Sabtu, 24 Juni 2023

Meriam Lada Sicupak: Maskot PKA-8




Telah dimuat di harian Waspada edisi Sabtu, 24 Juni 2023

Minggu lalu panitia Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 (PKA-8) mengumumkan pemenang sayembara maskot event PKA-8. Pemenangnya adalah Meriam Lada Sucupak buah karya Budy Dharma. Sebuah keputusan yang tepat sekali untuk menggambarkan tema yang diusung untuk perhelatan PKA pada tahun 2023 ini, yaitu Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia. Kisah meriam lada sicupak adalah sejarah fenomenal Aceh. Generasi muda Aceh perlu terus mengingatnya untuk menjadi penanda jejak masa silam Aceh yang pernah gemilang.

 

Awal abad ke-16 Kerajaan Islam Aceh Darussalam muncul sebagai sebuah kekuatan baru di wilayah Sumatera menggantikan peran Kerajaan Samudera Pasai yang mulai memudar. Dipelopori oleh Sultan Ali Mughayat Syah sebagai keturunan dari penguasa  dua kerajaan kecil Darul Kamal dan Meukuta Alam yang berada di dua sisi Krueng Aceh. Kerajaan Aceh Darussalam tegak menyatukan beberapa kerajaan kecil di sekitarnya, yaitu Pidie di Timur dan Kerajaan Daya di Barat. Kerajaan baru ini tampak kuat dan berwibawa, karena itu disegani oleh kekuatan Eropa yang berniat mencaplok kawasan ini, yaitu Portugis. Portugis telah berhasil menguasai Malaka di tanah semenanjung dan menguasai Samudera Pasai di Sumatera. Sultan Ali Mughayat Syah akhirnya berhasil mengusir Portugis dari Samudera Pasai sekaligus menjadikan Aceh sebagai kekuatan baru di kawasan ini.

 

Pelabuhan Aceh menjadi pusat perdagangan baru dan menjadi persinggahan para saudagar muslim. Sultan Ali Mughayat Syah berhasil membangun kerajaan yang kaya dan berwibawa. Durasi pemerintahannya cukup lama sejak 1514 hingga 1530 sampai beliau wafat. Beliau mewariskan kerajaan Islam yang kuat lagi berwibawa dan menguasai wilayah yang cukup luas di kawasan ini. Namun, satu hal yang masih mengganjal adalah hasrat untuk menyingkirkan Portugis dari Melaka masih belum kesampaian. Berulang kali tentara Aceh di bawah komando Sultan Ali Mughayat Syah menyerang Portugis namun belum berhasil juga.

 

Beliau digantikan oleh putra sulungnya yaitu Sultan Salahuddin. Sejarah mencatat rekam jejak Sultan Salahuddin tidak begitu baik. Sultan kedua ini dianggap lemah karena tidak mampu meneruskan cita-cita sang ayah yang mampu membangun kekuatan militer Aceh sehingga disegani musuh. Sehingga beliau disingkirkan oleh adiknya sendiri yang sebelumnya menjadi penguasa di wilayah Pasai. Sang adik mewarisi sifat-sifat perkasa sang ayah, namanya Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahhar.

 

Di era pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahhar (1537-1571) negeri Aceh mulai menapaki puncak hegemoni dengan kekayaan yang melimpah dan kekuatan militer yang mumpuni. Musuh bebuyutan Aceh adalah Portugis masih tetap kuat bercokol di tanah semenanjung negeri Malaka. Untuk memperkuat armada militernya, Aceh meminta bantuan Kerajaan Turki Usmaniah di Istambul dengan membawa rempah lada sebagai hadiah persahabatan kepada Sultan Turki.

 

Penguasa Usmaniyah ketika itu Sultan Sulaiman I sedang pergi berperang di Hungaria sehingga para utusan ini harus menunggu lama untuk bisa bertemu. Berbulan-bulan mereka di negeri orang, sehingga lada yang dibawa sedikit demi sedikit semakin berkurang karena harus dilego untuk bisa menyambung hidup.

 

Akhirnya terbetik berita bahwa Sultan mangkat di peperangan, dan telah diangkat Sultan baru sebagai penerusnya yaitu Sultan Selim II. Barulah utusan Aceh ini dapat menghadap penguasa Usmaniah dan menyampaikan hasrat dari Sultan Aceh untuk meminta bantuan senjata memerangi Portugis. Apalah daya lada yang dibawa kini hanya tinggal segenggam lagi alias sicupak. Itulah saja yang diserahkan kepada Sultan sebagai tanda serahan dari Kerajaan Aceh Darussalam.

 

Ternyata dengan lada sicupak itulah utusan Aceh berhasil meyakinkan Sultan Turki untuk memberi bantuan senjata dalam bentuk meriam besar dan mewah. Meriam tersebut diboyong ke tanah Aceh untuk memperkuat persenjataan militer Aceh dalam mempertahankan kedaulatan Aceh di kawasan ini. Meriam ini juga menjadi simbol persahabatan tulus dan relijius antara Aceh dengan kekhalifahan Turki Usmaniah dalam menegakkan agama Islam di dunia.

 

Bermulalah era persahabatan yang kukuh antara Aceh dan Usmaniyah di Istambul yang berlandaskan kepada iman Islam dan persaudaraan seakidah. Hubungan Aceh-Usmaniyah sangat erat sebagai satu bagian kerajaan Islam yang utuh. Usmaniah mulai mengirimkan bantuan tenaga ahli di bidang maritim dan persenjataan. Sehingga kekuatan militer Aceh semakin disegani dan tangguh di kawasan Selat Melaka.

 

Meriam lada sicupak menjadi benda keramat dan disimpan di tempat yang agung oleh penerus kerajaan Aceh di era berikutnya. Meriam ini dijadikan sebagai asesoris warisan kerajaan Aceh.

 

Sayangnya, ketika invasi Belanda ke Aceh di abad ke-19  (1874), meriam lada sicupak ini diboyong ke negeri Belanda. Ini sebagai simbol kebanggaan Belanda untuk menunjukkan supremasi kekuatan mereka yang mengklaim diri telah menaklukkan Aceh. Dan sehingga kini, meriam tersebut masih berada di negeri Belanda dan disimpan di museum militer Bronbeek.

 

Bagi generasi muda modern Aceh yang mulai mengerti kisah perjalanan meriam lada sicupak ini, perih rasanya ketika melihat kenyataan benda warisan bersejarah ini berada di negeri asing Belanda nun jauh di sana. Banyak lagi benda-benda warisan kerajaan-kerajaan Nusantara yang dirampas penjajah Belanda dan kini disimpan di museum mereka. Ada sebagian yang sudah dikembalikan dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Umumnya hanya dijadikan sebagai alat diplomasi antara Kerajaan Belanda jika menginginkan perjanjian sesuatu. Sudah saatnya kini bagi kita di Aceh untuk melakukan gerakan mengembalikan meriam lada sicupak ini ke tanah Aceh. Untuk kita simpan dengan baik dan pamerkan kepada generasi muda Aceh sebagai pengingat akan pentingnya meriam lada sicupak ini pada kekuatan militer Aceh masa lalu.

 

Momentum PKA-8 yang bakal digelar pada Agustus nanti dapat menjadi tonggak penting mengenang kisah Meriam Lada Sicupak ini. Menjadikan Meriam Lada Sicupak sebagai maskot event PKA-8 tentu sebuah pilihan strategis dan inspiratif. Karena akan mengingatkan kepada generasi muda Aceh kegemilangan masa lalu Aceh yang kaya secara ekonomi dengan tanaman rempahnya. Mengingatkan dominasi hegemoni Aceh di kawasannya dengan kekuatan militernya. Dan mengingatkan akan relijiusnya kerajaan Aceh yang mendasarkan kehidupannya akan nilai-nilai Islam yang agung.

 

Meriam Lada Sicupak ini juga dapat menjadi pengingat kepada pemerintahan Aceh dan Indonesia sekarang ini untuk melakukan diplomasi tingkat tinggi menarik kembali harta pusaka Aceh ini dari negeri Belanda pulang ke pangkuan Aceh. Kita pun perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya menyediakan tempat yang layak dan merawatnya dengan baik jika meriam lada sicupak benar-benar diserahkan kembali ke tangan kita di tanah Aceh ini. Museum Aceh tentu siap menyediakan ruang yang layak untuk itu.

 

Dalam event PKA-8 nanti sudah sepantasnya panitia menyiapkan ruang khusus yang mengangkat Kisah Lada Sicupak ini dan mengundang Duta Besar Belanda sebagai tamu istimewa. Dengan harapan agar terketuk alam bawah sadarnya bahwa tindakan perampasan yang dilakukan penguasa Belanda dulu perlu diselesaikan oleh pemerintah Kerajaan Belanda sekarang.

 

Sudah saatnya meriam lada sicupak dikembalikan ke tanah Aceh, karena benda itu adalah milik Aceh. Kita perlu merawatnya, dan mempertontonkannya kepada generasi muda dan penerus Aceh untuk tetap mengenang kegemilangan masa lalu Aceh. Ini menjadi bukti kepada kita semua, bahwa Aceh pernah jaya, dan kita harus mampu menatap masa depan untuk lebih berjaya dari masa lalu tersebut.***

 

Banda Aceh, 15 Juni 2023 

Keberkahan Jual Beli Dalam Islam

Telah dimuat di harian Rakyat Aceh edisi Jumat, 21 November 2025 Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang pedagang kecil di sebua...