Telah dimuat di harian Serambi Indonesia edisi Jumat, 31 Oktober 2025
Setiap awal
Oktober, dunia seakan berhenti sejenak untuk menantikan pengumuman pemenang
Hadiah Nobel — penghargaan paling prestisius bagi ilmu pengetahuan, sastra, dan
perdamaian dunia. Dari Stockholm dan Oslo, nama-nama besar diumumkan dan segera
menjadi berita utama global. Namun dari Indonesia, hingga kini belum pernah ada
satu pun nama yang disebut. Pertanyaannya, kapan ilmuwan Indonesia bisa berdiri di panggung Nobel?
Pertanyaan ini
bukan sekadar soal gengsi, tetapi tentang pengakuan global atas kapasitas bangsa dalam melahirkan ilmu pengetahuan
yang mengubah dunia. Sebab sejatinya, penghargaan Nobel bukan hanya
simbol kecerdasan individu, melainkan cermin dari kematangan ekosistem riset
suatu negara.
Menariknya, jika
kita menelusuri sejarah, tanah
Indonesia sesungguhnya sudah dua kali menjadi tempat lahirnya riset yang
berujung Nobel, meski penerimanya bukan warga negara Indonesia. Fakta
ini jarang disadari publik — bahwa dari Batavia dan sekolah-sekolah Inpres di
pelosok negeri, dunia memperoleh dua sumbangan pengetahuan besar yang diakui
oleh Komite Nobel.
Dari Batavia, Lahir
Ilmu Gizi Dunia
Kisah pertama
datang dari Christiaan Eijkman,
dokter militer Belanda yang bertugas di Batavia pada akhir abad ke-19. Saat
itu, penyakit beri-beri menjadi wabah yang menakutkan di kalangan
tentara dan masyarakat. Banyak yang mengira penyebabnya adalah infeksi tropis
atau racun makanan. Namun Eijkman, dengan kepekaan ilmiah yang tajam, menaruh
kecurigaan pada sesuatu yang lebih sederhana: beras.
Dalam eksperimen
sederhana di rumah sakit militer, ia mendapati bahwa ayam yang diberi makan
nasi putih giling jatuh sakit, sementara ayam yang memakan nasi kasar tetap
sehat. Dari situ ia menyimpulkan bahwa proses penggilingan padi menghilangkan
zat penting yang dibutuhkan tubuh. Zat misterius itu kelak dikenal sebagai vitamin B1 (tiamin).
Temuan tersebut
mengubah arah kedokteran dunia dan menjadi dasar lahirnya ilmu gizi modern. Pada tahun 1929,
Eijkman dianugerahi Hadiah Nobel
Fisiologi atau Kedokteran, bersama Frederick Hopkins. Meski ia
berkebangsaan Belanda, sejarah mencatat bahwa penelitiannya dilakukan sepenuhnya di Hindia Belanda, di
laboratorium sederhana di Batavia — di tanah yang kini bernama Indonesia. Dari
sinilah dunia belajar bahwa kekurangan vitamin bisa menimbulkan penyakit, bukan
semata infeksi.
Eksperimen
Kemiskinan dari SD Inpres
Delapan dekade
kemudian, kisah serupa terulang, kali ini dalam ranah ekonomi pembangunan. Pada
tahun 2019, Abhijit Banerjee, Esther
Duflo, dan Michael Kremer meraih Hadiah
Nobel Ekonomi atas kontribusi mereka dalam mengembangkan pendekatan
eksperimental untuk mengurangi kemiskinan global.
Salah satu riset
lapangan penting mereka dilakukan di Indonesia, meneliti program Sekolah Dasar Inpres yang dibangun
secara besar-besaran pada era 1970-an. Dengan menggunakan metode randomized
controlled trial (RCT), mereka menunjukkan bagaimana pembangunan sekolah dasar
berkontribusi besar terhadap peningkatan kesejahteraan jangka panjang dan
mobilitas sosial antar-generasi.
Penelitian itu
menjadi salah satu studi kunci yang memperkuat pendekatan empiris mereka: bahwa
kebijakan publik seharusnya diuji dengan data nyata, bukan hanya asumsi.
Eksperimen pendidikan di Indonesia menjadi bagian integral dari riset yang
akhirnya membawa mereka meraih Nobel Ekonomi 2019.
Dari Batavia hingga
SD Inpres, tanah Indonesia dua kali
menjadi laboratorium pengetahuan global. Namun ironinya, pengakuan
tertinggi itu justru diraih oleh ilmuwan asing yang meneliti di sini.
Mengapa Belum Ada
Nobel dari Indonesia?
Pertanyaan besar
pun muncul: mengapa Indonesia, dengan populasi besar dan sumber daya alam yang
melimpah, belum juga melahirkan penerima Nobel sendiri?
Salah satu
jawabannya terletak pada struktur dan
budaya riset nasional yang belum matang.
Pendanaan penelitian di Indonesia masih di bawah 0,3% dari Produk Domestik
Bruto (PDB), jauh tertinggal dari Jepang (3,2%) atau Korea Selatan (4,9%).
Banyak riset berhenti di proposal atau laporan akhir karena minimnya dukungan
jangka panjang.
Selain itu, lembaga riset sering kali terjebak dalam
perubahan struktur birokrasi yang tidak memberi ruang kesinambungan.
Kebijakan riset berganti seiring pergantian pejabat, dan orientasi penelitian
kerap mengikuti proyek, bukan visi ilmiah yang konsisten.
Ada pula persoalan budaya ilmiah. Di banyak institusi,
publikasi atau kenaikan jabatan sering lebih dihargai daripada curiosity-driven
research — penelitian murni yang mengejar jawaban dari pertanyaan mendasar.
Padahal, penemuan besar yang diganjar Nobel biasanya lahir dari eksplorasi
panjang, bukan dari penelitian jangka pendek yang menyesuaikan tenggat laporan
tahunan.
Potensi yang Mulai
Tumbuh
Namun tidak semua
suram. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah ilmuwan Indonesia mulai menunjukkan
kiprah di panggung global. Universitas Stanford, misalnya, setiap tahun merilis
daftar “2% Top Scientists in the
World” — kumpulan ilmuwan dengan pengaruh publikasi tertinggi di
bidangnya. Dalam edisi terbaru, puluhan
nama ilmuwan Indonesia masuk dalam daftar tersebut, baik yang bekerja di
dalam negeri maupun diaspora. Sebagian bahkan dari universitas di Aceh.
Mereka datang dari
berbagai bidang: material sains, bioteknologi, teknik kimia, lingkungan, hingga
ilmu komputer. Beberapa di antaranya bahkan menjadi pionir riset berkelas dunia
— dari pengembangan bahan komposit, teknologi energi bersih, hingga kecerdasan
buatan.
Ini menunjukkan
bahwa kapasitas intelektual Indonesia
sudah berada di jalur yang benar.
Yang dibutuhkan kini adalah ekosistem
yang menumbuhkan keberanian ilmuwan untuk menembus batas pengetahuan,
bukan sekadar memenuhi indikator administratif.
Membangun Ekosistem
Nobel
Untuk melahirkan
peraih Nobel, sebuah bangsa memerlukan kombinasi antara ilmu, kebebasan, dan keberlanjutan. Pertama, perlu ada pendanaan riset yang stabil dan besar,
agar peneliti tidak sibuk mencari proyek, tetapi fokus meneliti. Kedua, kebebasan akademik harus dijaga,
karena penemuan besar sering kali lahir dari ide yang awalnya dianggap “gila”
atau bertentangan dengan arus utama. Ketiga, budaya ilmiah perlu dihidupkan kembali — menghargai kejujuran
data, kerja kolaboratif, dan ketekunan intelektual.
Selain itu, perlu peran aktif negara dan dunia industri
dalam mendorong riset fundamental. Di negara-negara peraih Nobel, hubungan
antara universitas, pemerintah, dan sektor swasta berlangsung erat. Ilmuwan
diberi ruang untuk bereksperimen, gagal, lalu mencoba lagi — tanpa takut
kehilangan dukungan.
Dari Tanah yang
Subur bagi Pengetahuan
Dari kisah Eijkman
hingga eksperimen Banerjee, kita belajar bahwa tanah Indonesia bukan tanah yang kering bagi ilmu pengetahuan,
melainkan lahan yang subur — tempat ide besar bisa tumbuh. Sayangnya, sering
kali yang memanen justru orang lain, karena kita belum siap merawat dan
melindungi benih pengetahuan itu.
Kini saatnya Indonesia
berbenah. Kita tidak perlu menunggu keajaiban datang dari luar.
Di laboratorium-laboratorium kecil di kampus negeri dan swasta, di tangan para
peneliti muda yang tekun, sebenarnya telah tumbuh potensi besar yang menunggu
dukungan.
Jika ekosistem riset
kita matang, jika kebijakan nasional berpihak pada ilmu, dan jika masyarakat
kembali menaruh hormat pada pengetahuan, maka bukan tidak mungkin suatu hari
nanti — saat Nobel kembali diumumkan di Stockholm — dunia akan menyebut sebuah
nama dari Indonesia.
Dan ketika hari itu
tiba, kita tidak lagi berkata, “Penelitiannya dilakukan di Indonesia,”
melainkan dengan bangga, “Itu
orang Indonesia yang melakukannya.”***
Banda Aceh, 10 Oktober 2025




