Telah dimuat di media online kompas.id edisi Senin, 13 Oktober 2025
Di dunia akademik,
menulis dan mempublikasikan hasil penelitian dianggap sebagai puncak dari
perjalanan ilmiah seorang peneliti. Publikasi menjadi bukti kontribusi terhadap
kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, di balik idealisme itu, tersembunyi paradoks
besar: kerja ilmiah dilakukan oleh para akademisi, tapi keuntungan finansialnya
justru dinikmati oleh penerbit komersial. Sistem yang semestinya menjadi ruang
pengabdian ilmu pengetahuan kini berubah menjadi industri bernilai miliaran
dolar setiap tahun.
Fenomena ini
semakin terasa ketika hampir semua jurnal ilmiah besar kini menganut sistem open
access berbayar. Para peneliti bukan hanya harus bekerja keras melakukan
riset, menulis, dan menyusun laporan ilmiah, tetapi juga harus membayar biaya
publikasi (Article Processing Charge / APC) yang nilainya tidak
sedikit—mulai dari ratusan hingga ribuan dolar per artikel. Ironisnya, semua
aktor yang terlibat dalam proses ilmiah—penulis, reviewer, dan
penyunting—melakukan tugasnya tanpa bayaran sepeser pun.
Dari Idealisme ke
Industri
Pada awal abad
ke-20, publikasi ilmiah tumbuh dari semangat murni penyebaran ilmu.
Jurnal-jurnal ilmiah diterbitkan oleh lembaga pendidikan, asosiasi ilmiah, atau
akademi nasional dengan tujuan tunggal: berbagi pengetahuan. Tak ada biaya bagi
penulis, dan pembaca dapat mengakses hasil penelitian melalui langganan lembaga
atau perpustakaan.
Namun, sejak paruh
akhir abad ke-20, sistem ini berubah drastis. Penerbit komersial mulai masuk
dan mengambil alih banyak jurnal yang sebelumnya dikelola oleh asosiasi
akademik. Mereka memperkenalkan model bisnis berbasis langganan dengan harga
tinggi, memaksa universitas dan lembaga riset membayar biaya besar untuk bisa
mengakses karya yang ditulis oleh para akademisi mereka sendiri.
Ketika muncul
gerakan open access pada awal tahun 2000-an, harapannya adalah
membebaskan akses ilmu pengetahuan dari kungkungan dinding berbayar (paywall).
Tapi pada kenyataannya, sistem baru ini justru menciptakan bentuk
ketergantungan baru: bukan lagi pembaca yang membayar, tetapi penulis. Para
peneliti yang ingin artikelnya dapat diakses secara bebas kini harus menanggung
biaya publikasi yang sering kali memberatkan.
Akibatnya, sistem
publikasi ilmiah kini menjelma menjadi industri raksasa. Penerbit-penerbit
besar seperti Elsevier, Springer Nature, Wiley, Taylor & Francis, serta
MDPI menguasai sebagian besar pasar global. Mereka mengelola ribuan jurnal
dengan margin keuntungan yang sangat tinggi, sementara para akademisi menjadi
pekerja sukarela di dalam rantai industri ini.
Siapa yang
Sebenarnya Diuntungkan?
Jika kita
menelusuri struktur kerja publikasi ilmiah, terlihat jelas betapa tidak
seimbangnya sistem ini. Para peneliti
bekerja berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mengumpulkan data, menulis
laporan, dan menyusun argumen ilmiah. Mereka kemudian mengirimkan naskah ke
jurnal, menjalani proses penyuntingan dan penelaahan sejawat (peer review)
yang panjang—semuanya dilakukan tanpa imbalan.
Para reviewer, yang biasanya juga sesama
akademisi, memeriksa kualitas dan validitas naskah, memberikan komentar rinci,
memperbaiki struktur dan metodologi, tetapi tidak menerima kompensasi apa pun.
Mereka melakukannya sebagai “pengabdian ilmiah”, sebuah bentuk solidaritas dalam
komunitas akademik.
Sementara itu, pihak penerbit hanya menyediakan
platform digital, sistem editorial, dan jaringan distribusi. Namun, dari
sinilah keuntungan besar mengalir. Penerbit mengenakan biaya publikasi, biaya
langganan, biaya lisensi, bahkan biaya tambahan untuk hal-hal sepele seperti
“warna gambar” atau “akses cepat.”
Jika sistem ini
diibaratkan sebagai rantai produksi, maka akademisi adalah petani yang menanam,
memanen, dan mengolah hasil bumi, tetapi penerbit adalah pedagang besar yang
mengambil seluruh laba dari hasil jerih payah itu.
Mengapa Akademisi
Tidak Bisa Mengubah Sistem Ini?
Pertanyaan ini
sering muncul di kalangan dosen dan peneliti. Jika semua kerja ilmiah dilakukan
oleh akademisi, mengapa mereka tidak bisa mengambil alih sistem penerbitan dan
menghapus biaya yang memberatkan itu?
Jawabannya ada pada
struktur kekuasaan dan legitimasi
dalam dunia akademik. Sejak lama, reputasi ilmiah diukur berdasarkan tempat
publikasi. Artikel yang diterbitkan di jurnal bereputasi tinggi—terutama yang
terindeks di Scopus atau Web of Science—menjadi tolok ukur utama
kinerja akademik, baik untuk kenaikan jabatan, penerimaan hibah, maupun
penilaian kinerja universitas.
Akibatnya, para
akademisi tidak memiliki posisi tawar. Meskipun mereka tahu sistem ini tidak
adil, mereka tetap harus tunduk jika ingin tetap diakui dalam dunia akademik
global. Kritik terhadap penerbit besar sering kali tidak efektif karena sistem
penilaian akademik justru bergantung pada otoritas penerbit itu sendiri.
Lebih jauh, infrastruktur
penerbitan ilmiah tidak mudah dibangun. Untuk menghasilkan jurnal yang diakui
internasional, dibutuhkan sistem editorial digital yang kompleks, pengelolaan
DOI, indexing, keamanan data, hingga jaringan distribusi global. Semua itu
membutuhkan investasi besar, dan sebagian besar universitas tidak memiliki
sumber daya untuk melakukannya.
Dengan kata lain,
akademisi memiliki “ilmunya”, tetapi penerbit memiliki “panggungnya”. Dan siapa
yang memiliki panggung, dialah yang mengatur permainan.
Bisakah Institusi
Pendidikan Menjadi Penerbit Alternatif?
Secara prinsip,
bisa. Banyak universitas sebenarnya telah berupaya menerbitkan jurnal sendiri
melalui platform Open Journal Systems (OJS) yang disediakan gratis oleh
Public Knowledge Project. Model ini dikenal sebagai diamond open access—publikasi
terbuka tanpa biaya bagi penulis maupun pembaca.
Beberapa lembaga di
Amerika Latin, seperti SciELO (Scientific Electronic Library Online),
berhasil membangun sistem ini secara nasional, didukung pemerintah dan
konsorsium universitas. Model serupa juga muncul di Eropa, seperti OpenEdition
di Prancis. Namun, secara global, jumlah jurnal yang murni diamond open
access masih sangat kecil dibandingkan jurnal komersial.
Masalah utamanya
kembali pada pendanaan dan persepsi. Selama universitas dan lembaga penelitian
masih menganggap publikasi di jurnal besar sebagai satu-satunya ukuran
prestasi, penerbit komersial akan terus berkuasa. Ironisnya, banyak jurnal
universitas yang gratis justru tidak diminati karena dianggap “tidak
bereputasi”, padahal substansi ilmunya tidak kalah berkualitas.
Ini menunjukkan
bahwa persoalan utama bukan hanya soal biaya, tetapi juga soal paradigma. Dunia
akademik terjebak dalam ilusi reputasi yang dikendalikan oleh sistem komersial
global.
Gerakan Perlawanan
dan Harapan Baru
Meski tampak sulit,
perlawanan terhadap dominasi penerbit besar terus tumbuh. Di Eropa, muncul
gerakan Plan S, yang mewajibkan
semua riset yang didanai publik untuk diterbitkan secara open access
tanpa dinding berbayar. Gerakan ini mendorong lembaga-lembaga riset untuk
membiayai penerbitan secara kolektif, sehingga peneliti tidak lagi dibebani
biaya pribadi.
Selain itu,
berbagai repositori terbuka seperti arXiv,
Zenodo, dan HAL memberi alternatif bagi peneliti
untuk membagikan hasil riset mereka secara gratis tanpa melalui penerbit besar.
Meskipun publikasi di repositori ini belum selalu dihitung sebagai “poin resmi”
dalam sistem penilaian karier, keberadaannya mulai menggoyahkan monopoli
penerbit komersial.
Harapan besar juga
muncul ketika beberapa universitas mulai mendirikan jurnal internal yang serius
dikelola, dengan model terbuka dan tanpa biaya. Jika konsorsium universitas di
setiap negara mau bergotong royong membangun sistem penerbitan sendiri,
dominasi korporasi besar bisa perlahan dikikis.
Ilmu Harus Kembali
Menjadi Milik Publik
Sistem publikasi
ilmiah modern mencerminkan ketimpangan antara pengabdian ilmiah dan keuntungan
ekonomi. Akademisi adalah pemain utama yang menciptakan pengetahuan, namun
justru tidak mendapat manfaat finansial dari kerja kerasnya.
Sementara itu,
penerbit komersial memanfaatkan ketergantungan sistem akademik pada reputasi
dan indeksasi untuk mempertahankan posisinya sebagai pengendali gerbang ilmu
pengetahuan. Mereka tidak mudah dikritik karena sistem pengakuan ilmiah itu
sendiri telah disusun sedemikian rupa untuk bergantung pada mereka.
Sudah saatnya dunia
akademik melakukan refleksi. Institusi pendidikan tidak boleh hanya menjadi
pemasok konten bagi industri penerbitan, tetapi harus mulai mengambil peran
sebagai penerbit pengetahuan. Dengan dukungan negara dan kebijakan riset yang
berkeadilan, publikasi ilmiah dapat kembali kepada tujuannya yang hakiki:
menyebarkan ilmu pengetahuan untuk kepentingan umat manusia, bukan untuk
menumpuk keuntungan korporasi.***
Banda Aceh, 8 Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar