Jumat, 01 Agustus 2025

AI Untuk Umat Atau AI Untuk Pasar?

 

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat 1 Agustus 2025

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar konsep fiksi ilmiah dalam film Hollywood. Ia telah menyusup ke ruang-ruang kehidupan kita—dari mesin pencari, algoritma belanja online, kendaraan otonom, hingga asisten virtual seperti ChatGPT. Di tengah ledakan teknologi ini, pertanyaan besar muncul: Apakah AI hadir untuk kemaslahatan umat atau sekadar instrumen pasar?

Pertanyaan ini tidak hanya relevan secara filosofis, tetapi juga teologis, sosial, dan politis. Di era di mana kecepatan teknologi melampaui kecepatan etika, manusia perlu berhenti sejenak dan merenung: ke mana sebenarnya kita diarahkan oleh arus ini?

Antara Inovasi dan Komersialisasi

Tak bisa dimungkiri, sebagian besar pengembangan AI di dunia saat ini digerakkan oleh kepentingan pasar. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Meta, Amazon, Microsoft, hingga OpenAI berlomba-lomba melahirkan sistem AI tercanggih, tetapi dengan orientasi yang sangat jelas: keuntungan ekonomi.

AI menjadi senjata dalam perang pasar yang brutal. Kemampuannya untuk menyesuaikan iklan, membaca pola belanja, hingga meniru gaya komunikasi manusia seperti ChatGPT, adalah komoditas mahal. Semakin pintar AI mengenali kita, semakin besar kemungkinan kita membeli sesuatu, mengklik tautan, atau menonton lebih lama.

Namun, di sinilah dilemanya. Apakah seluruh energi dan potensi luar biasa dari AI hanya akan diarahkan untuk menjual lebih banyak produk? Di manakah letak nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada keadilan sosial?

AI sebagai Anugerah Pengetahuan

Islam sejak awal menempatkan ilmu pengetahuan sebagai poros utama peradaban. Al-Qur’an memuliakan orang-orang berilmu dan menempatkan akal sebagai alat utama mengenal Tuhan. Jika AI adalah hasil dari kerja akal manusia, maka pada dasarnya ia adalah buah dari proses panjang peradaban yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan.

AI bisa dimanfaatkan untuk banyak tujuan mulia. Misalnya, membantu diagnosa penyakit dengan lebih akurat, mendeteksi kebohongan dalam wacana publik, mempermudah pendidikan di daerah terpencil, hingga membantu dalam studi keislaman melalui penerjemahan kitab-kitab klasik, deteksi plagiarisme ilmiah, hingga otomasi dakwah digital.

Namun sayangnya, pemanfaatan semacam ini belum menjadi arus utama. Teknologi AI masih banyak dikembangkan di ruang-ruang eksklusif yang tidak terjangkau umat secara luas. Bahkan seringkali, umat justru menjadi objek pasif dari sistem AI yang dibangun oleh pihak-pihak lain, dengan logika pasar sebagai pendorong utama.

Tantangan Etika dan Ketimpangan Global

Salah satu problem terbesar dari AI adalah potensi bias dan ketimpangan yang diperparah. AI dilatih dari data, dan data dunia saat ini masih sangat didominasi oleh perspektif Barat dan kelompok mayoritas. Akibatnya, AI bisa memperkuat stereotip, bias rasial, bahkan bias terhadap Islam atau komunitas minoritas lainnya.

Laporan MIT Media Lab tahun 2018 menunjukkan bahwa software pengenalan wajah AI memiliki tingkat kesalahan sangat tinggi dalam mengenali wajah orang kulit hitam dan perempuan. Hal ini bukan karena AI "jahat", tetapi karena data pelatihannya bias. Jika masalah ini tidak disadari dan dikritisi, AI bisa memperluas ketidakadilan sosial dan memperkuat kolonialisme digital.

Bagi umat Islam yang tinggal di negara-negara berkembang, pertanyaan etis ini menjadi sangat penting. Siapa yang mengontrol data kita? Apakah AI hanya akan memperbesar jurang digital antara negara maju dan negara berkembang? Siapa yang akan mengakses keuntungan dari teknologi ini—perusahaan besar di Silicon Valley atau masyarakat kecil di Asia dan Afrika?

Ke Mana Peran Umat?

Umat Islam tidak bisa terus berada di posisi konsumen pasif. Kita harus mulai menjadi produsen pengetahuan dan teknologi. Negara-negara Islam perlu mengembangkan ekosistem riset AI sendiri, memperkuat kurikulum sains dan etika digital, serta membangun kerja sama lintas negara untuk melahirkan teknologi yang inklusif dan adil.

Lebih jauh dari itu, para ulama, cendekiawan muslim, dan akademisi perlu aktif berdialog dalam diskusi global soal etika AI. Sebagaimana Islam pernah memimpin peradaban dunia dengan sains dan etika yang saling menopang, maka tantangan AI hari ini memanggil semangat yang sama.

Apakah kita siap mengembangkan “AI Syariah”? Bukan dalam pengertian sempit sekadar menyaring konten halal dan haram, tetapi dalam makna luas: AI yang menjunjung keadilan, transparansi, kejujuran, dan keberpihakan pada yang lemah—nilai-nilai yang diajarkan Islam.

Potensi AI untuk Dakwah dan Pendidikan

Di tengah pesimisme terhadap komersialisasi AI, terdapat celah harapan yang besar. Banyak lembaga dakwah, pesantren, dan institusi pendidikan Islam kini mulai mengeksplorasi potensi AI. Mulai dari chatbot tanya jawab keislaman, teknologi pendeteksi waktu salat berbasis AI, hingga platform e-learning yang menyesuaikan materi pembelajaran dengan karakter siswa.

Bayangkan jika AI bisa membantu memetakan kebutuhan pendidikan di daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal), memberikan fatwa berbasis konteks lokal, atau membantu juru dakwah menyiapkan materi ceramah yang sesuai audiens. Bukankah ini jalan besar untuk memperluas akses keilmuan Islam?

Namun tentu saja, semua itu membutuhkan kebijakan, visi, dan keberanian. Kita butuh SDM muslim yang melek teknologi, programmer yang sadar nilai-nilai agama, dan pemimpin yang tidak hanya mengejar proyek mercusuar, tetapi membangun fondasi pengetahuan berbasis umat.

AI untuk Umat atau AI untuk Pasar?

Pada akhirnya, pertanyaan di judul tulisan ini kembali menjadi penentu arah. Apakah AI akan terus dikembangkan sebagai instrumen kapitalisme global semata? Atau bisakah umat—termasuk umat Islam—mengambil peran dalam mengarahkan AI menjadi alat untuk membangun peradaban?

Islam mengajarkan bahwa teknologi bukanlah musuh. Ia adalah alat. Yang menentukan adalah manusia di baliknya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 30, ketika para malaikat mempertanyakan penciptaan manusia karena takut ia akan merusak bumi, Allah menjawab bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengetahui dan memahami. Di sinilah letak kuncinya—ilmu, tanggung jawab, dan moralitas.

Kalau umat Islam tidak ikut membentuk wajah teknologi masa depan, maka kita akan menjadi korban dari sistem yang tidak kita pahami dan tidak bisa kita kontrol. Tapi jika kita mengambil peran aktif, maka AI bukan hanya milik pasar, tapi juga milik umat.

Dan mungkin, suatu hari nanti, lahirlah generasi ulama dan ilmuwan yang membimbing AI agar berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Masa depan AI tidak bisa ditentukan oleh satu pihak saja. Ia adalah produk peradaban. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan ke mana AI akan melangkah. Bukan hanya soal algoritma, tetapi soal siapa yang dilayani dan siapa yang ditinggalkan.

Jika umat Islam ingin menjawab tantangan zaman ini dengan bijak, maka sudah saatnya kita bertanya: apakah kita masih ingin jadi penonton sejarah, atau ikut menulis bab barunya?***

Banda Aceh, 30 Juli 2025

Dr. Ir. Dandi Bachtiar, M.Sc.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...