Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 2 Desember 2022
Menulis
adalah sebuah ketrampilan. Sehingga perlu diasah dan dilatih terus menerus
untuk dapat menjadi kebiasaan bagi setiap manusia terpelajar. Manusia
terpelajar adalah semua insan yang haus ilmu dan ingin belajar terus sepanjang
hayatnya.
Sering
kali kita mendengar keluhan atau kita sendiri yang mengalami. Sukar sekali
rasanya menuliskan sesuatu yang ingin diungkapkan. Terasakan iya namun
terkatakan tidak. Unek-unek sudah menggumpal di kepala, namun sulit sekali
rasanya dituangkan ke dalam bentuk tulisan.
Ternyata
ini adalah sesuatu yang wajar di masyarakat kita. Mungkin juga disebabkan oleh
latar belakang budaya kita yang tidak terbiasa menulis. Budaya kita budaya
berbicara. Kita sanggup untuk bicara panjang lebar di suatu forum informal,
seperti di warung kopi atau pertemuan keluarga atau sesama sejawat di
ruang-ruang santai. Namun menjadi tertatih-tatih ketika diminta untuk
menuliskan apa-apa yang menjadi buah pikiran kita.
Menulis
juga ada hubungannya dengan kebiasaan membaca. Jika kita terbiasa dan sering
membaca maka secara tanpa disadari kita pun akan lebih mudah untuk menuliskan
kembali apa yang kita baca tersebut. Namun masalahnya masyarakat kita pun
ternyata tidak gemar membaca. Sehingga wajar jika menulis pun menjadi sukar
untuk dilakukan.
Jadi
untuk dapat mudah menulis kuncinya sering-seringlah membaca. Perbanyak kegiatan
membaca apa saja, kemudian berlatihlah menuliskan apa-apa yang sudah dibaca
itu. Insya Allah, lambat laun kebiasaan membaca dan menulis akan menjadi bagian
keseharian kita.
Apa
sesungguhnya manfaat menulis? Sebagian pihak menyebutkan kemampuan menulis
seseorang mencerminkan jalan pikiran seseorang yang runtut dan sistematis.
Artinya, jika seseorang mudah untuk melakukan kegiatan menulis, bermakna logika
berpikirnya sudah berkembang dan mudah untuk memahami hal-hal baru. Pikirannya
pun cepat beradaptasi dengan informasi dan fakta-fakta baru. Tentu ini suatu
hal yang menguntungkan dan sangat berguna bagi seseorang untuk menyerap
informasi yang silih berganti datang. Kemampuan berpikir logis menjadi dambaan
setiap insan yang haus ilmu pengetahuan.
Selain
itu menulis juga dapat dipakai sebagai alat terapi. Ada kalanya seseorang
mengalami peristiwa yang menyedihkan dalam hidupnya sehingga kadangkala
terserang oleh depresi. Ada psikolog yang menyarankan untuk melakukan terapi
dengan menulis. Seseorang yang sedang mengalami depresi disarankan untuk duduk
dengan tenang, dan mulailah menulis. Tuliskan saja segala hal yang muncul di
kepala. Mengalir begitu saja. Kemudian rasakan perlahan-lahan sejalan dengan
tulisan yang terus muncul pikiran seperti ringan dan beban yang menggumpal di
kepala seperti berangsur-angsur lenyap.
Menulis
sebagai kebiasaan hidup akan menambah rasa percaya diri seseorang. Dengan
menulis seseorang dapat menyampaikan isi hati dan pikirannya yang paling dalam
dan menjadi konsumsi masyarakat luas. Ide dan gagasan yang beraneka ragam dapat
dengan mudah tersampaikan kepada khalayak jika kita dapat menuliskannya dengan
runtut. Ide dan gagasan itu pun akan menjadi abadi dan tersimpan dalam bentuk
tulisan. Artinya kapan saja buah pikiran kita yang sudah tertulis itu akan
dengan mudah diakses kembali oleh khalayak bahkan ketika kita sudah tidak ada.
Tulisan sudah menjadi warisan buah pikiran kita, dan ia kekal sepanjang tulisan
itu masih dapat diakses oleh khalayak.
Menulis
dapat menjadi sebuah kegiatan ibadah, jika dilakukan dengan niat untuk
menyebarkan kebaikan kepada khalayak. Ulama kharismatik Buya Hamka telah
membuktikan itu. Beliau begitu gemar menulis. Bahan tulisannya begitu beragam.
Mulai dari menulis novel, cerpen, bahan ceramah agama, bahan pidato, bahkan
menulis tafsir al-Quran. Bahan tulisan beliau tetap kekal, bahkan ketika beliau
sudah lama meninggalkan dunia yang fana ini. Namun nama beliau tetap kekal dan
menjadi sanjungan para pembacanya, karena warisan tulisannya yang tetap bisa
dibaca hingga sekarang. Tulisan-tulisan beliau telah menjadi amal jariah bagi beliau,
dan menjadikannya pahala yang terus mengalir kepada beliau hingga di akhirat
kelak.
Menulis
sebagai ibadah adalah cita-cita kita. Artinya tulislah sesuatu yang dapat
menjadi manfaat yang sebesar-besarnya kepada umat. Usahakan bahan tulisan yang
ditampilkan menjadi hal yang selalu dikenang dan berkesan pada pembaca.
Sehingga setiap butir kata yang kita goreskan dalam tulisan tersebut bernilai
pahala yang berlipat ganda di mata Sang Pencipta.
Dengan
membulatkan tekad dan menanamkam niat menulis sebagai ibadah, sepertinya
ketrampilan menulis akan semakin mudah untuk dijalankan dan diraih. Karena,
sama seperti jika kita mengamalkan dan menjalankan ibadah rutin, dengan niat
mendapatkan ridha Allah, maka Allah pun akan memudahkan perjalanan niat kita
tersebut.
Sehingga,
salahsatu kunci keberhasilan kita untuk dapat trampil melakukan pekerjaan
menulis, kita harus mengubah mindset di kepala dan menganggapnya sebagai sebuah
ibadah. Menulis sebagai ibadah, akan secara otomatis pula memandu kita untuk
mengangkat bahan-bahan tulisan yang bersifat positif dan mengandung nilai-nilai
kebaikan kepada umat pembaca. Semangat
kita pun ikut terpacu untuk terus berbagi kebaikan melalui tulisan-tulisan yang
terus mengalir dengan derasnya.
Pelajaran
menulis menjadi bahan pelajaran sepanjang hayat. Menulis dapat dipelajari sepanjang
hayat. Artinya, menulis dapat dipelajari sejak di usia dini ketika masih
bersekolah di Sekolah Dasar sekalipun. Bahkan ketika dalam usia lanjut pun
menulis masih tetap relevan untuk dipelajari dan digeluti. Tidak ada kata
terlambat untuk belajar menulis. Jadilah penulis yang produktif, niscaya ia
akan menjadi legasi dan amal jariah yang abadi sepanjang masa. ***
Banda Aceh, 30 November 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar