Telah tayang di harian Serambi Indonesia online pada Senin, 31 Oktober 2026
Ada sesuatu yang seharusnya membuat kita
berhenti sejenak melihat bencana besar yang melanda Nepal dan kawasan
perbatasannya dengan Tibet pada 26 Agustus lalu.
Bukan hanya karena dahsyatnya banjir
bandang yang terjadi. Bukan pula semata-mata karena ratusan korban jiwa dan
ribuan orang masih dinyatakan hilang. Yang seharusnya membuat dunia terdiam
adalah kenyataan bahwa bencana itu terjadi di sebuah kawasan yang sedang
mengalami perubahan iklim yang sangat cepat: Himalaya.
Banjir tersebut dipicu oleh runtuhnya massa
es dan batuan di kawasan gletser. Runtuhan itu kemudian menghasilkan debris
flow yang masuk ke sungai dan meluncur puluhan hingga hampir seratus kilometer
ke wilayah permukiman. Analisis US Geological Survey menyebut kegagalan lereng
yang melibatkan gletser sebagai pemicu kemungkinan utama.
Pertanyaannya kemudian: mengapa kita harus
melihat peristiwa itu semata-mata sebagai bencana alam? Bukankah kita harus
melihatnya sebagai salah satu wajah baru perubahan iklim?
Para ilmuwan telah lama mengingatkan bahwa
kawasan pegunungan tinggi adalah salah satu wilayah yang sangat sensitif
terhadap pemanasan global. Gletser mencair, permafrost mengalami pencairan, dan
keseimbangan antara es, batuan, air dan lereng berubah. Akibatnya, kawasan yang
dahulu relatif stabil dapat menjadi semakin rapuh.
Penelitian yang diterbitkan pada 2026
mengenai Himalaya–Karakoram menunjukkan bahwa pemanasan telah mempercepat
penyusutan cryosphere, memperbesar danau-danau glasial dan meningkatkan risiko
berbagai bencana terkait gletser, termasuk banjir, longsoran es dan debris
flow.
Karena itu, meskipun secara ilmiah kita
belum boleh mengatakan secara sederhana bahwa "pemanasan global
menyebabkan banjir Nepal", kita juga tidak boleh melakukan kesalahan
sebaliknya: menganggap pemanasan global tidak mempunyai hubungan dengan bencana
tersebut.
Kita harus membedakan antara pemicu langsung dan kondisi yang meningkatkan risiko. Runtuhnya
gletser adalah pemicu langsung. Tetapi pemanasan yang berlangsung dalam jangka
panjang dapat mengubah kondisi gletser dan pegunungan sehingga sistem tersebut
menjadi semakin tidak stabil.
Dengan kata lain, pemanasan global tidak
harus datang seperti palu yang menghantam gunung pada detik terjadinya bencana.
Ia dapat bekerja jauh lebih perlahan: mencairkan es, mengubah struktur lereng,
melemahkan permafrost, mengubah pola air dan pada akhirnya membuat sebuah
sistem alam semakin mudah runtuh.
Itulah sebabnya tragedi Nepal seharusnya
menjadi alarm bagi dunia.
Nepal mungkin bukan
yang terakhir
Nepal adalah salah satu negara yang
kontribusinya terhadap emisi global sangat kecil. Namun masyarakatnya berada di
garis depan menghadapi konsekuensi perubahan iklim. Ironisnya, mereka yang
paling sedikit berkontribusi terhadap pemanasan global justru dapat menjadi
kelompok yang paling awal merasakan dampaknya.
Dan kita tidak perlu melihat terlalu jauh.
Pada akhir November hingga awal Desember
2025, banjir bandang dan longsor besar juga menghantam Aceh, Sumatera Utara dan
Sumatera Barat. Lebih dari seribu orang dilaporkan meninggal dan ratusan ribu
orang terdampak. Sejumlah kajian dan analisis setelah kejadian menunjukkan
bahwa hujan ekstrem berinteraksi dengan kondisi daerah aliran sungai, degradasi
hutan dan kerentanan tata ruang sehingga memperbesar dampak bencana.
Apakah seluruh bencana Sumatera itu dapat
disebut sebagai akibat langsung perubahan iklim? Sekali lagi, kita harus
berhati-hati.
Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting
adalah: apakah kita sedang melihat
pola risiko yang semakin besar? Nepal memberikan peringatan dari
pegunungan. Sumatera memberikan peringatan dari daerah tropis. Besok, mungkin
giliran kawasan pesisir. Atau pulau-pulau kecil di tengah samudera. Atau
kota-kota yang dibangun di dataran rendah. Atau masyarakat yang tinggal di
lereng-lereng gunung.
Kita tidak tahu persis siapa yang akan
menjadi korban berikutnya. Tetapi kita tahu bahwa sistem iklim sedang berubah.
Jangan menunggu
bencana berikutnya
Masalah terbesar kita mungkin bukan
kekurangan pengetahuan. Dunia sudah mengetahui bahwa bumi sedang memanas. Dunia
juga mengetahui bahwa emisi karbon dari pembakaran bahan bakar fosil merupakan
pendorong utama perubahan iklim modern.
Yang kurang adalah keberanian politik untuk
bertindak bersama.
Negara-negara masih sibuk menghitung berapa
banyak biaya yang harus mereka keluarkan untuk mengurangi emisi. Industri masih
menghitung berapa besar keuntungan yang mungkin hilang jika transisi energi
dipercepat. Negara maju dan negara berkembang masih berdebat tentang siapa yang
harus membayar dan siapa yang harus bertanggung jawab lebih besar.
Sementara itu, gunung terus mencair. Laut
terus naik. Cuaca ekstrem terus menguji kemampuan kita. Dan masyarakat yang
paling rentan terus membayar harga yang tidak mereka tentukan sendiri. Sudah
saatnya ego sektoral dan kepentingan jangka pendek diletakkan sedikit lebih
jauh.
Krisis iklim bukan persoalan Kementerian
Lingkungan Hidup semata. Bukan pula persoalan negara-negara kepulauan kecil
saja. Ia bukan hanya persoalan negara maju yang harus mengurangi emisi atau
negara berkembang yang membutuhkan energi untuk pertumbuhan ekonominya. Ini
adalah persoalan bersama warga dunia.
Energi, transportasi, industri, kehutanan,
pertanian, tata ruang, pembangunan kota, pengelolaan wilayah pesisir dan
kebencanaan harus dilihat sebagai satu kesatuan. Demikian pula kerja sama
antarnegara.
Himalaya tidak mengenal batas politik.
Sungai tidak mengenal garis perbatasan. Atmosfer bahkan lebih tidak mengenal
paspor. Karena itu, data satelit, sistem peringatan dini, pemantauan gletser,
informasi hidrologi, teknologi prediksi cuaca dan pengetahuan kebencanaan harus
menjadi bagian dari kerja sama internasional, bukan sekadar aset masing-masing
negara.
Nepal membutuhkan dunia. Tetapi dunia juga
membutuhkan Nepal sebagai pengingat.
Menunggu giliran
Ada kecenderungan manusia untuk menganggap
bencana yang terjadi jauh dari dirinya sebagai persoalan orang lain. Ketika
gletser runtuh di Himalaya, kita mungkin berpikir itu persoalan Nepal. Ketika
pulau kecil tenggelam, kita mungkin berpikir itu persoalan negara kepulauan
Pasifik. Ketika badai menghantam Karibia, kita menganggapnya persoalan kawasan
tersebut. Padahal atmosfer yang sama menaungi kita semua. Bumi yang sama sedang
mengalami perubahan.
Dan karena itu, pertanyaan yang seharusnya
kita ajukan bukanlah: "Apakah
Indonesia akan mengalami bencana seperti Nepal?"
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: "Berapa lama lagi kita mampu menghindari
dampak yang lebih besar jika dunia gagal mengendalikan pemanasan global?"
Nepal mungkin sedang memberi kita
kesempatan untuk kembali sadar. Jangan tunggu sampai es mencair di depan rumah
kita. Jangan tunggu sampai air laut masuk ke halaman rumah. Jangan tunggu
sampai longsor datang dari gunung. Jangan tunggu sampai pulau tempat kita
tinggal kehilangan daratan sedikit demi sedikit. Dan jangan tunggu sampai kita
sendiri menjadi berita berikutnya.
Tragedi Nepal seharusnya tidak hanya
menghasilkan bantuan kemanusiaan, pencarian korban dan rekonstruksi
infrastruktur. Ia harus menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar: kesadaran bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman
di masa depan. Ia sudah mulai mengubah cara alam bekerja hari ini. Kali
ini Nepal yang merasakan langsung.
Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat
serius: siapa berikutnya? Dan
apakah dunia akan kembali bersatu sebelum jawabannya adalah kita?***
Banda Aceh, 30 Agustus 2026
Penulis: Dr. Ir. Dandi Bachtiar, M. Sc.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar