Telah dimuat pada Harian Waspada cetak edisi Jumat, 23 Mei 2025
Lebaran tahun ini membawa kesunyian yang
tak biasa di Saree. Jalan yang biasanya riuh oleh kendaraan yang berlalu
lalang, deretan warung kopi yang tak pernah sepi dari pengunjung, serta para
pedagang oleh-oleh yang sibuk melayani pembeli, mendadak terasa lengang. Bukan
karena bencana atau larangan bepergian, tapi karena uji coba operasional Jalan Tol Sibanceh—ruas Padang
Tiji-Seulimeum, seksi 1 yang
menghubungkan Sigli dan Banda Aceh.
Saree, kawasan perbukitan yang secara geografis
berada di jalur nasional lintas Banda Aceh–Medan, selama ini hidup dari lalu
lintas jalan raya. Ia adalah tempat persinggahan alami. Bus antar kota, mobil
pribadi, hingga truk pengangkut barang kerap berhenti di sini, sekadar
beristirahat, makan, atau membeli oleh-oleh seperti keripik pisang, emping, dan
buah salak. Kehidupan ekonomi Saree bertumpu pada momentum singgah itu. Namun
tol mengubah segalanya.
Uji coba ruas tol Padang Tiji-Seulimeum selama arus mudik dan balik Lebaran lalu
memang membawa efisiensi. Waktu tempuh antar kota menjadi lebih cepat.
Pengendara tak lagi terjebak di tikungan Saree yang sempit atau tanjakan yang
melelahkan. Namun di sisi lain, kehidupan para pedagang Saree mulai guncang.
Pendapatan mereka turun drastis. Warung-warung kopi yang dulunya penuh kini
sepi, bahkan beberapa sempat tutup sementara karena tidak sanggup menutupi
biaya operasional.
“Biasanya sore begini sudah ramai yang buka
puasa di sini, tapi sejak tol dibuka, kami hanya bisa duduk menunggu yang tak
datang,” keluh seorang pedagang yang sudah berjualan sejak era konflik Aceh. Ia
tidak sendiri. Para pengusaha kecil yang menggantungkan hidup dari arus jalan
nasional kini mulai mempertanyakan masa depan mereka: bagaimana jika tol benar-benar beroperasi penuh kelak?
Di tengah sorak sorai peresmian tol sebagai
simbol kemajuan Aceh, ada kegelisahan yang tidak terdengar: suara pedagang
kecil yang kehilangan pelanggan, warung yang kehilangan pengunjung, dan warisan
usaha keluarga yang tiba-tiba seperti kehilangan pangkal sejarahnya.
Bagi masyarakat Aceh dan para pelintas,
Saree bukan sekadar titik istirahat. Ia adalah tempat penuh kenangan. Tempat
rombongan keluarga berhenti makan siang, tempat mahasiswa dari luar kota
menyesap kopi sebelum sampai ke kampus, tempat supir truk istirahat di tengah
perjalanan jauh. Saree menjadi simpul relasi sosial antarwilayah—menghubungkan
orang, bukan sekadar tempat.
Bahkan bagi sebagian warga Banda Aceh,
Saree adalah tujuan akhir pekan yang sederhana: menyantap mie Aceh hangat
sambil menatap hijau perbukitan. Warung-warung kecil di sini bukan sekadar
tempat jualan, melainkan ruang interaksi yang membentuk jaringan sosial dan
ekonomi lokal yang hidup.
Namun semua itu perlahan memudar ketika
lalu lintas punya alternatif sehingga bisa beralih ke jalan tol. Saree
kehilangan peran vitalnya. Di balik gemerlap aspal beton baru yang mulus, ada
kekhawatiran akan lahirnya ketimpangan
baru (atau keseimbangan baru?): infrastruktur besar yang memperlancar
konektivitas kota ke kota, tapi menyingkirkan desa-desa kecil dari sirkulasi
ekonomi.
Pembangunan tol tentu bukan kesalahan.
Jalan tol diperlukan untuk mendongkrak ekonomi makro, menurunkan biaya
logistik, dan mempercepat pergerakan barang serta manusia. Namun, ketika
pembangunan tidak menyisakan ruang bagi masyarakat lokal yang telah lama
menggantungkan hidup dari jalan lama, maka yang muncul bukan kemajuan bersama,
tapi kemajuan yang mencederai sebagian.
Dalam hal ini, para pedagang Saree adalah
korban yang luput dari perhatian. Mereka tak memiliki kekuatan modal untuk
berpindah ke rest area tol. Tak semua produk mereka layak masuk ke pasar
modern. Mereka adalah wajah-wajah ekonomi rakyat yang sering terlupakan dalam
narasi besar pembangunan.
Jika pembangunan hanya dirancang dari sudut
pandang "makro", maka yang "mikro" akan tertinggal. Jalan
tol yang dirancang untuk menyambung kota-kota besar justru bisa memutus aliran
ekonomi warung kecil, pasar pinggir jalan, dan sektor informal lainnya. Ini
adalah ibarat luka tak terlihat
yang kerap mengiringi proyek besar, namun jarang dibicarakan secara serius.
Kini, uji coba tol telah selesai. Jalan tol
ditutup kembali untuk penyempurnaan dan pengujian lanjutan. Saree kembali
berdenyut. Suara kendaraan kembali memenuhi udara. Pedagang bisa bernapas lega
meski untuk sementara. Namun mereka sadar, ini hanya jeda sesaat sebelum tol
benar-benar beroperasi penuh.
Uji coba fungsionalisasi seksi Padang
Tiji-Seulimeum kemarin juga sekaligus uji coba dampak sosial dan ekonomi bagi
masyarakat Saree. Kawasan Saree dan juga desa-desa lain di sepanjang jalan
lintas Medan-Banda Aceh berpotensi besar tidak lagi diminati untuk dilintasi
oleh kendaraan umum dan pribadi.
Banyak yang mulai memikirkan langkah ke
depan: apakah perlu mulai menjual secara daring? Apakah harus ikut menyuplai ke
koperasi tol? Bagaimana cara bersaing dengan waralaba yang mungkin akan hadir
di rest area kelak? Tapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah mereka akan diberi ruang?
Tanpa intervensi dan perhatian dari
pemerintah, Saree mungkin akan menjadi simbol
tempat yang ditinggalkan pembangunan—bukan karena tidak berkembang,
tetapi karena tidak dianggap penting dalam peta prioritas.
Mencari Jalan
Tengah
Sudah saatnya pemerintah dan pengelola
jalan tol berpikir lebih luas. Infrastruktur tidak boleh hanya dilihat dari
sisi teknis dan ekonomis, tapi juga dari sisi keadilan sosial. Beberapa solusi bisa dipertimbangkan:
Pertama, membangun akses keluar tol di sekitar Saree, sehingga arus
kendaraan tetap memungkinkan keluar dan menghidupkan kembali ekonomi lokal.
Namun secara teknis diakui ide ini sangat tidak ekonomis.
Kedua, mengembangkan rest area bertema lokal di dalam tol yang
menampung produk-produk khas Saree, dengan melibatkan langsung pedagang
setempat. Bisa bekerja sama dengan dinas koperasi dan UMKM setempat untuk
kurasi dan distribusi. Ini ide yang logis dan layak untuk dieksekusi. Seperti
juga ide membuat pelatihan dan dukungan
modal bagi pelaku usaha mikro yang ingin berpindah ke kanal distribusi
baru seperti e-commerce atau kemitraan dengan koperasi tol.
Selanjutnya adalah ide pemberdayaan pariwisata Saree sebagai tempat
wisata alam, bukan sekadar tempat singgah. Saree memiliki potensi menjadi
kawasan agrowisata yang menggabungkan keindahan alam dengan kuliner khas Aceh.
Sehingga tetap akan dilintasi karena ada destinasi yang menjadi magnet publik
di kawasan itu.
Apa yang terjadi di Saree hanyalah satu
fragmen dari cerita besar pembangunan infrastruktur di Indonesia. Ketika jalan
tol menjanjikan efisiensi dan percepatan, kita harus bertanya: siapa yang
tercepat dan siapa yang tertinggal? Saree mengajarkan kita bahwa kemajuan tak selalu berarti meninggalkan yang
kecil.
Pembangunan seharusnya merangkul, bukan
menggusur. Memberi ruang bagi yang kecil untuk tumbuh bersama yang besar. Jika
kita abai pada suara-suara kecil seperti pedagang Saree, maka kita sedang membangun
jalan tol menuju ketimpangan yang semakin dalam.
Kita butuh pembangunan yang tidak hanya
menghubungkan titik-titik di peta, tapi juga menyambungkan kehidupan. Kita
butuh jalan yang tidak hanya lurus dan cepat, tetapi juga adil dan manusiawi.***
Banda Aceh, 16 Mei 2025
Dr.
Ir. Dandi Bachtiar, M.Sc.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar