Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan
lagi sekadar konsep fiksi ilmiah dalam film Hollywood. Ia telah menyusup ke
ruang-ruang kehidupan kita—dari mesin pencari, algoritma belanja online,
kendaraan otonom, hingga asisten virtual seperti ChatGPT. Di tengah ledakan
teknologi ini, pertanyaan besar muncul: Apakah AI hadir untuk kemaslahatan umat
atau sekadar instrumen pasar?
Pertanyaan ini tidak hanya relevan secara filosofis,
tetapi juga teologis, sosial, dan politis. Di era di mana kecepatan teknologi
melampaui kecepatan etika, manusia perlu berhenti sejenak dan merenung: ke mana
sebenarnya kita diarahkan oleh arus ini?
Antara Inovasi dan Komersialisasi
Tak bisa dimungkiri, sebagian besar pengembangan AI di
dunia saat ini digerakkan oleh kepentingan pasar. Perusahaan-perusahaan raksasa
seperti Google, Meta, Amazon, Microsoft, hingga OpenAI berlomba-lomba
melahirkan sistem AI tercanggih, tetapi dengan orientasi yang sangat jelas:
keuntungan ekonomi.
AI menjadi senjata dalam perang pasar yang brutal.
Kemampuannya untuk menyesuaikan iklan, membaca pola belanja, hingga meniru gaya
komunikasi manusia seperti ChatGPT, adalah komoditas mahal. Semakin pintar AI
mengenali kita, semakin besar kemungkinan kita membeli sesuatu, mengklik
tautan, atau menonton lebih lama.
Namun, di sinilah dilemanya. Apakah seluruh energi dan
potensi luar biasa dari AI hanya akan diarahkan untuk menjual lebih banyak
produk? Di manakah letak nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada keadilan
sosial?
AI sebagai Anugerah Pengetahuan
Islam sejak awal menempatkan ilmu pengetahuan sebagai
poros utama peradaban. Al-Qur’an memuliakan orang-orang berilmu dan menempatkan
akal sebagai alat utama mengenal Tuhan. Jika AI adalah hasil dari kerja akal
manusia, maka pada dasarnya ia adalah buah dari proses panjang peradaban yang
seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan.
AI bisa dimanfaatkan untuk banyak tujuan mulia.
Misalnya, membantu diagnosa penyakit dengan lebih akurat, mendeteksi kebohongan
dalam wacana publik, mempermudah pendidikan di daerah terpencil, hingga
membantu dalam studi keislaman melalui penerjemahan kitab-kitab klasik, deteksi
plagiarisme ilmiah, hingga otomasi dakwah digital.
Namun sayangnya, pemanfaatan semacam ini belum menjadi
arus utama. Teknologi AI masih banyak dikembangkan di ruang-ruang eksklusif
yang tidak terjangkau umat secara luas. Bahkan seringkali, umat justru menjadi
objek pasif dari sistem AI yang dibangun oleh pihak-pihak lain, dengan logika
pasar sebagai pendorong utama.
Tantangan Etika dan Ketimpangan Global
Salah satu problem terbesar dari AI adalah potensi
bias dan ketimpangan yang diperparah. AI dilatih dari data, dan data dunia saat
ini masih sangat didominasi oleh perspektif Barat dan kelompok mayoritas.
Akibatnya, AI bisa memperkuat stereotip, bias rasial, bahkan bias terhadap
Islam atau komunitas minoritas lainnya.
Laporan MIT Media Lab tahun 2018 menunjukkan bahwa
software pengenalan wajah AI memiliki tingkat kesalahan sangat tinggi dalam
mengenali wajah orang kulit hitam dan perempuan. Hal ini bukan karena AI
"jahat", tetapi karena data pelatihannya bias. Jika masalah ini tidak
disadari dan dikritisi, AI bisa memperluas ketidakadilan sosial dan memperkuat
kolonialisme digital.
Bagi umat Islam yang tinggal di negara-negara
berkembang, pertanyaan etis ini menjadi sangat penting. Siapa yang mengontrol
data kita? Apakah AI hanya akan memperbesar jurang digital antara negara maju
dan negara berkembang? Siapa yang akan mengakses keuntungan dari teknologi
ini—perusahaan besar di Silicon Valley atau masyarakat kecil di Asia dan
Afrika?
Ke Mana Peran Umat?
Umat Islam tidak bisa terus berada di posisi konsumen
pasif. Kita harus mulai menjadi produsen pengetahuan dan teknologi.
Negara-negara Islam perlu mengembangkan ekosistem riset AI sendiri, memperkuat
kurikulum sains dan etika digital, serta membangun kerja sama lintas negara
untuk melahirkan teknologi yang inklusif dan adil.
Lebih jauh dari itu, para ulama, cendekiawan muslim,
dan akademisi perlu aktif berdialog dalam diskusi global soal etika AI.
Sebagaimana Islam pernah memimpin peradaban dunia dengan sains dan etika yang
saling menopang, maka tantangan AI hari ini memanggil semangat yang sama.
Apakah kita siap mengembangkan “AI Syariah”? Bukan
dalam pengertian sempit sekadar menyaring konten halal dan haram, tetapi dalam
makna luas: AI yang menjunjung keadilan, transparansi, kejujuran, dan keberpihakan
pada yang lemah—nilai-nilai yang diajarkan Islam.
Potensi AI untuk Dakwah dan Pendidikan
Di tengah pesimisme terhadap komersialisasi AI,
terdapat celah harapan yang besar. Banyak lembaga dakwah, pesantren, dan
institusi pendidikan Islam kini mulai mengeksplorasi potensi AI. Mulai dari
chatbot tanya jawab keislaman, teknologi pendeteksi waktu salat berbasis AI,
hingga platform e-learning yang menyesuaikan materi pembelajaran dengan
karakter siswa.
Bayangkan jika AI bisa membantu memetakan kebutuhan
pendidikan di daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal), memberikan fatwa
berbasis konteks lokal, atau membantu juru dakwah menyiapkan materi ceramah
yang sesuai audiens. Bukankah ini jalan besar untuk memperluas akses keilmuan
Islam?
Namun tentu saja, semua itu membutuhkan kebijakan,
visi, dan keberanian. Kita butuh SDM muslim yang melek teknologi, programmer
yang sadar nilai-nilai agama, dan pemimpin yang tidak hanya mengejar proyek
mercusuar, tetapi membangun fondasi pengetahuan berbasis umat.
AI untuk Umat atau AI untuk Pasar?
Pada akhirnya, pertanyaan di judul tulisan ini kembali
menjadi penentu arah. Apakah AI akan terus dikembangkan sebagai instrumen
kapitalisme global semata? Atau bisakah umat—termasuk umat Islam—mengambil
peran dalam mengarahkan AI menjadi alat untuk membangun peradaban?
Islam mengajarkan bahwa teknologi bukanlah musuh. Ia
adalah alat. Yang menentukan adalah manusia di baliknya. Dalam surah Al-Baqarah
ayat 30, ketika para malaikat mempertanyakan penciptaan manusia karena takut ia
akan merusak bumi, Allah menjawab bahwa manusia memiliki kapasitas untuk
mengetahui dan memahami. Di sinilah letak kuncinya—ilmu, tanggung jawab, dan
moralitas.
Kalau umat Islam tidak ikut membentuk wajah teknologi
masa depan, maka kita akan menjadi korban dari sistem yang tidak kita pahami
dan tidak bisa kita kontrol. Tapi jika kita mengambil peran aktif, maka AI
bukan hanya milik pasar, tapi juga milik umat.
Dan mungkin, suatu hari nanti, lahirlah generasi ulama
dan ilmuwan yang membimbing AI agar berjalan seiring dengan nilai-nilai
kemanusiaan universal.
Masa depan AI tidak bisa ditentukan oleh satu pihak
saja. Ia adalah produk peradaban. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk
mengarahkan ke mana AI akan melangkah. Bukan hanya soal algoritma, tetapi soal
siapa yang dilayani dan siapa yang ditinggalkan.
Jika umat Islam ingin menjawab tantangan zaman ini
dengan bijak, maka sudah saatnya kita bertanya: apakah kita masih ingin jadi
penonton sejarah, atau ikut menulis bab barunya?***
Banda Aceh,
30 Juli 2025
Dr. Ir. Dandi Bachtiar, M.Sc.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar