Jumat, 30 Desember 2022

Hikmah Dibalik Tsunami 2004


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 30 Desember 2022

Tanpa terasa 18 tahun sudah berlalu ketika peristiwa besar gempa dan tsunami melanda tanah Aceh tepatnya di hari Minggu 26 Desember 2004. Ketika itu tak ada seorang pun yang menyangka gempa yang maha dahsyat dengan kekuatan 9,3 Magnitudo datang mengguncang. Karena selama ini gempa memang kerap terjadi di wilayah Aceh, namun dengan kekuatan yang relatif rendah, paling tinggi sebesar 5 - 6 Magnitudo.

 

Namun kali ini gempa yang mengguncang begitu dahsyat. Gempa yang menerpa di pagi hari pukul 7.59 itu mengejutkan warga Banda Aceh yang sedang menikmati udara pagi yang begitu segar dan menyenangkan. Selang beberapa menit kemudian tatkala warga masih kebingungan dengan suasana porak-poranda akibat gempa, tiba-tiba datang pula gemuruh serbuan air laut yang bergulung-gulung menghempas ke daratan pesisir Aceh. Air laut yang mencapai tinggi 30 meter menghempas pantai-pantai di Aceh dan masuk jauh ke daratan hingga mencapai 5 km.

 

Belakangan baru masyarakat mengetahui bahwa itulah tsunami yaitu gelombang laut yang menerpa daratan sebagai akibat dari gempa yang meruntuhkan batuan bumi di dasar laut. Patahan bumi di bawah laut telah mengganggu keseimbangan kedudukan air laut dan menyebabkan gelombang besar yang menghantam daratan di sekitarnya. Sebelumnya, tidak banyak masyarakat yang paham akan fenomena tsunami. Karena memang tidak ada dalam ingatan warga Aceh tentang riwayat tsunami di wilayah ini, kecuali sedikit warga dari Simeulue yang pernah mengalaminya.

 

Jumlah korban jiwa yang tercatat mencapai 170 ribu jiwa, sebuah jumlah yang sangat besar yang sebenarnya masih bisa dicegah dan ditekan menjadi lebih rendah seandainya kita menyadari lebih awal tentang tsunami. Namun apa daya, Allah Sang Maha Kuasa sudah berkehendak. Di saat beginilah baru kita sadari betapa kecilnya kita manusia hamba sahaya di hadapan Allah Sang Khalik penguasa alam semesta.

 

Betapa sedikitnya ilmu yang kita miliki, sehingga tidak ada daya upaya yang mampu kita tunjukkan untuk bisa menghindar dari bencana alam yang maha dahsyat di mata kita, namun hanya kecil saja di tangan Allah azza wa jalla. Kita manusia ini sungguh begitu ringkih, lemah dan tiada berdaya. Sungguh sangat mengenaskan jika masih ada sebagian kita manusia yang berlaku sombong di muka bumi.

 

Melalui peristiwa besar gempa dan tsunami Allah Yang Maha Kuasa telah menunjukkan dengan nyata kebesaranNya di hadapan kita makhluk ciptaanNya. Kini, setelah 18 tahun berlalu, kenangan itu tidak akan pernah sirna dalam ingatan kita. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk memetik hikmah besar atas musibah ini. Dan terus mengingatnya untuk menjadi memori abadi dalam sanubari kita.

 

Apa saja hikmah besar gempa dan tsunami Aceh 2004 itu?

 

Pertama, gempa dan tsunami Aceh 2004 adalah bukti keagungan dan kebesaran Allah sang Pencipta. Allah selamatkan mesjid-mesjid tegak berdiri di kala semua bangunan lain rata dengan tanah. Seolah-olah Allah ingin berkata: hai manusia kembalilah ke mesjidku, itu rumahku, di situlah tempat kalian berlindung.

 

Kedua, gempa dan tsunami Aceh 2004 adalah tonggak perdamaian umat manusia. Perang berkepanjangan antara sesama muslim di Aceh antara GAM dan TNI akhirnya dapat dihentikan. Perang 30 tahun sejak 1976 telah mengorbankan 15.000 nyawa rakyat tak berdosa, namun tsunami yang hanya 15 menit sudah menghilangkan 170 ribu nyawa manusia. Beginilah cara Allah menghentikan perang berkepanjangan yang seolah tidak ada ujungnya itu.

 

Ketiga, nama Aceh dikenal seluruh dunia akibat peristiwa ini. Pemberitaan yang terus-menerus di media massa dan televisi telah melambungkan nama Aceh dan menjadi ujaran setiap bibir manusia di dunia. Ketika itu siapa yang tidak kenal dengan Aceh. Semua mata manusia di dunia tertuju ke Aceh. Otomatis semua orang mencari tahu segala hal tentang Aceh. Inilah hikmah besar lain bagi Aceh yang menjadi peluang besar bagi warga Aceh agar dapat menjadi warga dunia dengan berperilaku yang menonjolkan kebaikan jatidiri sejati Aceh. Simpati dunia tidak surut terhadap Aceh, orang berlomba-lomba untuk memberikan bantuannya agar Aceh kembali bangkit dan berkehidupan normal seperti sediakala.

 

Keempat, berkembangnya ilmu pengetahuan tentang kebencanaan dan mitigasi bencana dengan munculnya pusat studi dan penelitian tentang bencana. Para periset dunia berbondong datang ke Aceh untuk meneliti tentang bencana gempa dan tsunami berskala dunia. Kajian-kajian dalam bentuk paper internasional telah melejitkan nama Aceh dan peneliti dari Aceh. Ini juga sedikit banyak membantu menaikkan nama dan pamor ilmuwan asal Aceh dan Indonesia di kancah ilmuwan internasional.

 

Selain itu, situs-situs bekas bencana gempa dan tsunami menjadi bahan berharga dan kenangan yang tinggi nilainya jika kita mampu menyimpan dan memelihara dengan cara yang bijaksana. Beruntung kita dapat mengabadikannya dalam bentuk Museum Tsunami yang bertaraf dunia. Museum ini dapat dijadikan sebagai simbol kenangan tak terlupakan akan bencana besar ini. Serta dapat menjadi sumber pelajaran berharga bagi umat manusia di dunia.

 

Ketahanan hidup rakyat Aceh juga teruji dengan musibah besar ini. Mental dan kejiwaan rakyat semakin dapat dikuatkan dengan pemahaman yang tinggi akan ilmu dan iman agama dalam menghadapi cobaan duniawi. Rakyat Aceh secara psikologi akan teruji dan kuat serta mampu keluar dari tekanan hidup.

 

Mental yang kuat dan perkasa dari rakyat Aceh ini menjadi modal utama kepada pembinaan karakter bangsa yang teruji dengan cobaan hidup. Ini tentunya akan menjadikan kekuatan moral yang besar bagi rakyat Aceh untuk dapat menyongsong masa depan dengan kekuatan mental yang tinggi.

 

Hikmah besar dari musibah tsunami ini hendaknya dapat diserap sepenuhnya untuk kepentingan dan keuntungan rakyat Aceh seluruhnya. Kekuatan mental, kegigihan, ketabahan, dan kepatuhan kepada Allah sang Pencipta menjadi ukuran utama ketaqwaan rakyat dalam menjalani kehidupan di masa depan. Masa depan yang gilang gemilang harus dihadapi dengan jiwa besar dan gagah berani.

 

Itulah hikmah yang didapat dari musibah besar yang dihadapi oleh rakyat Aceh setelah tsunami 2004.***

 

Banda Aceh, 28 Desember 2022



Jumat, 09 Desember 2022

Karakter Bangsa Aceh


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 9 Desember 2022 

Karakter bangsa adalah jatidiri bangsa. Aceh sebagai sebuah entitas etnik berada di dalam sebuah negara kesatuan Indonesia. Karenanya dapat disebut juga sebagai sub-bangsa dalam bingkai besar kebangsaan Indonesia. Karena masyarakatnya memiliki ciri-ciri karakteristik tersendiri sehingga dapat otomatis menunjukkan pula keberagaman karakter di antara sub-bangsa lainnya. Dalam konteks entitas budaya yang disandangnya dapatlah kita sebut Aceh dan etnis lainnya dalam negara Indonesia sebagai sebuah bangsa dalam skala lokal. Karakter-karakter khas sub-bangsa ini akan berkontribusi secara nyata kepada pembentukan karakter utama bangsa Indonesia.

 

Aceh sebagai sebuah bangsa memiliki karakter tersendiri yang menjadi jatidiri bangsanya. Apa itu? Ada beberapa ciri yang dapat dilabelkan untuk menyebut masyarakat Aceh. Yang pertama, adalah Islam. Masyarakat Aceh dapat dikatakan 100% muslim, penganut agama Islam. Walaupun masyarakat Aceh telah ada sebelum agama Islam tiba di wilayah ini, namun kedatangan Islam telah mengubah secara keseluruhan pandangan hidup rakyatnya. Islam telah menjadi roh kehidupan seluruh rakyatnya saat ini.

 

Islam sebagai karakter bangsa adalah nilai plus bagi masyarakat Aceh. Karena Islam membawa nilai-nilai agung yang suci dan diberkahi oleh Allah Sang Maha Pencipta. Karakter bangsa yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman yang kental akan menjadi modal besar bagi kaum tersebut dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Karena Islam sarat dengan nilai-nilai hidup yang positif dan membawa kepada kebaikan di semua lini kehidupan.

 

Karakter positif lainnya yang telah menjadi ciri bangsa Aceh dapat disebutkan di sini seperti: berani, jujur, setia, bertanggung-jawab, dan rela berkorban. Kesemuanya itu adalah karakter positif yang telah dibangun oleh para leluhur pemimpin bangsa Aceh kepada masyarakatnya.

 

Dalam catatan sejarah, pendiri pertama Kerajaan Aceh di tahun 1514 Sultan Ali Mughayat Syah ternyata telah pernah menyusun serangkaian daftar peraturan secara tertulis yang harus ditaati oleh penduduk Aceh ketika itu. Sultan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi kerajaan telah memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk mentaati aturan tertulis tersebut. Isinya ada sebanyak 21 point yang berbentuk perintah untuk melakukan hal tertentu dan larangan untuk tidak melakukan hal tertentu.

 

Perintah dan larangan yang dititahkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah dipatuhi dengan baik oleh seluruh rakyat Aceh. Sehingga menjadi adat kebiasaan yang telah mendarah daging dan menjadi karakter bangsa Aceh sepanjang zaman-zaman berikutnya. Hal ini pula lah yang disinyalir oleh almarhum Tan Sri Sanusi Junid (seorang putra Aceh yang menjadi tokoh politik di Malaysia di era pemerintahan Mahathir Mohamad) sebagai kunci keberhasilan Kerajaan Aceh di abad ke-15-17 silam. Fakta ini direkam oleh Fahmi M. Nasir dalam tulisannya yang bertajuk Nilai-Nilai Hidup (Serambi Indonesia, 24 Mei 2016).

 

Nilai-nilai hidup bangsa Aceh yang dirumuskan oleh Sultan Ali Mughayat Syah itu jika ditampilkan dalam bentuk ringkasnya dapatlah disebut sebagai: jujur, berani, disiplin, rajin dan setia. Kesemua nilai ini menjadi kunci rahasia kesuksesan bangsa Aceh dalam mengarungi kehidupannya menjadi bangsa yang besar di kala itu.

 

Jika kita kembali menengok kondisi kontemporer Aceh masa kini, bagaimanakah posisi karakter-karakter positif di dalam kehidupan masyarakat? Tentunya keadaan sedikit banyak telah bergeser dan sendi kehidupan realitas masyarakat Aceh telah berubah sesuai dengan perjalanan kehidupan kebangsaan yang dilakoni masyarakat.

