Para
pemimpin dunia telah berkumpul di Glasgow pada awal November 2021 tahun lalu dalam
forum COP-26 untuk memastikan kembali komitmen akan pentingnya isu perubahan
cuaca dan pemanasan global. Semua pihak sudah semakin menyadari bahwa pemanasan
global ini dipicu oleh emisi karbon yang masif. Dalam pertemuan tersebut sejumlah pemimpin
dunia memaparkan langkah-langkah yang sudah diambil selama ini, dan apa rencana
ke depan yang perlu dilaksanakan dalam memastikan agar kenaikan suhu bumi dapat
dicegah. Semua negara di dunia perlu menjalin kolaborasi yang intens dan
sistematis dalam mencari solusi untuk masalah pemanasan global ini.
Terlepas
dari sikap nyinyir para aktivis lingkungan terhadap para pemimpin dunia yang
menurut mereka hanya lip service
belaka, apresiasi tetap patut diberikan atas niat baik para top leader untuk mau hadir berkumpul di
Glasgow kemarin. Setidaknya pertemuan tingkat tinggi dan komprehensif ini akan
selalu terjaga dan terekam dalam memori sehingga atensi terhadap pengurangan
emisi karbon tidak menjadi surut.
Bagi
Indonesia momen ini menjadi sangat penting untuk menunjukkan kepada dunia akan
keseriusan berkontribusi mencari solusi pemanasan global ini. Indonesia dengan
jumlah penduduk 270 juta jiwa yang terbesar ke-4 di dunia sudah dipastikan
punya pengaruh besar akan setiap kebijakan yang diambil. Untuk menggerakkan
pertumbuhan ekonominya Indonesia jelas butuh konsumsi energi yang tinggi. Jika
sumber energi selama ini masih terus didominasi oleh energi fosil, maka
produksi emisi karbon Indonesia juga meningkat terus secara siknifikan.
Upaya
pengurangan emisi karbon dunia sekarang ini dilakukan dalam dua jenis strategi.
Pertama, menggantikan peran energi fosil (minyak, gas dan batubara) dengan
energi baru dan terbarukan (energi surya, air, angin dan panas bumi) yang tidak
memancarkan emisi karbon. Targetnya adalah emisi karbon dapat berkurang dan
berkontribusi untuk mencapai net zero
carbon. Namun ini butuh biaya besar, karena pengembangan energi baru dan
terbarukan masih terus dilakukan untuk mencari kondisi idealnya.
Sehingga
strategi ini dilakukan secara bertahap untuk mengantisipasi guncangan finansial
dan faktor-faktor kemampuan teknologi. Indonesia telah menyusun road-map kasar bauran energi 23%
penggunaan energi terbarukan di tahun 2025, 41% pada tahun 2040, dan akhirnya full 100% di tahun 2060.
Strategi
kedua adalah menangkap karbon yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar
fosil, menyimpannya, dan atau menggunakannya dalam bentuk lain. Artinya upaya
ini mencoba mengalihkan sejumlah karbon yang diproduksi oleh pembangkit energi
fosil dengan cara menyimpan dan menguburkannya di tempat yang jauh di dasar
bumi dan memastikan karbon itu tetap terperangkap selamanya di dalam perut
bumi. Teknologi ini disebut CCUS singkatan dari Carbon Capture, Utilization and
Storage (Tangkap, Gunakan dan Simpan).
Strategi
kedua ini sangat sesuai dilakukan dalam masa transisi. Yaitu ketika penggunaan
energi fosil masih berlangsung dan secara bertahap digantikan oleh energi
terbarukan, maka emisi karbon yang dihasilkan perlu diperangkap dan disimpan
agar tidak menyebar ke udara bebas.
Indonesia
memberi perhatian kepada kedua strategi ini dalam porsi yang sama. Artinya
kedua opsi strategi ini patut menjadi pilihan yang dapat dilakukan secara
serentak. Pada satu sisi, bumi Indonesia begitu kaya akan sumber-sumber energi
terbarukan. Ini perlu dikembangkan dan dieksploitasi sepenuhnya untuk mengurangi
ketergantungan pada energi fosil. Di sisi lain, cadangan sumber energi fosil
Indonesia masih cukup tersedia, walau kuantitasnya akan semakin menurun sejalan
dengan waktu jika terus dikonsumsi.
Teknologi
CCUS sudah menjadi salahsatu agenda pemerintah Indonesia dalam kebijakan
nasional pengurangan emisi karbon. Uji coba pertama sekali dilakukan sejak 10
tahun yang lalu melalui kerjasama riset ITB dan Lemigas. Dan terus berkembang
hingga ini. Beberapa bentuk kerjasama riset dengan pihak asing juga dilakukan.
Beberapa agenda sudah disusun dan dapat dicatat di sini lapangan Arun menjadi
salahsatu pilihan utama dalam program CCUS Indonesia. Strateginya adalah dengan
menginjeksi gas CO2 yang diproduksi dari ladang-ladang PT Medco E&P Malaka
ke ladang Arun dengan harapan memberi efek kepada peningkatan produksi ladang
Arun (Kementrian ESDM, 2021).
Bagi
kita di Aceh, perkembangan ini patut menjadi berita baik dan angin segar.
Ladang Arun sebagai lahan bekas tambang gas terbesar di dunia, kini sudah purna
bakti alias pensiun. Peralatan besar kilang pencairan gas Arun yang dulunya
begitu megah, kini terancam menjadi besi tua dan terbengkalai tidak berfungsi
lagi. Dengan adanya kebijakan CCUS yang akan dilakukan di lapangan Arun, akan
membuka peluang wilayah ini kembali bergeliat ekonominya.
Aktifitas
industri akan kembali tumbuh sejalan dengan aktifnya peralatan-peralatan besar
dalam menjalankan proyek CCUS ini. Lapangan Arun menyisakan ruang kosong yang
besar sekali bekas tempat gas yang telah diambil dari dalam perut bumi Arun.
Kini ruang kosong itu dimanfaatkan sebagai tempat simpanan gas CO2 terbesar di
dunia pula. Gas CO2 yang ditangkap dari berbagai proses yang menghasilkan emisi
karbon diinjeksikan ke dalam perut bumi dan disimpan di sana selamanya.
Teknologi
CCUS juga dipakai untuk EOR (Enhanced Oil Recovery) atau injeksi karbon ke
dalam sumur-sumur tambang migas yang sudah tua akan menekan gas dan minyak yang
masih tersisa ke atas dan menjadi sumber migas baru. Sehingga teknologi CCUS
sangat menjanjikan, karena selain dapat mengurangi jumlah karbon di udara,
sekaligus dapat digunakan untuk memproduksi kembali minyak dan gas bumi. Ide
CCUS sangat inovatif dan memberi solusi ganda akan masalah pemenuhan energi dan
pengurangan emisi karbon juga.
Sehingga
patut kita sambut gembira ide untuk menerapkan teknologi CCUS di bekas lapangan
Arun. Bagi Aceh, terdapat keuntungan yang berlipat ganda dan memberi efek
positif terhadap banyak aspek.
Mudah-mudahan ini dapat menjadi berkah baru kepada masa depan
kesejahteraan masyarakat Aceh.
Penerapan
teknologi CCUS memberi peluang kepada pemberdayaan sumber daya manusia di Aceh
untuk terlibat sepenuhnya dalam pengembangan dan operasionalnya. Mulai dari
tingkat bawah sehingga level manajerial. Kalangan akademik di kampus juga dapat
berperan di bidang riset dan pengembangan ke depan. Kampus memiliki kesempatan
lebih besar dalam mencetak tenaga-tenaga trampil yang akan dipakai untuk
mengelola CCUS.
Dari
segi ekonomi patut diakui akan menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi. Ekonomi
sekitar CCUS akan bertumbuh dan menggeliatkan aktifitas masyarakat sekitar.
Karena industri di Arun kembali hidup dan berputar. Ini akan menjadi pemicu
kepada tumbuhnya sektor-sektor ekonomi baru yang lebih luas dan variatif.
Semua
pihak yang berkepentingan di Aceh patut mendukung rencana besar CCUS ini.
Dukungan tidak saja dilakukan dengan menerima begitu saja teknologi yang datang
dari pihak luar Aceh, namun juga dalam bentuk yang kritis. Seperti melakukan
kajian yang lebih mendalam terhadap dampak-dampak yang dapat terjadi sebagai
akibat penerapan teknologi CCUS. Pihak institusi pendidikan tinggi lokal sangat
ditunggu peranannya untuk terlibat dalam proyek ini secara proporsional.***
Banda
Aceh, 21 Mei 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar