Telah dimuat di harian Waspada edisi Selasa, 6 Februari 2024
Perubahan
iklim adalah tantangan terbesar umat manusia sekarang ini. Salahsatu pemicunya
adalah industrialisasi di banyak negara untuk memacu pertumbuhan ekonominya.
Aktifitas industri yang dianggap sebagai penarik gerbong pertumbuhan ekonomi
suatu negara namun memberi dampak lain yang memperburuk kondisi lingkungan
alam. Emisi karbon yang dilepaskan sebagai konsekwensi aktifitas
industrialisasi terbukti telah mengganggu keseimbangan ekosistem dengan
menumpuknya CO2 di atmosfer sehingga memerangkap radiasi matahari dan tidak
bisa memantul keluar atmosfer. Efeknya suhu bumi meningkat dan mengubah semua
perilaku iklim bumi kita ini.
Musim
kemarau panjang yang melanda Indonesia di sepanjang tahun 2023 lalu juga menghadirkan
bukti yang tak terbantahkan tentang bagaimana buruknya kualitas udara di
kota-kota besar. Kota Jakarta menempati urutan teratas kota dengan polusi udara
terkotor di Indonesia. Hal ini disinyalir sebagai dampak dari gas buang dari
jutaan kendaraan yang berseliweran di jalanan serta gas buangan dari
pusat-pusat pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang berada di sekitar
ibukota. Hujan yang tidak muncul selama kemarau panjang ini telah memperparah
kondisi udara karena gas buang polutan yang bertebaran di udara tidak dapat
diendapkan ke daratan.
Kota
Banda Aceh sendiri mendapat rekor sebagai kota dengan kondisi udara yang paling
bersih di Indonesia. Ini patut disyukuri karena memberi rasa kenyamanan bagi
penduduknya. Namun, di sisi lain ini juga sebagai penanda bahwa kota Banda Aceh
serta wilayah Aceh umumnya memang tidak memiliki industri besar sehingga kurang
memberikan pendorong kepada pembangunan ekonominya.
Aceh,
provinsi yang terletak di ujung barat Indonesia, memiliki kekayaan alam dan
budaya yang luar biasa. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Aceh menghadapi tantangan besar dalam
menjaga keberlanjutan lingkungan dan sumber daya alamnya. Dalam pandangan ini,
teknologi hijau adalah salah satu solusi kunci yang dapat membantu Aceh
mencapai masa depan yang berkelanjutan.
Teknologi
hijau, atau sering disebut juga teknologi ramah lingkungan, adalah segala
sesuatu yang berkaitan dengan inovasi teknologi yang dirancang untuk mengurangi
dampak negatif terhadap lingkungan alam. Aceh, yang terkenal dengan keindahan
alamnya, seperti hutan hujan tropis, pantai yang mempesona, dan kekayaan hayati
yang beragam, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian alamnya.
Teknologi hijau adalah kunci untuk menjembatani kesenjangan antara perkembangan
ekonomi dan pelestarian lingkungan di Aceh.
Beberapa
sektor teknologi hijau yang patut menjadi perhatian stake-holder pengambil kebijakan bagi masa depan pertumbuhan
ekonomi di Aceh dapat disebutkan antara lain: energi terbarukan, pertanian
berkelanjutan, pengelolaan sampah yang efektif, transportasi ramah lingkungan,
dan pendidikan akan kesadaran lingkungan.
Energi
Terbarukan
Salah
satu langkah paling penting yang dapat diambil oleh Aceh untuk memastikan masa
depan yang berkelanjutan adalah mengadopsi sumber energi terbarukan. Provinsi
ini memiliki potensi besar untuk menghasilkan energi terbarukan, terutama
energi panas bumi, surya dan energi angin. Dengan investasi dalam infrastruktur
yang tepat, Aceh dapat menjadi produsen energi terbarukan yang signifikan.
Pembangkit
listrik tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga angin dapat membantu
mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang memiliki dampak buruk
terhadap lingkungan. Selain itu, penggunaan energi terbarukan juga dapat
menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan dampak positif pada perekonomian
Aceh.
Pertanian
Berkelanjutan
Pertanian
selalu menjadi bagian utama perekonomian Aceh, dan transisi menuju pertanian
berkelanjutan sangatlah penting bagi masa depan provinsi ini. Teknologi ramah
lingkungan dapat memainkan peran penting dalam mencapai tujuan ini. Praktik
pertanian berkelanjutan, seperti pertanian presisi dan pertanian organik, dapat
membantu mengurangi dampak pertanian terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan
hasil panen.
Selain
itu, penggunaan teknologi canggih seperti drone
dan sensor dapat membantu petani memantau dan mengelola tanaman mereka dengan
lebih efisien. Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga
mengurangi penggunaan pestisida dan air, sehingga berkontribusi terhadap
lingkungan yang lebih sehat.
Pengelolaan
Sampah yang Lebih Baik
Masalah
sampah adalah tantangan serius di banyak daerah, termasuk Aceh. Namun,
teknologi hijau dapat membantu mengubah cara Aceh mengelola sampahnya. Salah
satu solusi adalah dengan mengadopsi sistem daur ulang yang lebih efisien.
Dengan mendaur ulang sampah plastik dan kertas, Aceh dapat mengurangi
pencemaran lingkungan dan mengurangi tekanan pada sumber daya alam.
Selain
itu, teknologi pengolahan sampah canggih, seperti pengolahan limbah organik
menjadi energi biogas, dapat membantu mengurangi timbunan sampah dan
menghasilkan sumber energi tambahan. Dengan pengelolaan sampah yang lebih baik,
Aceh dapat menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup
penduduknya.
Transportasi
Ramah Lingkungan
Masalah
lalu lintas dan polusi udara adalah masalah serius di banyak kota di Aceh.
Penggunaan teknologi hijau dalam transportasi dapat membantu mengatasi masalah
ini. Kendaraan listrik adalah contoh nyata dari teknologi hijau yang dapat membantu
mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemerintah Aceh dapat mendorong penggunaan
kendaraan listrik dengan memberikan insentif, seperti pembebasan pajak dan
pengembangan infrastruktur pengisian daya.
Selain
itu, penggunaan transportasi umum yang lebih efisien, seperti kereta api dan
bus listrik, dapat membantu mengurangi kemacetan lalu lintas dan polusi udara.
Investasi dalam sistem transportasi ramah lingkungan dapat membuat Aceh lebih
bersih dan lebih efisien dalam pergerakan penduduknya.
Pendidikan
dan Kesadaran Lingkungan
Penting
untuk menciptakan kesadaran tentang teknologi hijau di kalangan penduduk Aceh.
Pendidikan lingkungan yang lebih baik dan kampanye kesadaran dapat membantu
mengubah perilaku masyarakat dalam hal penggunaan sumber daya alam dan
pembuangan sampah. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang dampak tindakan
mereka terhadap lingkungan, masyarakat Aceh dapat berperan aktif dalam menjaga
keberlanjutan.
Pemerintah
Aceh juga dapat bermitra dengan organisasi non-pemerintah dan perusahaan swasta
untuk mengadakan program-program lingkungan yang edukatif dan informatif. Ini
dapat menciptakan budaya yang lebih sadar lingkungan di Aceh dan mendorong
adopsi teknologi hijau secara lebih luas.
Teknologi
hijau adalah kunci untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan di Aceh. Dengan
mengadopsi sumber energi terbarukan, praktik pertanian berkelanjutan,
pengelolaan sampah yang lebih baik, transportasi ramah lingkungan, dan
pendidikan lingkungan yang lebih baik, Aceh dapat menjaga keindahan alamnya
sambil meningkatkan kualitas hidup penduduknya.
Teknologi
hijau memberi harapan kepada bangkitnya pertumbuhan ekonomi kawasan dengan
tanpa meninggalkan upaya pemeliharaan lingkungan alam yang bersih dan
berkelanjutan.
Agenda
besar ini patut menjadi dorongan politik bagi para kandidat yang akan bertarung
memperebutkan posisi Aceh 1 pada Pilkada mendatang. Kita berharap siapapun yang
menjabat posisi Gubernur Aceh definitif ke depan, mau tidak mau mestilah
mengusung tema besar ini sebagai dasar kebijakan utama politik pemerintahannya.
Karena hanya itulah satu-satunya harapan rakyat Aceh pada pemimpinnya untuk
membawa Aceh kepada kegemilangan pembangunan yang berkelanjutan. ***
Banda
Aceh, 4 Februari 2024

Tidak ada komentar:
Posting Komentar