 

Keruntuhan Kerajaan Aceh akibat agresi Belanda di abad ke-19 telah pula meruntuhkan sendi-sendi moral dan semangat kebangsaan masyarakat yang tadinya dipegang oleh sistem Kerajaan Aceh sebagai pemangku kedaulatan bangsa Aceh yang sesungguhnya. Rakyat Aceh ibarat anak ayam kehilangan induk. Sang induk baru (Belanda) sudah menjelma menjadi serigala lapar yang siap melahap siapa saja.

 

Keadaan ini terus berlangsung bertahun-tahun dalam suasana kehidupan masyarakat yang tidak normal. Yaitu dalam suasana perang terus-menerus kepada penjajah Belanda, karena masyarakat Aceh tidak pernah bersedia takluk di bawah kaki penguasa Belanda. Dalam suasana darurat seperti ini karakter bangsa Aceh pun terbentuk menjadi karakter baru yang berangsur-angsur berubah secara tanda disadari. Secara formal, tidak ada lagi pemangku kedaulatan yang menjadi penjaga nilai-nilai karakter Aceh yang mesti dituruti dan ditaati seperti masa Kerajaan dahulu. Pemimpin informal Aceh diambil alih oleh para Ulama pewaris Nabi yang dengan setia menanamkan nilai-nilai Islam dalam sendi kehidupan. Namun, itu semua berlangsung secara informal, terbatas, dan terisolasi pada tempat-tempat yang terpencar-pencar. Tergantung kepada kekuatan dan kharisma ulama setempat. Sangat wajar jika kondisi ini sedemikian rupa telah mengubah perilaku masyarakat membentuk karakter-karakter negatif yang tidak dapat dikendalikan lagi secara institusional.

 

Patut disyukuri dalam suasana yang tidak kondusif seperti itu, masyarakat Aceh masih tetap dapat mempertahankan ciri karakter Islam yang agung dalam kehidupannya. Namun tetap tidak dapat disangkal bahwa karakter masyarakat Aceh juga mau tidak mau terpaksa mengalami degradasi yang luar biasa pula. Sifat-sifat negatif seperti dendam, iri, dengki, sombong dan sebagainya juga tumbuh subur dalam masyarakat yang bergolak dalam prahara perang tak berkesudahan.

 

Sehingga ketika penjajah Belanda akhirnya terusir dari tanah Aceh, kehidupan masyarakat Aceh yang hancur mulai ditata kembali dalam suasana kehidupan baru dalam bingkai negara baru Indonesia. Proses asimilasi dan akulturasi masyarakat Aceh menjadi bagian dari pranata kebangsaan Indonesia mengalami proses yang panjang pula. Dan itu berlangsung dengan penuh dinamika pula. Kini sudah 77 tahun kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajahan Belanda. Artinya sudah 77 tahun pula proses kebersamaan Aceh dalam bingkai kebangsaan Indonesia.

 

Cita-cita untuk membangkitkan kembali kemegahan Aceh yang pernah diraih dahulu tidak pernah padam. Untuk itu penggalian kembali karakter positif Aceh yang digalang Sultan Ali Mughayat Syah perlu dilakukan oleh segenap komponen yang berkepentingan dengan masa depan Aceh yang gemilang. Nilai-nilai karakter yang jujur, berani, disiplin, rajin dan setia mestilah menjadi pedoman hidup masyarakat Aceh kembali. Dan dapat ditanamkan melalui proses formal struktural dalam sistem pendidikan di Aceh.

 

Majelis Pendidikan Aceh sebagai sebuah lembaga formal yang bertanggung-jawab tentang pendidikan Aceh dapat diandalkan sebagai perumus utama pendidikan karakter keacehan ini. Diharapkan rumusan formal ini dapat diterapkan sebagai muatan lokal dalam sistem pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di seluruh Aceh.

 

Kita berharap nilai-nilai hidup yang positif ini dapat kembali menjadi karakter agung masyarakat Aceh melalui proses penanaman nilai yang terstruktur dan sistematis dalam pranata kehidupan normal masyarakat Aceh. Jika ini dapat dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, maka ini dapat menjadi kontribusi besar Aceh dalam menanamkan karakter agung ini kepada kehidupan kebangsaan Indonesia secara luas.***

 

Banda Aceh, 7 Desember 2022


 

Selasa, 06 Desember 2022

Transisi Energi dan Peran Perguruan Tinggi



Telah dimuat di Harian Banjarmasin Post edisi cetak 6 Desember 2022

Transisi energi sudah menjadi keniscayaan. Indonesia mau tidak mau sudah harus melakukan transisi energi, yaitu melakukan proses peralihan dari penggunaan energi fosil menjadi energi terbarukan sepenuhnya pada tahun 2060.

 

Transisi energi juga menjadi salahsatu isu penting dalam pertemuan KTT G-20 yang baru saja usai di Bali November lalu. Masyarakat dunia sudah bersepakat untuk serius mengalihkan penggunaan energi fosil menjadi energi terbarukan. Karena ini menyangkut keberlangsungan kehidupan penduduk dunia yang terancam oleh perubahan iklim dan pemanasan global yang dipicu oleh emisi karbon dari penggunaan energi fosil yang begitu masif.

 

Tantangan transisi energi ternyata begitu besar. Itu tidak saja dirasakan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia, namun ternyata juga oleh semua negara termasuk negara maju. Masing-masing dengan tantangan khas negara yang bersangkutan. Dapat disebutkan di sini beberapa bentuk tantangan, seperti perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, pembiayaan yang tinggi, penguasaan teknologi dan keterbatasan sumber energi terbarukan itu sendiri.

 

Bagi Indonesia keterbatasan sumber energi terbarukan mungkin bukan kendala. Karena justru Indonesia kaya dengan sumber energi terbarukan. Keanekaragamannya begitu tinggi. Mulai dari berlimpahnya sinar matahari, sumber daya air yang tinggi di pulau-pulau besarnya, sumber biomassa dari lahan-lahan yang luas yang dapat ditanami dengan tumbuhan bioenergi, dan bahkan sumber panas bumi yang berlimpah khas Indonesia yang tidak semua negara di dunia memilikinya.

 

Dari berbagai sumber energi terbarukan itu mungkin hanya energi angin yang sedikit di bawah potensi negara-negara sub-tropis. Rata-rata hembusan angin di wilayah Indonesia memang tidak sestabil dan konsisten dengan kecepatan yang menghasilkan jumlah energi yang signifikan.

 

Kendala utama yang Indonesia hadapi datang pada sisi pembiayaan dan penguasaan teknologi. Kedua faktor ini perlu diinvestigasi dan dievaluasi dengan penuh keseriusan. Perhitungan kasar memang menunjukkan jumlah yang sangat besar. Namun ini perlu disiasati dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

 

Beberapa opsi solusi yang ditawarkan, seperti investasi besar-besaran dari kalangan bank nasional. Saat ini masih terkendala, disebabkan pihak bank tidak tertarik untuk melakukan investasi di bidang energi terbarukan. Karena masih terdapat keraguan dan ketidakpastian. Namun pemerintah agaknya perlu intervensi untuk menugaskan bank-bank BUMN terjun langsung mendanai investasi di sini.

 

Opsi lainnya mengumpulkan dana darurat energi yang dikutip dari keuntungan besar eksploitasi batubara dan minyak sawit. Kita sama-sama tahu, bahwa booming harga batubara saat ini masih terus berlangsung. Sesuai dengan prinsip ekonomi kapitalis, keuntungan bisnis batubara ini sangat dinikmati oleh para pemegang saham perusahaan tambang batubara. Sebagai negara yang menganut paham Pancasila, sepatutnya kondisi kapitalis seperti ini harus sedikit direm. Artinya pemerintah bisa saja menerbitkan aturan UU yang mengutip sekian persen keuntungan bisnis batubara untuk disetor sebagai dana darurat pengembangan energi terbarukan. Mirip-mirip dengan penerapan Dana Reboisasi masa Orba dahulu. Begitu juga dengan bisnis sawit yang sedang booming. Tarik saja iuran khusus yang diperuntukkan bagi pengembangan energi terbarukan.

 

Tantangan kedua terbesar bagi Indonesia adalah penguasaan teknologi. Kita sadari bersama selama ini kita terus ketinggalan dalam hal pengembangan energi terbarukan. Riset-riset tentang energi terbarukan di perguruan tinggi Indonesia belum  menonjol. Pemerintah belum serius mendukung pihak perguruan tinggi untuk menekuni pengembangan energi terbarukan.

 

Dari sisi ini, pemerintah sudah saatnya jor-joran memberi kesempatan kepada pihak perguruan tinggi Indonesia untuk mengembangkan teknologi energi terbarukan. Banyak skema program yang dapat diluncurkan. Seperti mengucurkan dana penelitian yang besar untuk perguruan tinggi melakukan penemuan penting di bidang energi terbarukan.

 

Perguruan tinggi Indonesia kaya dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun pemerintah terkesan belum memberi kesempatan kepada mereka untuk berkiprah menumpahkan kemampuan maksimal mereka dalam menemukan teknologi mutakhir di bidang energi terbarukan.

 

Hak cipta dan hak paten kepemilikan teknologi di bidang energi terbarukan menjadi sangat penting. Karena ini juga menyangkut devisa negara. Kalau teknologi energi terbarukan dimiliki oleh pakar asing, maka selamanya kita akan terpaksa membayar royalti kepada mereka yang memiliki hak cipta teknologi tersebut.

 

Pemerintah perlu mendorong penciptaan teknologi baru dan terkini energi terbarukan dari kalangan perguruan tinggi kita sendiri, agar royalti yang perlu dibayarkan tidak mengalir ke negara luar. Jadi investasi penelitian energi terbarukan harus disasarkan kepada perguruan tinggi di dalam negeri.

 

Pada sisi lain, pihak ilmuwan di perguruan tinggi juga perlu memberi jaminan bahwa mereka cukup kompeten untuk melakukan penelitian-penelitian bermutu yang menghasilkan temuan-temuan teknologi mutakhir di bidang energi terbarukan. Sehingga cara yang paling adil adalah dengan menyelenggarakan seleksi yang ketat dan transparan kepada pihak yang berminat untuk melakukan penelitian energi terbarukan. Program pengucuran dana hibah penelitian dilakukan dengan serius dan berorientasi hasil produk. Bukan sekedar meneliti dengan hasil akhir berupa publikasi di jurnal ilmiah internasional. Namun penelitian yang benar-benar berorientasi kepada hasil (outcome) produk bermutu yang memberi sumbangan besar kepada pengembangan energi terbarukan Indonesia.

 

Sasaran utama sudah jelas, yaitu net zero emission pada 2060. alias penggunaan sepenuhnya energi terbarukan. Jadi mulai dari sekarang pemerintah sudah harus menyusun langkah strategis dan fokus pada upaya penguasaan teknologi energi terbarukan secara mandiri.

 

Langkah pertama adalah menentukan prioritas jenis energi terbarukan yang akan dikembangkan. Saran penulis adalah energi matahari, energi air dan energi panas bumi. Pertimbangannya, kita memiliki ketersediaan energi yang melimpah di sektor ini. Kita harus benar-benar fokus untuk menguasai teknologinya, artinya mengurangi sebesar mungkin peran teknologi asing pada ketiga sektor EBT ini. Kita perlu punya banyak penemuan dan hak cipta di teknologi pengembangan ketiga sektor ini.

 

Langkah kedua, kucurkan dana yang besar untuk dikelola dan dikembangkan oleh para ilmuwan bangsa di perguruan tinggi melalui program riset yang terjaga kredibilitas dan integritasnya. Memang ini tantangan terbesar pula bagaimana mengelola sebuah penelitian besar yang berintegritas. Namun kita harus yakin, bahwa kita punya talenta-talenta besar di perguruan tinggi kita yang memiliki dedikasi dan totalitas yang tinggi.

 

Langkah ketiga adalah lakukan investasi pengembangan dan implementasi transisi energi berbasiskan kepada teknologi yang telah kita kuasai melalui program penelitian tadi.

 

Jika kita berhasil menerapkan prinsip yang ditawarkan ini pada implementasi transisi energi Indonesia, maka keuntungan besar akan kita peroleh pada saat tiba tahun 2060. Ketika itu kita benar-benar mengamalkan energi terbarukan sepenuhnya dalam kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia sejak 2060 secara mandiri.

 

Kita mampu menjadikan energi terbarukan sebagai penggerak utama energi primer negara yang teknologinya kita miliki sendiri. Tanpa harus bergantung kepada sistem teknologi yang ditawarkan oleh pihak asing yang tentu akan menjerat kita selamanya.***


Banda Aceh, 3 Desember 2022 

Minggu, 04 Desember 2022

Menulis adalah Ibadah


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 2 Desember 2022

Menulis adalah sebuah ketrampilan. Sehingga perlu diasah dan dilatih terus menerus untuk dapat menjadi kebiasaan bagi setiap manusia terpelajar. Manusia terpelajar adalah semua insan yang haus ilmu dan ingin belajar terus sepanjang hayatnya.

 

Sering kali kita mendengar keluhan atau kita sendiri yang mengalami. Sukar sekali rasanya menuliskan sesuatu yang ingin diungkapkan. Terasakan iya namun terkatakan tidak. Unek-unek sudah menggumpal di kepala, namun sulit sekali rasanya dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

 

Ternyata ini adalah sesuatu yang wajar di masyarakat kita. Mungkin juga disebabkan oleh latar belakang budaya kita yang tidak terbiasa menulis. Budaya kita budaya berbicara. Kita sanggup untuk bicara panjang lebar di suatu forum informal, seperti di warung kopi atau pertemuan keluarga atau sesama sejawat di ruang-ruang santai. Namun menjadi tertatih-tatih ketika diminta untuk menuliskan apa-apa yang menjadi buah pikiran kita.

 

Menulis juga ada hubungannya dengan kebiasaan membaca. Jika kita terbiasa dan sering membaca maka secara tanpa disadari kita pun akan lebih mudah untuk menuliskan kembali apa yang kita baca tersebut. Namun masalahnya masyarakat kita pun ternyata tidak gemar membaca. Sehingga wajar jika menulis pun menjadi sukar untuk dilakukan.

 

Jadi untuk dapat mudah menulis kuncinya sering-seringlah membaca. Perbanyak kegiatan membaca apa saja, kemudian berlatihlah menuliskan apa-apa yang sudah dibaca itu. Insya Allah, lambat laun kebiasaan membaca dan menulis akan menjadi bagian keseharian kita.

 

Apa sesungguhnya manfaat menulis? Sebagian pihak menyebutkan kemampuan menulis seseorang mencerminkan jalan pikiran seseorang yang runtut dan sistematis. Artinya, jika seseorang mudah untuk melakukan kegiatan menulis, bermakna logika berpikirnya sudah berkembang dan mudah untuk memahami hal-hal baru. Pikirannya pun cepat beradaptasi dengan informasi dan fakta-fakta baru. Tentu ini suatu hal yang menguntungkan dan sangat berguna bagi seseorang untuk menyerap informasi yang silih berganti datang. Kemampuan berpikir logis menjadi dambaan setiap insan yang haus ilmu pengetahuan.

 

Selain itu menulis juga dapat dipakai sebagai alat terapi. Ada kalanya seseorang mengalami peristiwa yang menyedihkan dalam hidupnya sehingga kadangkala terserang oleh depresi. Ada psikolog yang menyarankan untuk melakukan terapi dengan menulis. Seseorang yang sedang mengalami depresi disarankan untuk duduk dengan tenang, dan mulailah menulis. Tuliskan saja segala hal yang muncul di kepala. Mengalir begitu saja. Kemudian rasakan perlahan-lahan sejalan dengan tulisan yang terus muncul pikiran seperti ringan dan beban yang menggumpal di kepala seperti berangsur-angsur lenyap.

 

Menulis sebagai kebiasaan hidup akan menambah rasa percaya diri seseorang. Dengan menulis seseorang dapat menyampaikan isi hati dan pikirannya yang paling dalam dan menjadi konsumsi masyarakat luas. Ide dan gagasan yang beraneka ragam dapat dengan mudah tersampaikan kepada khalayak jika kita dapat menuliskannya dengan runtut. Ide dan gagasan itu pun akan menjadi abadi dan tersimpan dalam bentuk tulisan. Artinya kapan saja buah pikiran kita yang sudah tertulis itu akan dengan mudah diakses kembali oleh khalayak bahkan ketika kita sudah tidak ada. Tulisan sudah menjadi warisan buah pikiran kita, dan ia kekal sepanjang tulisan itu masih dapat diakses oleh khalayak.

 

Menulis dapat menjadi sebuah kegiatan ibadah, jika dilakukan dengan niat untuk menyebarkan kebaikan kepada khalayak. Ulama kharismatik Buya Hamka telah membuktikan itu. Beliau begitu gemar menulis. Bahan tulisannya begitu beragam. Mulai dari menulis novel, cerpen, bahan ceramah agama, bahan pidato, bahkan menulis tafsir al-Quran. Bahan tulisan beliau tetap kekal, bahkan ketika beliau sudah lama meninggalkan dunia yang fana ini. Namun nama beliau tetap kekal dan menjadi sanjungan para pembacanya, karena warisan tulisannya yang tetap bisa dibaca hingga sekarang. Tulisan-tulisan beliau telah menjadi amal jariah bagi beliau, dan menjadikannya pahala yang terus mengalir kepada beliau hingga di akhirat kelak.

 

Menulis sebagai ibadah adalah cita-cita kita. Artinya tulislah sesuatu yang dapat menjadi manfaat yang sebesar-besarnya kepada umat. Usahakan bahan tulisan yang ditampilkan menjadi hal yang selalu dikenang dan berkesan pada pembaca. Sehingga setiap butir kata yang kita goreskan dalam tulisan tersebut bernilai pahala yang berlipat ganda di mata Sang Pencipta.

 

Dengan membulatkan tekad dan menanamkam niat menulis sebagai ibadah, sepertinya ketrampilan menulis akan semakin mudah untuk dijalankan dan diraih. Karena, sama seperti jika kita mengamalkan dan menjalankan ibadah rutin, dengan niat mendapatkan ridha Allah, maka Allah pun akan memudahkan perjalanan niat kita tersebut.

 

Sehingga, salahsatu kunci keberhasilan kita untuk dapat trampil melakukan pekerjaan menulis, kita harus mengubah mindset di kepala dan menganggapnya sebagai sebuah ibadah. Menulis sebagai ibadah, akan secara otomatis pula memandu kita untuk mengangkat bahan-bahan tulisan yang bersifat positif dan mengandung nilai-nilai kebaikan kepada umat pembaca.  Semangat kita pun ikut terpacu untuk terus berbagi kebaikan melalui tulisan-tulisan yang terus mengalir dengan derasnya.

 

Pelajaran menulis menjadi bahan pelajaran sepanjang hayat. Menulis dapat dipelajari sepanjang hayat. Artinya, menulis dapat dipelajari sejak di usia dini ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar sekalipun. Bahkan ketika dalam usia lanjut pun menulis masih tetap relevan untuk dipelajari dan digeluti. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menulis. Jadilah penulis yang produktif, niscaya ia akan menjadi legasi dan amal jariah yang abadi sepanjang masa. ***

 

Banda Aceh, 30 November 2022 

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...