Jumat, 26 September 2025

Purbaya: Laksana Kisah Nabi Yusuf di Era Modern


Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 26 September 2025

Fenomena pergantian jabatan menteri atau dikenal dengan nama reshuffle kabinet di Indonesia selalu menyedot perhatian publik. Apalagi untuk posisi Menteri Keuangan. Posisi ini bukan sekadar jabatan teknis, tetapi sangat strategis karena menyangkut kesehatan fiskal, kebijakan anggaran, serta arah pembangunan ekonomi nasional. Presiden Prabowo, dalam sebuah langkah yang mengejutkan banyak pihak, memilih Purbaya Yudhi Sadewa—seorang ekonom yang selama ini lebih dikenal sebagai teknokrat di balik layar—untuk mengemban amanah besar ini.

Keputusan ini mengundang perbincangan luas. Mengapa bukan figur politik senior atau ekonom populer yang dipilih, melainkan seorang sosok yang relatif jarang tampil di ruang publik? Jika ditarik dalam perspektif agama, terutama Islam, langkah ini justru mengingatkan kita pada sebuah kisah klasik yang sarat makna: kisah Nabi Yusuf `alaihissalam yang diangkat menjadi bendahara negeri Mesir.

Nabi Yusuf dan Amanah Ekonomi

Al-Qur’an merekam perjalanan Nabi Yusuf dengan detail yang menyentuh. Dari seorang anak yang dibuang oleh saudaranya, dijual sebagai budak, hingga akhirnya masuk penjara karena fitnah, Yusuf tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, sabar, dan berintegritas.

Puncak kisahnya terjadi ketika Raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, serta tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir kering. Tak seorang pun penasihat raja mampu menafsirkan mimpi itu. Yusuf lalu dipanggil dari penjara, dan dengan tenang ia menakwilkannya: akan datang tujuh tahun masa subur, disusul tujuh tahun masa paceklik. Yusuf bukan hanya menafsirkan mimpi, tetapi juga memberi solusi: simpan hasil panen di masa subur agar cukup untuk menghadapi masa sulit.

Sang raja terkesan. Ia melihat kecerdasan, kejujuran, dan visi jauh ke depan dari Yusuf. Saat itulah Yusuf menyampaikan kalimat yang terkenal:

“Jadikanlah aku bendahara negeri (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (hafizh) dan berilmu (‘alim).” (QS. Yusuf: 55)

Dari sinilah Nabi Yusuf diangkat menjadi pejabat tinggi, mengelola ekonomi Mesir. Berkat kepemimpinannya, Mesir selamat dari krisis pangan dan bahkan menjadi penolong bagi negeri-negeri sekitar.

Purbaya: Dari Belakang Layar ke Panggung Utama

Jika kita melihat Purbaya Yudhi Sadewa, tentu ia bukan nabi, bukan pula sosok yang diselimuti wahyu. Namun pola perjalanan kariernya punya nuansa yang mirip. Selama bertahun-tahun, Purbaya bekerja di balik layar, berkiprah di dunia akademik dan lembaga riset, serta ikut merumuskan berbagai kebijakan ekonomi. Ia bukan politisi yang sering berorasi di panggung, melainkan teknokrat yang tekun membaca data, membuat analisis, dan menawarkan solusi.

Keputusan Presiden Prabowo untuk mengangkatnya menjadi Menteri Keuangan bukan karena popularitas, tetapi karena “tercium” kompetensinya dalam memahami akar persoalan ekonomi Indonesia. Saat negara menghadapi tantangan berat—defisit anggaran, beban utang, ketimpangan fiskal, dan tekanan global—dibutuhkan figur yang bisa membaca peta masalah dengan jernih dan menawarkan strategi yang realistis.

Seperti halnya Yusuf yang keluar dari penjara lalu dipercaya memimpin bendahara Mesir, Purbaya yang lama berada di belakang layar kini didorong ke garis depan untuk mengelola harta negara.

Antara Ambisi dan Amanah

Dalam Islam, jabatan bukan sesuatu yang diperebutkan. Rasulullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah:

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta kepemimpinan, karena jika engkau diberi karena memintanya, maka engkau akan dibiarkan. Tetapi jika engkau diberi tanpa memintanya, maka engkau akan ditolong (oleh Allah).” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang berat, bukan kehormatan yang diperebutkan. Nabi Yusuf memang “mengajukan diri” di hadapan Raja Mesir, tetapi itu bukan ambisi pribadi. Ia melakukannya karena sadar dirinya memiliki kapasitas unik yang sangat dibutuhkan pada saat itu.

Hal serupa terlihat pada kasus Purbaya. Ia tidak melakukan kampanye politik, tidak menebar janji manis, bahkan tidak pernah muncul sebagai calon populer. Tetapi ketika situasi menuntut, dan Presiden melihat kemampuannya, amanah itu pun jatuh kepadanya. Dalam perspektif Islam, hal ini lebih dekat pada makna tawakkul—diterima bukan karena ambisi, melainkan karena kebutuhan dan kapasitas.

Tantangan Berat di Depan

Namun, kesamaan dengan kisah Nabi Yusuf tidak boleh membuat kita terlena. Nabi Yusuf adalah seorang nabi, dengan bimbingan wahyu dan akhlak kenabian. Purbaya hanyalah manusia biasa yang akan menempuh jalan penuh risiko. Jabatan Menteri Keuangan bukan sekadar mengelola angka, melainkan menjaga kepercayaan publik, memastikan distribusi keadilan, serta menghadapi tarikan kepentingan politik yang tidak ringan.

Di sinilah prinsip Islam kembali relevan: jabatan adalah amanah, dan amanah itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seorang pemimpin akan ditanya tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan. Bagi seorang menteri keuangan, pertanyaan itu berlaku dalam skala yang sangat luas: dari pengelolaan pajak, utang, hingga alokasi anggaran pembangunan.

Refleksi bagi Bangsa

Pengangkatan Purbaya memberi kita pelajaran berharga. Pertama, bahwa kepemimpinan yang efektif tidak selalu lahir dari panggung politik yang gemerlap. Kadang, orang-orang yang bekerja senyap di balik layar justru punya kapasitas luar biasa yang baru tampak ketika diberi kesempatan.

Kedua, kisah ini mengingatkan kita bahwa memilih pemimpin hendaknya tidak sekadar melihat popularitas, tetapi juga kompetensi dan integritas. Nabi Yusuf dipilih karena “hafizhun ‘alim”—dapat dipercaya dan berilmu. Kriteria ini seharusnya menjadi ukuran kita dalam memilih pemimpin di segala level.

Ketiga, bagi Purbaya sendiri, ini adalah jalan yang penuh ujian. Seperti Nabi Yusuf yang harus mengelola masa subur dan masa paceklik, Purbaya akan menghadapi masa sulit ekonomi Indonesia. Apakah ia akan berhasil? Itu akan bergantung pada kejujuran, ketegasan, dan kemampuan manajerialnya.

Membandingkan Purbaya dengan Nabi Yusuf tentu tidak dalam arti menyamakan derajat. Nabi Yusuf adalah utusan Allah, sementara Purbaya hanyalah seorang teknokrat. Namun analogi ini berguna untuk memahami pola: seorang yang selama ini berada di pinggir, lalu tampil ke depan karena terbukti memiliki kapasitas untuk menjawab tantangan besar.

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan bukanlah hadiah bagi ambisi, melainkan amanah bagi yang layak. Semoga Purbaya mampu meneladani spirit Nabi Yusuf dalam dua hal: menjaga integritas (hafizh) dan mengandalkan ilmu (‘alim). Karena tanpa keduanya, jabatan yang mulia bisa berubah menjadi beban yang menjerumuskan.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan menteri yang pandai berhitung, tetapi juga yang mampu menegakkan keadilan dan membawa kesejahteraan. Dan sebagaimana Nabi Yusuf menyelamatkan Mesir dari krisis, kita berharap amanah baru ini bisa menjadi jalan keselamatan bagi ekonomi Indonesia.***

Banda Aceh, 21 September 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...