Telah dimuat di harian Waspada edisi Kamis, 13 Maret 2025
Setiap
menjelang akhir bulan Maret/April kita mulai disibukkan dengan pemberitahuan
dari institusi pajak yang mengingatkan kewajiban pelaporan SPT (Surat
Pemberitahuan Tahunan) baik individu maupun Badan. Dan ada sanksi yang menanti
jika warga terlambat atau terlupa untuk melaporkan SPTnya sesuai deadline yang
ditentukan tersebut.
Pajak
adalah elemen penting dalam kehidupan bernegara. Tanpa pajak, roda pemerintahan
tidak dapat berjalan dengan baik, pembangunan terhambat, dan layanan publik
tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Setiap warga negara, baik yang
menyadarinya atau tidak, pada kenyataannya telah membayar pajak dalam berbagai
bentuk. Pajak bukan sekadar potongan dari penghasilan bulanan, tetapi juga
melekat dalam setiap transaksi harian seperti saat membeli barang, menggunakan
layanan tertentu, atau bahkan saat menikmati fasilitas publik. Oleh karena itu,
pajak adalah kewajiban kolektif yang harus dipahami secara mendalam oleh setiap
warga negara.
Namun,
muncul pertanyaan besar: jika pajak adalah kontribusi wajib dari rakyat kepada
negara, maka di mana tanggung jawab pemerintah dalam mengelolanya? Apakah pajak
yang dikumpulkan benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat, atau justru
menjadi beban yang tidak seimbang dengan manfaat yang diterima masyarakat?
Kewajiban yang Tak Terelakkan
Salah
satu kesalahpahaman umum di masyarakat adalah anggapan bahwa hanya orang-orang
dengan penghasilan tetap dan tinggi yang wajib membayar pajak. Faktanya, sistem
perpajakan tidak hanya berlaku bagi karyawan, pengusaha, atau pemilik aset
besar, tetapi juga bagi setiap individu dalam berbagai aspek kehidupan. Pajak
tidak hanya berbentuk Pajak Penghasilan (PPh), tetapi juga Pajak Pertambahan
Nilai (PPN), bea masuk, cukai, pajak kendaraan bermotor, hingga pajak daerah
yang dikenakan terhadap berbagai layanan.
Ketika
seseorang membeli makanan di restoran atau barang di pusat perbelanjaan,
sebagian dari harga yang dibayarkan sudah termasuk pajak. Saat mengisi bahan
bakar kendaraan, ada pajak yang dikenakan dalam harga yang dibayarkan. Bahkan
dalam layanan digital seperti langganan streaming, belanja online, atau transaksi
keuangan elektronik, pajak tetap diberlakukan. Dengan kata lain, pajak adalah
sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, terlepas dari status ekonomi
mereka.
Namun,
tidak semua orang memahami bahwa mereka telah berkontribusi dalam sistem perpajakan
ini. Banyak yang masih berpikir bahwa hanya mereka yang memiliki Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP) yang berkewajiban membayar pajak. Padahal hampir seluruh
rakyat tanpa terkecuali telah menyumbangkan pajak dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih sadar bahwa pajak adalah
bagian dari kehidupan mereka dan bahwa mereka memiliki hak untuk mengetahui
bagaimana pajak tersebut digunakan oleh pemerintah.
Tanggung Jawab Pemerintah sebagai Pemungut
Pajak
Jika
rakyat sudah secara otomatis menjadi pembayar pajak, maka pemerintah memiliki
tanggung jawab penuh dalam mengelola dan mendistribusikan pajak secara adil.
Tanggung jawab ini mencakup beberapa aspek utama:
1. Transparansi dan Akuntabilitas
Pajak
adalah amanah dari rakyat. Setiap rupiah yang dikutip dari pajak harus
digunakan untuk kepentingan publik dan dikelola dengan transparan. Pemerintah
wajib menyediakan laporan anggaran yang mudah diakses oleh masyarakat, termasuk
rincian mengenai ke mana dana pajak dialokasikan. Tanpa transparansi, rakyat
akan kehilangan kepercayaan terhadap sistem perpajakan dan cenderung merasa
terbebani tanpa melihat manfaat yang mereka terima.
2. Pelayanan Publik yang Berkualitas
Salah
satu alasan utama mengapa pajak dipungut adalah untuk membiayai layanan publik.
Infrastruktur seperti jalan raya, jembatan, transportasi umum, sekolah, rumah
sakit, hingga subsidi bagi kelompok ekonomi lemah, semuanya berasal dari pajak
yang dibayarkan oleh masyarakat. Jika layanan publik ini tidak berjalan dengan
baik, maka wajar jika masyarakat mempertanyakan ke mana uang pajak mereka
digunakan. Oleh karena itu, pemerintah harus memastikan bahwa setiap warga
negara mendapatkan manfaat yang sebanding dengan pajak yang mereka bayarkan.
3. Penegakan Hukum dan Pemberantasan
Korupsi
Salah
satu tantangan terbesar dalam sistem perpajakan adalah kebocoran anggaran
akibat korupsi dan penyalahgunaan dana. Korupsi dalam pengelolaan pajak bukan
hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat
terhadap sistem perpajakan. Jika rakyat merasa bahwa pajak yang mereka bayarkan
justru masuk ke kantong pribadi pejabat yang tidak bertanggung jawab, maka
kepatuhan pajak akan semakin menurun. Oleh karena itu, pemerintah harus
menindak tegas setiap bentuk penyimpangan dalam pengelolaan pajak dan
memastikan bahwa dana pajak benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat.
Harapan terhadap
Sistem Pajak yang Ideal
Dalam
sistem perpajakan yang ideal, rakyat tidak hanya diwajibkan membayar pajak,
tetapi juga diberikan hak untuk mendapatkan manfaat dari pajak tersebut. Oleh
karena itu, ada beberapa harapan yang harus diperjuangkan agar sistem
perpajakan dapat berjalan dengan lebih adil:
1. Pajak yang Proporsional dan Berkeadilan
Pajak
sudah seharusnya dibebankan sesuai dengan kemampuan ekonomi seseorang. Orang
dengan penghasilan tinggi seharusnya membayar lebih banyak pajak dibandingkan
mereka yang berpenghasilan rendah. Selain itu, pajak tidak boleh menjadi beban
yang terlalu berat bagi masyarakat kecil. Oleh karena itu, kebijakan pajak
harus dirancang dengan prinsip keadilan agar tidak semakin memperlebar
kesenjangan sosial.
2. Pemerintah Harus Lebih Transparan dalam
Mengelola Pajak
Selain
menagih pajak dari masyarakat, pemerintah juga berkewajiban memberikan edukasi
mengenai bagaimana pajak digunakan. Jika rakyat bisa melihat secara langsung
bahwa pajak mereka digunakan dengan baik, maka kesadaran dan kepatuhan pajak
akan meningkat. Selain itu, laporan keuangan negara harus lebih mudah diakses
dan dipahami oleh masyarakat umum.
3. Peningkatan Layanan Publik
Jika
pajak dipungut dengan alasan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka
layanan publik harus benar-benar terasa manfaatnya. Pendidikan harus lebih
terjangkau, akses kesehatan harus lebih baik, dan infrastruktur harus lebih
merata. Rakyat berhak mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik sebagai
imbalan dari pajak yang mereka bayarkan.
Pajak
bukan sekadar kewajiban administratif bagi sebagian orang, tetapi merupakan
kewajiban kolektif yang secara otomatis dikenakan kepada seluruh warga negara,
baik yang menyadarinya atau tidak. Karena rakyat telah membayar pajak dalam
berbagai bentuk, mereka berhak untuk menuntut pertanggungjawaban penuh dari
pemerintah mengenai bagaimana pajak tersebut digunakan. Pemerintah harus
memastikan bahwa setiap rupiah yang dikutip dari pajak benar-benar kembali ke
masyarakat dalam bentuk layanan yang berkualitas, transparan, dan adil.
Itu
artinya jika kasus penyalahgunaan keuangan negara seperti skandal korupsi yang
tak habis-habisnya dilakukan oleh oknum aparat pemerintah, maka kita sebagai
rakyat sangat berhak menuntut pertanggungjawaban pemerintah. Masyarakat tidak
bisa lagi pasif dan diam menyaksikan skandal korupsi yang terus merajalela. Karena
skandal ini adalah bentuk pengkhianatan terang-terangan dari pemerintah atas
amanah rakyat melalui dana pajak yang dibayarkan oleh seluruh rakyat tidak
terkecuali. Dan masyarakat harus terus mengawal penggunaan pajak dan menuntut
transparansi dari pemerintah agar pajak benar-benar menjadi alat untuk
kesejahteraan bersama, bukan sekadar beban bagi rakyat.***
Banda
Aceh, 8 Maret 2025
Dr.
Ir. Dandi Bachtiar, M.Sc.
https://scholar.google.co.id/citations?user=eqIxf5gAAAAJ&hl=id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar