Jumat, 25 November 2022

Al-Jazari, Insinyur Mesin Muslim Terkemuka


Telah dimuat di Harian Rakyat Aceh edisi cetak 25 November 2022 

Suatu ketika dahulu tokoh-tokoh saintis Islam pernah malang melintang pada zaman kegemilangan kebudayaan Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan modern yang saat ini dikuasai oleh bangsa Eropa dan Amerika, sesungguhnya banyak diilhami dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditemukan oleh orang-orang Islam. Justru pada masa bangsa Eropa terpuruk dan berada dalam kegelapan, Islam berada di puncak penguasaan ilmu dan teknologi yang maju.


Hampir semua bidang ilmu merujuk kepada asas-asas yang dibangun oleh saintis Islam pada zamannya. Bidang kedokteran dikenal dengan nama-nama Ibnu Sina, Al-Zahrawi, Al-Razi dan Ibnu Nafis; ilmu kimia: Jabir Hayyan; ilmu matematika: Al-Khwarizmi dan Nasaruddin Al-Tusi; bidang teknologi: Al-Jazari; ilmu astronomi: Ulugbek, Nasarudin Tusi dan Al-Kashi; ilmu botani/farmakologi: Ibnu Baitar; ilmu geografi: Al-Idrisi; ilmu sosiologi: Ibnu Khaldun; ilmu arsitektur: Mimar Sinan, serta bidang pelayaran: Cheng Ho dan Ibnu Majid.


Namun fakta ini tidak banyak diketahui lagi sekarang karena orang Barat yang kini menguasai dunia seperti sengaja menggelapkannya. Ditambah lagi dengan kondisi ilmuwan Islam sendiri saat ini yang sedikit sekali menguasai atau mampu memberi pengaruh penting kepada dunia.


Al-Jazari adalah insinyur teknik mesin (mechanical engineer) yang paling top pada zamannya. Beliau berdiam di Diyar-Bakir (Turki) pada abad 6 H atau abad ke-12 Masehi. Nama lengkap beliau Badi Al-Zaman AbulI-Ezz Ibn Ismail Ibn Al-Razzaz Al-Jazari, dan dipanggil dengan sebutan Al-Jazari merujuk kepada tanah kelahirannya yaitu Al-Jazira suatu wilayah di antara sungai Tigris dan Eufrat, Irak. Karirnya sebagai insinyur diabdikan kepada penguasa Diyar-Bakir, Raja Urtuq semasa 570-597 H (1174-1200 Masehi). Dan pada tahun 1206 menyelesaikan buku teknik yang terkenal "Al-Jami Bain Al-Ilm Wal-Amal Al-Nafi Fi Sinat'at Al-Hiyal", yang kira-kira artinya Ringkasan Mekanikal Teori dan Praktek. Inilah buku yang dianggap sebagai puncak pencapaian tertinggi teknologi peradaban Islam.

  



Gambar: Salahsatu karya Al-Jazari peralatan mesin tenaga hidro

(Dipetik dari buku The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices karya Al-Jazari di tahun 1206)


Buku ini secara khusus menekankan pada aspek praktikal karena pengarangnya seorang insinyur yang kompeten dan terlatih. Al-Jazari menggambarkan berbagai peralatan secara detail dan kontribusinya sangat berharga dalam sejarah teknologi. Insinyur Inggris modern Donald Hill (1974) mengatakan: mustahil mengabaikan peranan karya Al-Jazari dalam sejarah keteknikan modern, karena ia kaya dengan petunjuk-petunjuk dalam desain, manufaktur dan perakitan mesin-mesin. Al-Jazari menggambarkan 50 peralatan mekanik dalam 6 kategori, termasuk jam air (water clock), mesin pencuci tangan, mesin pompa air, dan lain-lain.

 


Gambar cover buku Al Jazari yang diterjemahkan oleh Donald R. Hill (1974)


Donald Hill menterjemahkan karya Al-Jazari pada tahun 1974, 768 tahun setelah penerbitan buku aslinya. Diterbitkan kembali dengan judul The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices. Buku tersebut memuat 6 kategori utama peralatan mesin dan banyak istilah-istilah peralatan, mesin, mekanisme dan teknik-teknik muncul pertama sekali di dalam buku ini mendahului buku-buku teknik mesin Eropa, seperti double acting pump dengan pipa isap, crankshaft dalam mesin, kalibrasi orifis yang akurat, balansing roda statik, pemakaian model untuk membangun desain, pengecoran logam dalam mould dengan pasir, dan banyak lagi. Segmental gear (roda gigi) juga pertama sekali muncul dengan jelas pada buku ini, dibandingkan dengan jam astronomi Giovanni de Dondi pada tahun 1364, dan karya Francesco di Giorgio (1501) dalam khasanah desain permesinan Eropa.


UMIST Manchester (sekarang bernama University of Manchester) pernah membuat rekonstruksi ulang mesin-mesin yang digambarkan dalam buku Al-Jazari, melalui program tugas akhir bagi mahasiswa under-graduate mereka. Rekonstruksi dilakukan dengan bantuan software komputer dan perhitungan ulang dengan rumus-rumus keteknikan mutakhir. Hasilnya membuktikan bahwa mesin-mesin tersebut dapat berfungsi dengan baik.


Sesungguhnya buku Al-Jazari hanyalah sebagian kecil dari ribuan karya-karya iptek Islam pada masa kegemilangan peradaban Islam. Kebanyakan karya-karya tersebut telah hilang tanpa bekas atau tersembunyi di museum-museum Barat tanpa ada lagi yang menjamahnya. Sejalan dengan keruntuhan kekhalifahan Islam di muka bumi, pihak Barat telah berhasil mencuri rahasia teknologi Islam dan mengembangkannya dengan mengakuinya sebagai karya sendiri. Tinggallah kini, generasi baru Islam yang telah terputus dengan peradaban agung pendahulunya, dan tertatih-tatih untuk menguasai kembali ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

 

Kisah inspiratif ini hendaknya dapat memantik kesadaran kita di kalangan umat Islam agar segera bangkit menguasai kembali teknologi dan sains dunia. Saat ini kiblat ilmu sains dan teknologi adalah dunia Barat. Sehingga kita semua terpesona dengan segala hal yang berbau barat. Seolah-olah itulah ciri kemajuan dunia. Padahal adakalanya dahulu kiblat pengetahuan dunia ada di dunia Islam.

 

Untuk itu kita perlu menanamkan kuat-kuat dalam pikiran bahwa dunia Islam pernah maju teknologinya, dan bukan tidak mungkin dapat kembali bangkit seperti dulu. Asal saja kita umat Islam zaman modern ini sungguh-sungguh ingin mengembalikan lagi kejayaan teknologi Islam masa silam itu. Dengan cara belajar sungguh-sungguh dan bertekad untuk menguasai ilmu dan teknologi serta sains yang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban dunia.

 

Sejarah kegemilangan peradaban Islam di masa silam perlu terus dipupuk dan diviralkan di kalangan generasi muda muslim. Agar tumbuh kesadaran massal akan pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi oleh masyarakat muslim sehingga dapat menjadi kiblat panutan dunia. Kita sudah pernah jaya dulu, artinya kita akan bisa juga berjaya di masa depan.***

 

Banda Aceh, 22 November 2022

 

Rabu, 23 November 2022

Para Pahlawan USK

 


Telah dimuat di Harian Waspada edisi cetak 23 November 2022

Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat akan jasa-jasa para pahlawannya. Inilah yang sering diteriakkan oleh Presiden Sukarno dalam berbagai pidato suatu ketika dahulu, untuk mengingatkan bangsa kita akan pentingnya mengenang sejarah dan peran para tokoh pahlawan bangsa. Sehingga dalam ritual kehidupan berbangsa kita, tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

 

Momen Hari Pahlawan itu dipilih karena pada tanggal 10 November tahun 1945 telah terjadi peristiwa besar di kota Surabaya, ketika ribuan rakyat kota di Jawa Timur itu rela mempertaruhkan nyawanya membela harga diri bangsa yang sedang dicabik-cabik oleh ultimatum tentara Inggris (sekutu). Tentara sekutu yang datang ke tanah air dengan misi melucuti serdadu Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II, terlibat konflik pula dengan laskar rakyat di Surabaya. Kegigihan laskar rakyat Surabaya sangat luar biasa. Mereka rela bertempur dan mempertahankan diri dari gempuran tentara Inggris tanpa rasa takut sedikit pun. Sehingga di pihak rakyat pun jatuh korban jiwa ribuan jumlahnya.

 

Kisah heroik 10 November menjadi momentum penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Untuk mengenang dan menghormati sertai menghargai pengorbanan yang begitu besar dari perjuangan rakyat di Surabaya itu, tanggal 10 November menjadi hari keramat yang terus diabadikan sebagai monumen peringatan akan jasa-jasa para pahlawan bangsa. Artinya, momen 10 November telah menjadi milik semua para tokoh yang ditabalkan sebagai Pahlawan Bangsa.

 

Dalam hal ini, Pahlawan Bangsa tidak hanya sebutan kepada tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Namun juga menyasar kepada semua unsur bangsa yang telah memberikan kontribusi besar dan sumbangsihnya bagi kehidupan berbangsa di tanah air ini. Sehingga sebutan pahlawan menjadi luas maknanya menjurus kepada pihak-pihak lintas bidang pengabdian, lintas wilayah maupun lintas institusi.

 

Universitas Syiah Kuala (USK) sebagai institusi pendidikan tinggi di Aceh selalu mengadakan upacara peringatan Hari Pahlawan setiap tahunnya. Upacara dipimpin oleh Rektor dan dalam kebiasaannya beliau bertugas membacakan amanat Menteri Sosial RI sebagai ucapan resmi dari pemerintah. Hal ini sudah menjadi kegiatan rutin tahunan dan dilaksanakan secara formal. Sehingga lama kelamaan terkesan seperti aktifitas rutin biasa tanpa ada gregetnya. Kemungkinan disebabkan oleh terlalu terpaku dengan pakem yang telah ditetapkan oleh pusat dalam panduan penyelenggaraan upacara.

 

Padahal sesungguhnya terbuka peluang untuk menyelenggarakan upacara peringatan Hari Pahlawan ini dengan lebih bervariasi dan sarat dengan nilai-nilai heroik lokal. Bukan saja nilai heroik lokal kedaerahan, namun bisa juga dikombinasikan dengan nilai-nilai heroik institusional. Sebagai contoh, USK dapat mengangkat tokoh sesepuh pendiri kampus USK yang melegenda sebagai sosok yang diingat perannya.

 

Kita tahu bagaimana perjuangan pendirian Universitas Syiah Kuala di awal-awal dulu. USK lahir dari perjuangan besar para tokoh pendidikan di Aceh seperti Prof Ali Hasjmy, Kolonel Sjamaun Gaharu, Kolonel M. Yasin, Drs. Syamsuddin Ishak, Profesor Madjid Ibrahim, Profesor Ibrahim Hasan, Profesor Syamsuddin Mahmud, dan banyak lagi. Peran mereka sangat besar dalam melahirkan dan mengembangkan USK di saat-saat awal sehingga USK dapat megah berdiri seperti sekarang ini.

 

Momen peringatan Hari Pahlawan 10 November sepatutnya dimanfaatkan juga untuk mengenang para tokoh pahlawan USK ini. Caranya bisa dengan berbagai macam. Apakah dengan menabalkan nama mereka pada salahsatu bangunan di dalam kampus, atau dengan menyelenggarakan event khusus Seminar Sehari Biografi Tokoh USK tertentu.

 

Mengenang nama dan jasa para tokoh pahlawan USK menjadi sangat penting maknanya dalam memberi pemahaman akan nilai-nilai sejarah USK di benak para mahasiswa milenial USK masa kini. Terlalu jauh rentang masa yang telah terbentang antara masa keberadaan para tokoh penting USK tersebut dengan suasana kehidupan kampus milenial sekarang. Sehingga perlu ada jembatan yang selalu menghubungkan keberadaan masa silam tersebut, untuk tetap menjaga nilai ke-USK-an di kalangan kaum muda sekarang. Inilah tugas pimpinan USK sekarang untuk menjalinnya menjadi suatu rangkaian peringatan yang berkontribusi kepada pencerahan nilai-nilai heroik USK.

 

Selain itu gagasan untuk merevitalisasi bangunan lama perumahan dosen yang pernah ditempati oleh para tokoh pendiri USK juga patut jadi pertimbangan. Kalau kita telusuri rumah-rumah dinas di dalam kampus, akan kita dapati beberapa bangunan rumah yang dulunya pernah ditempati oleh tokoh-tokoh USK ketika mereka masih berdinas dulu. Seperti rumah dinas yang ditempati oleh Profesor Ibrahim Hasan, Profesor Abdullah Ali, Drs. Syamsuddin Ishak, dan banyak lagi.

 

Rumah-rumah tersebut sebaiknya direstorasi, dirawat dan dijadikan semacam museum mini. Di depan rumah dapat diberikan tanda yang bertuliskan, Di sini Rumah Tinggal Profesor Ibrahim Hasan, dan seterusnya. Dan di dalamnya dapat diisi dengan barang-barang tertentu yang berkaitan dengan profil sang tokoh. Jadi bisa dijadikan semacam museum mini untuk tokoh yang dimaksud. Museum Mini di dalam kampus USK tentu menjadi cagar budaya yang menarik untuk para mahasiswa USK dan masyarakat luas yang berminat dengan sejarah USK. Para mahasiswa milenial USK akan dapat dengan mudah memperoleh akses akan informasi tentang sejarah hidup perjalanan USK melalui revitalisasi rumah-rumah bersejarah ini.

 

Sehingga upacara Hari Pahlawan setiap tahunnya di dalam kampus akan berlangsung dengan lebih semarak. Karena dibarengi selalu dengan kegiatan pencanangan peringatan tokoh lokal USK dalam bentuk peresmian restorasi rumah tinggal tokoh tertentu. Sekaligus dengan penabalan nama tokoh tersebut terhadap rumah hasil restorasi tadi, dan sekaligus pula acara seminar mengenang peran tokoh tersebut dalam sumbangsihnya kepada USK.

 

Kegiatan ini setidaknya mengangkat satu tokoh setiap tahunnya, sehingga setiap tahun selalu diwarnai dengan keragaman tokoh yang diangkat sebagai pusat kajian peringatan. Suasana peringatan Hari Pahlawan pun akan berlangsung lebih meriah dan bernuansa sejarah lokal yang diperkaya dengan nilai-nilai heroik khas USK.

 

Jadi di hari pahlawan 10 November, kita tidak saja mengenang jasa-jasa para pahlawan nasional bangsa namun sekaligus mengenang pula jasa-jasa para pahlawan lokal institusi USK yang tidak kecil sumbangsihnya dalam membangun karakter anak bangsa dan peradaban Indonesia tercinta ini. Tentunya jiwa-jiwa yang besar akan terus terbangun dan terjaga eksistensinya di sanubari para mahasiswa milenial USK, melalui sarana peringatan Hari Pahlawan yang penuh makna ini. Karena bangsa yang berjiwa besar adalah bangsa yang selalu mengenang jasa-jasa pahlawannya.***

 

Banda Aceh, 20 November 2022


Sabtu, 19 November 2022

Pentingkah Jalan Tol Aceh?


Telah dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi cetak 16 November 2022


Jalan tol Aceh sudah terbangun. Meski belum selesai seluruhnya, namun sebagian ruas tol yang telah terbangun sudah dapat dinikmati oleh masyarakat Aceh. Ruas tol Sibanceh (Sigli – Banda Aceh) sudah dimulai pengerjaannya sejak 2019 yang meliputi 6 (enam) seksi. Seksi 1 (Padangtiji – Seulimeum), seksi 2 (Seulimeum – Jantho), seksi 3 (Jantho – Indrapuri), seksi 4 (Indrapuri – Blang Bintang), seksi 5 (Blang Bintang – Kutabaro) dan terakhir seksi 6 (Kutabaro – Simpang Baitussalam)

 

Saat ini masyarakat Aceh sudah dapat mencicipi jalur Blang Bintang sampai Seulimeum sejauh 36 km yang telah terhampar di lintasan tol Sibanceh. Direncanakan tol Aceh yang membentang dari Banda Aceh hingga kota Medan menjadi urat nadi utama transportasi darat Aceh. Walau itu masih belum terwujud, setidaknya progress Sibanceh yang mengawali proses pembangunan tol Aceh telah membuka peluang dan harapan besar akan terwujudnya tol Aceh. Yang lebih utama lagi, tol Aceh akan menjadi bagian dari jalur tol Sumatera yang menghubungkan semua kota-kota besar di lintasan Pulau Sumatera. Sebuah cita-cita besar yang sudah tergaung lama sejak zaman Orba dulu.

 

Memang bukan hal yang mudah untuk mewujudkan perhubungan darat yang modern lewat tol di Sumatera ini. Saya masih ingat bagaimana perjuangan para pihak yang berkepentingan akan ide pembangunan tol Sumatera. Berbagai gagasan dan strategi dijalankan untuk dapat mewujudkan cita-cita besar itu. Namun kebanyakan terjebak dengan berbagai rintangan dan kendala. Yang bahkan sampai kini pun masih tetap menghadang. Terutama dalam segi finansial atau pendanaan.

 

Kini setidaknya cita-cita besar itu sudah menampakkan wujudnya. Dan sebagian sudah mulai dinikmati oleh masyarakat Sumatera. Seperti salah satunya Jalan tol Lampung-Palembang sejauh 371,5 km. Jika dulu jalur darat Lampung-Palembang perlu ditempuh dalam 10 sampai 12 jam, maka kini lewat jalan tol bahkan hanya butuh waktu 3 atau 4 jam saja. Sebuah penghematan waktu yang sangat siknifikan.

 

Dampaknya pun luar biasa. Masyarakat Palembang semakin nyaman untuk bepergian ke wilayah Lampung, untuk berwisata misalnya. Kawasan wisata pantai Lamppung menjadi tujuan favorit bagi masyarakat Sumsel. Kawasan pantai di Lampung Selatan memang menawarkan destinasi wisata yang menarik. Akses yang semakin mudah, cepat dan nyaman ke tempat-tempat tersebut telah memicu pertumbuhan ekonomi kawasan wisata di sana. Efek ganda bahkan tripel ekonomi semakin dinikmati oleh masyarakat Lampung dan sekitarnya. Hal inilah yang menjadi salahsatu tujuan terbangunnya jalan tol di sebuah kawasan. Terbinanya pertumbuhan ekonomi positif di kalangan masyarakat kawasan.

 

Tak dapat dipungkiri dampak positif yang dihasilkan oleh terbangunnya infrastruktur jalan tol di suatu kawasan. Hal ini sudah terbukti nyata dalam implementasi jalan tol di semua kawasan di Sumatera. Melihat dampak yang siknifikan ini tentunya harapan besar yang sama disandarkan pada kebangunan jalan tol Aceh. Kita tentu sangat berharap ekonomi kawasan Aceh dapat tumbuh kuat dan menopang perekonomian masyarakat Aceh secara siknifikan pula. Jalan tol menjadi sarana penting yang membuka peluang-peluang besar dari potensi Aceh untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang kuat dan menjadi tulang punggung kemajuan Aceh.

 

Akses jalan tol Aceh akan membuka jalur distribusi barang dan jasa baik keluar maupun masuk ke wilayah Aceh. Produk-produk andalan hasil wilayah ini dapat disalurkan dengan lebih mudah, cepat dan aman ke pasar di luar Aceh. Sehingga memberi nilai tambah bagi pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Jalan tol juga membuka akses masuk para wisatawan luar daerah untuk menuju destinasi wisata dalam wilayah Aceh.

 

Sepanjang kabupaten Aceh terhampar destinasi wisata yang beragam dan menarik. Mulai dari Aceh Timur, Aceh Utara, Bireun, Pidie, Takengon, Aceh Besar sampai Banda Aceh, serta terus ke Aceh Barat dan pesisir Barat-Selatan. Setidaknya dengan adanya jalur tol utama Aceh yang membelah wilayah Aceh ini, akan membuka akses lebih mudah ke dalam wilayah-wilayah tujuan wisata yang selama ini agak sukar dimasuki jika belum ada jalan tol.

 

Untuk itu perlu dirancang dari sekarang di saat pembangunan jalan tol sedang dikerjakan, secara paralel pembangunan semua kemungkinan pusat pertumbuhan ekonomi. Seperti pusat-pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, perkebunan, hasil pertanian, peternakan, serta juga kawasan destinasi wisata baru. Pihak pemerintah Aceh sudah selayaknya memikirkan program apa saja yang dapat memanfaatkan efek berantai atas kehadiran jalan tol Aceh yang sudah muncul di depan mata ini.

 

Pihak swasta pun bisa mulai tergerak dan memikirkan peluang investasi apa saja yang memungkinkan untuk ditumbuhkan. Kita bisa saksikan sendiri di kiri kanan jalan tol terhampar lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Perlu pemikiran yang cerdas dan jitu untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong tersebut sebagai pusat produksi pertanian yang bernilai ekonomi. Pencanangan ide dan gagasan ini sudah harus dimulai sedari sekarang,  di saat pembangunan jalan tol sudah mulai berjalan. Begitu selesai keseluruhan jalan tol dan pengoperasiannya, geliat ekonomi pun dapat segera hidup dari rangkaian aktifitas produksi lahan-lahan yang termanfaatkan tersebut.

 

Bisnis rest area juga patut dipikirkan untuk dikembangkan. Beberapa wilayah lahan yang dilalui oleh jalan tol Sibanceh menampilkan view yang sangat indah dan menarik. Dengan lanskap gunung Seulawah indah menjulang diselimuti dengan panorama perbukitan kawasan Aceh Besar yang begitu indah menjadi tempat yang sangat sesuai untuk menikmati keindahan alam. Jika dapat dibangun rest area ataupun tempat persinggahan yang layak dan nyaman, tentu menjadi target kunjungan yang sangat menjanjikan bagi para pelintas jalan tol Sibanceh.

 

Rest area bisa disulap menjadi destinasi wisata lokal yang baru dan menarik. Dengan hidangan masakan kuliner Aceh yang khas dan menggiurkan tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelintas jalan tol. Sehingga jalan tol bukan saja menjadi sekedar sarana perlintasan pengendara, namun malah menjadi sasaran utama para pelintas. Artinya masyarakat secara khusus melintasi tol sebagai objek tujuan parawisata itu sendiri. Menikmati perjalanan di jalan tol dan sekaligus menikmati rest area kuliner khas yang ditawarkan oleh pengelola jalan tol itu sendiri.

 

Dan kadar pentingnya kehadiran tol Aceh di sepanjang wilayah Aceh menjadi semakin nyata dan tinggi nilainya. Untuk itu perlu dukungan sepenuhnya dari semua lapisan masyarakat, golongan dan kalangan yang berkepentingan di Aceh untuk bersama-sama memusatkan perhatian bagi pemanfaatan yang optimal akan kehadiran jalan tol di Aceh. Fungsi jalan tol semakin bertambah beragam, yang tadinya untuk mengurai kemacetan di jalan arteri, mengurangi beban jalan nasional yang ada, mempercepat akses ke wilayah antar kota, mendorong arus barang yang bernilai ekonomi, kini bertambah menjadi sasaran destinasi wisata yang baru.

 

Sehingga jika semua fungsi pembangunan jalan tol Aceh dapat memenuhi semua sasaran yang disebut di atas, tak perlu lagi ada pertanyaan Pentingkah jalan tol Aceh dibangun? Kita sudah dapat menjawabnya dengan gamblang.***

 

Banda Aceh, 29 Oktober 2022

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...