Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 18 Agustus 2023
Dunia
kini menghadapi tantangan besar yang perlu segera dicarikan solusinya. Yaitu
krisis perubahan iklim. Tanda-tandanya sudah semakin jelas dan
terang-benderang. Suhu bumi sudah semakin memanas. Menurut istilah yang dipakai
oleh Sekjen PBB Antonio Guterres dunia sekarang sedang mengalami pendidihan
global, bukan lagi pemanasan global. Sungguh sebuah kenyataan pahit yang harus
kita hadapi bersama.
Dalam
laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan bulan Juli lalu menjadi
bulan yang terpanas sepanjang peradaban dunia. Berbagai negara telah mengalami
langsung suhu panas di negara masing-masing bahkan ada yang mengalami suhu
mencapai 50 derajat C. Dan diperkirakan keadaan ini akan semakin parah di masa
depan jika tidak ada langkah-langkah yang drastis dan strategis untuk
mencegahnya. Efeknya akan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia di bumi.
Pulau-pulai kecil akan hilang dan penghuninya terpaksa meninggalkan pulau
tersebut. Daerah pesisir kian tergerus dan hunian di kawasan pesisir harus
tersingkir pula.
Isu
iklim dunia memang menjadi bahan yang selalu menarik untuk dibahas. Namun sudah
saatnya semua pihak tidak hanya sekedar bicara panjang lebar tentang kenyataan
krisis iklim. Sudah saatnya melakukan aksi nyata untuk membendung perluasan
krisis iklim ini.
Semuanya
bermula dari revolusi industri yang mulai tumbuh di abad 18. Perubahan
besar-besaran terjadi dalam cara manusia menjalani kehidupannya yang modern.
Dunia modern membutuhkan energi besar yang perlu digerakkan dengan
mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam yang ada. Kehidupan modern
glamor dan maju identik dengan penciptaan alat dan peralatan canggih yang
membantu manusia menikmati hidup dengan lebih berkualitas.
Namun
semua itu ternyata membutuhkan pengorbanan yang besar pula dari sisi
penghancuran dan penghilangan nilai-nilai keseimbangan ekosistem lingkungan
hidup. Hukum alam berlaku, di saat pertumbuhan di satu sisi sangat berlebihan
maka akan memberi dampak ketimpangan pada sisi yang lain. Dunia yang modern dan
hedonis telah memanjakan manusia dengan kehidupan yang sangat menyenangkan yang
dianggap sebagai hidup yang berkualitas. Namun semua ini mengorbankan kehidupan
alami dan menghancurkan sisi dunia lain yang lebih natural.
Untuk
mendapatkan posisi yang ideal sesungguhnya perlu ada keharmonisan dan
keseimbangan antara eksplorasi dan eksploitasi dengan langkah penjagaan
kelestarian ekosistem lingkungan. Namun, pada kenyataannya manusia sukar untuk
menentukan pada titik mana keseimbangan itu harus dicapai.
Dunia
terbelah pada bagian manusia yang maju dan mampu menumbuhkan kehidupannya, dan
di sisi lain ada bagian manusia yang terbelakang dan kurang cekatan dalam
mengeksploitasi alam. Bagian dunia yang didiami oleh manusia-manusia unggul ini
katakanlah berada di sisi Utara bumi, umumnya menjadi bagian bumi yang
negaranya maju, modern, berteknologi tinggi dan mempunyai power besar untuk
menguasai dunia dan menentukan arah pertumbuhan dunia. Sedangkan di bagian
Selatan umumnya didiami oleh manusia yang sedikit terkebelakang dan
kehidupannya lebih sederhana apa adanya dan tidak terlalu berperan dalam
menentukan arah kehidupan dunia.
Kenyataan
krisis iklim yang melanda dunia lebih banyak dipicu oleh sikap dan perilaku
penghuni bumi yang berada di Utara ini. Yaitu perilaku manusia-manusia yang
disebut unggul dan menciptakan teknologi canggih namun ujung-ujungnya
menyengsarakan seluruh muka bumi ini. Dampaknya dirasakan oleh seluruh penghuni
bumi. Termasuk penghuni bumi yang berperan kecil dalam kontribusi terhadap krisis
iklim, namun terpaksa menerima dampaknya pula. Ditambah lagi, harus terlibat
pula dalam mencari solusi yang nyata-nyata diciptakan oleh pihak manusia maju
ini.
Kini
semua pihak berteriak keras tentang krisis iklim. Dan berusaha merangkul semua
pihak dan semua negara dunia untuk bersama-sama menanggulangi krisis ini. Namun
demi keadilan dan kesetaraan seharusnya beban untuk menghadapi krisis ini
haruslah proporsional. Siapa yang yang paling banyak berkontribusi kepada
penghancuran iklim, tentunya dia juga yang paling besar bebannya dalam menanggulangi
krisis tersebut.
Bagaimana
Islam memandang krisis iklim? Islam menjunjung prinsip keadilan dan
keseimbangan. Alam perlu diurus dengan penuh hikmah dan berkeadilan. Manusia
dalam pandangan Islam adalah khalifah di atas muka bumi. Manusia diberi peran
penuh oleh Allah untuk mengelola bumi ini dengan penuh kebijaksanaan. Sikap
serakah dan mau menang sendiri sangat dihindari dalam pandangan Islam. Sehingga
krisis iklim adalah buah dari bentuk keserakahan umat manusia sebuah tindakan
yang tentunya dimusuhi dan dimurkai oleh Allah.
Al
Quran surat Al A’raf ayat 56 menyebutkan: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan
di bumi (setelah) diciptakan dengan baik. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut
dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang
berbuat kebaikan.” Dengan kata lain krisis iklim adalah sebuah dampak paling
signifikan dari tindakan manusia yang mengkhianati kodratnya sebagai khalifah
di muka bumi.
Apa
peran kita sebagai umat muslim untuk menghadapi krisis iklim ini? Secara global
sudah ada gerakan dari para pemimpin negara Islam dalam bentuk Deklarasi
Istambul pada tahun 2015 dengan nama Islamic Declaration on Global Climate
Change (IDGCC). Isinya meminta agar semua warga muslim dunia 1,6 milyar jiwa
turut aktif berpartisipasi dalam memerangi perubahan iklim. Juga perlunya semua
pihak baik pemerintahan, ulama, masjid, lembaga pendidikan, dan pihak lainnya
untuk segera mengambil tindakan yang selaras dengan konsensus saintifik
mengenai perubahan iklim. Islamic Declaration on Global Climate Change
mengingatkan kaum muslimin untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai suri
tauladan dalam mengelola sumber daya alam dan menyikapi perubahan iklim.
Sejak sekarang
sepatutnya isu krisis iklim sudah harus menjadi agenda utama umat muslim
sedunia. Untuk level Aceh sudah selayaknya semua kebijakan publik yang
dikeluarkan oleh Pemerintahan Aceh harus mengacu kepada upaya pencegahan pemanasan
global dan krisis iklim. Untuk level yang terkecil, seperti diri pribadi dan
komunitas keluarga sudah sejak awal ditanamkan pola dan gaya hidup yang
menghormati kelestarian lingkungan. Hindari sikap berlebihan dalam hal apa pun.
Karena hal yang berlebihan memicu kepada sikap keserakahan yang amat dibenci
dalam ajaran suci Islam.
Usaha sekecil apa
pun yang merujuk kepada kontribusi akan pemulihan krisis iklim sangat patut
untuk diapresiasi dan menjadi inspirasi kepada pihak yang lain. Sehingga
akumulasinya akan menjadi sumbangan besar kepada solusi menyeluruh krisis iklim
yang sedang melanda dunia kita bersama ini.
Mari kita jadikan
krisis iklim sebagai agenda besar bersama untuk dicarikan solusi permanen bagi
masa depan kehidupan bumi yang lebih nyaman, aman dan berkelanjutan.***
Banda Aceh, 10
Agustus 2023
