Minggu, 30 Oktober 2022

Penguatan Sinergitas USK-UIN


Telah dimuat di media cetak Harian Rakyat Aceh edisi Jumat 21 Oktober 2022

Akhir bulan Juli 2022 lalu telah berlangsung pelantikan Rektor UIN Ar-Raniry. Tidak berpanjang waktu, sang rektor baru Profesor Mujiburrahman langsung mengadakan pertemuan silaturahmi dengan Rektor USK. Ini sebuah langkah pembuka yang manis dari seorang pimpinan baru kepada jirannya atau dapat disebut sebagai saweu  kepada saudara kandungnya. Kita sama-sama tahu, UIN dan USK adalah saudara sekandung yang lahir dari ibunda Kopelma Darussalam. Pertemuan mesra antara dua pimpinan PT kebanggaan Aceh ini tentu sangat membahagiakan semua pihak. Karena hubungan baik yang selama ini telah terjalin akan tetap terawat dan bersinambung.

 

Sejak berdirinya Kopelma Darussalam pada 2 September 1959, 63 tahun yang silam, telah melahirkan dua perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Aceh, yaitu IAIN Ar-Raniry yang berlandaskan pendidikan keislaman, dan Unsyiah yang berkonsentrasi mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendekatan modern. Dalam perjalanan waktu keduanya berkembang dan bertransformasi menjadi perguruan tinggi yang semakin maju dan tumbuh dengan cirinya masing-masing. Namun, kita tetap berharap dengan penuh keyakinan bahwa spirit Kopelma Darussalam tetap menjadi karakter utama dari kedua perguruan tinggi ini. Yaitu semangat yang ditanamkan ketika Kopelma Darussalam didirikan oleh para founding father pemimpin Aceh di tahun 1959 ketika itu.

 

Tujuan dibangunkannya Kopelma Darussalam adalah untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat Aceh, membentuk insan yang berbudi luhur dan mengubah lanskap kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang sebelumnya bernaung di alam darul harb menjadi alam darussalam. Alam yang diliputi dengan suasana peperangan menjadi alam yang penuh kedamaian. Pendidikan di segala bidang hanya bisa tumbuh subur di alam yang penuh dengan kedamaian. Itulah spirit inti berdirinya Kopelma Darusalam.

 

Setelah 63 tahun berlalu IAIN Arraniry telah mengubah namanya menjadi UIN, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Dengan tujuan menjadikannya perguruan tinggi Islam yang progresif dan mampu menjawab tantangan era globalisasi. Demikian pula Unsyiah, yang mencoba menjawab tantangan zaman dengan berbagai inovasi dan terobosan. Salahsatu di antaranya dengan sedikit mengubah akronim menjadi USK, yang memberi kesan modern, mudah diingat dan disebut dalam penuturan kawula muda nan enerjik. Seiring dengan berjalannya waktu, kita berharap transformasi keduanya akan mencapai sasaran yang dituju, yaitu mampu menjawab tantangan era globalisasi ini.

 

Salahsatu spirit dalam menjawab tantangan era globalisasi selain mampu berkompetisi, juga perguruan tinggi harus siap melakukan kolaborasi. Kolaborasi akan menggiring kepada suasana sinergi untuk maju bersama-sama memecahkan masalah kehidupan yang semakin kompleks. Artinya kita tidak lagi sekedar mampu bersaing dengan kompetitor, namun juga mampu dengan besar hati bekerjasama dengan tujuan win-win solution.

 

Sinergi menjadi kata kunci di era modern ini untuk dapat keluar dari permasalahan dunia. Kita tahu semua pihak memiliki kelebihan masing-masing, dan dengan berkolaborasi kita dapat saling berbagi kepakaran sehingga akan maju bersama-sama. Semangat kolaborasi inilah yang sekarang perlu dipupuk terus di kalangan jajaran akademik USK dan UIN jika ingin maju bersama mensejahterakan masyarakat Aceh tercinta.

 

Tahun 2022 ini kedua perguruan tinggi sama-sama dinahkodai oleh rektor yang baru. USK dikomando oleh Profesor Marwan sejak Maret 2022 dan UIN baru berganti pimpinan kepada Profesor Mujiburrahman di bulan Agustus ini. Kedua sosok ini sama-sama masih tergolong muda, enerjik, dan sarat dengan spirit bertransformasi yang fokus pada kemajuan. Momentum ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Kopelma Darussalam untuk bangkit bersama-sama mengkilapkan kembali roh suci spirit Kopelma Darussalam yang sudah hidup sejak 63 tahun yang lalu.

 

Dalam silaturahmi rektor UIN-USK tersebut, Profesor Mujiburrahman dengan gamblang menjelaskan visinya dalam membangun sinergisitas baru antara UIN dan USK. Dalam tataran teknis dan jangka pendek, sinergisitas itu berwujud kegiatan bersama pada hari-hari keramat seperti peringatan 17 Agustus, 2 September dan berbagai kegiatan yang akan menyusul kemudian. Harapan kita, kegiatan ini tidak saja sekedar pada tataran aktifitas jangka pendek, namun perlu dirancang dengan sistematis dan terstruktur untuk kegiatan jangka menengah dan panjang.

 

Jika program jangka pendek dapat dikualifikasikan sebagai kegiatan seremonial yang rutin dilaksanakan dalam jadwal tertentu secara bersama-sama, maka program jangka menengah dan panjang lebih bernuansa filosofis dengan cakupan kegiatan yang lebih luas, dalam dan melibatkan pemikiran yang kritis di kalangan sivitas akademika kedua belah pihak.

 

Salahsatu bentuk program sinergisitas jangka menengah seperti yang pernah penulis deskripsikan dalam artikel berjudul Kopelma Darussalam Heritage Park di harian Waspada 16 Juli 2022. Di dalam program ini dapat dilakukan berupa peremajaan situs-situs bangunan lama yang sudah menjadi ikon Kopelma Darussalam, seperti tugu Darussalam, bangunan-bangunan lama yang menyimpan sejarah perjalanan Darussalam, peremajaan bus Robur Darussalam dan lain-lain. Salahsatu robur ini mangkrak di sudut lusuh kampus, sesungguhnya dapat diremajakan kembali oleh Fakultas Teknik USK. Bisa saja dijadikan sebagai bus listrik dan dioperasikan di dalam kampus sebagai transportasi gratis kepada mahasiswa atau pengunjung luar.

 

Nah, bagaimana dengan program jangka panjang? Penulis pernah berbincang dengan sesama kolega sivitas USK tentang keberadaan majalah ilmiah Sinar Darussalam. Majalah ini pernah begitu populer di masa-masa pertumbuhan kampus Kopelma Darussalam. Digagas dan diasuh oleh Profesor Ali Hasjmy, majalah ini pernah menjadi ikon penting yang memuat berbagai tulisan, opini, dan artikel ilmiah hasil pemikiran para dosen Unsyiah dan IAIN ketika itu. Kini majalah ilmiah tersebut mati suri. Tidak pernah terbit lagi.

 

Gagasan menerbitkan kembali majalah Sinar Darussalam dengan wajah baru dapat menjadi program jangka panjang andalan dalam membangun sinergisitas akademik yang kukuh antara USK dan UIN. Kedua perguruan ini telah memiliki ratusan Profesor dengan kepakaran yang teruji pada bidang masing-masing. Wujudnya majalah ilmiah Sinar Darussalam berwajah baru dapat menjadi wadah utama Kopelma Darussalam modern dalam berkontribusi kepada ilmu pengetahuan dan pengembangan negeri Aceh. Saya membayangkan dalam majalah ini muncul berbagai ide dan gagasan segar yang orisinal dan cerdas tentang segala aspek kehidupan yang memajukan pembangunan Aceh khususnya, dan Indonesia maupun dunia internasional.

 

Untuk mewujudkan langkah pemenuhan program jangka pendek, menengah dan panjang ini tentu diperlukan strategi yang jitu dan fleksibel. Kedua rektor bisa saja berembuk kembali dan membawa para pakar di belakang mereka untuk merumuskan bentuk kelembagaan yang seperti apa yang paling pas dan sesuai untuk melakukan ini semua. Sehingga dari sini akan lahir banyak gagasan baru yang bermuara kepada upaya pengembangan pembangunan Aceh yang sejati. Sehingga peran USK dan UIN dalam berkontribusi kepada pembangunan Aceh yang hakiki dapat disalurkan dengan sebaik-baiknya melalui program sinergisitas ini.***

 

Banda Aceh, 19 Oktober 2022

 

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...