Kamis, 27 Maret 2025

Warisan Perang Aceh

 

Telah dimuat di harian Waspada edisi Kamis, 27 Maret 2025

Tanggal 26 Maret adalah hari keramat bagi Aceh. Karena pada tanggal tersebut 152 tahun yang lalu tepatnya di tahun 1873 Kesultanan Aceh sebagai kerajaan otonom di nusantara ini telah diserang oleh sebuah pemerintahan kolonial Belanda yang bercokol di Batavia tanah Jawa. Ketika itu hampir semua kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusantara telah dikuasai oleh Belanda. Hanya Aceh lah yang masih kokoh berdiri berdaulat sebagai sebuah entitas bangsa Nusantara.

 

Belanda dengan pusat komandonya di Batavia yang sudah cukup lama menguasai wilayah-wilayah lain di nusantara ini, tidak sabar lagi untuk mencoba menundukkan Aceh. Belanda sangat bernafsu untuk mengusai seluruh wilayah di nusantara yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya. Aceh menjadi penghalang Belanda dalam menghisap sumber daya yang luar biasa ini.

 

Namun, upaya untuk menaklukkan Aceh tidaklah mudah. Aceh tidak dengan serta merta dapat menuruti kemauan pihak Belanda. Berulang kali Belanda mencoba membujuk Sultan Aceh untuk bersedia bekerjasama dan menjalin hubungan, namun Sultan menyadari akal bulus Belanda yang memang sudah terang-terangan ingin menguasai perekonomian di wilayah ini.

 

Sehingga ketika akhirnya Belanda menyatakan secara resmi untuk menghancurkan Aceh melalui ultimatum pada tanggal 26 Maret 1873, pihak Aceh pun meladeninya dengan mempersiapkan ribuan pasukan rakyat mempertahankan bangsa dan negara yang mulia ini. Ketika bala tentara Belanda menyerbu dari arah pelabuhan Uleelheue terjadi perlawanan sengit yang luar biasa. Pasukan Belanda dengan penuh kesukaran akhirnya berhasil memasuki kawasan Mesjid Raya dan mendudukinya. Dan mereka membakar mesjid raya, mesjid agung kebanggaan rakyat Aceh. Jenderal Kohler sebagai pimpinan angkatan perang Belanda begitu girangnya menyangka Aceh telah berhasil ditaklukkan. Namun Belanda keliru, dari balik semak-semak salah seorang pejuang Aceh melepaskan peluru ke arah Jenderal Kohler yang sedang berpatroli di halaman mesjid. Jenderal Belanda itu jatuh tersungkur dan mati di tempat.

 

Perang pun berkecamuk, dan kepanikan melanda di pihak pasukan Belanda. Mereka patah semangat setelah menyaksikan banyaknya serdadu mereka yang gugur, ditambah lagi tewasnya pimpinan tertinggi mereka Jenderal Kohler. Gagallah serangan pertama Belanda, mereka kembali pulang ke pangkalan di tanah Jawa dengan rasa malu yang tak terkira. Memang setelah itu agresi kedua dan seterusnya bertalu-talu dilancarkan oleh Belanda. Sampai akhirnya barulah 30 tahun lamanya perang frontal Aceh-Belanda mereda ketika Sultan Muhammad Daud Syah di tahun 1903 diamankan oleh Belanda.

 

Perang Aceh yang dimulai pada 26 Maret 1873 itu adalah salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonialisme Belanda di Nusantara. Lebih dari sekadar konflik bersenjata, perang ini mencerminkan keteguhan, keberanian, dan kecerdikan rakyat Aceh dalam mempertahankan tanah air mereka. Kini, lebih dari satu abad berlalu, kita patut bertanya: sejauh mana semangat perjuangan tersebut masih hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh saat ini?

 

Dari Medan Perang ke Medan Kehidupan

Perang Aceh bukan hanya meninggalkan kisah heroik, tetapi juga nilai-nilai yang tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman. Semangat pantang menyerah, kecerdasan strategi, serta persatuan dalam perjuangan adalah warisan berharga yang harus terus dijaga.

 

Saat ini, perjuangan Aceh tidak lagi berupa perlawanan fisik terhadap penjajah, tetapi dalam bentuk menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan pendidikan. Jika dulu rakyat Aceh bertempur dengan senjata, kini medan juang ada dalam dunia pendidikan, kewirausahaan, dan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

 

Semangat pantang menyerah yang menjadi karakter bangsa Aceh sepatutnya terus dipupuk dan ditanamkan kepada generasi muda Aceh masa kini. Anak muda Aceh harus terus diingatkan akan nilai-nilai heroik ini, sehingga akan terus memicu semangat untuk berjuang menegakkan kemajuan bagi negeri Aceh.

 

Kemandirian Sebagai Wujud Perjuangan

Salah satu pelajaran besar dari Perang Aceh adalah pentingnya kemandirian. Kesultanan Aceh pada masanya merupakan entitas yang kuat, mandiri, dan disegani di tingkat internasional. Aceh tidak hanya dikenal sebagai benteng Islam di Asia Tenggara, tetapi juga sebagai pusat perdagangan dan budaya yang maju.

 

Sayangnya, saat ini, Aceh masih menghadapi berbagai tantangan dalam mencapai kemandirian ekonomi. Ketergantungan pada dana otonomi khusus dan sumber daya alam yang belum dikelola secara optimal menjadi tantangan besar. Jika dahulu rakyat Aceh mampu bertahan dan melawan dengan sumber daya yang terbatas, mengapa kini kita tidak bisa membangun Aceh yang lebih mandiri?

 

Pemerintah dan masyarakat Aceh harus lebih aktif dalam mengembangkan industri lokal, memperkuat sektor UMKM, serta meningkatkan daya saing di tingkat nasional dan global. Hanya dengan semangat juang yang sama seperti para leluhur, Aceh bisa kembali menjadi daerah yang berdikari.

 

Dengan mengenang momentum 26 Maret akan kembali membuka memori dan alam bawah sadar generasi kini Aceh untuk terus memompa semangat kemandirian dalam membangun Aceh yang modern. Semua pihak yang berkepentingan perlu mengembangkan diri sebaik-baiknya pada bidang masing-masing. Jadilah yang terbaik pada bidangnya, dengan niat untuk membangun kemandirian kolektif entitas Aceh.

 

Menjaga Identitas di Tengah Globalisasi

Perang Aceh juga mengajarkan pentingnya mempertahankan identitas dan jati diri. Dalam era globalisasi saat ini, tantangan terbesar bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan budaya dan nilai-nilai yang dapat menggerus karakter asli suatu bangsa.

Masyarakat Aceh harus tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman, adat, dan budaya yang telah diwariskan. Kemajuan teknologi dan modernisasi harus disikapi dengan bijak agar tidak melunturkan keistimewaan Aceh sebagai daerah dengan sejarah dan warisan budaya yang kuat.

 

Nilai-nilai lokal inilah yang menjadi kekuatan Aceh. Warisan indatu dalam keislaman, adat dan budaya perlu terus dipertahankan untuk menjadi motor penggerak kehidupan yang mulia bagi kelangsungan generasi Aceh sepanjang hayat.

 

Perang Aceh bukan lagi sekadar cerita masa lalu, tetapi refleksi perjuangan yang tetap relevan hingga hari ini. Warisan keberanian, kecerdasan, dan kemandirian harus terus dijaga dalam setiap aspek kehidupan. Jika semangat juang ini bisa diterapkan dalam membangun Aceh yang mandiri, maju, dan berdaya saing, maka perjuangan para leluhur tidak akan sia-sia.

 

Aceh pernah menjadi pusat perlawanan, kini saatnya menjadi pusat kemajuan. Mari kita warisi semangat juang itu dalam bentuk kontribusi nyata bagi daerah kita tercinta.***

 

Banda Aceh, 24 Maret 2025

 

Dr. Ir. Dandi Bachtiar, M.Sc.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...