Telah dimuat di koran Serambi Indonesia edisi 17 Juli 2021
Siapa yang tidak kenal Pulo Aceh? Suatu gugusan pulau-pulau indah di ujung Barat kota Banda Aceh. Jaraknya begitu dekat namun terpisah oleh hamparan laut yang agak ganas di waktu-waktu tertentu. Sehingga kadangkala terasa jauh terpencil karena kesukaran transportasi. Letaknya beriringan dengan Pulau Weh Sabang, dan ada yang menyebutkannya sebagai 0 km Indonesia juga.Pulau
Nasi dan Pulau Beras adalah dua pulau utama di Pulo Aceh yang didiami penduduk.
Ada sekitar 1500 jiwa penduduk di Pulau Nasi dan sebanyak 3500 jiwa berada di
Pulau Beras. Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani, peladang, nelayan,
dan sebagian kecil pegawai. Umumnya kehidupan penduduk cukup sederhana. Namun
berpotensi besar untuk diberdayakan menjadi masyarakat terdidik dan maju di
masa depan. Sarana pendidikan dan kesehatan masih terbatas dan sedang terus
mendapat perhatian pemerintah untuk ditingkatkan kapasitasnya.
Potensi
yang paling menjanjikan untuk pengembangan kawasan Pulo Aceh adalah pariwisata.
Alamnya begitu indah. Pantai-pantai dengan pasir putih dengan panorama hijau
pegunungan sangat menyejukkan mata. Saat ini semua pemandangan indah bak surga
nirwana itu belum dinikmati oleh pelancong resmi dari luar. Karena memang belum
sepenuhnya dikembangkan sebagai produk pariwisata oleh pemerintah.
Satu
hal yang menggembirakan bahwa seluruh desa di Pulo Aceh sudah teraliri listrik.
Ini memberi harapan kemajuan di banyak sektor bagi masyarakat setempat. Sumber
listrik berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dikelola oleh
PLN. Masing-masing PLTD Deudap berkapasitas 250 kW di Pulau Nasi dan PLTD
Seurapong 600 kW di Pulau Beras.
Di
sisi lain, pemerintah sedang gencar berkampanye mengurangi karbon di udara. PLTD
salahsatu penyumbang karbon yang segera digantikan perannya oleh pembangkit
listrik bertenaga energi baru dan terbarukan (EBT). Untuk mencapai target 23%
bauran energi EBT di tahun 2025, pemerintah menugaskan PLN untuk mengganti 5200
PLTD di seluruh Indonesia dengan pembangkit bertenaga EBT, total potensi 2GW.
Tahap
pertama sebanyak 200 PLTD yang akan dikonversi. Saat ini PLN belum mengumumkan
PLTD wilayah mana yang akan mendapat prioritas pertama. Namun kenyataan ini
menjadi peluang besar bagi Pulo Aceh. Ada tiga kriteria untuk menjadi pilihan,
mesin yang sudah tua, wilayah terpencil, dan biaya pokok produksi yang tinggi.
Kesemua kriteria ini tampaknya terpenuhi untuk kondisi PLTD di Pulo Aceh.
Ide
pembangunan kawasan Pulo Aceh adalah mengembangkan potensi pariwisata yang disandingkan
dengan potensi pemanfaatan energi terbarukan seperti energi surya dan energi
angin. Inilah saatnya ide besar itu dapat diwujudkan, melalui momentum
kebijakan PLN mengkonversi PLTD menjadi pembangkit bertenaga EBT.
Pulo
Aceh kaya akan paparan sinar matahari dan dan terpaan angin. PLTS sangat sesuai
dibangun di kawasan ini, disamping PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin).
Dari data yang ada kecepatan angin di kawasan ini cukup sesuai untuk membangkit
tenaga dengan kincir angin, yaitu sekitar 3-4 m/detik rata-rata.
Melalui
pengembangan pariwisata dan implementasi EBT, Pulo Aceh mendapat kesempatan
untuk dikembangkan pembangunan fisik dan sumber daya manusianya. Keduanya
menjadi penggerak utama pembangunan yang berkelanjutan di Pulo Aceh. Potensi
besar persandingan EBT dan pariwisata ini akan semakin mempercepat pertumbuhan
wilayah Pulo Aceh.
Pariwisata
yang paling menjanjikan adalah wisata kuliner hidangan laut (seafood). Pulo Aceh kaya akan makanan
laut, ikan segar menjadi andalan kawasan yang dikelilingi lautan luas ini.
Dengan suasana panorama laut, pantai dan gunung yang begitu indah akan mampu
merebut hati para pelancong dari luar baik domestik maupun mancanegara.
Panorama pantai yang indah bak surga nirwana, suasana hening dan ketenangan
alamnya, sungguh mempesonakan. Para investor dapat ditawarkan untuk menanamkan
modalnya membangun kawasan wisata berupa resort-resort sederhana namun nyaman,
dengan keramahan penduduk lokal, maka akan tercipta suasana yang sangat ideal.
Sumber
energi hijau sepenuhnya yang digunakan untuk sumber listrik di pulau ini juga
menjadi daya tarik tersendiri bagi turis. Kawasan yang digunakan untuk lahan
pusat pembangkit EBT baik tenaga surya maupun angin dapat dijadikan juga
sebagai daerah tujuan wisata edukasi. Panel-panel energi matahari serta susunan
kincir-kincir angin diletakkan sedemikian rupa sehingga menjadi pemandangan
indah juga.
Pengelola
baik itu PLN atau investor EBT dapat membangun semacam gedung pameran yang
dapat diakses oleh masyarakat atau turis. Bangunan berisi benda-benda yang
berkaitan dengan EBT. Jadi semacam tempat wisata edukasi tentang EBT, atau
museum EBT. Dimaksudkan sebagai sarana pendidikan kepada publik tentang EBT dan
membangkitkan minat generasi muda akan EBT sebagai energi masa depan dunia.
Pengembangan
kawasan terpadu Pulo Aceh ini juga menyertakan pembangunan sarana infrastruktur
transportasi seperti pelabuhan yang layak, baik di sisi daratan Aceh di Banda
Aceh maupun di Pulo Aceh sendiri. Sarana pelabuhan yang ada seperti di Deudap
dan Lamteng di Pulo Nasi serta Lampuyang, Serapong dan Meulingge di Pulo Beras,
perlu ditingkatkan kapasitasnya. Semuanya menjadi satu bagian dari proyek
pengembangan kawasan ini.
Di
sini diperlukan peranan yang cukup besar dari BPKS Sabang yang membangun
infrastruktur Kawasan Sabang dan Pulo Aceh, Pemkab Aceh Besar yang menjadi
induk administrasi wilayah Kecamatan Pulo Aceh serta pihak PLN yang
bertanggung-jawab dalam penguasaan dan pengelolaan penyediaan listrik kawasan.
Tentunya peran pemerintah Aceh menjadi sentral utama yang mengendalikan dan
mengkoordinasikan semua potensi kekuatan yang berkontribusi kepada pengembangan
kawasan Pulo Aceh.
Tapi
yang terpenting adalah peran dari komponen masyarakat lokal Pulo Aceh sendiri
terutama tokoh-tokoh pemuda dan pemuka setempat untuk terus-menerus memberi
dorongan kepada pihak pemerintah baik itu Pemkab Aceh Besar, BPKS Sabang maupun
Pemerintah Propinsi Aceh untuk serius mengembangkan pembangunan kawasan Pulo
Aceh ini. Masyarakat setempat harus terus menyuarakan aspirasinya dan proaktif
memberi desakan agar proses pembangunan kawasannya menjadi perhatian
pemerintah. Persatuan tokoh setempat mesti kompak dan menjalin paguyuban
internal yang kuat dalam memberi kesadaran kepada seluruh komponen masyarakat
untuk turut mendukung program-program pembangunan yang dijalankan oleh
pemerintah.
Sudah
cukup lama Pulo Aceh yang kaya dengan potensi panorama alamnya ini
menanti-nanti untuk dikembangkan secara sungguh-sungguh. Kinilah saatnya
kesempatan itu tiba. Pembangunan kawasan Pulo Aceh terpadu benar-benar
membutuhkan sinergitas yang tinggi dari berbagai komponen. Baik dari masyarakat
sendiri, pemimpin lokalnya, pemangku kuasa infrastruktur BPKS, Pemerintah
Kabupaten Aceh Besar, Pemerintah Propinsi Aceh, bahkan Pemerintah Pusat di
Jakarta. Diperlukan kesadaran kolektif bahwa semua pihak harus mengambil peran
sesuai dengan porsinya masing-masing dalam implementasi program pembangunan
Pulo Aceh, demi tujuan bersama menuju masyarakat Pulo Aceh yang sejahtera.
Sangat
diperlukan juga adanya sosok sentral yang menjadi penggerak utama yang selalu
membakar spirit semua komponen tersebut. Sosok itu saya harapkan datang dari
pemuda Pulo Aceh sendiri yang tidak henti-hentinya melobi ke sana dan ke mari
menggedor pintu-pintu para stake-holder
dan mengingatkan mereka semua akan proyek besar nan suci ini.
Banda
Aceh, 11 Juli 2021