Telah dimuat di media online SagoeTV.com edisi Jumat, 30 Mei 2025
Bagi masyarakat Aceh
nama Kohler bukanlah nama asing. Namanya diingat selalu sebagai sosok antagonis
dari Belanda yang memimpin penyerangan bala tentara Belanda ke Aceh pada Perang
Aceh 26 Maret 1873. Ketika itu Johan Harmen Rudolf Kohler ditunjuk oleh
Gubernur Jenderal Hindia Belanda James Loudon di Batavia menjadi jenderal utama
dalam memerangi Kerajaan Aceh, dengan sebuah aksi agresi besar-besaran.
Belanda sendiri
sebenarnya tidak sepenuhnya memahami kondisi medan pertempuran di Aceh. Mereka
terlalu meremehkan dan menganggap sangat mudah untuk menaklukkan Aceh. Namun,
kenyataannya mereka mendapat perlawanan yang begitu sengit dari para pejuang
Aceh. Ditambah lagi dengan kondisi medan yang sangat berat penuh dengan hutan
belukar yang tidak dapat dikuasai dengan cepat oleh serdadu-serdadu Belanda.
Terbukti setelah pernyataan perang pada tanggal 26 Maret 1873, yang diumumkan
dari atas kapal Citadel van Antwerpen, baru pada tanggal 6 April mereka
menjejakkan kaki di Pantai Cermin Uleelheue. Itupun kemudian merangsek sedikit
demi sedikit menuju pusat kota pemerintahan Aceh dengan mendapat perlawanan
sengit dari para tentara Kerajaan Aceh.
Dengan bekal panduan
yang minim, mereka terus menyerbu bangunan megah mesjid raya Baiturrahman, yang
mereka sangka sebagai istana pusat pemerintahan Kerajaan Aceh. Tepatnya pada
tanggal 10 April mereka menduduki mesjid raya, dan membakarnya, namun hanya
mampu menguasai sebentar saja. Karena terus digempur oleh para pejuang Aceh
yang dengan gagah berani melakukan perlawanan. Sehingga pasukan Belanda
terpaksa berundur lagi dan mendirikan bivak pertahanan di daerah Punge. Kohler
mengatur strateginya untuk mengistirahatkan pasukan sejenak sebelum melakukan
kembali serangan besar-besaran beberapa hari kemudian.
Tanggal 14 April Kohler
kembali memerintahkan melakukan penyerbuan merebut mesjid raya yang masih
dikiranya sebagai bangunan istana Sultan Aceh. Hari itu Kohler menyangka sudah
berhasil mengusir para pejuang Aceh dari lokasi, dan melakukan patroli di
sekitar halaman mesjid raya. Sekeliling mesjid dipenuhi dengan semak belukar
yang menutupi permukaan tanah. Tanpa disangka ternyata di sebalik semak-semak
tersebut telah bersembunyi penembak jitu pejuang Aceh dan dengan tiba-tiba
sebuah tembakan telah menembus tubuh Jenderal Kohler. Sang Jenderal rebah dan
mati seketika di bawah pohon besar Geulumpang. Pasukan Belanda kocar-kacir
tidak menyangka sama sekali jenderal pemimpin perang mereka telah gugur begitu
cepat.
Pasukan Belanda seperti
anak ayam kehilangan induk. Tak ada lagi komando yang memandu peperangan
mereka. Pengganti sang jenderal yaitu Kolonel Van Daalen, tidak mampu berbuat
banyak karena tidak banyak arahan yang ditinggalkan oleh sang jenderal. Tanggal
16 April mencoba lagi menggempur mesjid raya, namun yang didapat adalah
tewasnya 100-an pasukan mereka. Dan akhirnya Daalen memutuskan mundur total
dari peperangan.
Peristiwa agresi
pertama Belanda atas Kerajaan Aceh ini sudah menjadi kisah klasik bagi
masyarakat Aceh. Kisah ini menjadi kenangan tak terlupakan karena merupakan
bukti kuat bagaimana kokoh dan solidnya pertahanan Aceh dalam menahan serangan
sebuah bangsa asing yang ingin menguasai bangsa Aceh. Tewasnya Jenderal Kohler
di tanah Aceh menjadi simbol betapa besarnya kegigihan rakyat Aceh dalam
membela hak dan kemerdekaannya. Aceh tidak akan pernah mau tunduk kepada penjajahan
asing.
Kepahlawanan dan jiwa
heroik yang dimiliki oleh rakyat Aceh terbukti kemudian, ketika serangan demi
serangan kembali dilancarkan Belanda, namun para serdadu Belanda terus
berguguran di tanah Aceh. Perang Aceh terus berkobar berpuluh tahun lamanya.
Aceh pun melahirkan ribuan pahlawan yang gugur dalam mempertahankan tanah air dan
agama Islam.
Jauh setelah peperangan
berlalu, pada tanggal 19 Mei 1978 berlangsung acara penguburan tulang belulang
jenderal Kohler di pekuburan Kerkhof Peucut. Upacara ini dilaksanakan sebagai
sebuah simbol persahabatan antara Aceh dan Belanda yang telah berdamai di alam
kemerdekaan Indonesia. Ketika itu pekuburan di Jakarta yang dihuni oleh jenazah
jenderal Kohler mengalami penggusuran. Sehingga pemerintah Belanda berinisiatif
memindahkan sisa-sisa jasad Kohler.
Adalah sebuah
kebanggaan militer jika jasad tentara dikuburkan di tanah tempat kematiannya.
Lagipula di Aceh, masih terdapat komplek pemakaman tentara Belanda yang gugur
di medan perang Aceh. Pemerintah daerah Aceh dengan lapang dada mengizinkan
pemakaman kembali jasad Kohler di Banda Aceh. Ini juga menunjukkan kedewasaan
bangsa Aceh yang menerima dengan ikhlas jasad mantan musuh bebuyutannya. Dalam
suasana perdamaian yang sudah nyata dan aroma permusuhan yang sudah menjadi
sejarah, sikap ini tentu sangat terpuji. Kini yang perlu dibangun adalah
suasana persahabatan abadi, namun sejarah tetap tidak boleh dilupakan.
Di masa kepemimpinan
Gubernur Ibrahim Hasan beliau pernah membuat kebijakan membangun monumen di
halaman mesjid raya dalam bentuk penanaman kembali pohon Geulumpang di lokasi
tempat jenderal Kohler dulu meregang nyawa. Di bawah pohon Geulumpang yang
ditanam kembali itu diletakkan sebuah prasasti yang bertuliskan: di sini lokasi
tewasnya Jenderal Kohler di tangan pejuang Aceh. Tentunya Gubernur Ibrahim
Hasan bermaksud memberi keteladanan kepada generasi muda Aceh untuk terus
mengingat peristiwa heroik perjuangan Aceh melawan penjajahan Belanda. Monumen
kematian jenderal Kohler merupakan simbol kuatnya perlawanan Aceh sehingga
jenderal musuh pun bisa ditaklukkan dalam peperangan. Lokasi monumen berada
tepat di depan pintu masuk sisi utara mesjid raya. Dan ribuan pengunjung mesjid
raya akan selalu melihatnya serta akan mengingat momen sejarah yang terjadi di
situ.
Di masa kepemimpinan
Gubernur Zaini Abdullah, mesjid raya Baiturrahman mengalami perluasan dan
renovasi besar yang semakin memperindah mesjid raya. Halaman mesjid diperluas
dan diganti dengan hamparan marmer yang sangat indah. Namun pohon Geulumpang
dan prasasti monumen kematian jenderal Kohler telah digeser dari lokasi
asalnya. Tempatnya menjadi tersudutkan dan diletakkan tersembunyi di belakang
bangunan tempat wudhu wanita. Memang masih tidak jauh dari lokasi lama, namun
karena tertutup oleh bangunan, menjadi tidak terlihat lagi oleh publik.
Untuk menuju lokasi
monumen yang baru publik harus mengitari bangunan tempat wudhu tersebut dan
tidak ada petunjuk arah yang memberi tanda bahwa di sana terdapat monumen dan
pohon Geulumpang. Tentunya dari sisi pembelajaran nilai-nilai sejarah kepada
publik hal ini sangat disayangkan. Sepatutnya pengelola mesjid raya perlu
mendesain kembali lintasan menuju lokasi monumen bersejarah ini agar lebih
mudah diakses oleh publik. Kemudahan akses ini tentunya akan berkontribusi
kepada peningkatan pemahaman dan daya memori publik akan nilai sejarah
perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda.
Adalah sebuah langkah
yang layak dan tepat sekali apabila di sekitar lokasi monumen pohon Geulumpang
tersebut dibangun semacam mini museum yang mendiskripsikan peristiwa heroik
para pejuang Aceh mempertahankan masjid raya dari gempuran Belanda ketika itu.
Generasi muda Aceh
harus terus dijaga ingatan dan memori alam bawah sadarnya tentang kisah-kisah
heroik perlawanan Aceh terhadap kezaliman dan pencabulan kemerdekaan. Monumen
pohon Geulumpang di halaman mesjid raya adalah salahsatu pengingat sejarah itu.
Tugu Kohler ini harus dipandang sebagai sebagai simbol kegigihan rakyat Aceh
mempertahankan marwah dan nilai-nilai Islam yang sejati. Kematian Kohler adalah
kematian kekuatan yang merongrong keberlangsungan nilai-nilai Islam di tanah
Aceh. Untuk itu, akses publik agar dapat menjangkaunya dengan mudah perlu
dibuka seluas-luasnya.***
Banda Aceh, 25 Mei 2025





