Telah dimuat di Harian Waspada edisi Jumat, 2 Mei 2025
Dalam beberapa bulan terakhir, dunia internasional menyaksikan langkah kontroversial dari China—negara dengan emisi karbon terbesar di dunia—yang kembali membangun PLTU batu bara dalam skala besar. Sepanjang tahun 2024 saja, lebih dari 95 gigawatt proyek PLTU baru dikonfirmasi pemerintah China, menjadikannya sebagai salah satu ekspansi batu bara paling agresif dalam satu dekade terakhir.
Langkah
ini memunculkan pertanyaan besar: ke mana arah komitmen iklim global, khususnya
setelah Perjanjian Paris yang disepakati nyaris satu dekade lalu? Ketika para
ilmuwan dunia bersuara lantang tentang kedaruratan iklim dan masyarakat sipil
di banyak negara mendorong transisi energi bersih, keputusan China tampak
seperti langkah mundur—bukan hanya secara lingkungan, tetapi juga secara moral
dalam upaya kolektif menjaga keberlanjutan planet ini.
China
beralasan bahwa langkah ini perlu dilakukan demi menjamin keamanan energi nasional, terutama
menghadapi musim dingin ekstrem, meningkatnya permintaan listrik, dan
ketidakpastian geopolitik global. Sebagian pihak menyatakan bahwa PLTU yang
dibangun akan dilengkapi teknologi emisi rendah dan hanya berfungsi sebagai backup
bagi sistem energi hijau.
Namun
kita tahu, tidak ada batu bara yang benar-benar “bersih”. Sekalipun efisiensi
ditingkatkan, pembakaran batu bara tetap menghasilkan karbon dioksida dalam
jumlah besar, serta polutan berbahaya lainnya. Dalam konteks saat ini, ketika
suhu bumi telah meningkat mendekati 1,5°C dibandingkan era pra-industri, waktu
kita semakin sempit. Komitmen “nanti” untuk net zero pada 2060 tidak lagi
cukup, apalagi jika dibarengi dengan aksi yang justru memperburuk kondisi saat
ini.
Kebijakan
energi China juga tidak bisa dilepaskan dari konteks perang dagang dan rivalitas strategis dengan Amerika
Serikat. Dalam ketegangan geopolitik yang makin tajam, banyak negara memilih
memperkuat ketahanan dalam negeri, termasuk di sektor energi. Ketergantungan
pada energi impor dianggap sebagai titik lemah, sehingga batu bara—yang
tersedia melimpah di dalam negeri—kembali dianggap sebagai solusi pragmatis.
Namun
inilah ironi zaman ini: saat dunia membutuhkan kerja sama global yang belum
pernah terjadi sebelumnya, justru yang terjadi adalah meningkatnya semangat
proteksionisme, nasionalisme, dan persaingan hegemonik. Perubahan iklim adalah
krisis global yang tidak mengenal batas negara. Karbon tidak membawa paspor.
Namun pendekatan kebijakan kita masih terfragmentasi dan sektoral.
China
bukan satu-satunya. India masih mengandalkan batu bara untuk lebih dari 70
persen pembangkit listriknya. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni
Emirat Arab gencar mengembangkan energi terbarukan, namun tetap memperluas
produksi dan ekspor minyak. Di Eropa dan Amerika Utara, meski ada upaya
transisi energi yang serius, kepentingan industri dan politik domestik kerap
menjadi ganjalan.
Indonesia
sendiri, dalam dokumen NDC (Nationally Determined Contribution), menargetkan
net zero emission pada 2060. Namun di sisi lain, proyek PLTU baru masih
berjalan di beberapa daerah, termasuk yang didanai lewat skema Just Energy
Transition Partnership (JETP). Transisi energi yang terjadi masih bersifat
elitis dan belum menyentuh lapisan masyarakat bawah secara sistemik.
Laporan
dari UNEP (United Nations Environment Programme) tahun 2023 memperingatkan
bahwa jika semua negara hanya melaksanakan komitmen iklim mereka saat ini tanpa
peningkatan ambisi, maka suhu bumi akan naik hingga 2,4–2,7°C pada akhir abad
ini. Artinya, kita belum on track. Lebih dari itu, kita sedang melaju di
jalur yang membahayakan masa depan umat manusia.
Persoalan
iklim kini bukan lagi sekadar soal teknologi atau sains. Kita telah memiliki
cukup pengetahuan dan teknologi untuk mengurangi emisi. Energi surya, angin,
hidrogen, dan penyimpanan energi terus mengalami kemajuan. Hambatan utamanya
justru adalah politik dan moralitas.
Negara-negara
di dunia masih terjebak pada ego sektoral: antara kepentingan industri dalam
negeri dan kepentingan global; antara keuntungan jangka pendek dan
keberlanjutan jangka panjang. Dalam banyak forum, solidaritas iklim
dibicarakan. Namun dalam praktik, solidaritas itu kalah oleh perlombaan
investasi, pencitraan politik, atau ketakutan kehilangan suara pemilih.
Padahal,
bumi ini satu. Krisis iklim adalah masalah bersama umat manusia. Tidak ada satu
negara pun yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri jika ekosistem global
kolaps. Tidak ada "tembok tinggi" yang cukup kuat menahan gelombang
panas, kekeringan ekstrem, atau krisis pangan lintas benua. Kita semua berada
di perahu yang sama, hanya saja duduk di tempat yang berbeda.
Lalu
apa yang bisa menjadi jalan keluar dari kebuntuan ini?
Pertama,
Perjanjian Paris perlu diperkuat
secara politik dan moral. Dunia harus bergerak dari kesepakatan
sukarela ke arah komitmen yang mengikat secara internasional, dengan mekanisme
pemantauan yang jelas dan sanksi moral maupun ekonomi bagi negara yang
mengingkarinya.
Kedua,
perlu dibentuk mekanisme keadilan iklim
global yang menjamin dukungan finansial dan teknologi dari negara maju
ke negara berkembang. Ini bukan soal kebaikan hati, melainkan tanggung jawab
sejarah atas emisi masa lalu.
Ketiga,
negara dan lembaga keuangan internasional harus menekan ekonomi batu bara
melalui pajak karbon, divestasi dari energi fosil, dan insentif besar untuk
energi hijau.
Keempat,
literasi iklim harus dimasukkan dalam
pendidikan dan ruang publik. Hanya dengan warga dunia yang sadar, kita
bisa menciptakan tekanan sosial dan politik yang cukup kuat untuk memaksa
perubahan.
Kelima,
negara-negara berkembang perlu membentuk koalisi Selatan-Selatan untuk transisi energi yang tidak
bergantung pada dikte kekuatan besar. Kita bisa berbagi solusi, teknologi, dan
pembiayaan untuk saling mempercepat perubahan.
Semua
ini mungkin terdengar ideal, tapi dalam sejarah umat manusia, perubahan besar
selalu dimulai dari keberanian bermimpi dan konsistensi menyuarakan kebenaran.
Kita hanya punya satu bumi. Dan satu kesempatan.***
Banda
Aceh, 27 April 2025
Dr. Ir. Dandi
Bachtiar, M. Sc. adalah dosen teknik mesin di Departemen Teknik Mesin dan
Industri USK dan pemerhati isu iklim, tinggal di Banda Aceh. Aktif menulis
opini seputar pendidikan teknik, energi, lingkungan, dan pembangunan
berkelanjutan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar