Selasa, 18 November 2025

Robin Hood di Belantara Ilmu


Telah dimuat di harian Waspada edisi Selasa, 11 November 2025

Di dunia akademik yang semestinya menjunjung tinggi keterbukaan dan kolaborasi, justru terdapat paradoks yang memerangkap para ilmuwan. Sains yang lahir dari rasa ingin tahu dan semangat berbagi kini sering dikunci di balik tembok berbayar milik perusahaan penerbit besar. Para peneliti menulis, meninjau, dan mempublikasikan hasil riset tanpa bayaran, tetapi untuk membaca hasil riset rekan sejawat, mereka harus membayar mahal — bahkan di kampus negeri sekalipun.

Fenomena ini disebut banyak orang sebagai krisis akses ilmu pengetahuan”, sebuah kondisi ketika hasil penelitian publik—yang didanai pajak rakyat—tidak dapat diakses secara bebas oleh publik itu sendiri. Penerbit besar seperti Elsevier, Springer, Wiley, dan Taylor & Francis menguasai pasar publikasi ilmiah global, mengantongi miliaran dolar setiap tahun dari langganan universitas dan lembaga penelitian. Mereka mengontrol pintu masuk pengetahuan: siapa yang boleh membaca, kapan, dan dengan harga berapa.

Bagi peneliti di negara maju, langganan jurnal mungkin tidak menjadi masalah karena ditanggung oleh universitas. Namun, bagi peneliti di negara berkembang seperti Indonesia, India, atau Afrika, tembok paywall itu menjadi penghalang nyata. Ribuan makalah mutakhir tentang material baru, bioteknologi, atau energi terbarukan terkunci di balik tombol “Purchase PDF for $35”. Pengetahuan menjadi komoditas, bukan warisan bersama umat manusia.

Di tengah sistem yang tampak mapan itu, seorang perempuan muda dari Kazakhstan muncul membawa panah perlawanan: Alexandra Elbakyan. Lahir tahun 1988 di Almaty, Elbakyan menempuh studi di bidang neuroscience dan informatika. Ketika sedang menulis penelitian, ia frustrasi karena tidak bisa mengakses jurnal yang dibutuhkan. Ia bukan peneliti kaya dari universitas ternama, melainkan mahasiswa biasa yang mencintai ilmu. Dari pengalaman itulah, pada tahun 2011, ia menciptakan situs sederhana yang kelak mengguncang industri penerbitan ilmiah: Sci-Hub.

Ilmu Pengetahuan untuk Semua

Sci-Hub bekerja seperti perpustakaan bayangan. Pengguna hanya perlu memasukkan DOI atau tautan artikel, dan dalam hitungan detik, makalah ilmiah muncul di layar — tanpa biaya. Di balik kesederhanaannya, Sci-Hub menjalankan mekanisme kompleks yang secara otomatis menembus paywall penerbit menggunakan kredensial universitas yang dibagikan secara anonim oleh peneliti di seluruh dunia.

Ketika makalah berhasil diunduh, Sci-Hub menyimpannya ke dalam basis data internal dan membagikannya ke jaringan Library Genesis (LibGen), sehingga artikel tersebut dapat diakses siapa pun, kapan pun, tanpa harus “membobol” ulang. Kini, lebih dari 88 juta makalah ilmiah tersimpan di server Sci-Hub — menjadikannya salah satu repositori pengetahuan terbesar dalam sejarah manusia.

Tentu saja, para penerbit besar menyebutnya ilegal. Alexandra Elbakyan telah beberapa kali dituntut di pengadilan Amerika Serikat. Domain Sci-Hub kerap disita, servernya diblokir, dan Elbakyan dijatuhi denda jutaan dolar. Namun, setiap kali satu domain ditutup, domain lain muncul, dan para peneliti terus membagikan tautan baru lewat media sosial atau kanal Telegram. Fenomena ini memperlihatkan bahwa perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak adil tak bisa dihentikan hanya dengan gugatan hukum.

Antara Etika dan Keadilan

Apakah Sci-Hub sekadar bentuk pembajakan digital? Atau justru bentuk keadilan sosial dalam dunia ilmu pengetahuan?

Dalam wawancara dengan Nature pada 2016, Elbakyan menjawab tegas: “To remove paywalls is not piracy — it’s liberation.” Baginya, Sci-Hub bukan mencuri, melainkan membebaskan ilmu pengetahuan dari monopoli. Ia berangkat dari keyakinan filosofis bahwa knowledge belongs to humanity — pengetahuan adalah milik seluruh umat manusia, bukan milik korporasi.

Di sisi lain, penerbit besar berdalih bahwa mereka menyediakan infrastruktur, sistem peer review, dan kualitas publikasi yang tidak murah. Namun, kritik baliknya jelas: sebagian besar pekerjaan akademik dilakukan sukarela oleh ilmuwan sendiri, dan biaya publikasi (article processing charges) untuk open access kadang mencapai ribuan dolar. Sistem ini, menurut para pengkritik, menjadikan pengetahuan sebagai ladang bisnis eksklusif — di mana publik membayar dua kali: pertama untuk mendanai riset, kedua untuk membacanya.

Dalam konteks ini, Alexandra Elbakyan sering dijuluki Robin Hood of Science — sosok yang mencuri dari yang kaya untuk memberi ke yang miskin, tapi dalam bentuk pengetahuan, bukan uang. Ia meretas bukan demi keuntungan pribadi, tetapi untuk mengembalikan sains ke tujuannya yang paling murni: membebaskan manusia dari ketidaktahuan.

Pahlawan di Selatan Global

Bagi banyak peneliti di dunia selatan — termasuk Indonesia — Sci-Hub bukan sekadar situs, melainkan penyelamat. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi, dosen muda yang menulis jurnal internasional, hingga peneliti yang bekerja di laboratorium kecil tanpa akses berbayar, semuanya pernah terbantu olehnya.

Tanpa Sci-Hub, mungkin sebagian besar riset dari universitas di Asia atau Afrika tidak akan pernah selesai, apalagi bersaing di panggung global. Ia menjadi simbol keadilan epistemik gagasan bahwa semua manusia berhak atas kesempatan yang sama untuk memperoleh dan memproduksi pengetahuan.

Namun, ada ironi di balik kekaguman itu. Banyak yang diam-diam menggunakan Sci-Hub tetapi enggan mengakuinya secara terbuka karena tekanan institusi dan etika hukum. Ia menjadi semacam rahasia umum di kalangan akademisi: semua tahu, semua memakai, tapi sedikit yang berani membela.

Paradigma yang Mulai Bergeser

Terlepas dari kontroversinya, Sci-Hub telah mengguncang fondasi sistem publikasi ilmiah global. Sejak kemunculannya, gelombang gerakan Open Access menguat. Banyak penerbit terpaksa membuka sebagian koleksinya secara gratis atau mempercepat transisi ke model publikasi terbuka. Pemerintah di Eropa bahkan mulai mewajibkan bahwa hasil riset yang didanai publik harus tersedia secara bebas (Plan S Initiative).

Artinya, Sci-Hub telah memaksa industri besar untuk menatap cermin dan bertanya: apakah bisnis mereka benar-benar sejalan dengan misi ilmu pengetahuan itu sendiri?

Perlawanan Elbakyan mungkin dianggap ilegal, tapi dampaknya nyata. Ia telah mengubah cara dunia berbicara tentang akses terhadap pengetahuan. Bahkan mereka yang menentangnya pun harus mengakui bahwa Sci-Hub mempercepat lahirnya kesadaran baru tentang pentingnya keterbukaan ilmiah.

Antara Keberanian dan Moralitas

Alexandra Elbakyan hidup dalam pelarian digital. Ia tidak bisa bepergian bebas, tidak bisa tampil di konferensi, dan selalu berada di bawah ancaman hukum internasional. Namun dari balik layar komputernya, ia menginspirasi jutaan orang. Dalam salah satu esainya, ia menulis: “If I disappear tomorrow, Sci-Hub will still live, because it belongs to everyone who believes knowledge should be free.”

Kalimat itu terdengar seperti pesan terakhir seorang idealis yang menolak tunduk pada kekuasaan. Ia mungkin melanggar hukum, tapi juga menegakkan sesuatu yang lebih tinggi dari hukum: hak manusia untuk tahu.

Maka, ketika kita menyebut Alexandra Elbakyan sebagai “Robin Hood di belantara ilmu pengetahuan”, kita tidak sedang memuji tindakannya mencuri, tetapi menghormati keberaniannya mempertanyakan sistem yang telah terlalu lama dianggap wajar. Ia menunjukkan bahwa di balik setiap file PDF yang terbuka gratis di layar, tersimpan perjuangan moral tentang siapa yang berhak atas pengetahuan - dan untuk apa pengetahuan itu seharusnya ada.***

Banda Aceh, 6 November 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...