Sabtu, 19 Juli 2025

Apakah AI Dapat Disebut Sebagai Revolusi Industri 5.0?


Telah diterbitkan pada media online SagoeTV.com pada Sabtu, 19 Juli 2025

Dunia sedang berubah dengan kecepatan yang luar biasa. Dalam dua dekade terakhir, kita menyaksikan teknologi digital melesat dari sekadar alat bantu menjadi entitas yang seolah punya kecerdasan sendiri—Artificial Intelligence (AI). Dari rekomendasi film di platform streaming hingga chatbot pintar seperti ChatGPT, AI tidak lagi menjadi fantasi ilmiah, tetapi realitas sehari-hari. Lalu pertanyaannya: apakah kehadiran dan penetrasi AI ke segala lini kehidupan manusia sudah bisa kita sebut sebagai bagian dari Revolusi Industri 5.0?

Untuk menjawab itu, mari kita menengok ke belakang, menyusuri jejak panjang sejarah revolusi industri yang telah membentuk dunia seperti yang kita kenal hari ini.

Sejarah Singkat Revolusi Industri

Revolusi Industri 1.0 dimulai sekitar akhir abad ke-18 di Inggris, ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt. Peristiwa ini mengubah cara produksi barang dari berbasis tenaga manusia dan hewan ke tenaga mesin. Industri tekstil, pertambangan, dan transportasi mengalami transformasi radikal. Inilah awal mula masyarakat agraris berubah menjadi masyarakat industri.

Revolusi Industri 2.0 terjadi sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Penemuan listrik, jalur perakitan (assembly line), dan komunikasi jarak jauh seperti telegraf dan telepon mempercepat produksi massal. Inilah era di mana efisiensi dan produktivitas menjadi kunci, membuka jalan bagi industri otomotif dan elektronik.

Revolusi Industri 3.0, dikenal juga sebagai revolusi digital, muncul pada pertengahan abad ke-20 dengan ditemukannya komputer, semikonduktor, dan teknologi informasi. Otomatisasi produksi, internet, dan perangkat digital mulai meresap ke kehidupan masyarakat.

Revolusi Industri 4.0, yang muncul pada dekade 2010-an, memperkenalkan konsep “smart factory” dan integrasi dunia fisik dengan digital melalui Internet of Things (IoT), big data, cloud computing, hingga kecerdasan buatan. Ini adalah era ketika sistem produksi menjadi otonom dan saling terhubung.

Lalu, Apa Itu Revolusi Industri 5.0?

Sementara Revolusi Industri 4.0 berbicara tentang efisiensi dan otomatisasi, Revolusi Industri 5.0 mulai digambarkan sebagai sebuah koreksi terhadap ekses otomatisasi total. Di sinilah manusia kembali ditempatkan di pusat. Istilah ini mulai populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama di Eropa dan Jepang, sebagai bentuk reaksi atas kekhawatiran terhadap dehumanisasi akibat dominasi mesin.

Revolusi Industri 5.0 menekankan kolaborasi antara manusia dan mesin cerdas. Tujuannya bukan sekadar efisiensi produksi, tetapi menciptakan nilai tambah melalui kreativitas, personalisasi, dan keberlanjutan. Dalam 5.0, manusia tidak digantikan oleh robot, tetapi bekerja berdampingan untuk menciptakan produk dan layanan yang lebih bermakna, inklusif, dan etis.

Contohnya, di bidang kesehatan, AI bisa membantu mendiagnosis penyakit lebih cepat, tetapi keputusan akhir tetap di tangan dokter yang mempertimbangkan konteks emosional pasien. Di bidang pendidikan, AI bisa menjadi asisten pengajaran, tapi guru tetap berperan sebagai pembimbing moral dan sosial.

Apakah AI Adalah Jantung Revolusi 5.0?

Jawabannya: bisa ya, bisa tidak.

AI adalah teknologi utama yang memicu akselerasi menuju era 5.0. Namun, revolusi ini tidak melulu soal AI dalam pengertian teknis. Esensi dari Revolusi Industri 5.0 adalah rekonsiliasi antara manusia dan teknologi. Bukan soal menggantikan manusia dengan algoritma, tapi bagaimana membuat algoritma bekerja dalam harmoni dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Inilah yang membedakan AI dalam konteks 4.0 dan 5.0. Jika dalam 4.0 AI digunakan untuk mempercepat otomatisasi, maka dalam 5.0 AI diarahkan untuk memperkaya kualitas hidup manusia, menciptakan keseimbangan antara kecepatan teknologi dan kedalaman nilai-nilai sosial.

Di sinilah tantangannya: bagaimana kita bisa memastikan bahwa AI tidak menjadi alat dominasi kapitalisme baru, tetapi justru menjadi sarana untuk mendistribusikan manfaat teknologi secara adil?

Risiko dan Peluang

Sebagaimana setiap revolusi membawa dua sisi mata uang, begitu pula AI dalam revolusi 5.0.

Risiko terbesar tentu saja terletak pada ketimpangan akses dan etika penggunaan. AI bisa digunakan untuk manipulasi informasi (deepfake), pengawasan massal, atau diskriminasi algoritmik. Kita juga menghadapi ancaman hilangnya jutaan pekerjaan karena otomatisasi, termasuk pekerjaan white-collar yang sebelumnya dianggap aman.

Namun, peluangnya pun tak kalah besar. AI membuka akses pada pendidikan berkualitas melalui platform daring, mempercepat riset medis, mengatasi perubahan iklim lewat pemodelan cuaca, hingga membantu UMKM dalam manajemen bisnis. Jika dikelola dengan benar, AI bisa menjadi katalisator bagi transformasi sosial yang lebih adil dan inklusif.

Dimana Posisi Indonesia?

Indonesia masih berada pada fase transisi antara industri 3.0 ke 4.0. Dalam konteks kebijakan, kita sudah memiliki Making Indonesia 4.0 sebagai peta jalan, tapi belum banyak wacana atau regulasi tentang kesiapan menuju 5.0. Padahal, demografi Indonesia yang didominasi generasi muda merupakan modal besar dalam membentuk masa depan AI yang humanis.

Pemerintah perlu lebih aktif merumuskan regulasi etika AI, mendorong inklusi digital, serta membangun infrastruktur yang memungkinkan kolaborasi antara manusia dan mesin terjadi secara sehat. Dunia pendidikan juga harus merespons dengan cepat melalui integrasi literasi digital, pemrograman, dan etika teknologi dalam kurikulum sejak dini.

AI dalam Pusaran Revolusi Kemanusiaan

AI adalah sebuah tonggak teknologi yang sangat kuat, tetapi hanya akan menjadi revolusi dalam arti yang sesungguhnya jika digunakan untuk memperkuat harkat dan martabat manusia. Di sinilah Revolusi Industri 5.0 menemukan bentuknya: ketika kita tidak hanya menciptakan teknologi yang cerdas, tetapi juga menciptakan manusia yang bijak dalam menggunakannya.

Kita tidak bisa menghentikan laju AI, seperti kita tidak bisa menghentikan listrik atau internet. Tapi kita bisa, dan harus, mengarahkan AI agar bekerja bagi kepentingan umat manusia, bukan menggantikannya. Revolusi Industri 5.0 bukanlah soal mesin yang lebih hebat, melainkan manusia yang lebih sadar, kritis, dan kolaboratif dalam menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama.

Maka, jawabannya: ya, AI dapat disebut sebagai bagian dari Revolusi Industri 5.0—asal kita menempatkan manusia kembali sebagai pusatnya.***

Banda Aceh, 19 Juli 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...