Telah dimuat di media cetak Harian Rakyat Aceh edisi Jumat 21 Oktober 2022
Akhir
bulan Juli 2022 lalu telah berlangsung pelantikan Rektor UIN Ar-Raniry. Tidak berpanjang
waktu, sang rektor baru Profesor Mujiburrahman langsung mengadakan pertemuan
silaturahmi dengan Rektor USK. Ini sebuah langkah pembuka yang manis dari
seorang pimpinan baru kepada jirannya atau dapat disebut sebagai saweu kepada saudara kandungnya. Kita sama-sama
tahu, UIN dan USK adalah saudara sekandung yang lahir dari ibunda Kopelma
Darussalam. Pertemuan mesra antara dua pimpinan PT kebanggaan Aceh ini tentu
sangat membahagiakan semua pihak. Karena hubungan baik yang selama ini telah
terjalin akan tetap terawat dan bersinambung.
Sejak
berdirinya Kopelma Darussalam pada 2 September 1959, 63 tahun yang silam, telah
melahirkan dua perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Aceh, yaitu IAIN Ar-Raniry
yang berlandaskan pendidikan keislaman, dan Unsyiah yang berkonsentrasi
mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendekatan modern.
Dalam perjalanan waktu keduanya berkembang dan bertransformasi menjadi
perguruan tinggi yang semakin maju dan tumbuh dengan cirinya masing-masing.
Namun, kita tetap berharap dengan penuh keyakinan bahwa spirit Kopelma
Darussalam tetap menjadi karakter utama dari kedua perguruan tinggi ini. Yaitu
semangat yang ditanamkan ketika Kopelma Darussalam didirikan oleh para founding father pemimpin Aceh di tahun
1959 ketika itu.
Tujuan
dibangunkannya Kopelma Darussalam adalah untuk mencerdaskan kehidupan
masyarakat Aceh, membentuk insan yang berbudi luhur dan mengubah lanskap
kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang sebelumnya bernaung di alam darul harb
menjadi alam darussalam. Alam yang diliputi dengan suasana peperangan menjadi
alam yang penuh kedamaian. Pendidikan di segala bidang hanya bisa tumbuh subur
di alam yang penuh dengan kedamaian. Itulah spirit inti berdirinya Kopelma
Darusalam.
Setelah
63 tahun berlalu IAIN Arraniry telah mengubah namanya menjadi UIN, Universitas
Islam Negeri Ar-Raniry. Dengan tujuan menjadikannya perguruan tinggi Islam yang
progresif dan mampu menjawab tantangan era globalisasi. Demikian pula Unsyiah,
yang mencoba menjawab tantangan zaman dengan berbagai inovasi dan terobosan.
Salahsatu di antaranya dengan sedikit mengubah akronim menjadi USK, yang
memberi kesan modern, mudah diingat dan disebut dalam penuturan kawula muda nan
enerjik. Seiring dengan berjalannya waktu, kita berharap transformasi keduanya
akan mencapai sasaran yang dituju, yaitu mampu menjawab tantangan era
globalisasi ini.
Salahsatu
spirit dalam menjawab tantangan era globalisasi selain mampu berkompetisi, juga
perguruan tinggi harus siap melakukan kolaborasi. Kolaborasi akan menggiring
kepada suasana sinergi untuk maju bersama-sama memecahkan masalah kehidupan
yang semakin kompleks. Artinya kita tidak lagi sekedar mampu bersaing dengan
kompetitor, namun juga mampu dengan besar hati bekerjasama dengan tujuan win-win solution.
Sinergi
menjadi kata kunci di era modern ini untuk dapat keluar dari permasalahan
dunia. Kita tahu semua pihak memiliki kelebihan masing-masing, dan dengan
berkolaborasi kita dapat saling berbagi kepakaran sehingga akan maju
bersama-sama. Semangat kolaborasi inilah yang sekarang perlu dipupuk terus di
kalangan jajaran akademik USK dan UIN jika ingin maju bersama mensejahterakan
masyarakat Aceh tercinta.
Tahun
2022 ini kedua perguruan tinggi sama-sama dinahkodai oleh rektor yang baru. USK
dikomando oleh Profesor Marwan sejak Maret 2022 dan UIN baru berganti pimpinan
kepada Profesor Mujiburrahman di bulan Agustus ini. Kedua sosok ini sama-sama
masih tergolong muda, enerjik, dan sarat dengan spirit bertransformasi yang
fokus pada kemajuan. Momentum ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Kopelma
Darussalam untuk bangkit bersama-sama mengkilapkan kembali roh suci spirit
Kopelma Darussalam yang sudah hidup sejak 63 tahun yang lalu.
Dalam
silaturahmi rektor UIN-USK tersebut, Profesor Mujiburrahman dengan gamblang
menjelaskan visinya dalam membangun sinergisitas baru antara UIN dan USK. Dalam
tataran teknis dan jangka pendek, sinergisitas itu berwujud kegiatan bersama
pada hari-hari keramat seperti peringatan 17 Agustus, 2 September dan berbagai
kegiatan yang akan menyusul kemudian. Harapan kita, kegiatan ini tidak saja
sekedar pada tataran aktifitas jangka pendek, namun perlu dirancang dengan
sistematis dan terstruktur untuk kegiatan jangka menengah dan panjang.
Jika
program jangka pendek dapat dikualifikasikan sebagai kegiatan seremonial yang
rutin dilaksanakan dalam jadwal tertentu secara bersama-sama, maka program
jangka menengah dan panjang lebih bernuansa filosofis dengan cakupan kegiatan
yang lebih luas, dalam dan melibatkan pemikiran yang kritis di kalangan sivitas
akademika kedua belah pihak.
Salahsatu
bentuk program sinergisitas jangka menengah seperti yang pernah penulis
deskripsikan dalam artikel berjudul Kopelma Darussalam Heritage Park di harian
Waspada 16 Juli 2022. Di dalam program ini dapat dilakukan berupa peremajaan
situs-situs bangunan lama yang sudah menjadi ikon Kopelma Darussalam, seperti
tugu Darussalam, bangunan-bangunan lama yang menyimpan sejarah perjalanan
Darussalam, peremajaan bus Robur Darussalam dan lain-lain. Salahsatu robur ini
mangkrak di sudut lusuh kampus, sesungguhnya dapat diremajakan kembali oleh
Fakultas Teknik USK. Bisa saja dijadikan sebagai bus listrik dan dioperasikan
di dalam kampus sebagai transportasi gratis kepada mahasiswa atau pengunjung
luar.
Nah,
bagaimana dengan program jangka panjang? Penulis pernah berbincang dengan
sesama kolega sivitas USK tentang keberadaan majalah ilmiah Sinar Darussalam. Majalah
ini pernah begitu populer di masa-masa pertumbuhan kampus Kopelma Darussalam.
Digagas dan diasuh oleh Profesor Ali Hasjmy, majalah ini pernah menjadi ikon penting
yang memuat berbagai tulisan, opini, dan artikel ilmiah hasil pemikiran para
dosen Unsyiah dan IAIN ketika itu. Kini majalah ilmiah tersebut mati suri.
Tidak pernah terbit lagi.
Gagasan
menerbitkan kembali majalah Sinar Darussalam dengan wajah baru dapat menjadi
program jangka panjang andalan dalam membangun sinergisitas akademik yang kukuh
antara USK dan UIN. Kedua perguruan ini telah memiliki ratusan Profesor dengan
kepakaran yang teruji pada bidang masing-masing. Wujudnya majalah ilmiah Sinar
Darussalam berwajah baru dapat menjadi wadah utama Kopelma Darussalam modern
dalam berkontribusi kepada ilmu pengetahuan dan pengembangan negeri Aceh. Saya
membayangkan dalam majalah ini muncul berbagai ide dan gagasan segar yang
orisinal dan cerdas tentang segala aspek kehidupan yang memajukan pembangunan
Aceh khususnya, dan Indonesia maupun dunia internasional.
Untuk
mewujudkan langkah pemenuhan program jangka pendek, menengah dan panjang ini
tentu diperlukan strategi yang jitu dan fleksibel. Kedua rektor bisa saja
berembuk kembali dan membawa para pakar di belakang mereka untuk merumuskan
bentuk kelembagaan yang seperti apa yang paling pas dan sesuai untuk melakukan
ini semua. Sehingga dari sini akan lahir banyak gagasan baru yang bermuara
kepada upaya pengembangan pembangunan Aceh yang sejati. Sehingga peran USK dan
UIN dalam berkontribusi kepada pembangunan Aceh yang hakiki dapat disalurkan
dengan sebaik-baiknya melalui program sinergisitas ini.***
Banda
Aceh, 19 Oktober 2022
