian, peternakan, serta juga kawasan
destinasi wisata baru. Pihak pemerintah Aceh sudah selayaknya memikirkan
program apa saja yang dapat memanfaatkan efek berantai atas kehadiran jalan tol
Aceh yang sudah muncul di depan mata ini.
Pihak swasta pun bisa
mulai tergerak dan memikirkan peluang investasi apa saja yang memungkinkan untuk
ditumbuhkan. Kita bisa saksikan sendiri di kiri kanan jalan tol terhampar lahan
kosong yang belum dimanfaatkan. Perlu pemikiran yang cerdas dan jitu untuk memanfaatkan
lahan-lahan kosong tersebut sebagai pusat produksi pertanian yang bernilai
ekonomi. Pencanangan ide dan gagasan ini sudah harus dimulai sedari
sekarang, di saat pembangunan jalan tol
sudah mulai berjalan. Begitu selesai keseluruhan jalan tol dan
pengoperasiannya, geliat ekonomi pun dapat segera hidup dari rangkaian
aktifitas produksi lahan-lahan yang termanfaatkan tersebut.
Bisnis rest area juga patut dipikirkan untuk
dikembangkan. Beberapa wilayah lahan yang dilalui oleh jalan tol Sibanceh menampilkan
view yang sangat indah dan menarik. Dengan lanskap gunung Seulawah indah
menjulang diselimuti dengan panorama perbukitan kawasan Aceh Besar yang begitu
indah menjadi tempat yang sangat sesuai untuk menikmati keindahan alam. Jika
dapat dibangun rest area ataupun tempat persinggahan yang layak dan nyaman,
tentu menjadi target kunjungan yang sangat menjanjikan bagi para pelintas jalan
tol Sibanceh.
Rest
area
bisa disulap menjadi destinasi wisata lokal yang baru dan menarik. Dengan
hidangan masakan kuliner Aceh yang khas dan menggiurkan tentu akan menjadi daya
tarik tersendiri bagi para pelintas jalan tol. Sehingga jalan tol bukan saja
menjadi sekedar sarana perlintasan pengendara, namun malah menjadi sasaran
utama para pelintas. Artinya masyarakat secara khusus melintasi tol sebagai objek
tujuan parawisata itu sendiri. Menikmati perjalanan di jalan tol dan sekaligus menikmati
rest area kuliner khas yang ditawarkan oleh pengelola jalan tol itu sendiri.
Dan kadar pentingnya
kehadiran tol Aceh di sepanjang wilayah Aceh menjadi semakin nyata dan tinggi
nilainya. Untuk itu perlu dukungan sepenuhnya dari semua lapisan masyarakat, golongan
dan kalangan yang berkepentingan di Aceh untuk bersama-sama memusatkan
perhatian bagi pemanfaatan yang optimal akan kehadiran jalan tol di Aceh.
Fungsi jalan tol semakin bertambah beragam, yang tadinya untuk mengurai
kemacetan di jalan arteri, mengurangi beban jalan nasional yang ada,
mempercepat akses ke wilayah antar kota, mendorong arus barang yang bernilai
ekonomi, kini bertambah menjadi sasaran destinasi wisata yang baru.
Sehingga jika semua
fungsi pembangunan jalan tol Aceh dapat memenuhi semua sasaran yang disebut di
atas, tak perlu lagi ada pertanyaan Pentingkah jalan tol Aceh dibangun? Kita
sudah dapat menjawabnya dengan gamblang.***
Banda Aceh, 29 Oktober
2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar