Rabu, 14 Juli 2021

SM Amin: Pahlawan Nasional

Telah dimuat di koran Serambi Indonesia edisi 9 November 2020

Sudah menjadi tradisi di setiap peringatan Hari Pahlawan 10 November pemerintah menetapkan penganugerahan kepada sejumlah tokoh yang telah berjasa kepada negara dengan berbagai penghargaan. Seperti penganugerahan Bintang Mahaputra, Bintang Satya Lencana dan lain-lain. Penghargaan yang paling tinggi adalah penetapan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional.

Di tahun 2020 kali ini salahsatu tokoh yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional adalah Sutan Muhammad Amin Nasution alias SM Amin. Tokoh yang agak terlupakan di blantika kesejarahan nasional. Namun, SM Amin adalah tokoh yang sangat erat sepak terjang perjuangannya dengan Aceh.

Lahir di LhokNga Aceh Besar tepatnya di Krueng Raba pada 22 Februari 1904, beliau adalah putra Tapanuli yang membesar sebagai putra Aceh. Namun sejak muda beliau telah hidup berpindah-pindah dan menempuh pendidikan di banyak tempat. Pendidikan dasar ELS di Sabang, kemudian MULO dan STOVIA di Batavia serta AMS di Jogjakarta. Pendidikan tinggi di bidang hukum ditempuhnya di Batavia.

Sebagai seorang pemuda yang berjiwa heroik dan memiliki semangat kebangsaan yang menyala-nyala, beliau hadir pada Kongres Sumpah Pemuda II 28 Oktober 1928 di Batavia atau Jakarta sekarang. Beliau seorang pemuda yang sangat aktif dalam organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB). Organisasi tempat berhimpun cendekiawan dan penggagas nasionalisme Indonesia dari Sumatera.

Jiwa kebangsaannya tumbuh subur di masa tersebut dan diaktualisasikannya dengan bergabung pada berbagai organisasi seperti Jong Islamienten Bond dan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Juga sudah aktif menulis di surat kabar Jong Sumatera dan Indonesia Raya untuk mengasah kepekaannya dalam dunia pergerakan kemerdekaan di kalangan pemuda ketika itu.

Setamat pendidikan tinggi di bidang hukum beliau menyabet gelar Mr dan berhak menyandang nama Mr SM Amin. Karir cemerlang sebagai pegawai kolonial Belanda menanti di depan mata. Namun beliau menampiknya. Jiwa nasionalisnya lebih kental, sehingga beliau memutuskan pulang ke Aceh dan berbakti sebagai pengacara rakyat alias pokrol bambu membela rakyat yang terjerat masalah hukum di Kutaraja. Beliau dikenal sebagai pengacara yang jujur, bertanggung-jawab, berani membela kebenaran, arif dan bijaksana.

Di zaman Jepang, beliau menjadi direktur Sekolah Menengah di Kutaraja. Dan berperan dalam menggembleng kader kader muda Aceh dan menanamkan jiwa cinta tanah air dan nilai-nilai kebangsaan.

Ketika zaman awal kemerdekaan, beliau turut mengambil peran penting. Bersama-sama tokoh Aceh lainnya seperti Teuku Nyak Arif, Tengku Daud Beureu-eh, Sjammaun Gaharu dan lain-lain, beliau menjadi salahsatu tokoh sentral yang memainkan peranan di pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri itu.

Berbagai jabatan prestisius disandang ketika masa-masa genting perjuangan kemerdekaan RI di Aceh. Masa awal kemerdekaan 1945 beliau memegang jabatan Kepala Kehakiman RI Daerah Aceh. Berbagai peran yang beliau mainkan dalam politik ketika itu menjadi sumbangsih besar beliau kepada terbangunnya pemerintahan RI yang berwibawa.

Pada 19 Juni 1948 beliau menjadi satu-satunya gubernur kala itu yang dilantik langsung oleh Presiden Sukarno sebagai Gubernur Sumatera Utara yang pertama. Pelantikan berlangsung di Kutaraja dan sekaligus menjadi ibukota Propinsi Sumatera Utara ketika itu. Pelantikan turut dihadiri oleh Tengku Muhammad Daud Beureu-eh, tokoh yang setahun kemudian diangkat menjadi Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo.

Ketokohan SM Amin sangat sentral ketika konflik politik merebak di Aceh. Tahun 1953 timbul kegaduhan DI/TII yang dikomandoi oleh Tgk Muhammad Daud Beureu-eh. Pada dasarnya salahsatu penyebab adalah kebijakan pemerintah pusat yang melebur kembali  Propinsi Aceh ke dalam Propinsi Sumatera Utara. Hal ini menjadi luka yang dalam bagi rakyat Aceh.

SM Amin dipercaya oleh pemerintah pusat untuk meredam api kekecewaan rakyat Aceh ini, dengan dilantik kembali menjadi Gubernur Sumut menggantikan A. Hakim yang berkedudukan di Medan.  Beliau dianggap tokoh yang paling memahami persoalan Aceh dan dapat menjadi jembatan penghubung antara pemerintah pusat di Jakarta dengan aspirasi murni rakyat Aceh.

Kita tahu bahwa dalam masa pasca revolusi pergolakan politik begitu masif di berbagai daerah di Indonesia. Terlebih lagi di Aceh yang begitu dalam konfliknya. Itu dapat dianggap sebagai sebuah proses pencarian bentuk yang ideal tentang format kenegaraan Indonesia. Suatu proses pematangan berpolitik kebangsaan bagi negara baru Indonesia.

Di sela-sela pengabdiannya, SM Amin cukup rajin menulis. Banyak buku yang ditulisnya dan diterbitkan. Terdapat beberapa buku yang membahas perannya dalam menangani kemelut politik di Aceh. Buku-bukunya antara lain seperti Kenang-Kenangan di Masa Lampau, Atjeh Sepintas Lalu, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh. Jabatan politik yang terakhir disandangnya adalah menjadi Gubernur Riau pada tahun 1958. Masa tuanya lebih dipenuhi dengan aktifitas menulis. Beliau wafat di Jakarta pada 16 April tahun 1993 dalam usia 89 tahun.

Dan kini itu semua sudah menjadi sejarah. Kita patut belajar dari sejarah untuk dapat melihat bagaimana perjalanan bangsa ini menapaki masa depannya. Tokoh SM Amin patut dijadikan teladan sebagai tokoh yang begitu cinta akan tanah airnya. Rasa kebangsaannya tidak disangsikan lagi. Beliau begitu tulus berjuang membela tegaknya pemerintah Negara Kesatuan RI dan tetap teguh berdiri membela keyakinannya itu. Dengan cara menjalankan tugas dan tanggung-jawabnya sebagai pejabat pemerintah yang diamanahkan kepada beliau. Terbukti bagaimana beliau dengan sekuat tenaga mencurahkan pikirannya untuk memecahkan persoalan politik Aceh ketika itu yang sangat genting dan krusial.

Penganugerahan Pahlawan Nasional kepada SM Amin tidak semata-mata didasarkan pada peran beliau di masa mudanya sebagai tokoh pemuda Jong Sumatera yang hadir pada Kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Namun kiprah beliau yang panjang selama hidupnya dalam mengabdikan dirinya sebagai tokoh pejuang tanpa pamrih demi tegaknya negara Republik Indonesia menjadi bukti kelayakan beliau mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Momen peringatan Hari Pahlawan sangat tepat dijadikan sebagai bahan renungan kepada kaum milenial akan pentingnya mengingat sejarah perjuangan bangsa. Bagi kita di Aceh lebih-lebih lagi. Momen tahun ini dapat dijadikan ingatan kepada kita bahwa salahsatu tokoh pergerakan di daerah ini yaitu SM Amin telah dianugerahi Pahlawan Nasional oleh pemerintah pusat. Ini menunjukkan bahwa peranan yang dimainkan oleh tokoh daerah tetap mendapat apreasiasi yang layak setara dengan tokoh nasional lainnya.

Dan ini dapat menjadi inspirasi penyemangat kepada kita untuk mengangkat tokoh-tokoh lainnya di Aceh yang seperjuangan dengan beliau. Tokoh-tokoh yang berkiprah di masa revolusi di Aceh cukup banyak juga yang layak untuk diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Seperti Sjammaun Gaharu, Ali Hasjmy, dan lain-lain. Peran yang mereka mainkan setara dengan peran SM Amin lakoni sebagai tokoh pejuang kemerdekaan RI di tanah Aceh ketika zaman revolusi tersebut.

Sehingga jika banyak lagi tokoh Aceh zaman revolusi 1945 mendapat apresiasi sebagai Pahlawan Nasional maka ini dapat dijadikan momentum pemicu kesadaran kepada kaum muda Aceh untuk lebih memahami dan mengerti akan sejarah pergerakan nasional di daerah Aceh. Semoga. ***

Banda Aceh, 5 November 2020 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...