Telah dimuat di koran Serambi Indonesia edisi 28 November 2020
Siapa
yang tak kenal Hamka. Seorang tokoh besar Islam di Indonesia. Namanya masyhur
di rantau Nusantara ini. Umat Islam di Malaysia, Singapura, Brunei sampai
sekarang tetap mengingat beliau sebagai ulama besar. Buku-bukunya terus dicetak
ulang dan dibaca orang di sana.
Hamka
kita kenal dengan banyak predikat. Ulama, dai, pujangga, sastrawan, pejuang,
dan banyak lagi. Beliau penulis yang sangat produktif. Buku-bukunya mulai dari
bertema roman, religius, pedoman hidup, hingga tafsir Al Quran. Beliau pujangga
Islam dengan buku-bukunya yang melegenda, mulai Di Bawah Lindungan Kabah,
Merantau Ke Deli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Tuan Direktur sampai Di
Dalam Lembah Kehidupan.
Hamka
atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah lahir di tanah Minang pada 14 Februari
1908 tepatnya di desa Kampung Molek, Sumatera Barat. Beliau lahir sebagai putra
seorang ulama Islam berpengaruh, Tuanku Syeikh Abdul Karim bin Amrullah. Tokoh
pembaharu Islam di Minangkabau. Abdul Malik kecil memang sudah diharapkan sang
ayah untuk kelak menjadi ulama juga menggantikan posisi ayahnya.
Sejak
kecil Hamka sudah mengenal nama Aceh. Aceh di benak Hamka adalah sebuah tempat
yang familiar, karena banyak orang di kampungnya yang pergi merantau ke Aceh.
Biasanya ketika pulang dari rantau, mereka suka bercerita tentang Aceh. Tahun
1916 ayah beliau Dr Syeikh Abdul Karim Amrullah pergi ke Aceh, dan berfoto di
depan mesjid raya Baiturrahman bersama orang-orang kampungnya yang tinggal di
Aceh. Sang ayah bercerita, bahwa mesjid megah itu buatan Belanda karena mesjid
yang aslinya sudah dibakar. Lama sekali rakyat tidak mau sembahyang di situ,
karena dianggap harta syubhat. Kisah mesjid raya dan peperangan Aceh dengan
Belanda yang dahsyat itu sangat berbekas di benak Hamka kecil, yang baru
berusia 8 tahun itu.
Akhirnya
Hamka berkesempatan mengunjungi Aceh pertama sekali di tahun 1929 dalam usianya
21 tahun. Hamka baru beberapa bulan menikah. Hamka muda yang sudah mulai tumbuh
matang datang ke Aceh sebagai kader Muhammadiyah. Ketika itu Muhammadiyah
mengadakan Konferensi pertamanya di Sigli. Hamka bertemu dengan pemuka
masyarakat di Aceh yang bersimpati kepada Muhammadiyah, antara lain Teuku
Muhammad Hasan Geulumpang Payong.
Teuku
Hasan adalah tokoh yang paling berkesan di mata Hamka. Jabatannya adalah ambtenaar ter beschlking atau pegawai
tinggi yang diperbantukan di kantor Gubernur Aceh. Teuku Hasan tertarik untuk
memajukan Muhammadiyah di Aceh karena jiwanya telah tersentuh semangat
pembaharuan Islam ketika belajar dulu di Bukit Tinggi. Pada konferensi di Sigli
itu Muhammadiyah mencalonkan Teuku Hasan sebagai konsul pertama Muhammadiyah
untuk daerah Aceh. Sejak itu mereka bersahabat karib.
Kunjungan
Hamka ke Aceh pada tahun 1929 itu mendampingi sang ayah. Mereka berkeliling ke
kota-kota di Aceh melakukan dakwah. Hamka muda digembleng langsung ayahnya
menjadi mubaligh handal. Kota-kota yang mereka singgahi antara lain Bireun,
Lhok Seumawe, Panton Labu, Kuala Simpang dan Langsa. Masyarakat Aceh sangat
antusias mengikuti dakwah mereka. Bahkan ketika di Bireun, datang masyarakat
dari Takengon meminta mereka berceramah di sana.
Di
Lhok Seumawe Hamka dan ayahnya berdakwah di gedung bioskop. Tabligh akbar tidak
hanya dihadiri masyarakat umum, namun juga beberapa zelfbestuur (uleebalang) setempat. Ceramah ayah Hamka sangat
menyentuh, sehingga ada uleebalang yang sampai menangis tersedu-sedu. Syeikh
Abdul Karim Amrullah berpidato, menjadi raja atau uleebalang adalah memikul
tanggung-jawab. Yang paling utama adalah tanggung-jawab kepada Allah.
Di
Lhok Seumawe ini juga Hamka berkenalan dengan Teungku Abdul Jalil, yang di
kemudian hari membuat sejarah ketika beliau memberontak melawan pendudukan
Jepang. Teungku Abdul Jalil sempat mengajukan pertanyaan khusus kepada Hamka,
sepertinya untuk menguji. Dan Hamka berhasil menjawabnya dengan lancar. Pada
tahun 1942, Teungku Abdul Jalil ulama pertama yang menentang Jepang secara
terbuka. Dalam ceramah-ceramahnya Teungku Abdul Jalil mengatakan Jepang itu
kafir, setan laknatullah. Kita wajib melawannya. Beliau syahid di Bayu di dayah
miliknya sebagai syuhada pembela bangsa dan agama.
Dalam
perjalanan dari Lhok Seumawe ke Pangkalan Berandan, Hamka dan sang ayah secara
kebetulan bertemu dengan Teuku Chik Muhammad Thayeb uleebalang Peureulak. Bus
yang mereka tumpangi kecelakaan, dan kebetulan sekali Teuku Chik Thayeb
melintas di jalan yang sama. Beliau pun mengulurkan bantuannya, membantu
menghantar Hamka dan ayah ke tempat tujuan yaitu Pangkalan Berandan. Teuku Chik
Thayeb adalah uleebalang berwibawa yang teguh harga dirinya. Beliau pernah
menampar kontelir Belanda karena sebuah perselisihan, yang akhirnya menyebabkan
beliau dibuang ke Batavia. Hamka bersahabat karib dengan anak-anak beliau,
yaitu Teuku Syarif Thayeb (kemudian hari menjadi menteri Pendidiikan dan
Kebudayaan) dan Teuku Hadi Thayeb yang pernah pula jadi Gubernur Aceh tahun
1980-an.
Lawatan
kedua Hamka ke Aceh berlangsung pada tahun 1936. Hamka sudah jadi mubaligh yang
handal pada usianya 28 tahun. Hamka menetap di Medan memimpin majalah Islam
mingguan Pedoman Masyarakat. Tulisan-tulisan Hamka di majalah menggugah banyak
orang, termasuk sampai ke Aceh. Pada Idul Adha tahun 1936 itu Hamka diundang
jadi imam dan khatib shalat Id di Lapangan Blang Padang Kutaraja.
Di
sini Hamka kembali bertemu dan berdiskusi intens dengan tokoh-tokoh Aceh
terkemuka. Hamka berjumpa dengan Teuku Nyak Arif, Teuku Cut Hasan Meuraxa dan
lain-lain. Beliau sempat pula mengunjungi Teuku Panglima Polem Muhammad Daud
sang pahlawan Aceh yang gigih berperang melawan Belanda ketika muda dulu. Hamka
bersahabat karib dengan anaknya Teuku Panglima Polem Muhammad Ali.
Kunjungan
di tahun 1936 itu menjadi tonggak penting, karena sangat berkesan bagi
masyarakat Aceh dan diri Hamka sendiri. Tahun-tahun berikutnya Hamka
berulangkali diundang datang ke Aceh. Sahabat karibnya Teuku Muhammad Hasan
Geulumpang Payong kerap mengundang Hamka ke rumahnya jika Hamka ke Aceh. Di
mata Hamka, tokoh Aceh ini sangat besar perhatiannya kepada Muhammadiyah. Dan
beliau selalu mengamalkan ajaran agama dalam kesehariannya sesuai dengan fatwa
Majelis Tarjih.
Perjumpaan
pertama Hamka dengan tokoh besar Aceh lainnya Teungku Muhammad Daud Bereueh berlangsung
di kediaman Teuku Hasan di Teupin Raya. Ketika itu tuan rumah menghelat sebuah
musyawarah besar ulama-ulama Aceh.
Ketika
Teungku Daud Bereueh dan para ulama Aceh mendirikan PUSA (Persatuan Ulama
Seluruh Aceh) di tahun 1939, Hamka turut hadir. Beliau sebagai wakil
Muhammadiyah bersama Teuku Hasan mendukung penuh Kongres PUSA, karena memiliki
semangat pembaharuan Islam yang sama. Walau akhirnya kemudian terjadi pertentangan
tajam secara politik antara tokoh di dalam kedua organisasi Islam tersebut.
Hamka selalu bersikap netral, karena tetap menjadikan Muhammadiyah organisasi
dakwah yang non-politik.
Pergaulannya
yang rapat dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Aceh telah membuka mata batinnya
tentang dinamika pergumulan amalan ajaran Islam di Aceh. Beliau menyaksikan
sendiri bagaimana Islam menjadi amalan keseharian di kalangan masyarakat Aceh
di segala strata sosial.
Semua
kisah ini ditulis Hamka dalam majalah Panji Masyarakat edisi Februari 1981, hanya
5 bulan sebelum beliau wafat pada 24 Juli 1981. Tulisan bertajuk
‘Kenang-kenangan di Aceh’ itu sangat penting bagi kita di Aceh. Isinya menjadi
warisan tak ternilai bagi kita dalam merefleksi pandangan orang luar bagaimana
Aceh di mata mereka pada rentang zaman tersebut. Ini dapat membantu kita untuk
lebih memahami identitas diri kita, dan dapat mengambil iktibar darinya untuk
mengatur sikap yang semestinya.
Banda Aceh, 23 November 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar