Jumat, 12 September 2025

Protes Rakyat Kepada Penguasa


Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat 12 September 2025

Indonesia tengah berada pada fase politik yang memanas. Gelombang protes rakyat merebak di berbagai kota besar dan kecil, menandai akumulasi kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah dan parlemen. Rakyat merasa aspirasi mereka diabaikan, kebijakan yang lahir kerap lebih berpihak kepada elit ketimbang kepentingan orang banyak, sementara perilaku anggota parlemen—yang seharusnya menjadi wakil rakyat—justru sering menyinggung nurani rakyat itu sendiri.

Demonstrasi besar-besaran yang berlangsung akhir-akhir ini adalah puncak dari ketidakpuasan. Di Jakarta, Bandung, Medan, Makassar, hingga Surabaya, ribuan massa tumpah ruah ke jalan. Tuntutan mereka beragam: menolak kebijakan yang dianggap memberatkan rakyat kecil, menolak korupsi yang merajalela, menolak gaya hidup hedon para pejabat di tengah krisis ekonomi, hingga mendesak parlemen agar kembali menjalankan fungsi pengawasan secara sungguh-sungguh.

Fenomena ini bukan sekadar protes sesaat. Ia merupakan sinyal bahwa ada jurang yang semakin menganga antara rakyat dan para penguasa. Pertanyaan besar pun muncul: bagaimana Islam memandang fenomena rakyat yang berdemo menentang pemerintah? Dan, yang lebih penting, strategi apa yang paling Islami dan efektif untuk menyalurkan protes di tengah kondisi politik Indonesia hari ini?

Islam dan Kritik terhadap Penguasa

Dalam tradisi Islam, mengingatkan penguasa adalah bagian dari amar ma‘ruf nahi munkar. Rasulullah pernah bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bahwa mengoreksi pemimpin bukanlah tindakan tercela, melainkan mulia, bahkan setara dengan jihad. Ulama klasik seperti Imam Nawawi menjelaskan bahwa nasihat kepada pemimpin adalah kewajiban kolektif umat, agar kekuasaan tidak disalahgunakan dan rakyat tidak menjadi korban kezhaliman.

Namun, Islam juga menekankan adab dalam menyampaikan kritik. Rasulullah mengajarkan agar nasihat pertama kali diberikan dengan cara lembut, langsung, dan tertutup. Akan tetapi, bila penguasa tetap bebal, maka kritik terbuka demi menyelamatkan kemaslahatan umat diperbolehkan. Prinsipnya jelas: kritik boleh, bahkan wajib, selama tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemungkaran yang hendak diluruskan.

Mengukur Fenomena Demo dalam Timbangan Syariat

Demonstrasi adalah produk zaman modern. Dalam fiqh klasik tidak ada istilah demo, tetapi ada konsep hisbah, yaitu aktivitas kolektif masyarakat untuk menegakkan amar ma‘ruf nahi munkar di ruang publik. Dalam logika ini, demonstrasi damai bisa dianggap sebagai bentuk hisbah modern, yakni usaha rakyat menegur penguasa secara kolektif.

Para ulama kontemporer berbeda pandangan soal demo. Sebagian menolak karena dianggap menyerupai huru-hara, sebagian lain membolehkannya dengan syarat. Pendekatan yang lebih moderat melihat bahwa hukum demonstrasi bersifat mubah, bahkan bisa menjadi wajib bila itu satu-satunya jalan menyelamatkan rakyat dari kebijakan zalim. Dengan catatan: Dilakukan tanpa kekerasan; Tidak merusak fasilitas umum; Menjaga keamanan dan keselamatan; Murni untuk menegakkan kebenaran, bukan kepentingan kelompok semata.

Jika syarat-syarat ini terpenuhi, maka demonstrasi rakyat di berbagai kota Indonesia hari ini dapat dipandang sebagai bagian dari amar ma‘ruf nahi munkar kolektif.

Strategi Islami Menyuarakan Protes

1. Nasihat dan Dialog Formal

Tahap awal yang paling Islami adalah menyalurkan kritik melalui jalur resmi: dialog, audiensi, petisi, atau sidang dengar pendapat. Jalur ini mencerminkan upaya menasihati penguasa secara langsung dan tertutup, sesuai sunnah Nabi. Meski kerap diabaikan, tahapan ini tetap penting sebagai legitimasi moral bahwa rakyat telah berusaha menempuh jalan damai terlebih dahulu.

2. Kekuatan Moral Ulama dan Intelektual

Dalam sejarah Islam, ulama sering menjadi “rem” bagi penguasa. Imam Ahmad bin Hanbal, misalnya, berani menolak tekanan Khalifah dalam fitnah Mihnah meski harus dipenjara. Di Indonesia, peran ulama dan cendekiawan tetap vital. Mereka bisa menjadi corong moral rakyat, menyuarakan kebenaran lewat khutbah, tulisan, dan fatwa. Tekanan moral ini sangat efektif karena penguasa sulit mengabaikan suara ulama yang memiliki legitimasi spiritual di mata rakyat.

3. Aksi Damai Kolektif (Demo Islami)

Demo yang damai, tertib, dan bermartabat adalah strategi Islami yang sah. Aksi seperti 212 tahun 2016 membuktikan bahwa jutaan orang bisa turun ke jalan tanpa kekerasan, hanya dengan doa, takbir, dan pesan moral. Aksi semacam ini lebih sulit dituduh makar, dan sekaligus menunjukkan persatuan umat. Kekuatan solidaritas damai bisa meluluhkan penguasa lebih ampuh daripada kekerasan.

4. Tekanan Sosial-Ekonomi

Strategi lain yang Islami adalah bentuk penolakan damai terhadap kebijakan zalim melalui boikot, mogok kerja, atau civil disobedience. Kaidah fiqh menyatakan “la dharar wa la dhirar” (tidak boleh ada bahaya dan saling membahayakan). Jika kebijakan penguasa membahayakan rakyat, rakyat berhak menolak berpartisipasi. Tentu caranya harus tetap konstitusional, damai, dan terorganisir agar tidak menimbulkan kerusuhan.

5. Konsolidasi Politik Umat

Dalam sistem demokrasi modern, rakyat masih punya saluran politik formal: pemilu. Strategi Islami berikutnya adalah mengonsolidasikan suara umat agar tidak lagi memilih wakil rakyat atau pemimpin yang terbukti bebal, korup, dan ingkar janji. Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari-Muslim). Maka kesalahan memilih pemimpin yang salah harus ditebus dengan konsolidasi politik yang lebih cerdas di masa depan.

Strategi Islami yang Efektif

Agar strategi protes rakyat benar-benar Islami dan efektif, setidaknya memenuhi tiga kriteria. Pertama, maslahah lebih besar daripada mafsadah. Aksi harus membawa manfaat nyata (penguasa sadar, kebijakan direvisi, rakyat terselamatkan) dan tidak menimbulkan kerusakan lebih besar (chaos, korban jiwa, perpecahan bangsa). Kedua, bermoral dan damai. Islam menolak kekerasan yang berlebihan. Kekuatan moral umat, bila digerakkan dengan damai, justru lebih efektif karena sulit dibungkam dengan cara represif. Ketiga, konsisten dan kolektif. Aksi sporadis mudah dipatahkan. Protes Islami harus konsisten, dilakukan berulang, dengan dukungan kolektif dari berbagai elemen: ulama, mahasiswa, buruh, petani, hingga masyarakat sipil.

Islam bukanlah agama pasif yang membiarkan kezhaliman merajalela, tapi juga bukan agama anarkis yang menganjurkan kekerasan tak terkendali. Jalan tengah Islam adalah protes moral yang damai, tegas, dan konsisten.

Dalam konteks Indonesia hari ini, strategi Islami yang paling tepat adalah: Menguatkan peran ulama dan intelektual sebagai oposisi moral. Melakukan aksi damai kolektif dengan disiplin tinggi. Menyalurkan protes melalui jalur formal sekaligus tekanan sosial yang sah. Menjaga persatuan rakyat agar tidak mudah dipecah belah oleh penguasa.

Dengan strategi ini, rakyat bisa menyuarakan ketidakpuasan mereka tanpa kehilangan martabat, tanpa terjebak pada anarkisme, dan tetap berada di jalur Islami.

Gelombang demo besar-besaran yang melanda Indonesia adalah sirene nyaring bagi penguasa. Rakyat sudah terlalu lama menahan kecewa, dan kini suara itu tak bisa lagi dibungkam. Islam memberikan jalan: kritik penguasa adalah kewajiban, tapi harus dilakukan dengan adab dan strategi yang tidak melahirkan kerusakan baru.

Maka, strategi Islami yang paling efektif untuk rakyat Indonesia saat ini adalah menyatukan kekuatan moral umat dalam aksi damai, konsisten, dan kolektif. Inilah jalan tengah yang memungkinkan suara rakyat sampai ke telinga penguasa, sekaligus menjaga agar bangsa ini tidak hancur oleh kegaduhan dan kekerasan.

Sejarah membuktikan, kekuatan moral rakyat yang bersatu lebih ampuh dari kekuatan senjata. Dan dalam Islam, suara kebenaran yang disampaikan dengan damai jauh lebih bernilai daripada kerusakan yang lahir dari kemarahan.***

Banda Aceh, 1 September 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...