Jumat, 08 Agustus 2025

ChatGPT dan Umat

Telah dimuat di harian cetak Waspada edisi Jumat 8 Agustus 2025

Di era digital ini, muncul pertanyaan baru yang tak terbayangkan beberapa dekade lalu: bolehkah Muslim mengandalkan ChatGPT? Ini bukan pertanyaan remeh. Sebab ChatGPT bukan hanya mesin pencari, ia adalah "teman bicara" yang cerdas, sopan, tak kenal lelah, dan—kadang-kadang—terlalu meyakinkan.

Banyak umat Muslim hari ini mulai menggunakan ChatGPT untuk hal-hal praktis: mencari resep masakan, menyusun surat lamaran kerja, membuat ringkasan kuliah, bahkan menjawab soal ujian. Beberapa ada yang mulai bertanya soal hukum Islam, tafsir ayat, atau makna hadis. Maka, pertanyaannya menjadi penting: di mana batasnya? Apa boleh Muslim menjadikan ChatGPT sebagai sumber utama dalam hidup dan berpikirnya?

Manfaat yang Tak Terbantahkan

Pertama-tama, mari kita akui satu hal: ChatGPT, dan AI (Artificial Intelligence) serta sejenisnya, adalah teknologi luar biasa yang sangat membantu. Umat Islam tidak sepatutnya menolak kemajuan hanya karena ia modern. Sejarah mencatat, Islam sejak awal justru menjadi penggerak utama kemajuan ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an sendiri berulang kali memerintahkan umatnya untuk berpikir, membaca, dan mencari ilmu. Maka tak ada alasan untuk memusuhi teknologi seperti AI. Justru, ia bisa menjadi alat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat jika digunakan secara tepat.

Contoh nyata, banyak guru dan ustaz kini menggunakan ChatGPT untuk membuat bahan ajar atau menjelaskan topik rumit dalam bahasa sederhana. Mahasiswa memanfaatkannya untuk berdiskusi soal filsafat Islam atau sejarah peradaban. Bahkan ada dai muda yang menggunakan AI untuk membantu menyusun khutbah Jumat dengan gaya yang lebih relevan dan menarik.

Namun, Jangan Tergesa Menobatkan AI Sebagai Ulama

Di sinilah persoalan bermula. Ketika seseorang mulai bertanya pada ChatGPT: "Apakah musik itu haram?" atau "Bagaimana hukum jual beli online?", maka kita mulai memasuki wilayah yang tak sederhana. ChatGPT akan menjawab. Kadang dengan referensi, kadang tidak. Kadang netral, kadang condong. Tapi semua jawaban itu punya satu kesamaan: ia bukan berasal dari seorang ulama, melainkan dari pola-pola bahasa yang dipelajari dari internet.

Masalahnya, banyak orang tidak bisa membedakan mana informasi dan mana fatwa. Mereka mengira bahwa karena jawabannya panjang, sopan, dan mengutip, maka ia pasti benar. Padahal, bisa saja model AI itu menyatukan pendapat yang kontradiktif atau mengutip sumber yang tidak otoritatif.

Dalam Islam, fatwa tidak bisa sembarang keluar. Ia butuh ilmu, pemahaman maqashid syariah (tujuan hukum Islam), pengetahuan konteks, dan yang paling penting: tanggung jawab di hadapan Allah. Tidak ada itu "fatwa otomatis" yang keluar dari algoritma. Maka, mengandalkan ChatGPT sebagai pengganti ulama jelas keliru.

Islam bukan agama yang anti sains atau teknologi. Tapi Islam punya prinsip: segala sesuatu harus tunduk pada etika dan nilai-nilai tauhid.

Kapan ChatGPT Boleh Diandalkan, dan Kapan Tidak?

Jawaban ini penting dan harus jelas. Ya, Muslim boleh menggunakan ChatGPT, bahkan untuk hal-hal yang berhubungan dengan Islam, selama:

1. Untuk penjelasan awal, bukan keputusan akhir. Misalnya, ingin tahu perbedaan mazhab, sejarah perkembangan fiqih, atau ringkasan tafsir. Tapi untuk menentukan “apa yang wajib saya lakukan”, kembalilah ke ulama.

2. Untuk membantu proses belajar, bukan menggantikan proses berpikir. Seorang pelajar Islam seharusnya menjadikan ChatGPT sebagai pembantu belajar, bukan sebagai satu-satunya guru.

3. Untuk mengefisiensikan tugas duniawi, seperti menyusun rencana kerja, pidato, atau merapikan tulisan. Tak ada larangan syar’i soal itu, selama kontennya tidak melanggar adab.

Tapi tidak boleh mengandalkan ChatGPT jika:

1. Untuk mencari jalan pintas dalam ibadah atau hukum. Jangan tanya “boleh nggak saya meninggalkan puasa karena ngantuk?” lalu menjadikannya dalil setelah AI menjawab “diperbolehkan dalam kondisi tertentu.” Itu berbahaya.

2. Untuk menggantikan tanya ke ulama. AI tidak punya sanad keilmuan. Ia tidak tahu konteks lokal, niat batin, atau situasi Anda.

3. Untuk menyebarkan fatwa atau informasi agama tanpa verifikasi. Karena bisa menyesatkan, meski niatnya baik.

AI, Kemajuan, dan Kekhalifahan

Dalam Al-Qur’an, manusia disebut sebagai khalifah di bumi. Artinya, manusia diberi akal untuk mengatur, membangun, dan menjaga dunia, bukan merusaknya.

ChatGPT adalah bukti bahwa manusia mampu menciptakan hal luar biasa. Tapi kecerdasan buatan ini tetap buatan, tidak bisa melebihi fitrah manusia. Ia tidak punya ruh, tidak punya hati nurani, tidak punya hubungan dengan Tuhan.

Jadi, kalau manusia menciptakan AI, lalu justru tunduk kepadanya, itu ironi besar. Seperti orang membuat tongkat, lalu menyembah tongkat itu. Di sinilah pentingnya menjaga kesadaran spiritual, agar kita tetap menjadi pengguna, bukan budak dari ciptaan kita sendiri.

Bagaimana Seharusnya Sikap Muslim ke Depan?

Menghadapi gelombang kemajuan teknologi seperti ChatGPT, umat Islam dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi tampil sebagai pihak yang aktif dan bijak. Sudah saatnya Muslim menguasai teknologinya, bukan sekadar memakainya. Kita perlu memahami cara kerja AI, mengetahui potensi dan keterbatasannya, serta menjadikannya alat untuk kemaslahatan umat. Namun, penguasaan teknologi ini harus dibarengi dengan kesadaran bahwa kita tetaplah makhluk dengan akhlak dan tanggung jawab spiritual.

Ulama, sebagai penjaga warisan keilmuan Islam, juga perlu terlibat lebih jauh dalam pengembangan teknologi seperti ini. Bukan untuk menjadi ahli pemrograman, tapi untuk memberi kerangka nilai yang akan menjadi penuntun etika penggunaan AI. Bayangkan jika ChatGPT dilatih dengan data yang dikurasi oleh ulama—bukan untuk menggantikan mereka, melainkan untuk membantu dakwah agar lebih luas jangkauannya, tanpa kehilangan kedalaman makna.

Penting pula bagi lembaga pendidikan Islam, baik itu sekolah, pesantren, maupun kampus, untuk mulai mengintegrasikan literasi digital dan literasi agama dalam satu tarikan nafas. Sebab yang kita butuhkan ke depan adalah generasi Muslim yang bukan hanya saleh secara spiritual, tapi juga cakap secara digital—bukan yang takut pada teknologi, dan bukan pula yang tertipu olehnya. Edukasi tentang etika AI harus menjadi bagian dari kurikulum pembinaan umat, agar masyarakat tidak larut dalam penggunaan teknologi tanpa tuntunan nilai.

Berteman dengan AI, Bersandar pada Tuhan

ChatGPT mungkin bisa menjawab ribuan pertanyaan. Tapi ia tidak bisa mendoakan Anda, tidak bisa mengasihi Anda, dan tidak bisa menunjukkan jalan menuju surga.

Gunakan ia sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu hidup. Karena dalam Islam, sumber utama kehidupan bukan ChatGPT, bukan Google, bukan algoritma—melainkan wahyu dan akal yang tercerahkan oleh iman.

Maka jawabannya: ya, Muslim boleh menggunakan ChatGPT. Tapi jangan mengandalkannya secara mutlak. Sandaran sejati tetap pada Allah, tuntunan Nabi, dan bimbingan para ulama.***

Banda Aceh, 23 Juli 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...