Telah dimuat di harian Waspada edisi Selasa, 11 November 2025
Di dunia akademik
yang semestinya menjunjung tinggi keterbukaan dan kolaborasi, justru terdapat
paradoks yang memerangkap para ilmuwan. Sains yang lahir dari rasa ingin tahu
dan semangat berbagi kini sering dikunci di balik tembok berbayar milik
perusahaan penerbit besar. Para peneliti menulis, meninjau, dan mempublikasikan
hasil riset tanpa bayaran, tetapi untuk membaca hasil riset rekan sejawat,
mereka harus membayar mahal — bahkan di kampus negeri sekalipun.
Fenomena ini
disebut banyak orang sebagai “krisis
akses ilmu pengetahuan”, sebuah kondisi ketika hasil penelitian
publik—yang didanai pajak rakyat—tidak dapat diakses secara bebas oleh publik
itu sendiri. Penerbit besar seperti Elsevier, Springer, Wiley, dan Taylor &
Francis menguasai pasar publikasi ilmiah global, mengantongi miliaran dolar
setiap tahun dari langganan universitas dan lembaga penelitian. Mereka
mengontrol pintu masuk pengetahuan: siapa yang boleh membaca, kapan, dan dengan
harga berapa.
Bagi peneliti di
negara maju, langganan jurnal mungkin tidak menjadi masalah karena ditanggung
oleh universitas. Namun, bagi peneliti di negara berkembang seperti Indonesia,
India, atau Afrika, tembok paywall itu menjadi penghalang nyata. Ribuan makalah
mutakhir tentang material baru, bioteknologi, atau energi terbarukan terkunci
di balik tombol “Purchase PDF for $35”. Pengetahuan menjadi komoditas, bukan
warisan bersama umat manusia.
Di tengah sistem
yang tampak mapan itu, seorang perempuan muda dari Kazakhstan muncul membawa
panah perlawanan: Alexandra Elbakyan.
Lahir tahun 1988 di Almaty, Elbakyan menempuh studi di bidang neuroscience dan
informatika. Ketika sedang menulis penelitian, ia frustrasi karena tidak bisa
mengakses jurnal yang dibutuhkan. Ia bukan peneliti kaya dari universitas
ternama, melainkan mahasiswa biasa yang mencintai ilmu. Dari pengalaman itulah,
pada tahun 2011, ia menciptakan situs sederhana yang kelak mengguncang industri
penerbitan ilmiah: Sci-Hub.
Ilmu Pengetahuan
untuk Semua
Sci-Hub bekerja
seperti perpustakaan bayangan. Pengguna hanya perlu memasukkan DOI atau tautan
artikel, dan dalam hitungan detik, makalah ilmiah muncul di layar — tanpa
biaya. Di balik kesederhanaannya, Sci-Hub menjalankan mekanisme kompleks yang
secara otomatis menembus paywall penerbit menggunakan kredensial universitas
yang dibagikan secara anonim oleh peneliti di seluruh dunia.
Ketika makalah berhasil
diunduh, Sci-Hub menyimpannya ke dalam basis data internal dan membagikannya ke
jaringan Library Genesis (LibGen),
sehingga artikel tersebut dapat diakses siapa pun, kapan pun, tanpa harus
“membobol” ulang. Kini, lebih dari 88
juta makalah ilmiah tersimpan di server Sci-Hub — menjadikannya salah
satu repositori pengetahuan terbesar dalam sejarah manusia.
Tentu saja, para
penerbit besar menyebutnya ilegal. Alexandra Elbakyan telah beberapa kali
dituntut di pengadilan Amerika Serikat. Domain Sci-Hub kerap disita, servernya
diblokir, dan Elbakyan dijatuhi denda jutaan dolar. Namun, setiap kali satu
domain ditutup, domain lain muncul, dan para peneliti terus membagikan tautan
baru lewat media sosial atau kanal Telegram. Fenomena ini memperlihatkan bahwa
perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak adil tak bisa dihentikan hanya
dengan gugatan hukum.
Antara Etika dan
Keadilan
Apakah Sci-Hub
sekadar bentuk pembajakan digital? Atau justru bentuk keadilan sosial dalam
dunia ilmu pengetahuan?
Dalam wawancara
dengan Nature pada 2016, Elbakyan menjawab tegas: “To remove paywalls
is not piracy — it’s liberation.” Baginya, Sci-Hub bukan mencuri, melainkan
membebaskan ilmu pengetahuan dari
monopoli. Ia berangkat dari keyakinan filosofis bahwa knowledge
belongs to humanity — pengetahuan adalah milik seluruh umat manusia, bukan
milik korporasi.
