Telah dimuat di harian Waspada edisi Rabu, 16 September 2026
Ada ironi besar dalam peradaban manusia
hari ini.
Kita mampu mengirim manusia ke luar
angkasa, menciptakan kecerdasan buatan, membangun senjata yang mampu
menghancurkan kota dalam hitungan menit, dan mengembangkan teknologi yang
semakin canggih. Tetapi untuk menyelamatkan atmosfer yang menjadi rumah kita
bersama, kita masih sibuk berdebat tentang siapa yang harus mengalah, siapa
yang harus membayar, dan siapa yang paling bertanggung jawab.
Sementara itu, bumi terus bergerak menuju
titik yang semakin sulit kita kendalikan.
Tragedi Nepal pada 26 Agustus 2026
seharusnya menjadi peringatan keras.
Banjir bandang dahsyat di kawasan
perbatasan Nepal-Tibet bukan sekadar banjir biasa. Para ahli kini mengarah kuat
pada runtuhnya massa gletser dan batuan di kawasan Himalaya yang kemudian
berubah menjadi longsoran es-batu dan debris flow raksasa. Gelombang material
itu masuk ke sungai dan menghantam wilayah di sepanjang aliran hingga jauh ke
hilir. Analisis geofisika bahkan menunjukkan getaran yang semula diduga sebagai
gempa ternyata merupakan konsekuensi dari runtuhan tersebut.
Namun yang jauh lebih penting daripada
mencari satu pemicu sesaat adalah memahami mengapa lingkungan pegunungan tinggi seperti Himalaya semakin tidak
stabil. Jawabannya tidak sederhana, tetapi arahnya semakin jelas. Planet
yang semakin panas mengubah dunia es.
Gletser mencair dan menyusut. Permafrost mencair.
Air memasuki rekahan batuan dan es. Lereng yang selama ribuan tahun berada
dalam keadaan relatif stabil dapat berubah menjadi rapuh. Para ahli
memperingatkan bahwa pemanasan global akan meningkatkan risiko longsoran,
debris flow dan bencana yang berkaitan dengan gletser di kawasan pegunungan
tinggi.
Karena itu, tragedi Nepal tidak semestinya
kita lihat hanya sebagai bencana alam. Ia adalah peringatan dari bumi yang sedang berubah.
Kita terlalu sibuk
dengan diri sendiri
Ironisnya, ketika alam memberikan
peringatan seperti itu, manusia justru semakin sibuk berkonflik. Negara-negara
mengembangkan senjata dengan kemampuan yang semakin mengerikan. Perang
menghabiskan triliunan dolar. Rudal, pesawat tempur, kapal perang, kendaraan
lapis baja dan berbagai teknologi militer terus diproduksi dan digunakan.
Kita bahkan menyaksikan bagaimana teknologi
yang seharusnya menjadi simbol kecerdasan manusia digunakan untuk membunuh
manusia lainnya.
Di tempat lain, hutan terus ditebang.
Industri terus diperluas. Konsumsi energi fosil masih menjadi fondasi penting
perekonomian dunia. Eksploitasi sumber daya alam berlangsung dengan kecepatan
yang sering kali lebih tinggi daripada kemampuan alam untuk memulihkan dirinya.
Kita seolah lupa bahwa semua aktivitas
tersebut berlangsung di dalam satu atmosfer yang sama.
Atmosfer tidak mengenal batas negara. Karbon
yang dilepaskan di satu benua tidak berhenti di garis perbatasan. Pemanasan
yang dihasilkan oleh aktivitas manusia tidak memilih apakah korbannya berasal
dari negara kaya atau negara miskin.
Tetapi dampaknya justru sangat tidak adil. Negara-negara
yang kontribusinya terhadap emisi global relatif kecil dapat menjadi korban
yang sangat besar. Nepal adalah salah satunya.
Negara yang hampir tidak menentukan arah
emisi global justru hidup di bawah bayang-bayang perubahan Himalaya yang
berlangsung semakin cepat.
Nepal bukan hanya
tentang Nepal
Bencana Nepal seharusnya membuat kita
bertanya: siapa berikutnya? Mungkin
masyarakat yang tinggal di pesisir. Mungkin pulau-pulau kecil di tengah
samudera. Mungkin kota-kota yang dibangun di dataran rendah. Mungkin masyarakat
yang hidup di lereng gunung. Atau mungkin kita sendiri.
Indonesia seharusnya tidak merasa menjadi
penonton.
Kita masih mengingat bencana banjir dan
longsor besar yang menghantam Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada
akhir November 2025. Hujan ekstrem menjadi pemicu utama rangkaian banjir dan
longsor tersebut, sementara kondisi daerah aliran sungai dan kerusakan
lingkungan ikut menentukan besarnya dampak di berbagai tempat. Kajian mengenai
peristiwa itu bahkan telah mengidentifikasi rantai bencana ekstrem berupa
hujan–longsor–banjir sebagai suatu compound disaster.
Apakah semua bencana tersebut semata-mata
disebabkan perubahan iklim? Tidak.
Tetapi apakah perubahan iklim boleh kita
abaikan? Juga tidak.
Inilah kesalahan besar dalam perdebatan
mengenai perubahan iklim. Kita sering menuntut sebuah bencana untuk membuktikan
bahwa 100 persen penyebabnya adalah
pemanasan global, seolah-olah tanpa pembuktian itu kita boleh kembali
menjalankan kehidupan seperti biasa.
Padahal persoalan yang sebenarnya jauh
lebih sederhana. Jika dunia yang semakin panas membuat gletser semakin tidak
stabil, membuat hujan ekstrem semakin berisiko, membuat laut semakin tinggi dan
memperbesar berbagai jenis bahaya alam, bukankah masuk akal jika kita bertindak
sebelum semuanya menjadi lebih buruk?
Kita tidak perlu menunggu sebuah bencana
memiliki label "100 persen climate change" untuk mulai berubah.
Perang tidak boleh
mengalahkan iklim
Ada sesuatu yang lebih menyedihkan lagi. Kita
memiliki banyak sekali forum internasional untuk membahas keamanan. Kita
memiliki berbagai aliansi militer. Kita memiliki lembaga yang mengatur
perdagangan dunia. Negara-negara dapat dengan cepat mengumpulkan sumber daya
ketika kepentingan strategis mereka terancam.
Tetapi ketika atmosfer bumi membutuhkan
kerja sama yang sama seriusnya, kita sering kembali kepada ego nasional. Kita
menghitung keuntungan sendiri. Kita melindungi industri sendiri. Kita
mempertahankan kepentingan energi sendiri. Kita menyalahkan negara lain.
Kita menuntut negara lain mengurangi emisi,
tetapi enggan mengubah pola konsumsi sendiri. Kita berbicara tentang masa depan
anak cucu sambil tetap membakar masa depan itu sedikit demi sedikit.
Bahkan perang yang menggunakan teknologi
modern juga memiliki jejak lingkungan yang nyata dari penggunaan bahan bakar
dan logistik militer hingga kerusakan infrastruktur dan ekosistem. Namun isu
tersebut hampir selalu tenggelam di bawah narasi geopolitik dan keamanan. Seolah-olah
bumi dapat menanggung semuanya. Padahal bumi tidak sedang bernegosiasi dengan
kita.
Dunia harus
berhenti menunggu
Pertanyaan yang paling mengerikan bukanlah
apakah perubahan iklim akan menimbulkan bencana yang lebih besar.
Pertanyaannya adalah: seberapa besar bencana yang harus terjadi
sebelum manusia bersedia bekerja sama? Haruskah kita menunggu gletser
yang runtuh menghantam kota besar?
Haruskah sebuah negara maju mengalami
kehancuran akibat banjir ekstrem terlebih dahulu agar dunia menyadari bahwa
perubahan iklim bukan persoalan negara miskin? Haruskah sebuah kota
metropolitan tenggelam? Haruskah jutaan manusia kehilangan tempat tinggal? Kalau
kita menunggu sampai itu terjadi, mungkin kita sudah terlambat. Kita tidak
boleh menunggu kiamat untuk membuktikan bahwa bumi sedang sakit.
Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian
politik untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, menghentikan
kerusakan hutan, mempercepat transisi energi, memperkuat sistem peringatan dini
dan membangun infrastruktur yang mampu menghadapi iklim yang sudah berubah. Tetapi
yang paling penting adalah kerja sama.
Dunia harus kembali belajar bahwa ada
persoalan yang terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu negara. Perang dapat
mempunyai pemenang dan pecundang. Politik dapat mempunyai pihak yang menang dan
kalah. Tetapi perubahan iklim tidak mengenal konsep tersebut. Jika bumi menjadi
semakin tidak layak dihuni, tidak ada negara yang benar-benar menang.
Tragedi Nepal memberi kita sebuah gambaran
yang sangat konkret. Di sana, bukan sekadar angka temperatur yang naik di layar
komputer. Bukan sekadar grafik konsentrasi karbon dioksida. Bukan sekadar
laporan konferensi internasional. Yang runtuh adalah gletser. Yang bergerak
adalah gunung.Yang datang adalah gelombang air, es, batu dan lumpur. Yang
hilang adalah manusia. Dan yang tersisa adalah pertanyaan kepada kita semua.
Apakah kita masih
akan sibuk saling berperang ketika bumi sudah mulai menunjukkan akibat dari
kesalahan kita sendiri? Kali ini Nepal
yang merasakan. Besok mungkin pulau kecil di Pasifik. Lusa mungkin kota
pesisir.
Suatu hari mungkin wilayah pegunungan yang
selama ini kita anggap aman. Tidak ada yang tahu siapa yang berikutnya. Tetapi
satu hal kita tahu: bumi tidak bisa
diganti. Karena itu, dunia harus berhenti bertanya siapa yang paling
berhak mempertahankan kepentingannya sendiri.
Kita harus mulai bertanya: Apa yang harus kita lakukan bersama agar
anak-anak kita masih memiliki bumi yang layak dihuni?
Nepal telah memberikan peringatannya. Jangan
sampai manusia baru belajar mendengarkan setelah bumi mengirimkan peringatan
yang jauh lebih mahal.***
Banda Aceh, 9 September 2026
Penulis: Dr. Ir. Dandi Bachtiar, M. Sc.
Dosen di Departemen Teknik Mesin dan Industri, Universitas
Syiah Kuala (USK) - Banda Aceh
https://fsd.usk.ac.id/dandibachtiar
https://scholar.google.co.id/citations?user=eqIxf5gAAAAJ&hl=id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar