Telah dimuat di harian Waspada edisi Jumat, 7 November 2025
Humor adalah bagian
dari fitrah manusia. Islam tidak menolak tawa. Rasulullah pun sesekali bercanda
dengan para sahabatnya. Namun, beliau selalu menjaga agar canda itu tidak
mengandung kebohongan, ejekan, atau penghinaan terhadap siapa pun. Dalam Islam,
tawa yang beradab justru bisa menjadi penyejuk jiwa dan perekat ukhuwah. Namun
sebaliknya, tawa yang kehilangan adab dapat berubah menjadi dosa, bahkan tanpa
disadari pelakunya. Di zaman media sosial dan hiburan digital yang serba cepat,
batas antara senda gurau dan olok-olok agama menjadi semakin kabur. Hal ini
membuat kita perlu kembali merenungkan: bagaimana seharusnya umat Islam
bersenda gurau agar tidak terjatuh pada pelecehan yang bersifat religius.
Salah satu contoh
yang dapat dijadikan bahan renungan ialah lagu “Udin Sedunia” yang sempat
populer beberapa tahun silam. Lagu ini diciptakan dengan niat menghibur,
menggambarkan banyak sosok bernama “Udin” dengan karakter lucu dan beragam: ada
Udin kaya, Udin miskin, Udin tampan, dan sebagainya. Di permukaan, lagu ini
tampak ringan dan polos, hanya ingin menimbulkan tawa. Namun bila kita cermati
lebih dalam, muncul persoalan moral dan religius yang layak dipertimbangkan.
Nama “Udin” sendiri
bukan nama sembarangan. Dalam tradisi Muslim, banyak nama yang berakhiran
-uddin— seperti Nuruddin, Saifuddin, Jamaluddin, Fakhruddin, dan lainnya.
Akhiran dīn berasal dari bahasa Arab yang berarti “agama,” atau secara lebih
luas, “jalan hidup, sistem nilai, dan ketaatan kepada Allah.” Dengan demikian,
setiap nama yang mengandung unsur -uddin adalah bentuk penghormatan kepada
agama Islam dan simbol doa orang tua kepada anaknya agar tumbuh dalam kemuliaan
agama. Ia bukan sekadar nama, melainkan harapan dan identitas spiritual. Ketika
nama-nama ini dijadikan bahan lelucon massal, tanpa disadari ada unsur
perendahan terhadap makna luhur di balik penamaan itu. Tertawanya bukan hanya
kepada orang bernama Udin, tetapi juga kepada nilai-nilai yang terkandung dalam
kata dīn itu sendiri.
Fenomena semacam
ini menunjukkan bahwa masyarakat kita kadang terlalu mudah menjadikan hal-hal
bernuansa religius sebagai bahan hiburan. Banyak konten humor di televisi atau
media sosial yang memelesetkan istilah agama, memparodikan cara berpakaian
ulama, atau menirukan gaya ibadah dengan nada bercanda. Semua dikemas atas nama
hiburan, tetapi sering kali melupakan adab. Padahal, Islam menempatkan agama
pada posisi yang sangat mulia dan tidak boleh dijadikan bahan main-main. Allah
berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai
olok-olok.” (QS. Al-Baqarah [2]:231).
Dalam ayat lain, Allah
mengingatkan, “Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya
kamu selalu berolok-olok? Janganlah kamu minta maaf; kamu telah kafir sesudah
beriman.” (QS. At-Taubah [9]:65–66). Ayat ini turun ketika sekelompok orang
membuat candaan tentang Rasulullah di perjalanan perang Tabuk. Mereka tidak
bermaksud menentang, hanya bercanda. Tetapi Allah menegaskan bahwa mengolok
hal-hal suci, meskipun dengan niat bercanda, adalah perbuatan yang sangat
tercela.
Di sinilah
pentingnya membedakan antara humor yang sehat dan candaan yang menyinggung
agama. Humor dalam Islam adalah sarana untuk mempererat hubungan sosial,
menghilangkan penat, dan menebar kehangatan. Rasulullah sendiri dikenal ramah
dan memiliki selera humor yang halus. Beliau pernah berkata kepada seorang
kakek, “Tidak ada orang tua yang masuk surga.” Sang kakek pun sedih, lalu
Rasulullah melanjutkan, “Karena semua akan masuk surga dalam keadaan muda.”
Tawa pun pecah, tanpa ada yang tersinggung. Humor beliau selalu mengandung
kebenaran dan kasih sayang.
Sebaliknya, humor
yang merendahkan, memperolok, atau melecehkan identitas keagamaan adalah bentuk
kebodohan yang bertentangan dengan nilai Islam. Rasulullah bersabda: “Celakalah
orang yang berbicara untuk membuat orang lain tertawa, lalu ia berdusta.” (HR.
Ahmad). Dalam hadis lain, beliau bersabda: “Janganlah kamu saling mencela,
jangan saling mengejek, dan jangan memberi julukan yang buruk.” (HR. Muslim).
Prinsipnya jelas: Islam mengajarkan kebahagiaan yang bermartabat, bukan tawa
yang menjatuhkan.
Maka, persoalan
lagu “Udin Sedunia” dan sejenisnya bukan semata soal selera humor, melainkan
soal kepekaan spiritual. Ketika sesuatu yang mengandung makna agama dijadikan
bahan tawa, yang ternoda bukan hanya individu, tetapi juga nilai simbolik yang
dihormati oleh jutaan umat. Apalagi jika hiburan itu dikonsumsi secara massal
dan diulang-ulang. Tanpa disadari, akan muncul persepsi sosial bahwa hal-hal
bernuansa agama wajar dijadikan bahan lelucon. Inilah awal dari erosi adab.
Dalam masyarakat
modern, sering kali kita beranggapan bahwa humor harus “bebas.” Padahal
kebebasan tanpa batas justru kehilangan rasa. Islam mengajarkan bahwa setiap
kebebasan selalu diiringi tanggung jawab moral. Boleh tertawa, tetapi jangan
sampai melukai. Boleh menghibur, tapi jangan sampai mencemari makna suci. Di
sinilah letak keseimbangan antara ekspresi dan etika, antara tawa dan takwa.
Penting pula
disadari bahwa nama seseorang bukan hanya identitas sosial, melainkan juga doa
dan kehormatan. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian
dan nama bapak kalian, maka baguskanlah nama-nama kalian.”* Nama yang baik
adalah bagian dari ibadah. Karena itu, mempermainkan nama yang mengandung nilai
agama—meskipun sekadar plesetan—berpotensi mengaburkan makna luhur yang
dikandungnya.
Adab bersenda gurau
dalam Islam berakar pada konsep ihsan—yakni melakukan segala sesuatu dengan
baik, termasuk dalam berkata. Kata-kata yang keluar dari lisan seorang Muslim
seharusnya membawa manfaat, bukan mudarat. Dalam surah Qaf ayat 18 ditegaskan,
“Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat
pengawas yang selalu siap mencatat.” Maka setiap tawa pun memiliki catatan,
apakah ia menambah pahala atau justru menambah dosa.
Islam tidak
melarang umatnya tertawa. Yang dilarang adalah tertawa atas penderitaan,
kehormatan, atau kesucian. Nabi bersabda, “Janganlah kamu memperbanyak tertawa,
karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini bukan
berarti Islam ingin umatnya murung, melainkan agar tawa tidak melupakan makna
hidup. Tertawa boleh, asalkan tidak membuat lupa kepada Allah dan tidak
menjadikan yang mulia sebagai bahan candaan.
Maka, dalam dunia
hiburan hari ini, para kreator dan publik figur sepatutnya memahami tanggung
jawab moral mereka. Bercanda boleh, tapi dengan adab. Jangan sampai karya yang
dimaksudkan menghibur justru menjadi bentuk penghinaan yang halus terhadap
keyakinan umat. Masyarakat juga perlu lebih kritis: tidak semua yang lucu layak
ditertawakan. Terkadang, memilih untuk tidak tertawa adalah bentuk
penghormatan.
Di tengah arus
hiburan global yang makin bebas, umat Islam harus mampu menempatkan adab di
atas popularitas. Nilai-nilai Islam tidak menghapus humor, tetapi menuntun agar
tawa tetap berpagar iman. Sebab sejatinya, tawa yang paling indah adalah tawa
yang tidak melukai siapa pun, dan yang paling suci adalah tawa yang tidak
menghapus rasa hormat kepada Sang Pencipta.
Pada akhirnya,
bercanda adalah seni menjaga keseimbangan antara kebahagiaan dan kehormatan.
Islam tidak ingin manusia hidup tanpa tawa, tetapi mengingatkan agar tawa tidak
menjauhkan dari taqwa. Karena itu, marilah kita tertawa dengan adab, agar tidak
ada yang merasa direndahkan, dan tidak ada makna suci yang terasa lucu. Sebab
tawa yang beradab adalah tawa yang menghidupkan hati, bukan yang mematikan
nurani.***
Banda Aceh, 31
Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar