Telah dimuat di harian Waspada edisi Jumat, 20 Januari 2023
Ada sebuah pameo yang
menyatakan membaca adalah membuka jendela dunia. Maknanya dengan membaca seseorang seolah
sedang memandangi ke luar jendela yang memaparkan keindahan dunia di luar sana.
Dunia luar yang luas terbentang tak terbatas menampilkan segala macam atribut
kehidupan. Antitesanya jika jendela itu tertutup tak ada pemandangan indah di
luar yang dapat dinikmati. Dengan tidak melakukan kegiatan membaca tertutup
jugalah peluang untuk menjelajahi dunia luar dan menikmati keberadaannya.
Begitu pentingnya makna
membaca sehingga perintah pertama Allah kepada nabi Muhammad melalui malaikat
Jibril adalah Iqra. Bacalah, dengan nama Tuhanmu hai Muhammad. Padahal ketika
itu nabi Muhammad seseorang yang buta huruf. Itu artinya membaca bukan sekedar
membaca teks tertulis biasa, namun lebih luas lagi. Iqra adalah membaca alam
semesta ini, fenomenanya, sifat-sifatnya, perilakunya, dengan menggunakan
indera yang kita miliki.
Membaca adalah membuka
cakrawala berpikir dengan menemukan hal-hal baru. Informasi-informasi baru.
Ilmu-ilmu baru. Caranya dengan mengaktifkan seluruh panca indera kita yang ada
dan menyerap segala informasi yang dapat dideteksi oleh indera kita itu.
Dalam konteks Islam,
membaca alam semesta adalah sebagai sarana untuk dapat memahami keagungan Allah
sang Pencipta. Dengan kita mampu mendalami wujud keagungan Tuhan Sang Pencipta
akan semakin mendekatkan diri kita kepadaNya. Akan tumbuh rasa kecintaan yang
mendalam sehingga perilaku kita pun akan selalu terjaga dari
perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkanNya.
Kalau kita hayati lagi,
membaca teks tertulis adalah perilaku paling mendasar dari konsep Iqra. Kita
hanya menggunakan indera melihat untuk mendeteksi teks-teks tulisan yang ada
dan menyerapnya ke dalam pikiran jernih kita untuk menjadi ilmu dan informasi
baru. Menjadikan kegiatan membaca teks sebagai kebiasaan akan membentuk
perilaku belajar kita semakin matang. Kebiasaan membaca akan menjadi modal
sangat penting bagi kita mengumpulkan kekayaan ilmu dan pengetahuan dalam
pikiran kita.
Dalam konteks negara dan
pembangunannya, indeks membaca di kalangan penduduknya memberi kontribusi
kepada kualitas sumber daya manusia negara. Semakin tinggi indeks masyarakat
sebuah negara dalam hal membaca, maka negaranya semakin maju. Dengan kata lain,
negara maju memiliki masyarakat yang gemar membaca. Dan negara-negara yang
kurang kemajuannya (negara berkembang) ternyata memiliki masyarakat yang kurang
membaca.
Bagaimana dengan negara
kita, Indonesia? Survei Programme for
International Student Assessment (PISA) pada 2015 misalnya, memposisikan
Indonesia berada di urutan ke-64 dari 72 negara dalam hal tingkat membaca di
kalangan anak-anak Indonesia usia 9 – 14 tahun. PISA melakukan survei atas
kemampuan memahami dan ketrampilan menggunakan bahan-bahan bacaan khususnya
teks dokumen pada anak-anak di seluruh negara dunia.
Selain itu survei Central Connecticut State University
memposisikan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei, hanya
setingkat di atas Botswana. Kajian ini mengurutkan tingkat membaca (literasi)
negara-negara yang disurvei dengan menggunakan beberapa variabel, seperti hasil
PISA, jumlah perpustakaan, sirkulasi surat kabar, sistem pendidikan, dan
ketersediaan komputer.
Dari dua survei di atas
sudah menunjukkan bagaimana posisi level membaca masyarakat Indonesia ketika
disandingkan dengan negara-negara lain di dunia.
Dalam konteks nasional,
bagaimana posisi daerah Aceh dalam hal tingkat membacanya? Dalam sebuah survei
nasional tentang Aktifitas Literasi Membaca (Alibaca) menunjukkan posisi
tingkat membaca masyarakat Aceh pada nomor 21 dari 34 propinsi di Indonesia.
Nilai indeksnya pun masuk kategori rendah yaitu 34,37. Ranking 1 diperoleh oleh
masyarakat DKI Jakarta dengan angka indeks 58,16. Angka ini pun masuk kategori
sedang. Sedangkan kategori tinggi yaitu 60 – 100, tidak ada satupun propinsi
yang mencapainya. Ini artinya, level membaca masyarakat Indonesia masuk
kategori yang tidak baik-baik saja.
Dari hasil survei sudah
terang benderang ada masalah dalam hal kemampuan membaca di kalangan masyarakat
kita baik di Aceh maupun secara skala nasional. Sehingga perlu suatu gerakan
yang total dan menyeluruh untuk dapat memperbaiki keadaan dan meningkatkan
indeks membaca di masyarakat kita. Semua pihak hendaknya ikut terlibat dalam
upaya perbaikan ini. Mulai dari komponen terkecil seperti keluarga, perangkat
desa, kecamatan, sekolah, swasta, penerbit surat kabar, sampai kepada Gubernur.
Perlu ada suatu gerakan
menyeluruh yang mampu membangkitkan kesadaran semua komponen masyarakat bahwa
membaca adalah perilaku penting yang sangat berkontribusi kepada kemajuan
peradaban masyarakat kita. Perilaku gemar membaca perlu dipupuk dan dipelihara
dengan baik. Caranya dengan mengkondisikan bahwa gemar membaca adalah sebuah
perilaku yang mulia. Sebuah perilaku yang wajib dihormati dan diapresiasi
setinggi-tingginya.
Jadi kita semua harus
menempatkan perilaku gemar membaca sebagai perilaku yang sangat terhormat.
Seperti kita misalnya menyambut dan memuliakan tokoh idola yang suatu ketika
datang ke tempat kita. Tentu kita sambut dan melakukan ritual penghormatan yang
meriah. Begitu jugalah hendaknya kemeriahan yang perlu kita pertontonkan kepada
perilaku gemar membaca ini.
Pada level keluarga,
hendaknya di setiap rumah disediakan ruang khusus untuk membaca. Buku-buku
bacaan tersedia juga. Pada level desa terdapat perpustakaan desa yang
representatif dan menarik untuk anak-anak bahkan orang dewasa juga. Apresiasi
perlu selalu ditunjukkan kepada perilaku membaca setiap orang. Khususnya anak-anak
kita, setiap ada inisiatif yang mengarah kepada perilaku membaca hendaknya kita
dukung memberikan fasilitas dan hadiah-hadiah kecil. Untuk satu buku yang tamat
dibaca oleh seorang anak, diberikan insentif tertentu misalnya tiket ke tempat
hiburan, atau tambahan uang jajan yang pantas.
Pada prinsipnya tumbuhkan
suasana yang memberi penghargaan yang tinggi kepada setiap individu yang
melakukan aktifitas membaca. Karena membaca adalah suatu pekerjaan yang mulia
dan dihormati. Beri fasilitas di taman-taman bacaan, terminal, ruang tunggu
suasana yang ramah kepada para pembaca buku.
Penerbit buku dan
suratkabar sebaiknya mendapat insentif khusus dari APBA yang mana insentif itu
dipakai untuk menggalakkan aktifitas membaca masyarakat. Seperti mendukung
distribusi koran gratis sebagai bahan bacaan di tempat-tempat umum. Distribusi
suratkabar dengan harga khusus di sekolah-sekolah. Membuka rubrik-rubrik yang
memberi peluang kepada anak usia sekolah maupun orang dewasa untuk berperan
dalam menulis di halaman koran tersebut. Sehingga interaksi masyarakat pembaca
dengan bahan bacaan dapat terjalin secara timbal balik.
Mengadakan perlombaan dan
sayembara rutin yang berkaitan dengan aktifitas membaca. Perlu dilakukan secara
kerap sehingga akhirnya akan membentuk karakter baru di masyarakat akan
kepedulian yang tinggi kepada aktifitas membaca ini. Sehingga akhirnya dapatlah
diharapkan tumbuhnya kesadaran alami di kalangan masyarakat bahwa perilaku
gemar membaca adalah perilaku yang mulia. Sehingga layak mendapat penghormatan
yang tinggi dari semua kalangan di masyarakat kita.
Sebagaimana layaknya
perbuatan yang mulia, individu yang melaksanakannya pun akan merasa bangga dan
terhormat sekali untuk melakukannya. Tidak akan ada lagi hardikan dari seorang
emak-emak misalnya kepada seorang anaknya yang sedang asik membaca dengan
ucapan: “Asyik membaca saja kamu, sana pergi cuci piring di dapur, banyak lagi
kerjaan rumah yang belum beres. Jangan malas-malasan saja duduk membaca di situ”.***
Banda Aceh, 5 Januari 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar