Jumat, 09 Mei 2025

Belajar dari Tikus Utopia untuk Masa Depan Aceh

 


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 9 Mei 2025

Bayangkan sebuah dunia di mana semua kebutuhan manusia terpenuhi — makanan berlimpah, tempat tinggal layak, keamanan terjamin, dan teknologi memanjakan setiap keinginan. Sebuah utopia. Namun benarkah kenyamanan tanpa batas adalah puncak kebahagiaan dan kemajuan?

Jawabannya bisa kita temukan dari eksperimen “Mouse Utopia” atau Universe 25 yang dilakukan oleh John B. Calhoun pada dekade 1970-an. Dalam eksperimen ini, sekelompok tikus ditempatkan di dalam lingkungan yang sempurna — makanan dan air tak terbatas, suhu stabil, tanpa ancaman dari luar, serta fasilitas hidup ideal. Tikus-tikus itu berkembang pesat dalam fase awal. Namun memasuki fase jenuh, pola sosial mereka berubah drastis. Mereka mulai menunjukkan perilaku menyimpang: agresi tanpa sebab, penyendiran, kanibalisme, dan bahkan kehilangan hasrat berkembang biak. Lahir generasi “beautiful ones” — tikus-tikus yang hanya merawat diri, tidak kawin, tidak bersosialisasi, dan hidup dalam kebosanan mutlak.

Ironisnya, eksperimen ini berakhir dengan kepunahan total. Dalam kondisi “surga” sekalipun, mereka tidak bisa bertahan.

Apa yang sebenarnya salah? Tikus-tikus itu kehilangan makna dalam hidupnya. Tidak ada tantangan, tidak ada perjuangan, tidak ada konflik yang membentuk struktur sosial atau menumbuhkan peran. Dalam kondisi “sempurna”, justru jiwa sosial dan naluri hidup mereka hancur perlahan. Mereka menjadi makhluk yang secara biologis masih hidup, tapi secara eksistensial telah mati.

Manusia tentu jauh lebih kompleks dari tikus. Kita punya akal, budaya, agama, serta sistem nilai yang membentuk cara kita hidup dan bermasyarakat. Namun eksperimen ini memberikan cermin bahwa kemakmuran tanpa makna bisa menciptakan kehampaan kolektif. Ketika hidup menjadi terlalu nyaman, terlalu mudah, dan terlalu bebas dari tanggung jawab sosial, maka masyarakat justru berisiko kehilangan orientasi.

Kita bisa melihat gejala-gejala ini dalam masyarakat modern: meningkatnya krisis mental di negara maju, tumbuhnya apatisme politik, menguatnya budaya konsumtif, serta hilangnya orientasi hidup generasi muda. Dalam banyak kasus, justru masyarakat yang paling makmur yang mulai bertanya: “Untuk apa semua ini?”

Eksperimen tikus tersebut bukan hanya soal hewan laboratorium. Ia adalah metafora tajam tentang bahaya pembangunan yang hanya menekankan kenyamanan, tanpa menyentuh makna hidup dan arah peradaban.

Islam: Penjaga Makna, Penyeimbang Kemajuan

Dalam konteks umat manusia, ada satu kekuatan yang mampu menjaga makna dalam kehidupan yang tampak sejahtera: agama, khususnya dalam konteks Aceh, Islam. Islam bukan hanya sistem ibadah, tetapi sistem nilai yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan hidup bersama.

Islam menanamkan bahwa hidup bukan tentang kenyamanan semata, melainkan tentang amanah, ujian, dan perjalanan menuju akhirat. Ajaran Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat (dunya wal akhirah), antara hak dan kewajiban, antara individu dan masyarakat.

Islam juga menanamkan prinsip keseimbangan mental dalam menghadapi kehidupan. Bersabar ketika cobaan datang menghadang, dan bersyukur ketika nikmat sedang menjelang. Pada fenomena tikus utopia, cobaan hidupnya adalah kenikmatan hidup yang tiada batas. Jika manusia tidak punya pedoman menghadapinya, bersabar dan bersyukur, maka kepunahan akan segera menerpa.

Dalam Islam, kemajuan bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperkuat keimanan, memperluas kemaslahatan, dan menegakkan keadilan. Ketika Islam benar-benar dihayati, ia memberi kompas moral agar manusia tidak tersesat dalam kenikmatan kosong. Ia mendorong aktivitas ekonomi yang adil, budaya yang bermartabat, serta kepemimpinan yang bertanggung jawab kepada Allah, bukan hanya kepada statistik.

Dengan kata lain, Islam adalah penangkal utama terhadap efek “Utopia 25” dalam versi manusia.

Konteks Aceh sebagai Bangsa

Aceh adalah bangsa yang dibentuk oleh gelombang sejarah besar — Samudra Pasai, Kesultanan Aceh Darussalam, masa kolonial, konflik bersenjata, hingga bencana tsunami dan masa perdamaian. Semua fase itu melahirkan identitas kolektif yang kuat: Aceh sebagai wilayah yang tangguh, pemberani, religius, dan penuh semangat perjuangan.

Namun justru di masa damai ini, pertanyaannya menjadi lebih sunyi namun mendalam: Apa makna kemajuan bagi Aceh?

Kita menyaksikan pembangunan infrastruktur, otonomi fiskal, bantuan sosial, dan program-program pemulihan ekonomi. Tapi bersamaan dengan itu muncul pula gejala stagnasi: melemahnya semangat kolektif, munculnya politik transaksional, menguatnya gaya hidup konsumtif, serta melemahnya identitas kultural dan keislaman yang dulu menjadi tulang punggung masyarakat.

Dalam konteks ini, Islam seharusnya hadir sebagai fondasi yang bukan hanya simbolik, melainkan fungsional dan transformasional. Bukan hanya syariat sebagai aturan, tapi Islam sebagai panduan membangun peradaban yang beradab.

Kemajuan yang sejati adalah kemajuan yang berbasis makna, bukan sekadar kenyamanan atau pertumbuhan angka. Dalam konteks Aceh, ini bisa diwujudkan melalui:

Ekonomi Berbasis Kemandirian dan Etika Islam. Pembangunan ekonomi harus digerakkan oleh prinsip keadilan, kejujuran, dan keberkahan. Wakaf produktif, koperasi syariah, dan perdagangan yang etis bisa menjadi tulang punggung kemandirian.

Pendidikan Berorientasi Tauhid dan Karakter. Pendidikan harus membentuk insan yang kenal Allah, kenal diri, dan sadar akan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Bukan sekadar mencetak lulusan kerja, tapi pejuang peradaban.

Kultur Sosial Berbasis Ukhuwah dan Keadilan. Tradisi gotong royong dan adat bersendi syarak harus dikuatkan. Bukan hanya dirawat sebagai warisan, tapi ditumbuhkan sebagai solusi peradaban.

Kepemimpinan Berbasis Amanah dan Taqwa. Pemimpin Aceh ke depan harus menjadi ulul albab — orang-orang yang memimpin dengan ilmu dan rasa takut kepada Allah. Mereka adalah penjaga makna, bukan hanya pengelola anggaran.

Ruang Tafakur Peradaban. Aceh butuh ruang-ruang publik yang mendorong refleksi: majelis ilmu, diskusi lintas sektor, dan narasi-narasi kebaikan yang membentuk kesadaran kolektif.

Hidup tanpa tantangan, tanpa konflik yang sehat, tanpa perjuangan, bisa terlihat damai. Tapi kedamaian kosong tanpa makna adalah pintu menuju kehancuran diam-diam.

Tikus-tikus di laboratorium itu tidak mati karena lapar atau perang. Mereka mati karena kehilangan arah. Dan manusia pun bisa mengalami hal serupa — bukan dalam bentuk kematian biologis, tapi dalam bentuk stagnasi budaya, kerapuhan sosial, dan krisis makna.

Aceh tidak boleh berjalan menuju “utopia tikus”. Kita harus memilih jalan pembangunan yang berakar pada nilai, makna, dan perjuangan bersama. Dan di tengah itu, Islam adalah cahaya penunjuk arah — agar kemajuan tidak membawa kita pada kehampaan, tapi mengantar kita menuju kehidupan yang berarti, di dunia dan akhirat.***

Banda Aceh, 8 Mei 2025

Dr. Ir. Dandi Bachtiar, M.Sc.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...