Telah dimuat di harian Waspada edisi Rabu, 2 September 2026
Beberapa tahun
silam, ketika saya menempuh pendidikan pascasarjana di Malaysia, seorang profesor
senior dari Malaysia bercerita di dalam kelas tentang pengalamannya menghadiri
sebuah konferensi internasional di Eropa. Ia berangkat dengan perasaan bangga.
Bagaimana tidak? Undangan yang diterimanya membawa nama konferensi internasional,
diselenggarakan di salah satu kota di Eropa, dengan pembicara dari berbagai
negara. Di atas kertas, semuanya tampak meyakinkan.
Namun, begitu tiba
di lokasi, rasa bangga itu perlahan berubah menjadi keheranan.
Penyelenggaraan
konferensi jauh dari bayangannya tentang forum ilmiah internasional. Peserta
tidak banyak. Beberapa sesi tidak berlangsung sebagaimana tercantum dalam
program. Kualitas presentasi pun tidak seperti yang diharapkan. Ada kesan bahwa
penyelenggara lebih sibuk mengurus administrasi dan pendaftaran daripada
membangun diskusi ilmiah.
Ia dan beberapa
koleganya kemudian menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Pengalaman semacam
ini sesungguhnya bukan cerita baru. Konferensi predator atau predatory
conference telah menjadi perhatian komunitas akademik internasional
setidaknya sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada awal 2010-an, berbagai
akademisi sudah memperingatkan munculnya penyelenggara konferensi yang
menggunakan kemasan ilmiah untuk menarik peserta dan memperoleh keuntungan,
tetapi tidak menyediakan proses ilmiah yang layak.
Artinya, ketika
sekarang kita ramai membicarakan konferensi abal-abal di Indonesia, jangan
sampai muncul kesan bahwa fenomena ini merupakan penyakit khas akademia
Indonesia. Bukan. Ini adalah penyakit lama dunia akademik. Yang berubah adalah
perhatian kita terhadapnya.
Bukan monopoli negara berkembang
Salah satu hal
menarik dari fenomena konferensi predator adalah bahwa ia tidak mengenal batas
negara. Penelitian tentang konferensi yang dipandang bermasalah menunjukkan
bahwa peserta dan presenter datang dari berbagai belahan dunia.
Sebuah penelitian
yang menganalisis lebih dari 40.000 presenter pada konferensi yang
diselenggarakan oleh dua organisasi yang dikategorikan sebagai penyelenggara
konferensi bermasalah menemukan peserta dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman,
Prancis, Italia, Spanyol, Australia, Kanada, Jepang, dan berbagai negara
lainnya.
Bahkan, sebagian
presenter berafiliasi dengan universitas yang termasuk dalam jajaran
universitas terbaik dunia. Dengan kata lain, akademisi dari negara maju pun
tidak kebal.
Ada kisah seorang
peneliti dari Inggris yang benar-benar menghadiri konferensi di Copenhagen,
Denmark. Setelah tiba di lokasi, ia mendapati konferensi yang dijadwalkan
berlangsung dua hari ternyata hanya berjalan beberapa jam. Pesertanya sangat
sedikit dan sejumlah topik yang dipresentasikan begitu beragam sehingga sulit
melihat komunitas ilmiah yang sesungguhnya di balik acara tersebut. Pengalaman
itu mahal. Ia harus membayar biaya pendaftaran, perjalanan, dan akomodasi untuk
sebuah forum yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Kisah ini penting
karena menunjukkan bahwa konferensi predator bukan persoalan akademisi dari
negara berkembang yang kurang teliti. Bahkan peneliti dari negara maju dapat
terjebak.
Ketika lokasi menjadi komoditas
Ada ironi lain yang
patut diperhatikan. Dalam penelitian terhadap ribuan konferensi yang
dikategorikan bermasalah, London dan Paris termasuk kota yang sangat sering
digunakan sebagai lokasi. Kota-kota dengan reputasi internasional dan daya
tarik wisata ternyata juga dapat menjadi panggung bagi konferensi yang kualitas
ilmiahnya dipertanyakan.
Di sinilah kita
perlu berhenti sejenak. Mengapa sebuah konferensi di London terasa lebih
bergengsi daripada konferensi yang sama di kota lain? Mengapa label “European
Conference” atau “International Conference” dapat membuat kita memberikan
kepercayaan bahkan sebelum memeriksa siapa penyelenggaranya?
Barangkali karena
dunia akademik masih memiliki hierarki prestise yang kuat. Ada anggapan bahwa
ilmu pengetahuan yang datang dari pusat-pusat akademik tradisional di Eropa
atau Amerika Utara secara otomatis lebih berkualitas. Sebaliknya, kegiatan
ilmiah dari negara berkembang sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan
pengakuan.
Konferensi predator
memahami psikologi ini. Yang dijual bukan hanya tiket konferensi. Yang dijual
adalah pengalaman internasional, sertifikat, jejaring, prestise, dan dalam
kasus tertentu, ilusi bahwa seseorang telah menjadi bagian dari komunitas
ilmiah global.
Karena itu, lokasi
dapat menjadi bagian dari komoditas. London, Paris, Vienna, Rome, Copenhagen,
atau kota Eropa lainnya dapat menjadi daya tarik tersendiri. Padahal, kualitas
ilmiah sebuah konferensi tidak pernah ditentukan oleh alamat hotel tempat
konferensi berlangsung.
Penyakit lama, tetapi terus beradaptasi
Komunitas akademik
internasional sebenarnya sudah lama menyadari persoalan ini. Sejak awal
2010-an, berbagai akademisi telah memperingatkan tentang predatory meetings.
Setelah itu muncul penelitian, panduan, peringatan institusi, dan berbagai
upaya untuk membantu peneliti mengenali konferensi yang bermasalah.
Sejumlah
universitas bahkan harus memperingatkan civitas akademik mereka agar tidak
tertipu oleh konferensi yang menggunakan nama institusi atau konferensi resmi
secara tidak sah. Ini menunjukkan satu hal penting: dunia akademik tidak
menganggap konferensi predator sebagai fenomena yang harus diterima sebagai
bagian normal dari kehidupan ilmiah.
Sebaliknya, ia
berusaha membangun semacam imunitas
akademik.
Caranya bukan hanya
dengan membuat daftar hitam. Peneliti didorong untuk memeriksa siapa
penyelenggaranya, siapa anggota komite ilmiahnya, bagaimana proses peer
review dilakukan, siapa pembicaranya, di mana prosiding diterbitkan,
bagaimana rekam jejak konferensi sebelumnya, dan apakah ada komunitas ilmiah
yang benar-benar berada di belakang acara tersebut.
Jika ditemukan
kejanggalan, responsnya sederhana tetapi penting: jangan hadir, jangan
membayar, jangan mengirim makalah, dan jangan memberikan legitimasi. Dengan
kata lain, konferensi predator harus diisolasi dari ekosistem ilmiah.
Lalu bagaimana dengan kita?
Di sinilah
pemberitaan mengenai maraknya konferensi abal-abal di Indonesia menjadi
relevan. Kita tentu perlu memperingatkan akademisi agar lebih berhati-hati.
Dosen muda yang menerima undangan konferensi internasional tidak boleh hanya
melihat negara tempat acara diselenggarakan, hotelnya, atau daftar pembicara
yang terpampang di situs web.
Namun, kita juga
perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada kesimpulan bahwa konferensi predator
adalah masalah khas Indonesia. Tidak demikian. Fenomena ini bersifat global dan
telah berlangsung lama. Karena itu, respons kita juga sebaiknya tidak berhenti
pada pertanyaan: siapa yang salah?
Yang lebih penting
adalah: bagaimana kita membangun sistem
kekebalan akademik?
Akademisi perlu
dibekali kemampuan memeriksa kredibilitas konferensi. Perguruan tinggi perlu
memiliki mekanisme verifikasi sebelum membiayai perjalanan atau mengakui kegiatan
konferensi sebagai bagian dari kinerja akademik. Asosiasi keilmuan dapat
memainkan peran sebagai sumber rujukan bagi konferensi yang legitimate. Dan
yang tidak kalah penting, sistem penilaian kinerja akademik jangan sampai
memberikan insentif sedemikian besar kepada jumlah kegiatan sehingga membuka
pasar bagi penyelenggara konferensi predator.
Kita juga perlu
mengubah cara pandang. Menghadiri konferensi di Eropa bukan dengan sendirinya
menunjukkan kualitas akademik. Memiliki sertifikat konferensi internasional
bukan pula bukti bahwa seseorang telah berkontribusi pada perkembangan ilmu
pengetahuan.
Ukuran sebenarnya
jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: apakah gagasan kita diuji? Apakah
penelitian kita dikritik? Apakah kita mendapatkan masukan yang membuat
penelitian menjadi lebih baik? Apakah dari pertemuan itu lahir kolaborasi,
pengetahuan, atau pertanyaan baru? Jika jawabannya tidak, maka label
“internasional” tidak banyak berarti.
Jangan merasa kita sedang menghadapi penyakit sendiri
Konferensi predator
dapat muncul di mana saja. Ia dapat memanfaatkan nama kota besar, universitas
terkenal, hotel bergengsi, pembicara internasional, bahkan istilah peer
review untuk membangun kepercayaan. Karena itu, kita tidak perlu merasa
rendah diri ketika menemukan bahwa fenomena tersebut juga tumbuh di Indonesia.
Amerika Serikat,
Inggris, Australia, Kanada, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, dan negara-negara
maju lainnya juga pernah berhadapan dengannya. Bahkan akademisi dari
universitas terkemuka mereka pernah menjadi peserta atau korban.
Yang membedakan
bukan negara mana yang pernah memiliki konferensi predator. Yang membedakan
adalah seberapa cepat komunitas
akademiknya mengenali, menolak, dan mengisolasinya.
Ilmu pengetahuan
tidak membutuhkan pagar negara untuk mengenali penipuan. Konferensi predator
bukan penyakit Indonesia. Ia adalah penyakit lama dunia akademik. Tugas kita
bukan berpura-pura bahwa kita kebal.
Tugas kita adalah
membangun imunitas, agar konferensi yang menjual nama besar tetapi mengosongkan
makna ilmiah tidak pernah memperoleh tempat terhormat dalam kehidupan akademik
kita.***
Banda Aceh, 12
Agustus 2026


