Selasa, 29 Juli 2025

Dunia Berebut Energi Hijau


Telah dimuat di harian Waspada edisi cetak hari Selasa 29 Juli 2025

Dunia sedang bergerak cepat ke arah baru: meninggalkan mobil berbahan bakar fosil dan menggantikannya dengan kendaraan ramah lingkungan. Dalam transformasi besar ini, dua kekuatan utama saling berpacu untuk menjadi teknologi dominan: mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) dan mobil hidrogen berbasis fuel cell (Fuel Cell Electric Vehicle/FCEV). Keduanya menjanjikan solusi terhadap krisis iklim dan pencemaran udara yang selama ini ditopang oleh kendaraan bermesin pembakaran internal.

Namun yang menarik, di balik kompetisi dua teknologi ini, muncul peluang langka bagi negara-negara dengan sumber daya energi terbarukan melimpah. Salah satunya—dan mungkin yang paling strategis—adalah Indonesia. Di saat negara-negara maju berlomba membangun industri kendaraan hijau, Indonesia justru bisa mengambil peran lebih besar: menjadi pemasok utama hidrogen hijau, bahan bakar yang akan menopang dunia jika FCEV menjadi arus utama. Tapi untuk mencapai itu, Indonesia tak bisa duduk diam. Perlu keberanian, visi jangka panjang, dan kemauan politik yang tegas.

BEV vs FCEV: Perlombaan Dua Teknologi

Mobil listrik berbasis baterai saat ini jelas lebih unggul secara infrastruktur dan adopsi pasar. Perusahaan seperti Tesla, BYD, Volkswagen, dan Hyundai telah mendorong produksi massal BEV dan membangun jutaan titik pengisian daya di seluruh dunia. Di sisi lain, mobil berbasis hidrogen fuel cell menawarkan keunggulan pada pengisian yang cepat dan daya jelajah yang panjang, membuatnya sangat ideal untuk kendaraan berat, transportasi jarak jauh, dan sektor logistik.

Secara efisiensi, BEV lebih unggul—sekitar 70-90% energi listrik dikonversi langsung menjadi gerakan roda. FCEV, dengan proses konversi listrik → hidrogen → listrik kembali, hanya memiliki efisiensi sekitar 30-40%. Namun keunggulan FCEV adalah pada waktu pengisian ulang (3–5 menit) dan fleksibilitas distribusi bahan bakar, terutama jika diproduksi secara lokal.

Tren saat ini memang menunjukkan dominasi BEV, terutama untuk kendaraan pribadi. Tetapi banyak negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Jerman tetap mempertahankan strategi ganda, dengan investasi besar di teknologi hidrogen karena menyadari bahwa BEV tidak selalu cocok untuk semua sektor. Dalam konteks ini, muncul kebutuhan besar terhadap pasokan hidrogen—dan di sinilah nama Indonesia seharusnya mulai diperhitungkan.

Mengapa Hidrogen Hijau Penting?

Hidrogen bukanlah energi baru. Ia telah lama digunakan di industri, tetapi mayoritas masih diproduksi dari gas alam atau batubara—disebut "grey hydrogen"—yang tetap mencemari lingkungan. Hidrogen hijau, yang diproduksi melalui proses elektrolisis menggunakan energi terbarukan (air + listrik hijau), adalah solusi bersih yang menjanjikan. Masalahnya: mahal, dan memerlukan sumber daya besar serta energi hijau yang stabil dan murah.

Dengan kata lain, dunia akan sangat membutuhkan negara produsen hidrogen hijau jika ingin mendorong kendaraan FCEV dalam skala global. Dan faktanya, hanya segelintir negara yang memiliki potensi itu secara penuh—salah satunya adalah Indonesia.

Potensi Emas Indonesia

Indonesia memiliki kekayaan energi hijau yang luar biasa. Potensi tenaga air lebih dari 75 GW, panas bumi sekitar 24 GW (terbesar kedua dunia), dan potensi energi surya mencapai lebih dari 200 GW. Tambahkan lagi potensi energi angin dan laut, terutama di kawasan timur Indonesia yang belum banyak tersentuh pembangunan.

Energi-energi ini bisa menjadi bahan bakar utama untuk memproduksi hidrogen hijau melalui proses elektrolisis. Indonesia juga memiliki akses air laut yang luas, yang dengan teknologi desalinasi modern, bisa menjadi sumber air untuk produksi hidrogen.

Selain itu, posisi geografis Indonesia sangat strategis. Berada di jantung Asia Pasifik, Indonesia berdekatan dengan Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan bahkan Australia—semua negara yang tengah membangun roadmap hidrogen mereka dan akan menjadi konsumen besar di masa depan. Indonesia bisa menjadi pemasok utama hidrogen ke kawasan industri tersebut, baik melalui pipa bawah laut, kapal tanker hidrogen, maupun dalam bentuk amonia hijau (bentuk yang lebih stabil dari hidrogen untuk pengangkutan jarak jauh).

Tapi Mengapa Indonesia Masih Diam?

Sayangnya, hingga hari ini, Indonesia belum memiliki roadmap hidrogen hijau nasional yang komprehensif dan terimplementasi. Tidak ada target produksi nasional, tidak ada skema insentif untuk produsen, dan tidak ada kerangka hukum yang memudahkan investasi di sektor ini.

Padahal, negara-negara seperti Australia, Chili, dan Maroko—yang sumber daya terbarukannya bahkan lebih terbatas—sudah lebih dahulu bergerak. Mereka telah membangun proyek percontohan, menjalin kerja sama internasional, dan menyiapkan ekspor hidrogen hijau dalam beberapa tahun ke depan. Australia, misalnya, akan memasok hidrogen ke Jepang dan Korea mulai 2028 melalui kerja sama G-to-G dan skema investasi swasta yang agresif.

Jika Indonesia tidak segera menyusun strategi, bukan tidak mungkin peluang emas ini diambil negara lain.

Langkah Strategis Menuju Energi Masa Depan

Indonesia harus segera bertindak. Beberapa langkah prioritas yang dapat dilakukan antara lain:

1.       Menyusun dan menerbitkan Roadmap Hidrogen Nasional, dengan target kapasitas produksi, peta lokasi, dan kebijakan insentif.

2.       Mengembangkan proyek percontohan (pilot project) di lokasi potensial seperti NTT, Papua, atau Sumatera, menggunakan PLTS atau PLTA sebagai sumber energi hijau.

3.       Menarik investor asing dari Jepang, Uni Eropa, atau Timur Tengah, dengan menjanjikan kemudahan izin, insentif pajak, dan kepastian hukum.

4.       Membentuk konsorsium BUMN dan swasta nasional untuk pengembangan hidrogen, seperti gabungan antara PLN, Pertamina, dan industri teknologi energi.

5.       Mempromosikan hidrogen sebagai sumber daya ekspor strategis, sama seperti batubara dan gas alam di masa lalu.

Indonesia: Konsumen atau Pemasok Energi Masa Depan?

Kita sedang berada di titik kritis. Dunia sedang berubah. Kendaraan berbahan bakar fosil segera ditinggalkan. Dua kekuatan teknologi tengah bersaing merebut dominasi. Indonesia tidak harus ikut "perang teknologi" itu, tetapi bisa memilih untuk menjadi penyuplai utama bahan bakar bagi para pejuangnya.

Jika mobil listrik berbasis baterai menang, Indonesia tetap diuntungkan lewat hilirisasi nikel. Tetapi jika mobil hidrogen fuel cell yang menang—dan peluang itu sangat mungkin terjadi dalam sektor transportasi berat—Indonesia bisa memainkan peran yang lebih besar lagi: menjadi pusat produksi dan ekspor hidrogen hijau dunia.

Ini bukan mimpi kosong. Potensinya sudah ada. Kebutuhannya sudah nyata. Pasarnya sedang terbentuk. Yang dibutuhkan hanya satu hal: keberanian untuk bergerak cepat, sebelum semuanya terlambat.***

Banda Aceh, 18 Juli 2025

Dr. Ir. Dandi Bachtiar, M. Sc. adalah dosen di Departemen Teknik Mesin dan Industri, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...