Telah dimuat pada harian Waspada edisi Kamis, 15 Mei 2025
Pada
suatu masa dahulu, kita pernah begitu percaya diri. Tahun 1995, pesawat N-250
Gatotkaca mengudara pertama kali di langit Nusantara—hasil karya anak bangsa
yang digarap oleh ratusan insinyur Indonesia di bawah kepemimpinan teknolog
visioner, B.J. Habibie. Dunia terpana, dan kita membusungkan dada. Di bidang
kedirgantaraan, kita pernah menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang
memiliki industri pesawat terbang sendiri, bahkan menjadi pemasok komponen
pesawat ke Airbus. Saat itu, kita merasa sedang menuju masa depan sebagai
bangsa maju berbasis teknologi.
Namun,
optimisme itu kini seperti mimpi yang pupus. Seiring krisis moneter 1998 dan
perubahan arah politik nasional, banyak jejak kejayaan itu yang hilang.
Industri strategis kita seperti IPTN (kini PT Dirgantara Indonesia), PT PAL,
hingga PINDAD—perlahan melemah dan kehilangan dukungan negara. Padahal,
pembangunan teknologi adalah proses panjang yang hanya bisa tumbuh dalam ruang
yang konsisten dan dilindungi. Kita, sayangnya, tak sabar dan kehilangan arah.
Hari
ini, fakta ketertinggalan kita di bidang teknologi semakin terasa menyakitkan.
Hampir seluruh komponen industri nasional bergantung pada produk impor: mulai
dari mesin produksi, peralatan medis, sistem navigasi, hingga teknologi
pertahanan. Bahkan hal-hal dasar seperti pabrik pengolahan limbah, teknologi
pengemasan pangan, dan rekayasa konstruksi sebagian besar mengandalkan
konsultan asing. Ironisnya, kita justru bangga mengimpor, karena "buatan
luar negeri" dianggap lebih canggih, lebih berkelas.
Di
sisi lain, anggaran riset dan pengembangan kita stagnan di bawah 1% dari PDB,
tertinggal jauh dibanding negara-negara Asia Timur yang telah melesat—seperti
Korea Selatan, Tiongkok, dan bahkan Vietnam. Minimnya investasi dalam R&D
(research and development) menandakan rendahnya komitmen negara terhadap inovasi.
Kita hanya ingin hasil akhirnya, tapi tak mau menanam dari akarnya.
Sebagian
kalangan percaya bahwa keterlambatan kita dalam teknologi disebabkan oleh
faktor eksternal. Dunia global tidak sepenuhnya netral. Negara-negara maju
berkepentingan agar negara berkembang tetap menjadi pasar, bukan pesaing. Ada
semacam tekanan halus yang mempersulit kita untuk mandiri: alih teknologi yang
dibatasi, paten yang dilindungi ketat, hingga standar internasional yang kadang
menjadi tameng.
Namun,
lebih dari itu, sesungguhnya faktor internal kitalah yang lebih menentukan.
Kita kekurangan semangat kemandirian. Kita tidak benar-benar percaya pada karya
anak bangsa. Berapa banyak teknologi hasil inovasi dosen dan peneliti yang
mengendap di rak atau jurnal, tanpa pernah menyentuh dunia industri? Kita tidak
punya mekanisme untuk menjembatani laboratorium dan lini produksi. Sementara
negara lain mengembangkan ekosistem teknologi dari kampus ke pasar, kita justru
memutusnya dengan birokrasi dan ketidakpercayaan.
Lebih
parah lagi, kita tidak memiliki budaya teknologi. Pendidikan tinggi kita masih
sangat teoritis. Kurikulum teknik terlalu fokus pada hafalan rumus, bukan
pemecahan masalah nyata. Mahasiswa tidak dibiasakan untuk merancang, gagal,
lalu mencoba lagi. Padahal, teknologi lahir dari keberanian mencoba, bukan dari
menjawab soal ujian.
Lalu,
bagaimana dengan negara-negara lain yang dulu juga tertinggal?
Kita
bisa belajar dari Korea Selatan, yang pada tahun 1960-an lebih miskin dari
Indonesia. Kini, mereka menjadi raksasa teknologi dunia, dengan Samsung,
Hyundai, dan LG sebagai ikon global. Keberhasilan mereka bukan hasil instan,
tetapi buah dari komitmen jangka panjang pemerintah, perlindungan industri
dalam negeri, dan budaya riset yang ditanam sejak pendidikan dasar.
Tiongkok
pun demikian. Dulu mereka hanya mampu meniru, kini telah memimpin dalam banyak
bidang—kecerdasan buatan, manufaktur baterai, teknologi tinggi. Pemerintah
mereka berani membangun kemandirian melalui investasi besar-besaran di
teknologi strategis, bahkan jika harus menabrak dominasi pasar barat.
Vietnam,
yang notabene lebih muda secara industri, kini sudah menjadi pusat manufaktur
teknologi tinggi karena fokus pada pendidikan vokasi, stabilitas kebijakan, dan
kemitraan riset dengan industri global. Sementara kita masih sibuk berganti
arah tiap ganti menteri.
Indonesia
sebenarnya tidak kekurangan talenta. Di kampus-kampus teknik, banyak mahasiswa
dengan kemampuan luar biasa. Sayangnya, sistem kita belum memberi ruang bagi
mereka untuk berkembang. Mereka yang ingin menjadi insinyur justru tergoda
bekerja sebagai PNS, karena di sanalah jalur hidup dianggap "pasti".
Kita tidak menghargai profesi teknolog. Bahkan kata “insinyur” pun pernah
nyaris lenyap dari kosa kata kebanggaan nasional.
Jika
kita ingin benar-benar bangkit secara teknologi, kita harus memulai dengan
keberanian memilih arah. Butuh visi besar negara yang memihak pada kemandirian
teknologi nasional. Butuh ekosistem pendidikan yang berorientasi pada
penciptaan, bukan hanya pengajaran. Butuh industri dalam negeri yang dilindungi
agar bisa tumbuh dan bersaing. Dan yang paling penting: kita butuh rasa percaya
diri nasional. Tanpa itu, teknologi hanya akan jadi jargon dalam dokumen
kebijakan—tak pernah menjadi kenyataan.
Hari
ini, kita tak bisa lagi hanya bernostalgia dengan nama besar Habibie dan
kejayaan IPTN. Kita harus menciptakan Habibie-Habibie baru, dalam sistem yang
memungkinkan mereka berkembang. Kita harus berhenti menunggu pengakuan asing
dan mulai membangun kebanggaan dari dalam.
Terus
bagaimana kita harus memulainya lagi? Sasaran yang paling kasat mata
sesungguhnya adalah dunia kampus. Pemerintah seyogyanya memberi fokus dan
prioritas pada pengembangan iptek yang mendorong kemandirian nasional. Budaya
inovasi dan cinta produk dalam negeri perlu menjadi icon utama dalam ikhtiar
pengembangan ini. Tentunya perlu dana besar yang harus digelontorkan guna
menyangga program semacam ini.
Dunia
kampus terutama pendidikan teknik Indonesia harus diberi kesempatan berkreasi
dan mengembangkan ide-ide segar dan inovatif. Sebagai contoh ada program
capstone design, sebuah modul tugas perancangan di program studi teknik mesin.
Idenya adalah merangsang mahasiswa teknik untuk merancang dan menghasilkan
produk teknologi hasil karya sendiri yang orisinal. Ini merupakan salahsatu
program pendidikan teknik berstandar internasional. Namun, dalam
implementasinya, terbentur pada isu pendanaan yang minim. Sehingga mahasiswa
dan dosen terhenti pada program perancangan yang virtual semata.
Kita
tak akan pernah menjadi bangsa maju jika selalu menunggu teknologi dikirim dari
luar. Kemajuan harus diciptakan dari dalam—meski pelan, asal pasti. Inilah
saatnya kita bertanya dengan jujur: kapan terakhir kali kita benar-benar bangga
dengan karya teknologi buatan anak negeri?***
Banda Aceh, 5 Mei 2025
Dr.
Ir. Dandi Bachtiar, M.Sc.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar