Sabtu, 16 Juli 2022

Kopelma Darussalam Heritage Park: sebuah impian



Telah dimuat di suratkabar cetak Harian Waspada edisi Sabtu, 16 Juli 2022

Pendidikan tinggi di Aceh berkembang pesat. Ditandai dengan berdirinya banyak perguruan tinggi negeri  yang tersebar di berbagai kota. Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa dan Meulaboh sudah memiliki PTN yang representatif. Ditambah lagi perguruan tinggi swasta yang terdapat di hampir semua ibukota kabupaten. Semua itu berkontribusi besar kepada upaya pemenuhan cita-cita mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Dan ujungnya bermuara kepada pencapaian kesejahteraan rakyat Aceh melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia Aceh.

 

Kopelma (Kota Pelajar dan Mahasiswa) Darussalam adalah pionir pembangunan pendidikan tinggi di Aceh. Awalnya gagasan Kopelma lahir dari keprihatinan yang mendalam akan terbengkalainya instrumen dan infrastruktur pendidikan akibat konflik yang berterusan. Pasca revolusi kemerdekaan 1945 negeri Aceh menghadapi lebih banyak tantangan dan perjuangan dibandingkan daerah lain di Indonesia. Sehingga praktis Aceh jauh tertinggal.

 

Barulah di tahun 1957 terbuka peluang melahirkan ide untuk membangun sarana pendidikan yang unggul untuk memperbaiki  kerusakan di segala bidang pasca konflik politik Aceh. Pendidikan untuk generasi muda Aceh adalah kompensasi logis dari suatu upaya perdamaian yang seutuhnya. Muncullah ucapan ‘Dari Darul Harb Menuju Darussalam’. Dari negeri peperangan berubah menjadi negeri yang penuh damai.

 

Hanya dalam suasana damailah kebudayaan dapat dipulihkan. Dalam suasana damailah pengetahuan dapat disampaikan. Dalam suasana damailah kesejahteraan mulai dapat ditumbuhkan.

 

Duet kepemimpinan Gubernur Aceh Ali Hasjmy dan Penguasa Perang Teritorial Aceh Sjamaun Gaharu adalah tokoh sentral yang berperan dalam membangun Kopelma Darussalam. Tanpa menafikan peran tokoh dan pemuka masyarakat Aceh lainnya ketika itu, mereka berdua bahu membahu berada di garis depan mewujudkan cita-cita besar ini.

 

Awal kisah, tahun 1953 negeri Aceh membara. Tgk Muhammad Daud Beureueh mengobarkan pemberontakan bersenjata kepada pemerintah pusat. Gerakannya mendapat dukungan luas di kalangan masyarakat sehingga sebagian pihak menyebutkan ini sebagai perlawanan rakyat Aceh yang kecewa atas kebijakan pemerintah pusat.

 

Salah satu pemicu gerakan ini adalah dileburnya Propinsi Aceh ke dalam Propinsi Sumatera Utara sejak tahun 1950. Umumnya rakyat kecewa karena menganggap kebijakan ini turut melenyapkan identitas Aceh yang khas. Pemimpin-pemimpin lokal Aceh terbatasi dalam mengaktualisasikan diri dengan semangat keacehan di tataran pemerintahan. Otoritas kekuasaan terpaksa dibagi dengan pihak luar. Alih-alih mengelola wilayah otonom yang bersyariat, nuansa berkehidupan malah ikut arahan pihak luar.

 

Setelah cukup menahan diri selama 3 tahun, akhirnya Tgk Muhammad Daud Beureueh memproklamirkan Aceh sebagai bagian dari Darul Islam pimpinan Kartosowiryo pada 23 September 1953. Gerakan perlawanan Aceh ini cukup merepotkan pemerintah pusat. Terlebih-lebih pada masa awal-awal gerakan. Pertempuran berdarah tak dapat dielakkan. Banyak jatuh korban jiwa, terutama di kalangan rakyat jelata.

 

Perang selalu merusak. Segala tatanan kehidupan binasa. Apalagi perang sesama saudara sendiri. Namun, apa daya. Kalau sudah menyangkut prinsip dan harga diri. Apa pun terpaksa dikorbankan. Di sinilah diperlukan kebesaran jiwa dan kedewasaan dalam bertindak pada pihak-pihak yang bertikai.

 

Tahun 1956 pemerintah pusat menunjuk seorang putra Aceh Mayor Sjamaun Gaharu menjadi panglima TNI wilayah Aceh. Sjamaun Gaharu datang mengamankan keadaan dengan membawa konsep hasil renungannya yang dinamakannya Konsepsi Prinsipil Bijaksana. Sjamaun mengedepankan faktor musyawarah ketimbang tangan besi dalam misi mengamankan aksi pemberontakan ini. Dari pendekatan yang dilakukannya membuahkan kesepakatan baru. Dalam perkembangannya sikap pemerintah pusat melunak dan kembali menghidupkan Propinsi Aceh.

 

Sebagai Gubernur Aceh yang baru, ditunjuklah Ali Hasjmy yang sebelumnya memegang jabatan di Kementerian Sosial di Jakarta. Ali Hasjmy siap mengabdi mendinginkan suasana Aceh dengan tekadnya yang terkenal ‘membawa air kedamaian’ untuk Aceh. Ali Hasjmy resmi bertugas pada Januari 1957.

 

Duet putra daerah Aceh ini segera bergerak cepat. Melakukan konsolidasi dan perundingan-perundingan dengan pihak ‘pemberontak’. Yang pada hakikatnya adalah perundingan antara sesama anak bangsa sendiri untuk masa depan bersama. Lahirlah Ikrar Lamteh yang terkenal itu, dan sejak 8 April 1957 sepakat untuk menghentikan aksi pertempuran alias gencatan senjata. Suasana penghentian tembak-menembak sangat kondusif bagi kedua belah pihak untuk membangun proses perdamaian.

 

Duet pimpinan sipil militer Aceh ini terus bergerak. Inisiatif-inisiatif baru menuju upaya pemulihan keadaan terus dilancarkan. Salah satunya peningkatan status wilayah otonomi Aceh dari Propinsi menjadi Daerah Istimewa yang diberikan oleh pemerintah pusat pada 26 Mei 1959. Aceh kini diberi hak otonomi yang luas dalam bidang-bidang keagamaan, adat istiadat dan pendidikan. Dalam kerangka pembangunan pendidikan, dirumuskanlah pembangunan Kota Pelajar dan Mahasiswa Darussalam.

 

Akhirnya pada 2 September 1959 Presiden Sukarno hadir di Banda Aceh meresmikan Kopelma Darussalam dalam suasana upacara yang megah. Dihadiri oleh sejumlah menteri dan pejabat negara serta diplomat asing, mereka semua menjadi saksi sejarah terwujudnya cita-cita besar rakyat Aceh. Kopelma Darussalam menjadi tempat lahirnya Universitas Syiah Kuala dan Institut Agama Islam Negeri Jamiah Arraniri.

 

Selanjutnya sejarah terus bergulir mengikut alurnya secara alamiah. Kopelma Darussalam telah tumbuh menjadi tempat utama menempa generasi muda Aceh menjadi manusia seperti yang dicita-citakan, yaitu generasi yang bercakrawala luas, berbudi luhur, penuh pengabdian dan berjiwa besar dengan landasan agama yang kuat.

 

Kini di era milenial, Kopelma Darussalam telah menempuh 60 tahun perjalanan panjangnya. Suasana tentu sudah berubah jauh, puluhan ribu alumni telah berdiaspora ke seluruh belahan dunia. Namun spirit asal Kopelma Darusalam tidak boleh berubah. Spirit keramat yang telah menjadi monumen rohaniah di sanubari setiap insan yang mengenyam pendidikan di sini.

 

Perjalanan panjang Kopelma Darussalam yang sarat nilai sejarah itu sudah sepatutnya diabadikan dalam sebuah monumen fisik yang megah. Saya membayangkan monumen itu mampu menampilkan seluruh aspek detail kelahiran Kopelma Darussalam, mulai dari tahap konsepnya, tantangan-tantangannya, hingga keberhasilan mewujudkan cita-cita pembangunannya.

 

Monumen Kopelma Darussalam dapat menjadi proyek agung bersama antara Universitas Syiah Kuala  dan UIN Arraniry sebagai anak kandung Kopelma Darussalam, yang kini telah membesar dewasa dan mandiri. Monumen ini dapat menjadi wahana pengikat spirit yang kuat di antara anak-anak kandungnya itu. Sekaligus menjadi jembatan penghubung di antara sekat-sekat yang mulai bermunculan seiring dengan semakin kuatnya rasa kemandirian.

 

Boleh jadi monumen fisik tidak semestinya suatu bangunan baru. Bangunan-bangunan lama yang berdiri di awal lahirnya Kopelma Darussalam bisa direvitalisasi dan dikonservasi sebagai warisan yang sarat nilai historis. Tugu Darussalam sudah jelas menjadi ikon utama. Beberapa bangunan yang selama ini digunakan sebagai tempat tinggal para pejabat lama dan dosen senior juga perlu dilestarikan dan dijadikan sebagai khazanah berharga milik Kopelma Darussalam.

 

Monumen Kopelma Darussalam berupa taman warisan yang terhampar megah dan lestari di pertapakan bersejarah Darussalam, bakal menjadi destinasi menarik bagi banyak pihak. Yang jelas, para alumni yang puluhan ribu itu akan menjadi penikmat utama, terutama dalam melampiaskan rasa rindu mereka akan memori lamanya. Monumen juga berperan sebagai destinasi bagi wisatawan nusantara dan mancanegara yang haus akan informasi sejarah perjalanan berliku pengembangan pendidikan tinggi di Aceh.

 

Harapan kita bersama semoga Kopelma Darussalam Heritage Park dapat diwujudkan sebagai monumen abadi perjuangan suci pendiri bangsa dalam membangun insan Aceh yang berbudi luhur sepanjang masa.***   

 

Banda Aceh, 27 Juni 2022 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...