Telah dimuat di Harian Waspada edisi cetak 23 November 2022
Bangsa
yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat akan jasa-jasa para pahlawannya.
Inilah yang sering diteriakkan oleh Presiden Sukarno dalam berbagai pidato
suatu ketika dahulu, untuk mengingatkan bangsa kita akan pentingnya mengenang
sejarah dan peran para tokoh pahlawan bangsa. Sehingga dalam ritual kehidupan
berbangsa kita, tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.
Momen
Hari Pahlawan itu dipilih karena pada tanggal 10 November tahun 1945 telah
terjadi peristiwa besar di kota Surabaya, ketika ribuan rakyat kota di Jawa
Timur itu rela mempertaruhkan nyawanya membela harga diri bangsa yang sedang
dicabik-cabik oleh ultimatum tentara Inggris (sekutu). Tentara sekutu yang
datang ke tanah air dengan misi melucuti serdadu Jepang yang kalah dalam Perang
Dunia II, terlibat konflik pula dengan laskar rakyat di Surabaya. Kegigihan
laskar rakyat Surabaya sangat luar biasa. Mereka rela bertempur dan
mempertahankan diri dari gempuran tentara Inggris tanpa rasa takut sedikit pun.
Sehingga di pihak rakyat pun jatuh korban jiwa ribuan jumlahnya.
Kisah
heroik 10 November menjadi momentum penting dalam perjalanan sejarah bangsa
Indonesia. Untuk mengenang dan menghormati sertai menghargai pengorbanan yang
begitu besar dari perjuangan rakyat di Surabaya itu, tanggal 10 November
menjadi hari keramat yang terus diabadikan sebagai monumen peringatan akan
jasa-jasa para pahlawan bangsa. Artinya, momen 10 November telah menjadi milik
semua para tokoh yang ditabalkan sebagai Pahlawan Bangsa.
Dalam
hal ini, Pahlawan Bangsa tidak hanya sebutan kepada tokoh-tokoh pejuang
kemerdekaan. Namun juga menyasar kepada semua unsur bangsa yang telah
memberikan kontribusi besar dan sumbangsihnya bagi kehidupan berbangsa di tanah
air ini. Sehingga sebutan pahlawan menjadi luas maknanya menjurus kepada
pihak-pihak lintas bidang pengabdian, lintas wilayah maupun lintas institusi.
Universitas
Syiah Kuala (USK) sebagai institusi pendidikan tinggi di Aceh selalu mengadakan
upacara peringatan Hari Pahlawan setiap tahunnya. Upacara dipimpin oleh Rektor
dan dalam kebiasaannya beliau bertugas membacakan amanat Menteri Sosial RI
sebagai ucapan resmi dari pemerintah. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin
tahunan dan dilaksanakan secara formal. Sehingga lama kelamaan terkesan seperti
aktifitas rutin biasa tanpa ada gregetnya. Kemungkinan disebabkan oleh terlalu terpaku
dengan pakem yang telah ditetapkan oleh pusat dalam panduan penyelenggaraan
upacara.
Padahal
sesungguhnya terbuka peluang untuk menyelenggarakan upacara peringatan Hari
Pahlawan ini dengan lebih bervariasi dan sarat dengan nilai-nilai heroik lokal.
Bukan saja nilai heroik lokal kedaerahan, namun bisa juga dikombinasikan dengan
nilai-nilai heroik institusional. Sebagai contoh, USK dapat mengangkat tokoh
sesepuh pendiri kampus USK yang melegenda sebagai sosok yang diingat perannya.
Kita
tahu bagaimana perjuangan pendirian Universitas Syiah Kuala di awal-awal dulu.
USK lahir dari perjuangan besar para tokoh pendidikan di Aceh seperti Prof Ali
Hasjmy, Kolonel Sjamaun Gaharu, Kolonel M. Yasin, Drs. Syamsuddin Ishak,
Profesor Madjid Ibrahim, Profesor Ibrahim Hasan, Profesor Syamsuddin Mahmud,
dan banyak lagi. Peran mereka sangat besar dalam melahirkan dan mengembangkan
USK di saat-saat awal sehingga USK dapat megah berdiri seperti sekarang ini.
Momen
peringatan Hari Pahlawan 10 November sepatutnya dimanfaatkan juga untuk mengenang
para tokoh pahlawan USK ini. Caranya bisa dengan berbagai macam. Apakah dengan
menabalkan nama mereka pada salahsatu bangunan di dalam kampus, atau dengan
menyelenggarakan event khusus Seminar Sehari Biografi Tokoh USK tertentu.
Mengenang
nama dan jasa para tokoh pahlawan USK menjadi sangat penting maknanya dalam
memberi pemahaman akan nilai-nilai sejarah USK di benak para mahasiswa milenial
USK masa kini. Terlalu jauh rentang masa yang telah terbentang antara masa
keberadaan para tokoh penting USK tersebut dengan suasana kehidupan kampus
milenial sekarang. Sehingga perlu ada jembatan yang selalu menghubungkan
keberadaan masa silam tersebut, untuk tetap menjaga nilai ke-USK-an di kalangan
kaum muda sekarang. Inilah tugas pimpinan USK sekarang untuk menjalinnya
menjadi suatu rangkaian peringatan yang berkontribusi kepada pencerahan
nilai-nilai heroik USK.
Selain
itu gagasan untuk merevitalisasi bangunan lama perumahan dosen yang pernah
ditempati oleh para tokoh pendiri USK juga patut jadi pertimbangan. Kalau kita
telusuri rumah-rumah dinas di dalam kampus, akan kita dapati beberapa bangunan
rumah yang dulunya pernah ditempati oleh tokoh-tokoh USK ketika mereka masih
berdinas dulu. Seperti rumah dinas yang ditempati oleh Profesor Ibrahim Hasan,
Profesor Abdullah Ali, Drs. Syamsuddin Ishak, dan banyak lagi.
Rumah-rumah
tersebut sebaiknya direstorasi, dirawat dan dijadikan semacam museum mini. Di
depan rumah dapat diberikan tanda yang bertuliskan, Di sini Rumah Tinggal
Profesor Ibrahim Hasan, dan seterusnya. Dan di dalamnya dapat diisi dengan
barang-barang tertentu yang berkaitan dengan profil sang tokoh. Jadi bisa
dijadikan semacam museum mini untuk tokoh yang dimaksud. Museum Mini di dalam
kampus USK tentu menjadi cagar budaya yang menarik untuk para mahasiswa USK dan
masyarakat luas yang berminat dengan sejarah USK. Para mahasiswa milenial USK
akan dapat dengan mudah memperoleh akses akan informasi tentang sejarah hidup
perjalanan USK melalui revitalisasi rumah-rumah bersejarah ini.
Sehingga
upacara Hari Pahlawan setiap tahunnya di dalam kampus akan berlangsung dengan lebih
semarak. Karena dibarengi selalu dengan kegiatan pencanangan peringatan tokoh
lokal USK dalam bentuk peresmian restorasi rumah tinggal tokoh tertentu.
Sekaligus dengan penabalan nama tokoh tersebut terhadap rumah hasil restorasi
tadi, dan sekaligus pula acara seminar mengenang peran tokoh tersebut dalam
sumbangsihnya kepada USK.
Kegiatan
ini setidaknya mengangkat satu tokoh setiap tahunnya, sehingga setiap tahun
selalu diwarnai dengan keragaman tokoh yang diangkat sebagai pusat kajian
peringatan. Suasana peringatan Hari Pahlawan pun akan berlangsung lebih meriah
dan bernuansa sejarah lokal yang diperkaya dengan nilai-nilai heroik khas USK.
Jadi
di hari pahlawan 10 November, kita tidak saja mengenang jasa-jasa para pahlawan
nasional bangsa namun sekaligus mengenang pula jasa-jasa para pahlawan lokal
institusi USK yang tidak kecil sumbangsihnya dalam membangun karakter anak
bangsa dan peradaban Indonesia tercinta ini. Tentunya jiwa-jiwa yang besar akan
terus terbangun dan terjaga eksistensinya di sanubari para mahasiswa milenial
USK, melalui sarana peringatan Hari Pahlawan yang penuh makna ini. Karena
bangsa yang berjiwa besar adalah bangsa yang selalu mengenang jasa-jasa
pahlawannya.***
Banda
Aceh, 20 November 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar