Telah tayang pada edisi online harian Serambi Indonesia Minggu, 9 Agustus 2026
Dalam
beberapa tahun terakhir, hampir semua perguruan tinggi berlomba memperbaiki
posisi dalam berbagai pemeringkatan dunia. UI tengah berjuang meraih peringkat
100-150 QS Ranking, dimana kini sudah berada di posisi Top 200. Universitas
Syiah Kuala (USK) pun tidak terkecuali. Walau dalam ranking dunia QS Ranking USK
masih bertengger di level 1400an, USK tidak ketinggalan menunjukkan tekadnya
dalam meningkatkan reputasi internasional. Langkah ini patut diapresiasi karena
pengakuan global akan membuka peluang yang lebih luas bagi kerja sama
internasional, pertukaran mahasiswa, pendanaan riset, hingga peningkatan daya
saing lulusan. Namun, di balik semangat tersebut, muncul sebuah pertanyaan
mendasar: apakah mengejar QS Ranking harus menjadi tujuan akhir sebuah
universitas?
Menurut saya,
jawabannya adalah tidak.
QS Ranking memang
penting, tetapi ia seharusnya diposisikan sebagai konsekuensi dari keberhasilan
universitas menjalankan misinya, bukan sebagai tujuan yang mengarahkan seluruh
kebijakan institusi.
Hakikat sebuah
universitas sejak awal bukanlah mengejar angka dalam tabel pemeringkatan
internasional. Universitas didirikan untuk menciptakan ilmu pengetahuan,
melahirkan inovasi, mencerdaskan masyarakat, dan menyelesaikan
persoalan-persoalan nyata yang dihadapi bangsa. Reputasi hanyalah pengakuan
atas keberhasilan menjalankan misi tersebut.
Sayangnya, dalam
era kompetisi global saat ini, tidak sedikit perguruan tinggi yang tanpa sadar
mulai menjadikan indikator pemeringkatan sebagai arah utama pembangunan
institusi. Berbagai kebijakan kemudian dirancang agar sesuai dengan kriteria
lembaga pemeringkat: meningkatkan jumlah mahasiswa asing, memperbanyak
publikasi internasional, menaikkan sitasi, memperluas kolaborasi global, hingga
membangun reputasi akademik. Seluruh upaya tersebut memang baik dan bahkan
diperlukan. Namun, ketika indikator-indikator itu menjadi tujuan akhir,
universitas berisiko kehilangan orientasi terhadap masyarakat yang seharusnya
dilayaninya.
Universitas
kemudian menjadi sibuk memenuhi parameter yang ditetapkan lembaga pemeringkat,
sementara persoalan nyata di sekitarnya justru kurang memperoleh perhatian.
Akibatnya, keberhasilan di atas kertas belum tentu berbanding lurus dengan
manfaat yang dirasakan masyarakat.
Bagi USK, dilema
tersebut menjadi semakin menarik. Sebagai perguruan tinggi terbesar di Aceh,
USK memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan universitas-universitas
besar di Pulau Jawa. Keunggulan USK bukan terletak pada usia institusi,
besarnya jumlah alumni nasional, atau skala ekonominya. Kekuatan utama USK
justru berada pada kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan
karakteristik wilayah Aceh yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Aceh adalah
laboratorium alam yang luar biasa. Wilayah ini berada di pertemuan Samudra
Hindia, Selat Malaka, dan Laut Andaman; memiliki potensi energi panas bumi,
biomassa, dan tenaga air; dikenal sebagai penghasil kopi Gayo, nilam, kelapa,
serta kelapa sawit; memiliki kawasan hutan tropis yang luas; sekaligus
menyimpan pengalaman berharga dalam mitigasi bencana tsunami, rekonstruksi
pascabencana, dan pembangunan perdamaian. Semua itu merupakan modal akademik
yang tidak dapat dibeli oleh universitas mana pun di dunia.
Ironisnya, kekayaan
tersebut belum sepenuhnya dikonsolidasikan menjadi identitas ilmiah USK. USK
perlu menajamkan lagi arah dan payung penyelidikannya dengan menggalang
kolaborasi internal antar fakultas. Isu-isu lokal perlu menjadi sasaran
pencarian solusi melalui program riset terpadu. Seperti masalah bencana banjir
bandang tahun lalu yang efeknya masih dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
Pergerakan tanah longsor raksasa di Aceh Tengah misalnya, menjadi peluang
program riset bersama lintas ilmu yang butuh kajian bertaraf
internasional.
Padahal
universitas-universitas terbaik dunia justru dikenal karena memiliki identitas
akademik yang sangat jelas. Wageningen University identik dengan pertanian dan
pangan. Massachusetts Institute of Technology dikenal sebagai pusat inovasi
teknologi. University of Hawaii menjadi rujukan dalam oseanografi dan studi
kawasan Pasifik. Mereka tidak berusaha menjadi yang terbaik dalam semua bidang,
melainkan memilih beberapa bidang strategis yang kemudian dikembangkan secara
konsisten selama puluhan tahun.
USK seharusnya
mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Bukan dengan meniru bidang yang
dikembangkan universitas lain, tetapi dengan membangun identitasnya sendiri
berdasarkan kekuatan Aceh. Bidang seperti ketahanan bencana tropis, energi
terbarukan kawasan tropis, biomaterial berbasis serat alam, ekonomi biru, serta
pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan memiliki potensi besar untuk menjadi
ciri khas USK di tingkat dunia.
Apabila identitas
tersebut dikembangkan secara serius, berbagai indikator yang digunakan QS
sesungguhnya akan meningkat dengan sendirinya. Penelitian yang berkualitas akan
menghasilkan publikasi yang lebih baik. Publikasi yang baik akan memperoleh
lebih banyak sitasi. Kolaborasi internasional akan tumbuh karena peneliti dunia
datang kepada pusat-pusat keunggulan yang dimiliki USK. Mahasiswa asing juga
akan tertarik belajar pada bidang yang memang menjadi keunggulan universitas.
Dengan kata lain, reputasi internasional lahir sebagai akibat dari kualitas
akademik yang nyata, bukan karena universitas sekadar mengejar indikator
pemeringkatan.
Logika ini
sebenarnya sangat sederhana. Seseorang yang ingin hidup sehat tidak cukup hanya
menimbang berat badan setiap hari. Berat badan ideal merupakan hasil dari pola
hidup yang sehat, bukan tujuan yang dapat dicapai hanya dengan melihat angka
pada timbangan. Demikian pula QS Ranking. Ia merupakan ukuran terhadap berbagai
aspek kualitas universitas, bukan kualitas itu sendiri.
Karena itu, menurut
saya pertanyaan yang seharusnya diajukan USK bukanlah, "Bagaimana agar
peringkat QS kita naik?" Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah,
"Masalah apa yang hanya dapat diselesaikan oleh USK dengan memanfaatkan
kekuatan Aceh?"
Apabila USK mampu
menjawab pertanyaan tersebut, maka universitas ini tidak hanya akan memperoleh
pengakuan internasional, tetapi juga menjadi institusi yang benar-benar
dibutuhkan oleh masyarakatnya. Pemerintah daerah akan menjadikan USK sebagai
mitra utama dalam penyusunan kebijakan. Industri akan datang mencari solusi
teknologi. Peneliti dunia akan tertarik membangun kolaborasi. Mahasiswa dari
berbagai negara akan datang karena ingin belajar pada pusat-pusat keunggulan
yang memang tidak dimiliki universitas lain.
Pada titik itulah
QS Ranking memperoleh makna yang sesungguhnya. Ia bukan lagi target yang
dikejar, melainkan cermin dari kualitas universitas yang telah berhasil
menjalankan tugas utamanya.
Bagi USK ini tentunya
bukanlah mengabaikan pemeringkatan internasional. Sebaliknya, pemeringkatan harus
dijadikan instrumen evaluasi untuk mengukur sejauh mana kualitas institusi
berkembang. Namun, arah perjalanan universitas hendaknya tidak ditentukan oleh
indikator-indikator yang disusun lembaga pemeringkat, melainkan oleh kebutuhan
masyarakat, potensi daerah, dan visi ilmiah yang ingin diwujudkan.
Universitas besar
tidak lahir karena mengejar ranking. Mereka dihormati karena berhasil
melahirkan pengetahuan yang mengubah kehidupan manusia. Reputasi internasional
datang kemudian sebagai bentuk pengakuan.
Bagi USK, jalan
menuju universitas kelas dunia tidak harus dimulai dari mengejar QS Ranking.
Jalan itu justru dimulai dari keberanian membangun identitasnya sendiri:
menjadi universitas yang paling memahami Aceh, paling mampu menyelesaikan
persoalan Aceh, dan melalui keunggulan itulah memberikan kontribusi bagi
Indonesia dan dunia. Ketika misi tersebut berhasil diwujudkan, QS Ranking tidak
lagi menjadi sesuatu yang harus dikejar. Ia akan datang sebagai konsekuensi
yang wajar dari sebuah universitas yang benar-benar berkualitas.
Jadi, USK perlu
menetapkan sasaran utama kinerjanya yang menargetkan pemenuhan
persoalan-persoalan lokal dan nasional, dengan tetap bercermin pada kriteria QS
World Ranking sebagai konsekuensi logisnya.***
Banda Aceh, 8
Agustus 2026





