Minggu, 04 Desember 2022

Menulis adalah Ibadah


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 2 Desember 2022

Menulis adalah sebuah ketrampilan. Sehingga perlu diasah dan dilatih terus menerus untuk dapat menjadi kebiasaan bagi setiap manusia terpelajar. Manusia terpelajar adalah semua insan yang haus ilmu dan ingin belajar terus sepanjang hayatnya.

 

Sering kali kita mendengar keluhan atau kita sendiri yang mengalami. Sukar sekali rasanya menuliskan sesuatu yang ingin diungkapkan. Terasakan iya namun terkatakan tidak. Unek-unek sudah menggumpal di kepala, namun sulit sekali rasanya dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

 

Ternyata ini adalah sesuatu yang wajar di masyarakat kita. Mungkin juga disebabkan oleh latar belakang budaya kita yang tidak terbiasa menulis. Budaya kita budaya berbicara. Kita sanggup untuk bicara panjang lebar di suatu forum informal, seperti di warung kopi atau pertemuan keluarga atau sesama sejawat di ruang-ruang santai. Namun menjadi tertatih-tatih ketika diminta untuk menuliskan apa-apa yang menjadi buah pikiran kita.

 

Menulis juga ada hubungannya dengan kebiasaan membaca. Jika kita terbiasa dan sering membaca maka secara tanpa disadari kita pun akan lebih mudah untuk menuliskan kembali apa yang kita baca tersebut. Namun masalahnya masyarakat kita pun ternyata tidak gemar membaca. Sehingga wajar jika menulis pun menjadi sukar untuk dilakukan.

 

Jadi untuk dapat mudah menulis kuncinya sering-seringlah membaca. Perbanyak kegiatan membaca apa saja, kemudian berlatihlah menuliskan apa-apa yang sudah dibaca itu. Insya Allah, lambat laun kebiasaan membaca dan menulis akan menjadi bagian keseharian kita.

 

Apa sesungguhnya manfaat menulis? Sebagian pihak menyebutkan kemampuan menulis seseorang mencerminkan jalan pikiran seseorang yang runtut dan sistematis. Artinya, jika seseorang mudah untuk melakukan kegiatan menulis, bermakna logika berpikirnya sudah berkembang dan mudah untuk memahami hal-hal baru. Pikirannya pun cepat beradaptasi dengan informasi dan fakta-fakta baru. Tentu ini suatu hal yang menguntungkan dan sangat berguna bagi seseorang untuk menyerap informasi yang silih berganti datang. Kemampuan berpikir logis menjadi dambaan setiap insan yang haus ilmu pengetahuan.

 

Selain itu menulis juga dapat dipakai sebagai alat terapi. Ada kalanya seseorang mengalami peristiwa yang menyedihkan dalam hidupnya sehingga kadangkala terserang oleh depresi. Ada psikolog yang menyarankan untuk melakukan terapi dengan menulis. Seseorang yang sedang mengalami depresi disarankan untuk duduk dengan tenang, dan mulailah menulis. Tuliskan saja segala hal yang muncul di kepala. Mengalir begitu saja. Kemudian rasakan perlahan-lahan sejalan dengan tulisan yang terus muncul pikiran seperti ringan dan beban yang menggumpal di kepala seperti berangsur-angsur lenyap.

 

Menulis sebagai kebiasaan hidup akan menambah rasa percaya diri seseorang. Dengan menulis seseorang dapat menyampaikan isi hati dan pikirannya yang paling dalam dan menjadi konsumsi masyarakat luas. Ide dan gagasan yang beraneka ragam dapat dengan mudah tersampaikan kepada khalayak jika kita dapat menuliskannya dengan runtut. Ide dan gagasan itu pun akan menjadi abadi dan tersimpan dalam bentuk tulisan. Artinya kapan saja buah pikiran kita yang sudah tertulis itu akan dengan mudah diakses kembali oleh khalayak bahkan ketika kita sudah tidak ada. Tulisan sudah menjadi warisan buah pikiran kita, dan ia kekal sepanjang tulisan itu masih dapat diakses oleh khalayak.

 

Menulis dapat menjadi sebuah kegiatan ibadah, jika dilakukan dengan niat untuk menyebarkan kebaikan kepada khalayak. Ulama kharismatik Buya Hamka telah membuktikan itu. Beliau begitu gemar menulis. Bahan tulisannya begitu beragam. Mulai dari menulis novel, cerpen, bahan ceramah agama, bahan pidato, bahkan menulis tafsir al-Quran. Bahan tulisan beliau tetap kekal, bahkan ketika beliau sudah lama meninggalkan dunia yang fana ini. Namun nama beliau tetap kekal dan menjadi sanjungan para pembacanya, karena warisan tulisannya yang tetap bisa dibaca hingga sekarang. Tulisan-tulisan beliau telah menjadi amal jariah bagi beliau, dan menjadikannya pahala yang terus mengalir kepada beliau hingga di akhirat kelak.

 

Menulis sebagai ibadah adalah cita-cita kita. Artinya tulislah sesuatu yang dapat menjadi manfaat yang sebesar-besarnya kepada umat. Usahakan bahan tulisan yang ditampilkan menjadi hal yang selalu dikenang dan berkesan pada pembaca. Sehingga setiap butir kata yang kita goreskan dalam tulisan tersebut bernilai pahala yang berlipat ganda di mata Sang Pencipta.

 

Dengan membulatkan tekad dan menanamkam niat menulis sebagai ibadah, sepertinya ketrampilan menulis akan semakin mudah untuk dijalankan dan diraih. Karena, sama seperti jika kita mengamalkan dan menjalankan ibadah rutin, dengan niat mendapatkan ridha Allah, maka Allah pun akan memudahkan perjalanan niat kita tersebut.

 

Sehingga, salahsatu kunci keberhasilan kita untuk dapat trampil melakukan pekerjaan menulis, kita harus mengubah mindset di kepala dan menganggapnya sebagai sebuah ibadah. Menulis sebagai ibadah, akan secara otomatis pula memandu kita untuk mengangkat bahan-bahan tulisan yang bersifat positif dan mengandung nilai-nilai kebaikan kepada umat pembaca.  Semangat kita pun ikut terpacu untuk terus berbagi kebaikan melalui tulisan-tulisan yang terus mengalir dengan derasnya.

 

Pelajaran menulis menjadi bahan pelajaran sepanjang hayat. Menulis dapat dipelajari sepanjang hayat. Artinya, menulis dapat dipelajari sejak di usia dini ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar sekalipun. Bahkan ketika dalam usia lanjut pun menulis masih tetap relevan untuk dipelajari dan digeluti. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menulis. Jadilah penulis yang produktif, niscaya ia akan menjadi legasi dan amal jariah yang abadi sepanjang masa. ***

 

Banda Aceh, 30 November 2022 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...