Jumat, 07 November 2025

Amal Jariah di Era Digital


Telah dimuat pada harian Rakyat Aceh edisi Jumat 7 November 2025

Dalam kegiatan keseharian di era digital saat ini, kita tidak pernah terlepas dengan pemakaian QR Code atau Quick Response Code, yang berarti kode respon cepat. Kode jenis batang dua dimensi yang dapat menyimpan informasi dan dapat dibaca dengan cepat oleh pemindai (scanner), seperti kamera HP. Teknologi ini begitu luas pemakaiannya, mulai dari pembayaran non-tunai, hingga pelacakan logistik, dan telah merasuk jauh ke hampir seluruh lini aktifitas manusia. Siapakah penemunya?

 

Dalam setiap kemajuan teknologi, selalu ada manusia di baliknya - bukan sekadar insinyur atau ilmuwan, tetapi sosok dengan nilai, keyakinan, dan nurani. Adalah Masahiro Hara, insinyur asal Jepang yang menciptakan QR Code, sebuah inovasi sederhana yang kini menjadi nadi kehidupan digital dunia. Namun ada hal yang menarik yang bukan hanya sekedar kecerdasannya, melainkan keputusan moral yang diambilnya: ia memilih tidak mematenkan QR Code, membiarkannya digunakan bebas oleh siapa pun di seluruh dunia.

 

Keputusan ini tampak kecil, tetapi sesungguhnya sangat besar dalam makna. Dalam sistem ekonomi modern yang dibangun di atas logika paten dan hak eksklusif, langkah Hara dan Denso Wave perusahaan tempat dirinya bekerja dalam mengembangkan temuannya ini, adalah antitesis terhadap semangat kapitalistik yang menempatkan kepemilikan di atas kemanfaatan. Ia tidak menuntut royalti, tidak menimbun keuntungan, dan tidak menjadikannya sebagai ladang uang atas temuannya ini.

 

Hara berpegang pada satu pandangan sederhana: teknologi yang baik adalah teknologi yang memudahkan hidup manusia. Dalam wawancaranya, ia bahkan mengatakan, “Yang membuat saya bahagia adalah melihat teknologi ini digunakan oleh semua orang.” Sebuah pernyataan yang berakar dari ketulusan, dan jika dibaca dari kacamata nilai-nilai Islam, sesungguhnya mengandung makna keikhlasan dan amal jariah.

 

Nilai Islam dalam tindakan tanpa label

 

Islam menempatkan niat dan manfaat sebagai tolok ukur utama sebuah amal. Nabi Muhammad SAW bersabda,”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad) 

 

Jika kita menafsirkan sabda ini secara kontekstual, maka Masahiro Hara -meski bukan seorang Muslim- telah mengamalkan esensinya. Ia menciptakan sesuatu yang terus memberi manfaat bagi umat manusia, dari hari ke hari, bahkan mungkin hingga berabad-abad mendatang. Itu adalah bentuk amal jariah teknologi: pahala kebaikan yang terus mengalir, karena manfaatnya tak pernah berhenti. 

 

Islam juga mengajarkan bahwa ilmu dan pengetahuan adalah amanah, bukan sekadar komoditas. Ketika seseorang menemukan sesuatu, ia tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memikul tanggung jawab moral untuk memastikan penemuannya membawa kebaikan. Prinsip ini dikenal dalam etika Islam sebagai maslahah al-‘ammah - kemanfaatan umum yang lebih utama daripada kepentingan pribadi. 

 

Hara mungkin tidak mengenal istilah itu, tapi tindakannya mencerminkan maknanya secara sempurna. Dengan menolak paten, ia memastikan kemaslahatan QR Code menjadi milik umat manusia, bukan milik perusahaan atau individu tertentu. Ia menolak menukar keberkahan sosial dengan keuntungan pribadi. Dalam kerangka Islam, ini adalah wujud nyata dari al-ihsan - berbuat baik melebihi yang diwajibkan.