Di sisi lain,
penerbit besar berdalih bahwa mereka menyediakan infrastruktur, sistem peer
review, dan kualitas publikasi yang tidak murah. Namun, kritik baliknya jelas:
sebagian besar pekerjaan akademik dilakukan sukarela oleh ilmuwan sendiri, dan
biaya publikasi (article processing charges) untuk open access kadang
mencapai ribuan dolar. Sistem ini, menurut para pengkritik, menjadikan
pengetahuan sebagai ladang bisnis eksklusif — di mana publik membayar dua kali:
pertama untuk mendanai riset, kedua untuk membacanya.
Dalam konteks ini,
Alexandra Elbakyan sering dijuluki “Robin Hood of Science” — sosok yang mencuri dari yang kaya
untuk memberi ke yang miskin, tapi dalam bentuk pengetahuan, bukan uang. Ia
meretas bukan demi keuntungan pribadi, tetapi untuk mengembalikan sains ke
tujuannya yang paling murni: membebaskan manusia dari ketidaktahuan.
Pahlawan di Selatan
Global
Bagi banyak
peneliti di dunia selatan — termasuk Indonesia — Sci-Hub bukan sekadar situs,
melainkan penyelamat. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi,
dosen muda yang menulis jurnal internasional, hingga peneliti yang bekerja di
laboratorium kecil tanpa akses berbayar, semuanya pernah terbantu olehnya.
Tanpa Sci-Hub,
mungkin sebagian besar riset dari universitas di Asia atau Afrika tidak akan
pernah selesai, apalagi bersaing di panggung global. Ia menjadi simbol keadilan epistemik gagasan bahwa semua
manusia berhak atas kesempatan yang sama untuk memperoleh dan memproduksi
pengetahuan.
Namun, ada ironi di
balik kekaguman itu. Banyak yang diam-diam menggunakan Sci-Hub tetapi enggan
mengakuinya secara terbuka karena tekanan institusi dan etika hukum. Ia menjadi
semacam rahasia umum di kalangan akademisi: semua tahu, semua memakai, tapi
sedikit yang berani membela.
Paradigma yang
Mulai Bergeser
Terlepas dari
kontroversinya, Sci-Hub telah mengguncang fondasi sistem publikasi ilmiah
global. Sejak kemunculannya, gelombang gerakan Open Access menguat.
Banyak penerbit terpaksa membuka sebagian koleksinya secara gratis atau
mempercepat transisi ke model publikasi terbuka. Pemerintah di Eropa bahkan
mulai mewajibkan bahwa hasil riset yang didanai publik harus tersedia secara
bebas (Plan S Initiative).
Artinya, Sci-Hub
telah memaksa industri besar untuk menatap cermin dan bertanya: apakah
bisnis mereka benar-benar sejalan dengan misi ilmu pengetahuan itu sendiri?
Perlawanan Elbakyan
mungkin dianggap ilegal, tapi dampaknya nyata. Ia telah mengubah cara dunia
berbicara tentang akses terhadap pengetahuan. Bahkan mereka yang menentangnya
pun harus mengakui bahwa Sci-Hub mempercepat lahirnya kesadaran baru tentang
pentingnya keterbukaan ilmiah.
Antara Keberanian
dan Moralitas
Alexandra Elbakyan
hidup dalam pelarian digital. Ia tidak bisa bepergian bebas, tidak bisa tampil
di konferensi, dan selalu berada di bawah ancaman hukum internasional. Namun
dari balik layar komputernya, ia menginspirasi jutaan orang. Dalam salah satu
esainya, ia menulis: “If I disappear tomorrow, Sci-Hub will still live,
because it belongs to everyone who believes knowledge should be free.”
Kalimat itu
terdengar seperti pesan terakhir seorang idealis yang menolak tunduk pada
kekuasaan. Ia mungkin melanggar hukum, tapi juga menegakkan sesuatu yang lebih
tinggi dari hukum: hak manusia untuk
tahu.
Maka, ketika kita
menyebut Alexandra Elbakyan sebagai “Robin Hood di belantara ilmu pengetahuan”,
kita tidak sedang memuji tindakannya mencuri, tetapi menghormati keberaniannya
mempertanyakan sistem yang telah terlalu lama dianggap wajar. Ia menunjukkan
bahwa di balik setiap file PDF yang terbuka gratis di layar, tersimpan
perjuangan moral tentang siapa yang berhak atas pengetahuan - dan untuk apa
pengetahuan itu seharusnya ada.***
Banda Aceh, 6 November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar