Telah dimuat di harian Serambi Indonesia edisi Selasa, 24 Januari 2023
Menteri Pendidikan Nadiem
Makarim seorang praktisi inovatif yang menggagas program Merdeka Belajar Kampus
Merdeka (MBKM). Intinya mengembalikan roh kemerdekaan ke dalam dunia pendidikan
tinggi. Mahasiswa tidak saja belajar dalam sekat-sekat ruang kelas namun dapat
merdeka belajar di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Mahasiswa diberi kebebasan
untuk menggantikan jam kuliahnya sebanyak 20 SKS di kelas dengan kegiatan
akademik di luar kelas yang setara waktunya.
Kegiatan program Merdeka
Belajar ini dapat dilakukan dengan berbagai bentuk. Selain membebaskan
mahasiswa memilih belajar di luar kampus yang dilakukan secara institusional,
juga ada program lain yang dilakukan dalam bentuk menghadirkan praktisi di
kampus memberikan kuliah. Atau disebut dengan istilah Praktisi Mengajar.
Ada dua jenis aktifitas
untuk program ini. Pertama, Kolaborasi Pendek, yaitu program kuliah dan
evaluasi pengajarannya maksimal 10 jam tatap muka. Kedua, Kolaborasi Intensif,
yaitu program kuliah lengkap dengan waktu tatap muka antara 15 jam sampai 41
jam per semester.
Kegiatan praktisi
mengajar dimaksudkan memberikan cakrawala baru kepada mahasiswa akan dunia
kerja. Mahasiswa dikenalkan sejak awal bagaimana tuntutan dunia kerja terhadap
kompetensi lulusan perguruan tinggi ketika mereka lulus nanti. Dengan
menghadirkan sosok praktisi dunia kerja yang memberikan kuliah langsung di
kampus diharapkan dapat memberi info dari tangan pertama tentang bagaimana
situasi dunia kerja sesungguhnya.
Selain itu, kegiatan ini
juga mendorong kolaborasi yang lebih intens antara praktisi industri dengan kalangan
perguruan tinggi, serta berkontribusi positif kepada penyiapan SDM unggul untuk
negara.
Sekilas program ini
memberikan harapan cerah terhadap upaya mendekatkan alam pendidikan di kampus
dengan tuntutan dunia kerja di luar kampus. Karena masalah utama yang sering
dihadapi oleh kalangan pendidikan di kampus adalah terjadinya gap atau jurang
yang cukup lebar antara teori-teori keilmuan yang disodorkan oleh kalangan
pendidik di kampus dengan kenyataan kompetensi lulusan yang diinginkan dalam
dunia kerja.
Karena sejatinya
aktifitas kampus sudah seharusnya selaras dengan apa yang diinginkan oleh pihak
dunia kerja yang akan merekrut para pekerjanya dari lulusan perguruan tinggi.
Bisa jadi disebabkan oleh
kalangan kampus yang asyik terlena sendiri dengan teori-teori keilmuannya dan tidak menyadari kalau di luar ternyata
tuntutan ilmu sudah berkembang jauh dan mengalami perubahan. Selain itu,
kalangan pendidik di kampus atau dosen terjerat dengan kesibukan tri dharma
perguruan tinggi yang mewajibkan keseimbangan aktifitas antara mengajar,
meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat. Sehingga bisa jadi terlewatkan
dengan materi-materi yang dituntut oleh dunia kerja untuk para lulusannya.
Program praktisi mengajar
sebagai bagian dari kegiatan MBKM menjadi salahsatu opsi solutif menghadapi
permasalahan tersebut. Tentunya praktisi yang direkrut oleh pihak universitas adalah
yang benar-benar mumpuni dan memiliki kualifikasi yang sesuai untuk menularkan
ilmu empirisnya yang menjadi kompetensi di dunia kerja. Artinya kapasitas ilmu
praktisi sudah diakui dalam dunia kerjanya.
Pengalaman lapangan yang
dimiliki para praktisi ini tentu menjadi materi belajar yang sangat berguna bagi
para mahasiswa di perguruan tinggi. Berbeda dengan materi yang diberikan oleh
dosen pengampu dalam keseharian pengajaran di kelas, maka para praktisi ini
dapat memberikan sudut yang berbeda yang tidak tersampaikan oleh dosen di
kampus. Intinya, kerjasama yang intens tentu akan dibutuhkan antara praktisi
ini dengan dosen di kampus. Sinergitas dan kolaborasi yang positif antara dosen
di kampus dengan praktisi akan memberikan output yang sangat berharga kepada
mahasiswa didik.
Sesungguhnya untuk
pengalaman Universitas Syiah Kuala khususnya Fakultas Teknik praktisi mengajar
sudah dilakukan sejak awal-awal pendirian kampus dahulu. Ketika itu tuntutan
keadaan menyebabkan Fakultas Teknik kekurangan tenaga pengajar tetap. USK (dulu
bernama Unsyiah) didirikan secara darurat sesuai dengan kondisi zaman ketika
itu, sehingga tenaga pengajar tetapnya masih minim sekali. Untuk itu solusinya
adalah merekrut para praktisi dan profesional di dunia kerja yang ada di daerah
Aceh untuk mengajar di kampus USK.
Ketika itu dosen tetap
hanya seorang dua aja. Selebihnya dosen diisi oleh para praktisi, baik yang
bekerja di Dinas PU, PLN, Dinas Perindustrian dan lain-lain instansi. Sehingga
justru pengalaman praktisi lebih dominan diterima oleh para mahasiswa tingkat
awal. Namun masalah besarnya ketika itu, para praktisi ini bukan merupakan
tugas utama di kampus. Mereka tentunya punya tanggung-jawab di instansinya
masing-masing. Sehingga jam mengajar mereka di kampus pun sering terkendala.
Mahasiswa akhirnya pergi keluar kampus dan menemui para praktisi ini untuk
mendapatkan kuliah langsung di tempat kerja para praktisi ini. Sehingga praktis
waktu mahasiswa lebih banyak dihabiskan di luar kampus untuk mengejar para
praktisi ini yang susah untuk datang ke kampus untuk mengajar.
Ketika itu tidak ada
pilihan lain kecuali mahasiswa yang harus pontang panting mencari para praktisi
ini menularkan ilmu praktisnya. Begitulah dinamika perjuangan mahasiswa teknik
di awal-awal kampus berdiri. Namun efek positifnya adalah para lulusan teknik
ketika itu hampir semuanya mudah mendapat pekerjaan setelah menyelesaikan
pendidikannya. Kemungkinan besar selain karena peluang pekerjaan yang masih
terbuka luas, juga disebabkan oleh bekal ilmu yang diberikan oleh para praktisi
tadi. Para lulusan ini begitu mudah untuk beradaptasi dengan dunia kerja
setelah lebih banyak berinteraksi dengan kalangan praktisi ketika mereka masih
kuliah.
Situasinya justru menjadi
berbeda ketika sekarang jumlah dosen pengajar tetap di kampus sudah terpenuhi.
Masa belajar mahasiswa di dalam kampus tidak terganggu lagi. Proses belajar
mengajar dapat berlangsung normal dan sempurna sesuai dengan harapan kurikulum.
Namun kenyataannya, situasi yang kondusif ini ternyata memberikan efek lain
pula. Nuansa dunia kerja semakin menjauh dari keseharian para mahasiswa kita.
Mahasiswa malah sibuk
berkutat di dalam kampus dan interaksi dengan dunia kerja sedikit sekali. Walau
sudah ada program Kerja Praktek dalam kurikulum ternyata masih belum cukup
memberi bekal kepada mahasiswa untuk memenuhi tuntutan kompetensi dunia kerja.
Yah inilah tantangan zaman agaknya.
Ketika dunia kampus telah
semakin memenuhi aktifitas internal di kampusnya, ternyata ini membuat
mahasiswanya menjauhkan diri dari atmosfer dunia kerja. Sehingga muncul kembali
gagasan untuk menghadirkan para praktisi ini ke dalam kampus. Jadilah program
Praktisi Mengajar.
Praktisi Mengajar era sekarang
tentunya sudah berbeda dengan era dulu ketika zaman darurat tenaga pengajar.
Namun konsekwensinya diharapkan akan sama, yaitu memberikan pengalaman langsung
dunia kerja dari orang yang tepat yaitu para praktisi ini.
Yang dibutuhkan sekarang
adalah kolaborasi yang menguntungkan antara para praktisi dan dosen di kampus
untuk bersama-sama menyusun program pengajaran yang dapat memenuhi kaedah
pendidikan yang benar sekaligus memberikan materi yang up to date tentang dunia kerja di lapangan. Memang itu yang
seharusnya terus dilakukan oleh kalangan dunia pendidikan di kampus dan dunia
kerja di lapangan industri.
Hubungan yang tidak
putus-putusnya antara dosen di kampus dengan praktisi di lapangan akan
memberikan dampak yang sangat menentukan kepada kompetensi mahasiswa yang
menjadi sasaran objek pendidikan. Mahasiswa akan mendapatkan bekal yang
paripurna baik segi kandungan dasar keilmuan yang kuat, serta juga memiliki
wawasan yang segar dan terbarukan akan dunia kerja yang akan digelutinya.***
Banda Aceh, 13 Desember
2022

