Telah dimuat di harian Waspada edisi Selasa 23 September 2025
Saat ini siapa yang
tidak kenal dengan sosok yang bernama Salsa Erwina Hutagalung? Wanita Batak
pemberani ini viral di jagad maya media sosial Indonesia setelah dengan lantang
mengkritik habis perilaku anggota DPR RI yang hedon di tengah-tengah
keprihatinan kondisi ekonomi rakyat Indonesia. Yang mayoritas masih hidup di bawah
garis kemiskinan. Ditambah lagi dengan PHK yang meraja-lela dimana-mana. Salsa
Erwina menjadi corong suara rakyat begitu gemas dan geregetan terhadap respon
sebagian anggota dewan yang terkesan tidak peduli dengan kondisi negara.
Dalam beberapa
kesempatan Salsa Erwina berkisah masih ingat betul akan kegundahannya beberapa
tahun silam ketika menyaksikan carut-marut kehidupan politik dan ekonomi di
tanah air. Setiap hari layar televisi dan linimasa media sosial dipenuhi dengan
berita tentang korupsi, politik uang, pejabat yang gemar bermewah-mewahan,
hingga pelayanan publik yang sering mengecewakan. Di kepalanya, ia sering
berandai-andai: mungkinkah ada sebuah negeri di mana negara benar-benar hadir
untuk rakyat, pejabatnya rendah hati, dan kehidupan warganya sejahtera tanpa
harus dikejar bayang-bayang pungli dan korupsi?
Angan-angan itu
seperti utopia—hingga takdir membawanya merantau jauh ke Eropa, dan sampailah ia
terdampar di Denmark. Di sanalah ia terkesima. Negeri mungil Skandinavia itu
seperti cermin dari mimpi-mimpinya selama ini.
Di Denmark, Salsa
mengalami sendiri bagaimana negara hadir secara nyata bagi rakyatnya.
Pendidikan dari taman kanak-kanak hingga universitas diberikan secara gratis.
Pelayanan kesehatan menyeluruh tanpa harus memikirkan biaya rumah sakit.
Fasilitas publik—mulai dari transportasi, taman kota, hingga infrastruktur
desa—berfungsi dengan baik dan terpelihara rapi. Pemerintahnya egaliter,
pejabat tinggi bisa bersepeda ke kantor tanpa kawalan berlapis, dan tidak ada
pamer kemewahan di tengah rakyat. Lebih dari itu, rakyatnya hidup sejahtera
dengan standar gaji dan jaminan sosial yang merata.
Tidak mengherankan
jika Transparency International menempatkan Denmark sebagai negara dengan
indeks persepsi korupsi tertinggi di dunia. Pada 2024, Denmark kembali
menduduki peringkat pertama dengan skor 90 dari 100. Artinya, negara ini
dipandang paling bersih, paling minim praktik korupsi, dan paling terpercaya
sistem pemerintahannya.
Bagaimana Denmark
Bisa Sampai di Titik Ini?
Kesuksesan Denmark
bukanlah hadiah instan. Ada sejarah panjang reformasi birokrasi sejak abad
ke-19, ketika sistem feodal dihapus dan birokrasi dibangun dengan meritokrasi,
bukan patronase. Tradisi egalitarianisme masyarakat Skandinavia menumbuhkan
budaya kesetaraan, sehingga praktik nepotisme atau jual-beli jabatan tidak
mendapat tempat.
Selain itu, tingkat
kepercayaan sosial (social trust) di Denmark sangat tinggi. Warganya percaya
bahwa institusi publik akan bekerja jujur, dan pejabat publik benar-benar
bertugas melayani, bukan memperkaya diri. Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu,
dengan sistem peradilan independen yang memastikan tidak ada kekebalan bagi
koruptor. Transparansi publik juga dijamin: dokumen-dokumen negara terbuka
untuk diakses, sehingga kecil kemungkinan pejabat bermain curang di ruang
gelap.
Kunci lainnya
adalah negara kesejahteraan (welfare state). Dengan pendidikan gratis,
kesehatan universal, serta distribusi kekayaan yang merata, kesenjangan sosial
bisa ditekan. Korupsi biasanya tumbuh subur ketika kesenjangan lebar dan
peluang ekonomi timpang. Namun di Denmark, kebutuhan dasar warga terpenuhi
sehingga ruang bagi praktik suap atau pungli nyaris tidak ada.
Membandingkan
dengan Indonesia
Kini mari kita
lihat ke tanah air. Indonesia pada 2024 hanya meraih skor 37 dari 100, berada
di peringkat 99 dari 180 negara. Angka ini jauh di bawah rata-rata global (43),
apalagi dibandingkan Singapura (84) yang juga negara ASEAN.
Kondisi ini
mencerminkan bahwa praktik korupsi, baik di sektor birokrasi maupun politik,
masih menjadi masalah serius. Skandal korupsi kerap melibatkan pejabat tinggi,
partai politik masih dibayangi praktik transaksional, dan pelayanan publik
sering terhambat oleh pungutan liar. Ketidakpuasan masyarakat terhadap
ketidakadilan dan kesenjangan sosial pun semakin memperlebar jurang kepercayaan
rakyat terhadap pemerintah.
Bisakah Indonesia belajar
dari Denmark? Setidaknya ada beberapa gagasan strategis yang dapat diupayakan
Indonesia untuk meningkatkan peringkat Indeks Persepsi Korupsi dari tahun ke
tahun:
Reformasi Birokrasi yang Konsisten
Penempatan posisi pejabat
publik mestilah berdasarkan merit dan kompetensi, bukan kedekatan politik
apalagi nepotisme. Perlu dibangun sistem meritokrasi yang kuat sehingga
pucuk-pucuk pimpinan pejabat publik terpilih melalui jenjang karir yang terukur
dan berintegritas. Selanjutnya diberlakukan penguatan sistem digitalisasi
pelayanan publik untuk mengurangi kontak langsung yang rawan pungli.
Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu
KPK, kejaksaan, dan
peradilan harus independen dan terbebas dari intervensi politik. Sebagai pilar
ketiga dalam negara demokrasi, lembaga yudikatif benar-benar terpisah dari dua
pilar lainnya, eksekutif dan legislatif. Sehingga penegakan hukum yang
dijalankannya benar-benar objektif tanpa khawatir dicampuri oleh pihak mana
pun. Kemudian perlu diterapkan hukuman yang berat bagi pelaku korupsi, termasuk
penyitaan aset hasil kejahatannya.
Transparansi dan Akses Informasi Publik
Semua dokumen
anggaran harus terbuka dan dapat diakses oleh publik, baik itu pers, akademisi
kampus, LSM dan masyarakat luas. Sehingga semua proyek pemerintah dapat diawasi
dengan terang-benderang oleh publik. Dengan demikian partisipasi media dan
masyarakat sipil perlu terus didorong dan difasilitasi dalam pengawasan.
Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini
Untuk menumbuhkan
kepedulian dan rasa sensitif publik akan literasi korupsi perlu upaya menanamkan
nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kurikulum sekolah, bahkan
sejak usia dini. Hal ini akan membiasakan generasi muda untuk kritis terhadap
penyalahgunaan wewenang.
Mengurangi Kesenjangan Sosial
Diperlukan juga membangun
sistem jaminan sosial dan akses kesehatan yang lebih adil ke semua lapisan
masyarakat. Karena dengan memberikan kesempatan ekonomi yang merata akan dapat mengurangi
dorongan melakukan praktik curang.
Pengalaman Salsa
Erwina di Denmark adalah bukti bahwa kehidupan bernegara yang bersih,
transparan, dan sejahtera bukanlah utopia. Ia nyata adanya, hanya saja bukan
(belum) di Indonesia. Jika Denmark bisa membangun sistem yang nyaris steril
dari korupsi, maka Indonesia pun seharusnya bisa—asal ada kemauan politik yang
kuat, penegakan hukum yang konsisten, dan budaya integritas yang ditanamkan
sejak dini.
Peristiwa demo
besar-besaran yang dikenal dengan jargon 17+8 di tahun 2025 ini hendaknya
menjadi momentum penggerak bagi upaya perbaikan besar-besaran tata kelola
kehidupan mendasar negara kita Indonesia. Inilah saatnya kita semua
bahu-membahu seluruh komponen warga pemilik sah negara tercinta ini untuk
memperbaiki indeks persepsi korupsi negara Indonesia.
Harapannya, dari
tahun ke tahun, skor Indonesia dalam indeks persepsi korupsi tidak lagi jalan
di tempat, tetapi akan terus meningkat hingga suatu saat bisa mendekati ideal.
Karena pada akhirnya, negeri yang bebas korupsi bukan hanya soal peringkat di
atas kertas, melainkan soal terwujudnya kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.***
Banda Aceh, 9 September 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar