Jumat, 24 Oktober 2025

Ketika Semua Orang Mendadak Kaya


Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat 24 Oktober 2025

Setahun pemerintahan Presiden Prabowo baru saja berlalu pada 20 Oktober ini. Data menunjukkan tren positif dalam perbaikan ekonomi. Digerakkan oleh kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, ekonomi sudah mulai menggeliat. Artinya tata kelola yang dijalankan pemerintah sudah mulai mendorong pertumbuhan ekonomi yang positif. Menteri Purbaya terus menetapkan berbagai kebijakan ekonomi baru yang pro rakyat dan pro pertumbuhan. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering berkata: kalau kita bisa memperbaiki kondisi ekonomi nasional maka kita bisa kaya bersama.

 

Bayangkan suatu hari, berita utama di semua media nasional berbunyi: “Ekonomi Indonesia Tumbuh 9 Persen, Kemiskinan Turun Drastis, Rakyat Merata Kaya!” Skenario yang selama ini hanya menjadi mimpi para ekonom tiba-tiba menjadi kenyataan. Industri bergeliat, lapangan kerja melimpah, nilai tukar stabil, harga bahan pokok terkendali, dan daya beli rakyat melonjak tajam. Pemerintah dipuji karena tata kelola fiskal yang transparan, efisien, dan bebas korupsi. Kemakmuran menyebar luas, seolah mimpi lama tentang keadilan sosial benar-benar tiba. 

 

Namun di tengah euforia itu, pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan: Apakah masyarakat kita siap menghadapi ujian baru di tengah limpahan rezeki ini?

 

Dari Krisis ke Kemakmuran 

 

Sejarah selalu berulang dengan pola yang mirip: masa krisis memaksa bangsa berbenah, dan masa pemulihan melahirkan lonjakan ekonomi. Begitu sistem membaik, ekonomi pun melesat. 

Rakyat yang sebelumnya hidup pas-pasan kini punya tabungan, rumah, kendaraan, dan akses pendidikan lebih baik. Angka kemiskinan turun drastis, ketimpangan menyempit, dan kebahagiaan nasional melonjak. 

 

Namun di balik semua capaian itu tersembunyi paradoks: ketika lapar, manusia berjuang keras; ketika kenyang, manusia sering kehilangan arah. Kemakmuran yang datang terlalu cepat dapat membuat bangsa kehilangan keteguhan nilai - terutama bila spiritualitas tidak tumbuh seiring kesejahteraan. 

 

Kekayaan dan Ujian Rasa Cukup 

 

Islam memandang kekayaan bukan sebagai tujuan hidup, melainkan alat untuk menunaikan amanah. Al-Qur’an tidak pernah memusuhi harta, tapi mengingatkan agar manusia tidak tertipu olehnya. Allah berfirman: “Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan dalam harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20). 

 

Ayat ini menegaskan bahwa yang diuji bukan seberapa banyak seseorang memiliki, tetapi seberapa kuat ia menjaga hati dari ketamakan.

 

Ketika ekonomi meningkat pesat, yang paling rawan hilang adalah “rasa cukup (qana‘ah)”. 

Manusia cepat sekali terbiasa dengan kenyamanan baru dan merasa kurang bila tidak lebih dari orang lain. Fenomena inilah yang oleh psikologi modern disebut “hedonic adaptation”, dan oleh para ulama disebut tha‘ma’ — keinginan tanpa batas yang membuat manusia tak pernah puas. 

 

Maka, nilai qana‘ah menjadi benteng pertama di tengah derasnya kemakmuran. Ia menuntun manusia untuk bersyukur tanpa berhenti berusaha, menikmati hasil kerja tanpa terperangkap nafsu berlebih.

 

Ketika Solidaritas Tergantikan Kompetisi 

 

Kesejahteraan yang merata membawa perubahan sosial yang besar. Dulu, solidaritas tumbuh dari kesamaan nasib: saling tolong di saat susah. Namun ketika semua orang berkecukupan, rasa empati bisa melemah. Gotong royong perlahan tergantikan oleh gaya hidup individualistik, bahkan kompetitif — siapa paling sukses, paling kaya, paling berpengaruh. 

 

Padahal, dalam pandangan Islam, kekayaan sejati bukanlah harta yang ditimbun, tapi yang dibagikan. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim).

 

Kesejahteraan hanya akan menjadi berkah bila ia melahirkan kebaikan sosial. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sistem ekonomi moral yang menjaga keseimbangan antara si kaya dan si miskin. Tanpa itu, kemakmuran kolektif bisa menjelma menjadi jurang spiritual - di mana manusia merasa kaya tapi hatinya kosong. 

 

Ujian Keangkuhan dan Lupa Diri 

 

Dalam sejarah peradaban, banyak bangsa jatuh bukan karena miskin, tapi karena lupa diri ketika kaya. Fir‘aun, Qarun, dan kaum Saba’ adalah contoh klasik yang disebut Al-Qur’an: mereka hidup di puncak kemakmuran, tapi kesombongan membuat mereka binasa. 

 

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku zalim terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat...” (QS. Al-Qashash: 76) 

 

Kisah Qarun bukan sekadar dongeng masa lalu, tetapi cermin masa kini. Ketika manusia mulai mengaitkan keberhasilan dengan dirinya sendiri - “Ini hasil kerja keras saya!” - maka di situlah akar kesombongan tumbuh. Islam mengingatkan bahwa semua keberhasilan hakikatnya berasal dari Allah, dan setiap kekayaan adalah titipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban.

 

Tuntunan Nilai-Nilai Islam di Tengah Kemakmuran 

 

Agar kemakmuran tidak berubah menjadi bencana moral, ada sejumlah nilai Islam yang perlu ditanamkan dan diperkuat dalam kehidupan masyarakat:

 

1. Syukur (Al-Syukr).

Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hidup yang menumbuhkan tanggung jawab. Orang yang bersyukur tidak boros, tidak sombong, dan selalu ingat bahwa rezekinya bagian dari rahmat Allah. Allah berjanji: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

 

2. Qana‘ah (Merasa Cukup). 

Qana‘ah menjaga manusia dari kerakusan yang tak berujung. Dengan nilai ini, masyarakat makmur tetap hidup sederhana, tidak terjebak dalam perlombaan gaya hidup, dan fokus pada manfaat harta bagi sesama.

 

3. Amanah dan Hisab.

Islam menegaskan bahwa setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban. Kekayaan bukan prestasi pribadi, tetapi amanah sosial. Prinsip ini menumbuhkan kesadaran untuk mengelola kekayaan dengan adil dan bermanfaat.

 

4. Zakat dan Derma Sosial.

Sistem zakat dalam Islam adalah mekanisme distribusi ekonomi yang mencegah kesenjangan sosial. Dalam masyarakat makmur, zakat berfungsi sebagai rem moral agar kekayaan tidak menumpuk di tangan segelintir orang.

 

5. Tawadhu‘ (Rendah Hati).

Kekayaan sering menimbulkan jarak sosial. Nilai tawadhu‘ menjadi jembatan yang menjaga hubungan antarmanusia tetap setara. Orang kaya yang rendah hati tidak kehilangan kemanusiaannya.

 

6. Waqaf dan Filantropi Produktif.

Islam mendorong penggunaan kekayaan untuk keberlanjutan sosial: membangun sekolah, rumah sakit, atau fasilitas publik. Ini bukan sekadar amal, tetapi investasi sosial jangka panjang.

 

Peran Negara dan Pendidikan 

 

Kemakmuran kolektif hanya akan bertahan bila disertai pembentukan moral publik yang kuat. 

Pendidikan karakter, kurikulum ekonomi syariah, dan penguatan lembaga sosial menjadi kunci menjaga keseimbangan antara kemajuan material dan kedewasaan spiritual. 

 

Negara perlu memastikan kebijakan ekonomi berjalan seiring dengan kebijakan moral: insentif bagi kegiatan sosial, pajak progresif yang adil, serta dukungan terhadap lembaga filantropi. Masjid, pesantren, dan komunitas keagamaan harus menjadi pusat pembinaan etika kesejahteraan - bukan hanya tempat ibadah, tetapi laboratorium moral bangsa makmur. 

 

Kaya Bersama, Dewasa Bersama 

 

Mungkin benar kata Menkeu Purbaya: “Kalau tata kelola ekonomi kita bagus, dan ekonomi tumbuh, kita bisa kaya bersama.” Namun Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada hati yang merasa cukup dan bersyukur. Maka, jika bangsa ini benar-benar mencapai cita-cita “kaya bersama”, tantangan berikutnya adalah menjadi bangsa yang juga dewasa bersama - bangsa yang tidak silau oleh gemerlap harta, tapi menggunakan kemakmuran sebagai sarana memperluas kebaikan. 

 

Kekayaan nasional akan menjadi rahmat jika diiringi kesadaran spiritual bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan sementara. Tetapi bila lupa diri, kemakmuran bisa berubah menjadi kutukan yang menumbuhkan kesombongan, hedonisme, dan kehilangan makna hidup. 

 

Akhirnya, sebagaimana pesan Al-Qur’an: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash: 77) 

 

Itulah keseimbangan sejati: kaya di tangan, tapi sederhana di hati. Bangsa yang mampu memegang keseimbangan ini tidak hanya akan menjadi makmur, tetapi juga bermartabat dan diberkahi.***

 

Banda Aceh, 21 Oktober 2025 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...