Telah dimuat di Harian Waspada edisi cetak Jumat 11 Juli 2025
Empat pulau yang sempat
disengketakan akhirnya kembali ke pangkuan Aceh. Kepastian ini menjadi kabar
gembira yang layak dirayakan, oleh masyarakat Aceh. Paling istimewa tentunya
kelegaan yang dinikmati oleh masyarakat Aceh Singkil yang selama ini hidup dalam
ketidakpastian administratif dan terancam kehilangan wilayah yang mereka yakini
sebagai bagian dari sejarah, budaya, dan ruang hidup mereka. Pulau Panjang,
Lipan, Mangkir Besar, dan Mangkir Kecil bukan hanya gugusan tanah tak bernama
di tengah laut. Ia adalah identitas, penghidupan, dan harapan.
Sehingga wajar jika kegembiraan itu
diluahkan dengan mengadakan seremonial kenduri akbar oleh segenap warga
masyarakat Aceh Singkil, berlokasi di Pulau Panjang. Kenduri akbar sebagai
wujud sukacita dan rasa syukur masyarakat atas kembalinya empat pulau yang
sempat hilang. Perjuangan panjang dan melelahkan itu akhirnya berujung manis,
semua pihak lega dan bergembira. Gubernur Muzakir Manaf sendiri turut hadir di
acara kenduri akbar, menunjukkan atensinya yang besar atas usaha pemulangan
kembali keempat pulau tersebut.
Kembalinya empat pulau ini seolah
menjadi peneguhan atas keberanian rakyat Aceh Singkil mempertahankan hak
mereka. Mereka bersuara lantang saat pemerintah pusat melalui Kemendagri
tiba-tiba menyatakan bahwa keempat pulau tersebut masuk wilayah Sumatera Utara.
Lewat berbagai forum, aksi, dan pendekatan diplomatik, rakyat dan Pemerintah
Aceh bersatu menyuarakan keberatan. Dan kini, sejarah mencatat: pulau-pulau itu
kembali ke pangkuan Aceh. Ini adalah kemenangan rakyat.
Namun tak lama setelah euforia itu,
muncul kabar lain yang tak kalah mengejutkan. Pemerintah Aceh melalui
Gubernurnya menawarkan keempat pulau tersebut sebagai lahan investasi kepada
Uni Emirat Arab. Muzakir Manaf agaknya bergerak cepat, beliau dengan kapasitas
sebagai pemimpin pemerintahan tertinggi Aceh tidak menyia-nyiakan peluang untuk
bersegera memberdayakan pulau-pulau yang telah kembali ke pangkuan Aceh
tersebut.
Rencananya, akan dibangun kawasan
wisata halal kelas dunia di sana, dengan skema kerja sama yang melibatkan investor
Timur Tengah. Memang beberapa tahun sebelumnya, Putra Mahkota UEA bahkan sudah
pernah menunjukkan minat yang serius terhadap proyek serupa di wilayah lain
Aceh Singkil, tepatnya Pulau Banyak. Meski akhirnya proyek itu tertunda jika
tidak menyebutnya batal, karena persoalan akses dan infrastruktur.
Langkah Pemerintah Aceh ini tentu
perlu diapresiasi. Di tengah krisis ekonomi dan sempitnya ruang fiskal daerah,
mencari mitra investasi adalah upaya strategis untuk membangkitkan potensi
ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan menjadikan Aceh sebagai poros wisata
bahari berbasis syariah. Kita menyambut terbuka niat baik ini. Namun demikian,
ada catatan tegas yang perlu disuarakan: jangan lagi rakyat dipinggirkan.
Selama ini, terlalu banyak cerita
pembangunan yang menjadikan rakyat sebagai korban diam. Investasi datang, lahan
dibebaskan, kawasan dipagari, lalu rakyat hanya bisa melihat dari jauh. Di atas
nama pembangunan, hak-hak penghidupan rakyat terkikis. Nelayan kehilangan akses
ke laut. Petani kehilangan tanah garapan. Anak-anak muda hanya menjadi penonton
saat investor asing dan segelintir elit lokal berpesta pora di tanah mereka
sendiri.
Kita tidak ingin cerita seperti itu
kembali terulang di Aceh Singkil. Keempat pulau yang kembali ke Aceh itu harus
tetap menjadi milik rakyat Aceh, bukan hanya secara administratif, tapi secara
nyata dalam penguasaan, pemanfaatan, dan kesejahteraannya. Jika benar ada
investasi pariwisata yang akan digarap, maka rakyat sepatutnya terlibat sejak awal. Mereka harus
duduk di meja perencanaan, bukan hanya berdiri di luar pagar proyek. Mereka
harus menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton. Jika tidak, maka kemenangan
ini akan berubah menjadi ironi.
Rakyat Aceh Singkil bukan anti
terhadap pembangunan. Mereka bukan pula menolak wisata halal atau investor
Timur Tengah. Mereka hanya tidak ingin kehilangan lagi ruang hidup yang telah
mereka jaga selama berpuluh-puluh tahun. Bahkan saat investor sebelumnya dari
UEA batal masuk ke Pulau Banyak, sebagian warga justru merasa lega. Karena
mereka tahu, investasi yang eksklusif justru seringkali menjauhkan rakyat dari
tanahnya sendiri.
Oleh karena itu, Pemerintah Aceh dan
para pemangku kepentingan harus menjadikan rencana investasi ini sebagai
momentum untuk mengubah paradigma. Investasi tidak boleh hanya dipandang dari
besarnya dana yang masuk atau mewahnya infrastruktur yang dibangun. Investasi
harus diukur dari sejauh mana ia mensejahterakan rakyat secara langsung.
Apa yang bisa dilakukan? Pertama, pastikan bahwa setiap proses
perencanaan investasi dilakukan secara transparan dan partisipatif. Libatkan tokoh adat,
pemuda, nelayan, perempuan, dan kelompok rentan lainnya dalam musyawarah.
Dengarkan suara mereka, karena merekalah yang paling paham denyut kehidupan di
pulau-pulau itu. Bisa jadi langkah ini terkesan bertele-tele dan menyurutkan
langkah investor bergerak cepat. Namun pemerintah Aceh harus memastikan kepada
investor bahwa kepentingan masyarakat lokal juga penting, dan prinsip win-win
solution perlu diterapkan untuk memastikan proyek bisa berjalan.
Kedua,
dorong model ekowisata
berbasis komunitas. Jangan buru-buru menyerahkan seluruh pulau
ke investor tunggal. Berikan ruang bagi koperasi lokal, BUMG, atau usaha kecil
rakyat untuk mengelola sebagian kawasan. Model seperti ini sudah berhasil di
banyak tempat di Indonesia dan dunia.
Ketiga,
siapkan skema bagi hasil
yang adil. Jika investor masuk dengan membangun fasilitas
mewah, pastikan sebagian keuntungan kembali ke desa-desa sekitar. Bisa dalam
bentuk dana CSR yang diawasi bersama, beasiswa pendidikan, atau pelatihan kerja
bagi generasi muda lokal.
Keempat,
jangan kompromikan aspek lingkungan
hidup dan kearifan lokal. Pulau-pulau kecil sangat rentan
terhadap kerusakan ekologis. Jangan sampai pembangunan resor justru merusak
terumbu karang, hutan bakau, atau memutus rantai penghidupan masyarakat yang
bergantung pada laut.
Kelima,
pastikan akses publik ke pulau tetap terbuka. Jangan sampai rakyat dilarang
mengunjungi pantai yang selama ini mereka rawat. Jangan sampai laut menjadi
milik eksklusif wisatawan kaya, sementara nelayan setempat terusir.
Dan terakhir, bangun infrastruktur
transportasi dan digital yang terjangkau. Bukan hanya untuk
menyambut investor, tapi agar rakyat sendiri bisa mengakses layanan dasar dan
memasarkan produk-produk lokal mereka ke luar.
Jika semua ini dilakukan, maka
investasi yang dirancang bukan hanya akan menguntungkan investor, tapi
benar-benar membawa berkah bagi rakyat Aceh Singkil. Empat pulau yang kembali
akan menjadi simbol bukan hanya dari kedaulatan administratif, tapi juga dari kemenangan rakyat dalam mempertahankan
martabat dan masa depan mereka.
Karena pada akhirnya, ukuran
keberhasilan sebuah investasi bukan pada seberapa mewah resor yang dibangun,
tetapi pada seberapa besar senyum yang bisa kita lihat di wajah rakyat yang
hidup di sekitarnya.***
Banda Aceh, 7 Juli 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar