Jumat, 22 Agustus 2025

Perang, Apakah Sebuah Keniscayaan Dunia?

 

Telah dimuat di harian Waspada edisi Jumat, 22 Agustus 2025

Sejarah manusia adalah sejarah konflik. Sejak peradaban pertama dibangun di antara dua sungai besar Eufrat dan Tigris, manusia tak pernah benar-benar berhenti berperang. Perang Troya, Perang Salib, perang antar kerajaan kuno, dua perang dunia, hingga agresi modern yang kini disiarkan langsung ke layar ponsel—semua itu menegaskan satu hal: dunia seolah tidak pernah belajar dari luka-lukanya sendiri. Kita terus mengulang lingkaran kekerasan. Maka wajar bila muncul pertanyaan mendasar: kenapa di dunia selalu ada perang?

Sebab-sebab Perang

Tak satu pun perang terjadi karena alasan tunggal. Ia adalah hasil dari tumpang tindih berbagai sebab, dari yang terang-benderang sampai yang licik dan tersembunyi. Mari kita inventarisir akar-akarnya secara lebih seksama.

Sebab Hasrat Kekuasaan dan Ambisi Wilayah

Sejak zaman para kaisar dan raja-raja kuno, perang adalah alat untuk memperluas wilayah dan memperkuat dominasi. Hasrat untuk menjadi adidaya tak pernah mati. Dalam bentuk modern, ambisi ini termanifestasi dalam bentuk hegemoni politik dan ekonomi—menginvasi bukan hanya dengan tank, tapi juga dengan kebijakan dan teknologi.

Faktor Ideologi dan Fanatisme

Perang juga dipicu oleh perebutan gagasan besar: agama, ideologi, dan sistem nilai. Perang Salib antara Islam dan Kristen adalah contoh bagaimana iman dijadikan alasan membakar dunia. Di abad ke-20, Perang Dingin menyaksikan benturan antara kapitalisme dan komunisme yang merembet ke berbagai belahan dunia. Ironisnya, ideologi yang katanya membawa keselamatan justru berubah menjadi mesin pembunuh.

Perebutan Sumber Daya

Air, minyak, tanah, logam tanah jarang—semua itu menjadi rebutan ketika dunia merasa kekurangan. Di balik jargon diplomatik dan dalih hak asasi, sering kali tersimpan kepentingan ekonomi besar. Di Afrika, Timur Tengah, dan Asia, perang terjadi bukan karena kebencian, tapi karena kekayaan yang tersembunyi di perut bumi.

Dendam Historis dan Luka Kolektif

Beberapa konflik terus berlangsung karena dendam yang diwariskan antargenerasi. Contohnya, konflik antara Palestina dan Israel tak hanya soal tanah, tetapi tentang sejarah, trauma, dan identitas yang dilukai. Luka sejarah seperti penjajahan, pengusiran, dan diskriminasi, ketika tak disembuhkan, menjadi bara yang terus menyala.

Manipulasi Elite Kekuasaan

Dalam banyak kasus, perang adalah produk dari elite politik yang memanfaatkan krisis untuk mempertahankan kekuasaan. Mereka menciptakan musuh bersama agar rakyat bersatu di bawah panji nasionalisme semu. Perang menjadi panggung teatrikal, di mana kekuasaan dipertahankan dengan darah rakyat biasa.

Industri Militer dan Kapitalisme Perang

Kita hidup dalam dunia di mana senjata adalah komoditas, dan perang adalah peluang bisnis. Negara-negara besar memiliki industri militer yang menyokong jutaan pekerja dan miliaran dolar. Maka, perdamaian bisa menjadi ancaman bagi ekonomi perang. Inilah ironi modern: perdamaian tidak selalu menguntungkan.

Kegagalan Diplomasi dan Komunikasi

Ketika dialog gagal, senjata bicara. Banyak konflik dimulai dari kesalahpahaman atau ego yang enggan menunduk. Dunia saat ini dipenuhi aktor-aktor keras kepala yang lebih memilih menembak daripada berbicara. Ego nasional, kecurigaan berlebihan, dan ketakutan akan kehilangan pengaruh membuat meja perundingan dingin dan senjata kembali panas.

Sifat Dasar Manusia?

Ada yang berpendapat bahwa manusia memang punya kecenderungan untuk agresi. Filsuf Thomas Hobbes menyebut keadaan alami manusia adalah bellum omnium contra omnes—perang semua melawan semua. Namun, tak sedikit pula yang percaya bahwa manusia sejatinya cinta damai, hanya sistem yang membuat mereka saling menghancurkan.

Solusi dan Upaya Damai

Di tengah gelapnya realitas perang, manusia juga tak henti-hentinya mencari cahaya. Berbagai inisiatif damai telah dilakukan, meskipun kerap tidak cukup kuat untuk membendung arus kekerasan. Lembaga Internasional, seperti PBB, dibentuk untuk mencegah konflik lewat diplomasi dan hukum internasional. Perjanjian damai, seperti Perjanjian Oslo, Camp David, atau Kesepakatan Abraham, menjadi upaya meredam konflik yang sudah terlalu lama membara. Gerakan sipil dan perdamaian akar rumput, dari LSM hingga tokoh agama, mencoba menjahit luka-luka antar kelompok. Pendidikan toleransi, literasi sejarah damai, serta kampanye lintas iman menjadi fondasi jangka panjang untuk menciptakan budaya damai.

Namun, tantangan selalu muncul. Upaya damai seringkali lemah dibandingkan kekuatan senjata. Perdamaian memerlukan kesabaran, tetapi perang hanya butuh satu peluru.

Islam dan Tugas Khalifah di Dunia

Dalam Islam, perang bukanlah tujuan, melainkan kondisi darurat yang diperbolehkan untuk menegakkan keadilan atau membela diri. Namun lebih dari itu, Islam memandang bahwa manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah (QS Al-Baqarah: 30), bukan sebagai perusak.

Allah SWT telah menegaskan peran manusia sebagai penjaga keseimbangan alam semesta, sebagai pemimpin yang adil, bukan penindas. Ketika malaikat mempertanyakan keputusan Allah menciptakan manusia dengan berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?”, Allah menjawab, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah: 30).

Ayat ini adalah refleksi mendalam bahwa konflik adalah bagian dari kemungkinan hidup manusia. Tapi di balik itu, ada harapan bahwa manusia bisa menjadi lebih baik—menjadi khalifah sejati yang tidak hanya mampu menahan diri dari menciptakan perang, tetapi juga aktif memadamkan upaya yang merusak tatanan dunia.

Perang: Sebuah Keniscayaan Dunia

Jika kita jujur, maka harus diakui bahwa perang adalah bagian dari siklus kehidupan dunia. Ia datang silih berganti seperti musim. Tidak ada satu zaman pun yang benar-benar bersih dari konflik. Dunia memang didesain sebagai medan ujian, tempat kebaikan dan kejahatan saling tarik menarik.

Seorang penyair Arab berkata: “Manusia, jika tidak disatukan oleh kebaikan, akan dipaksa bersatu oleh musuh bersama.” Itulah wajah dunia. Ketika akal tidak bisa menyatukan manusia, maka senjata akan memaksa mereka untuk tunduk pada satu kenyataan: bahwa damai adalah kebutuhan yang mahal.

Di akhir zaman, disebutkan dalam banyak nash bahwa akan terjadi perang besar yang menandai akhir dunia. Artinya, selama dunia masih berputar, perang akan terus menjadi bagian dari ceritanya. Dan saat perang terakhir telah terjadi, mungkin itu adalah penanda bahwa dunia telah menyelesaikan kisahnya. Maka benar adanya bahwa: "Jika perang usai, maka usai pula riwayat dunia. Tanpa perang, dunia akan menuju ke keabadian — yakni alam akhirat."

Tugas manusia sebagai khalifah bukanlah menghapus konflik sepenuhnya, karena itu mustahil. Tapi untuk menjadi peredam, pelurus, penenang, dan pengingat bahwa dunia ini bukan tempat tinggal abadi. Ia hanya tempat persinggahan menuju alam yang kekal. Di sanalah, segala bentuk perang akan berakhir. Tapi sebelum itu tiba, perang adalah keniscayaan—dan kedamaian adalah pilihan yang harus terus diperjuangkan. Manusia diberi pilihan bersikap untuk mampu meredam egonya dan berjuang meraih upaya-upaya kedamaian untuk setiap konflik yang ada. Ini menjadi batu ujian bagi setiap manusia untuk meraih peringkat unggul sebagai khalifah di dunia yang fana ini.***

Banda Aceh, 14 Agustus 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Panic Buying: Krisis atau Komunikasi?

Telah dimuat di harian Waspada edisi Rabu, 11 Maret 2026 Ucapan kontroversial Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia kemba...