Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 30 Desember 2022
Tanpa terasa 18 tahun
sudah berlalu ketika peristiwa besar gempa dan tsunami melanda tanah Aceh tepatnya
di hari Minggu 26 Desember 2004. Ketika itu tak ada seorang pun yang menyangka
gempa yang maha dahsyat dengan kekuatan 9,3 Magnitudo datang mengguncang.
Karena selama ini gempa memang kerap terjadi di wilayah Aceh, namun dengan
kekuatan yang relatif rendah, paling tinggi sebesar 5 - 6 Magnitudo.
Namun kali ini gempa yang
mengguncang begitu dahsyat. Gempa yang menerpa di pagi hari pukul 7.59 itu mengejutkan
warga Banda Aceh yang sedang menikmati udara pagi yang begitu segar dan
menyenangkan. Selang beberapa menit kemudian tatkala warga masih kebingungan
dengan suasana porak-poranda akibat gempa, tiba-tiba datang pula gemuruh
serbuan air laut yang bergulung-gulung menghempas ke daratan pesisir Aceh. Air
laut yang mencapai tinggi 30 meter menghempas pantai-pantai di Aceh dan masuk
jauh ke daratan hingga mencapai 5 km.
Belakangan baru
masyarakat mengetahui bahwa itulah tsunami yaitu gelombang laut yang menerpa
daratan sebagai akibat dari gempa yang meruntuhkan batuan bumi di dasar laut.
Patahan bumi di bawah laut telah mengganggu keseimbangan kedudukan air laut dan
menyebabkan gelombang besar yang menghantam daratan di sekitarnya. Sebelumnya,
tidak banyak masyarakat yang paham akan fenomena tsunami. Karena memang tidak
ada dalam ingatan warga Aceh tentang riwayat tsunami di wilayah ini, kecuali
sedikit warga dari Simeulue yang pernah mengalaminya.
Jumlah korban jiwa yang
tercatat mencapai 170 ribu jiwa, sebuah jumlah yang sangat besar yang
sebenarnya masih bisa dicegah dan ditekan menjadi lebih rendah seandainya kita menyadari
lebih awal tentang tsunami. Namun apa daya, Allah Sang Maha Kuasa sudah
berkehendak. Di saat beginilah baru kita sadari betapa kecilnya kita manusia
hamba sahaya di hadapan Allah Sang Khalik penguasa alam semesta.
Betapa sedikitnya ilmu
yang kita miliki, sehingga tidak ada daya upaya yang mampu kita tunjukkan untuk
bisa menghindar dari bencana alam yang maha dahsyat di mata kita, namun hanya
kecil saja di tangan Allah azza wa jalla. Kita manusia ini sungguh begitu
ringkih, lemah dan tiada berdaya. Sungguh sangat mengenaskan jika masih ada
sebagian kita manusia yang berlaku sombong di muka bumi.
Melalui peristiwa besar
gempa dan tsunami Allah Yang Maha Kuasa telah menunjukkan dengan nyata
kebesaranNya di hadapan kita makhluk ciptaanNya. Kini, setelah 18 tahun
berlalu, kenangan itu tidak akan pernah sirna dalam ingatan kita. Sehingga
sudah menjadi kewajiban kita untuk memetik hikmah besar atas musibah ini. Dan
terus mengingatnya untuk menjadi memori abadi dalam sanubari kita.
Apa saja hikmah besar gempa
dan tsunami Aceh 2004 itu?
Pertama, gempa dan
tsunami Aceh 2004 adalah bukti keagungan dan kebesaran Allah sang Pencipta.
Allah selamatkan mesjid-mesjid tegak berdiri di kala semua bangunan lain rata
dengan tanah. Seolah-olah Allah ingin berkata: hai manusia kembalilah ke
mesjidku, itu rumahku, di situlah tempat kalian berlindung.
Kedua, gempa dan tsunami
Aceh 2004 adalah tonggak perdamaian umat manusia. Perang berkepanjangan antara
sesama muslim di Aceh antara GAM dan TNI akhirnya dapat dihentikan. Perang 30
tahun sejak 1976 telah mengorbankan 15.000 nyawa rakyat tak berdosa, namun
tsunami yang hanya 15 menit sudah menghilangkan 170 ribu nyawa manusia. Beginilah
cara Allah menghentikan perang berkepanjangan yang seolah tidak ada ujungnya
itu.
Ketiga, nama Aceh dikenal
seluruh dunia akibat peristiwa ini. Pemberitaan yang terus-menerus di media massa
dan televisi telah melambungkan nama Aceh dan menjadi ujaran setiap bibir
manusia di dunia. Ketika itu siapa yang tidak kenal dengan Aceh. Semua mata manusia
di dunia tertuju ke Aceh. Otomatis semua orang mencari tahu segala hal tentang
Aceh. Inilah hikmah besar lain bagi Aceh yang menjadi peluang besar bagi warga
Aceh agar dapat menjadi warga dunia dengan berperilaku yang menonjolkan kebaikan
jatidiri sejati Aceh. Simpati dunia tidak surut terhadap Aceh, orang berlomba-lomba
untuk memberikan bantuannya agar Aceh kembali bangkit dan berkehidupan normal
seperti sediakala.
Keempat, berkembangnya
ilmu pengetahuan tentang kebencanaan dan mitigasi bencana dengan munculnya
pusat studi dan penelitian tentang bencana. Para periset dunia berbondong
datang ke Aceh untuk meneliti tentang bencana gempa dan tsunami berskala dunia.
Kajian-kajian dalam bentuk paper internasional telah melejitkan nama Aceh dan
peneliti dari Aceh. Ini juga sedikit banyak membantu menaikkan nama dan pamor
ilmuwan asal Aceh dan Indonesia di kancah ilmuwan internasional.
Selain itu, situs-situs
bekas bencana gempa dan tsunami menjadi bahan berharga dan kenangan yang tinggi
nilainya jika kita mampu menyimpan dan memelihara dengan cara yang bijaksana.
Beruntung kita dapat mengabadikannya dalam bentuk Museum Tsunami yang bertaraf
dunia. Museum ini dapat dijadikan sebagai simbol kenangan tak terlupakan akan
bencana besar ini. Serta dapat menjadi sumber pelajaran berharga bagi umat
manusia di dunia.
Ketahanan hidup rakyat
Aceh juga teruji dengan musibah besar ini. Mental dan kejiwaan rakyat semakin dapat
dikuatkan dengan pemahaman yang tinggi akan ilmu dan iman agama dalam menghadapi
cobaan duniawi. Rakyat Aceh secara psikologi akan teruji dan kuat serta mampu
keluar dari tekanan hidup.
Mental yang kuat dan
perkasa dari rakyat Aceh ini menjadi modal utama kepada pembinaan karakter
bangsa yang teruji dengan cobaan hidup. Ini tentunya akan menjadikan kekuatan
moral yang besar bagi rakyat Aceh untuk dapat menyongsong masa depan dengan
kekuatan mental yang tinggi.
Hikmah besar dari musibah
tsunami ini hendaknya dapat diserap sepenuhnya untuk kepentingan dan keuntungan
rakyat Aceh seluruhnya. Kekuatan mental, kegigihan, ketabahan, dan kepatuhan
kepada Allah sang Pencipta menjadi ukuran utama ketaqwaan rakyat dalam
menjalani kehidupan di masa depan. Masa depan yang gilang gemilang harus
dihadapi dengan jiwa besar dan gagah berani.
Itulah hikmah yang
didapat dari musibah besar yang dihadapi oleh rakyat Aceh setelah tsunami 2004.***
Banda Aceh, 28 Desember 2022



