Senin, 10 Agustus 2026

USK dan Ranking Dunia


Telah tayang pada edisi online harian Serambi Indonesia Minggu, 9 Agustus 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, hampir semua perguruan tinggi berlomba memperbaiki posisi dalam berbagai pemeringkatan dunia. UI tengah berjuang meraih peringkat 100-150 QS Ranking, dimana kini sudah berada di posisi Top 200. Universitas Syiah Kuala (USK) pun tidak terkecuali. Walau dalam ranking dunia QS Ranking USK masih bertengger di level 1400an, USK tidak ketinggalan menunjukkan tekadnya dalam meningkatkan reputasi internasional. Langkah ini patut diapresiasi karena pengakuan global akan membuka peluang yang lebih luas bagi kerja sama internasional, pertukaran mahasiswa, pendanaan riset, hingga peningkatan daya saing lulusan. Namun, di balik semangat tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah mengejar QS Ranking harus menjadi tujuan akhir sebuah universitas?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

QS Ranking memang penting, tetapi ia seharusnya diposisikan sebagai konsekuensi dari keberhasilan universitas menjalankan misinya, bukan sebagai tujuan yang mengarahkan seluruh kebijakan institusi.

Hakikat sebuah universitas sejak awal bukanlah mengejar angka dalam tabel pemeringkatan internasional. Universitas didirikan untuk menciptakan ilmu pengetahuan, melahirkan inovasi, mencerdaskan masyarakat, dan menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi bangsa. Reputasi hanyalah pengakuan atas keberhasilan menjalankan misi tersebut.

Sayangnya, dalam era kompetisi global saat ini, tidak sedikit perguruan tinggi yang tanpa sadar mulai menjadikan indikator pemeringkatan sebagai arah utama pembangunan institusi. Berbagai kebijakan kemudian dirancang agar sesuai dengan kriteria lembaga pemeringkat: meningkatkan jumlah mahasiswa asing, memperbanyak publikasi internasional, menaikkan sitasi, memperluas kolaborasi global, hingga membangun reputasi akademik. Seluruh upaya tersebut memang baik dan bahkan diperlukan. Namun, ketika indikator-indikator itu menjadi tujuan akhir, universitas berisiko kehilangan orientasi terhadap masyarakat yang seharusnya dilayaninya.

Universitas kemudian menjadi sibuk memenuhi parameter yang ditetapkan lembaga pemeringkat, sementara persoalan nyata di sekitarnya justru kurang memperoleh perhatian. Akibatnya, keberhasilan di atas kertas belum tentu berbanding lurus dengan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Bagi USK, dilema tersebut menjadi semakin menarik. Sebagai perguruan tinggi terbesar di Aceh, USK memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan universitas-universitas besar di Pulau Jawa. Keunggulan USK bukan terletak pada usia institusi, besarnya jumlah alumni nasional, atau skala ekonominya. Kekuatan utama USK justru berada pada kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan karakteristik wilayah Aceh yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

Aceh adalah laboratorium alam yang luar biasa. Wilayah ini berada di pertemuan Samudra Hindia, Selat Malaka, dan Laut Andaman; memiliki potensi energi panas bumi, biomassa, dan tenaga air; dikenal sebagai penghasil kopi Gayo, nilam, kelapa, serta kelapa sawit; memiliki kawasan hutan tropis yang luas; sekaligus menyimpan pengalaman berharga dalam mitigasi bencana tsunami, rekonstruksi pascabencana, dan pembangunan perdamaian. Semua itu merupakan modal akademik yang tidak dapat dibeli oleh universitas mana pun di dunia.

Ironisnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dikonsolidasikan menjadi identitas ilmiah USK. USK perlu menajamkan lagi arah dan payung penyelidikannya dengan menggalang kolaborasi internal antar fakultas. Isu-isu lokal perlu menjadi sasaran pencarian solusi melalui program riset terpadu. Seperti masalah bencana banjir bandang tahun lalu yang efeknya masih dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Pergerakan tanah longsor raksasa di Aceh Tengah misalnya, menjadi peluang program riset bersama lintas ilmu yang butuh kajian bertaraf internasional. 

Padahal universitas-universitas terbaik dunia justru dikenal karena memiliki identitas akademik yang sangat jelas. Wageningen University identik dengan pertanian dan pangan. Massachusetts Institute of Technology dikenal sebagai pusat inovasi teknologi. University of Hawaii menjadi rujukan dalam oseanografi dan studi kawasan Pasifik. Mereka tidak berusaha menjadi yang terbaik dalam semua bidang, melainkan memilih beberapa bidang strategis yang kemudian dikembangkan secara konsisten selama puluhan tahun.

USK seharusnya mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Bukan dengan meniru bidang yang dikembangkan universitas lain, tetapi dengan membangun identitasnya sendiri berdasarkan kekuatan Aceh. Bidang seperti ketahanan bencana tropis, energi terbarukan kawasan tropis, biomaterial berbasis serat alam, ekonomi biru, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan memiliki potensi besar untuk menjadi ciri khas USK di tingkat dunia.

Apabila identitas tersebut dikembangkan secara serius, berbagai indikator yang digunakan QS sesungguhnya akan meningkat dengan sendirinya. Penelitian yang berkualitas akan menghasilkan publikasi yang lebih baik. Publikasi yang baik akan memperoleh lebih banyak sitasi. Kolaborasi internasional akan tumbuh karena peneliti dunia datang kepada pusat-pusat keunggulan yang dimiliki USK. Mahasiswa asing juga akan tertarik belajar pada bidang yang memang menjadi keunggulan universitas. Dengan kata lain, reputasi internasional lahir sebagai akibat dari kualitas akademik yang nyata, bukan karena universitas sekadar mengejar indikator pemeringkatan.

Logika ini sebenarnya sangat sederhana. Seseorang yang ingin hidup sehat tidak cukup hanya menimbang berat badan setiap hari. Berat badan ideal merupakan hasil dari pola hidup yang sehat, bukan tujuan yang dapat dicapai hanya dengan melihat angka pada timbangan. Demikian pula QS Ranking. Ia merupakan ukuran terhadap berbagai aspek kualitas universitas, bukan kualitas itu sendiri.

Karena itu, menurut saya pertanyaan yang seharusnya diajukan USK bukanlah, "Bagaimana agar peringkat QS kita naik?" Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Masalah apa yang hanya dapat diselesaikan oleh USK dengan memanfaatkan kekuatan Aceh?"

Apabila USK mampu menjawab pertanyaan tersebut, maka universitas ini tidak hanya akan memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga menjadi institusi yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakatnya. Pemerintah daerah akan menjadikan USK sebagai mitra utama dalam penyusunan kebijakan. Industri akan datang mencari solusi teknologi. Peneliti dunia akan tertarik membangun kolaborasi. Mahasiswa dari berbagai negara akan datang karena ingin belajar pada pusat-pusat keunggulan yang memang tidak dimiliki universitas lain.

Pada titik itulah QS Ranking memperoleh makna yang sesungguhnya. Ia bukan lagi target yang dikejar, melainkan cermin dari kualitas universitas yang telah berhasil menjalankan tugas utamanya.

Bagi USK ini tentunya bukanlah mengabaikan pemeringkatan internasional. Sebaliknya, pemeringkatan harus dijadikan instrumen evaluasi untuk mengukur sejauh mana kualitas institusi berkembang. Namun, arah perjalanan universitas hendaknya tidak ditentukan oleh indikator-indikator yang disusun lembaga pemeringkat, melainkan oleh kebutuhan masyarakat, potensi daerah, dan visi ilmiah yang ingin diwujudkan.

Universitas besar tidak lahir karena mengejar ranking. Mereka dihormati karena berhasil melahirkan pengetahuan yang mengubah kehidupan manusia. Reputasi internasional datang kemudian sebagai bentuk pengakuan.

Bagi USK, jalan menuju universitas kelas dunia tidak harus dimulai dari mengejar QS Ranking. Jalan itu justru dimulai dari keberanian membangun identitasnya sendiri: menjadi universitas yang paling memahami Aceh, paling mampu menyelesaikan persoalan Aceh, dan melalui keunggulan itulah memberikan kontribusi bagi Indonesia dan dunia. Ketika misi tersebut berhasil diwujudkan, QS Ranking tidak lagi menjadi sesuatu yang harus dikejar. Ia akan datang sebagai konsekuensi yang wajar dari sebuah universitas yang benar-benar berkualitas.

Jadi, USK perlu menetapkan sasaran utama kinerjanya yang menargetkan pemenuhan persoalan-persoalan lokal dan nasional, dengan tetap bercermin pada kriteria QS World Ranking sebagai konsekuensi logisnya.***

Banda Aceh, 8 Agustus 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nepal, Ketika Bumi Mulai Menagih

  Telah dimuat di harian Waspada edisi Rabu, 16 September 2026 Ada ironi besar dalam peradaban manusia hari ini. Kita mampu mengirim manusia...