 

Paradigma kepemilikan dan amanah

 

Dalam pandangan Islam, harta dan ilmu bukanlah milik mutlak manusia. Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 7: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.” 

 

Ayat ini menegaskan bahwa segala bentuk kepemilikan - termasuk hasil karya dan pengetahuan - adalah titipan. Maka ketika seseorang berbagi temuannya untuk kepentingan bersama, ia sejatinya sedang mengembalikan titipan itu kepada Sang Pemilik Sejati. 

 

Masahiro Hara berperilaku seolah memahami konsep ini. Ia tidak melihat temuannya sebagai “hak” yang harus dijaga dengan pagar hukum, melainkan sebagai “amanah” yang akan lebih berguna bila dibagikan. Dalam dunia yang dikuasai oleh paten dan royalti, keputusan itu adalah bentuk zuhud modern - melepaskan keterikatan pada materi demi nilai yang lebih tinggi: kemaslahatan manusia.

 

Kapitalisme pengetahuan dan spiritualitas keterbukaan

 

Kisah Hara juga menjadi kritik lembut terhadap sistem global yang menjadikan pengetahuan sebagai komoditas. Dalam kapitalisme pengetahuan, ide adalah aset, dan akses ditentukan oleh kekuatan finansial. Namun ketika Denso Wave membuka QR Code untuk publik, dunia justru melihat ledakan inovasi: pembayaran digital, pelacakan logistik, sertifikat vaksin, hingga sistem transportasi cerdas. 

 

Artinya, keterbukaan justru melahirkan kemajuan yang lebih besar daripada eksklusivitas. Inilah sejalan dengan nilai Islam yang menekankan ta‘awun (saling tolong-menolong) dan tabarru‘ (memberi tanpa pamrih).  Keterbukaan pengetahuan bukanlah kehilangan, tapi pembagian rezeki dalam bentuk lain - rezeki berupa kebermanfaatan yang tak terukur nilainya.

 

Menghidupkan nilai Islam di luar label

 

Sikap Hara menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak terbatas pada umat Islam, melainkan bersifat universal. Keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial adalah cahaya fitrah manusia, yang bisa bersinar dari siapa saja. Dalam hal ini, tindakan Hara bukan hanya mencerminkan etika profesional, tapi juga spiritualitas yang mendalam - spiritualitas yang melihat teknologi sebagai jalan untuk membahagiakan orang lain, bukan sekadar menguntungkan diri sendiri.

 

Di dunia yang makin komersial, di mana setiap penemuan cepat dipatenkan dan setiap ide dikunci dengan lisensi, kisah Masahiro Hara menjadi pengingat: ada kebesaran dalam memberi, ada kemuliaan dalam berbagi. Ia mungkin tidak tahu bahwa tindakannya mencerminkan ajaran Islam, tapi nilai-nilai yang ia jalankan justru menghidupkan ruh Islam itu sendiri - nilai tentang kebermanfaatan, keikhlasan, dan tanggung jawab sosial.

 

Ketika kita memindai QR Code hari ini, kita tidak sekadar mengakses tautan digital. Kita sedang berinteraksi dengan amal jariah seorang insinyur Jepang, yang memilih untuk memberi tanpa pamrih. Ia membuktikan bahwa teknologi bukan hanya tentang kecanggihan, tapi tentang niat di balik penciptaannya. Dan mungkin, di sanalah letak rahasia mengapa Allah menebarkan kebaikan lewat tangan siapa pun yang tulus - meski namanya tidak berlabel Islam.

 

Sikap yang ditunjukkan oleh Masahiro Hara hendaknya menjadi inspirasi bagi kita umat Islam untuk terus menebarkan perilaku hasanah yang memberi kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Dan jika kita mampu melakukannya, maka ganjaran dari Allah akan terus mengalir kita terima dengan nyata dan kekal hingga di akhirat kelak.***

 

Banda Aceh, 27 Oktober 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...